Pertanyaan Mengenai Iman Episode 88

Mohamed: Selamat datang, pemirsa terkasih, ke episode dari program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’. Tamu kita, Bapak Pendeta Zakaria Botros, bersama dengan kita. Selamat datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: Dalam episode ini, kita ingin membagikan sebuah surat yang kami terima dari saudari kita Mary, di Holland. Ia berkata, “Dalam nama Bapa, Anak, dan Ruh Allah, Allah yang satu. Amin. Salam hangat kepada saudara-saudara terkasih yang telah mengatur dan bekerja untuk program Al Hayat. Kami bersyukur kepada Allah atas program yang telah menyiarkan acara- acara indah, terutama acara ‘Pertanyaan Mengenai Iman’, yang dibawakan oleh Bapak Pendeta Zakaria Botros dan Saudara Mohamed yang terhormat. Program ini telah menjadi salah satu program yang kami tonton setiap hari, dan terkadang berkali-kali di dalam satu hari. Ini sebuah program yang indah. Melalui program ini, kami telah disadarkan oleh berbagai isu dan rahasia yang kabur dan tidak dimengerti oleh jutaan orang. Semoga Allah memberkati Anda dan memberkati pekerjaan yang Anda lakukan. Semoga Anda selalu dalam perlindungan Allah. Saya mohon kepada Allah agar memberikan Anda hidup yang panjang supaya program Anda tidak akan pernah berakhir. Mohon kirimkan saya sebuah buku ‘Sons of Ishmael’ (Anak-anak Ismail) dan terimalah ucapan terima kasih dan hormat saya. Saudarimu, Mary.”

Kami harap Anda sudah menerima buku ‘Sons of Ishmael’ (Anak-anak Ismail) Buku ini menceritakan kisah banyak orang-orang, seperti saya, yang dulunya seorang Muslim dan telah menjadi Muslim sejati (Patuh kepada Allah).
Mari kita kembali ke topik kita.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa maksud Anda mengenai orang-orang yang dulunya seorang Muslim dan telah menjadi seorang Muslim sejati?

Mohamed: Mereka berserah kepada Allah dan menerima…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Maksud Anda mereka menerima Isa Al-Masih.

Mohamed: Ya, mereka menerima penebusan secara pribadi dari Isa Junjungan kita Yang Ilahi.
Mari kita kembali ke bahasan kita mengenai buku ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Tempur), dimana pengarangnya, Ahmed Didat, menyebutkan hal-hal yang tidak dapat dibayangkan. Ia menuduh Kitab Suci berisikan banyak hal-hal yang aneh.
Dapatkah Anda memberikan tanggapan atas tuduhan-tuduhan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Allah menjawab tuduhan-tuduhan dan membela hakNya.
Di halaman 14 dari bukunya, Sheikh Didat berkata: “Apakah dapat dimengerti untuk menemukan seekor keledai yang berbicara dalam Kitab Suci, seperti yang tercatat di Kitab Bilangan? Melihat malaikat Tuhan meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. Ketika itu Tuhan membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: “Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?””

Mohamed: Keledai yang berbicara.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, dan ia berkeberatan atas hal ini.

Mohamed: Ia berkeberatan atas hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada arti rohani dibalik cerita mengenai Bileam. Mengapa ini terjadi?
Bileam adalah seorang nabi dan seorang raja memanggil dia untuk mengutuk orang-orang Allah. Pada awalnya ia menolak, tetapi ketika sang raja menggodanya dengan uang, ia tidak mendengarkan suara Allah dan pergi ke sang raja untuk mengutuk orang-orang Allah.

Mohamed: Ia tidak mendengar suara Allah dan mematuhi sang raja.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia mematuhi sang raja. Ia memilih uang diatas segalanya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini semua mengenai uang.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ketika Bileam sedang berjalan di sepanjang jalan, Allah mengirim seorang malaikat untuk menghentikannya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi ia tidak melihat malaikatnya. Ia tidak punya pengelihatan lagi sehingga ia tidak melihat apapun. Pengelihatan rohani karena hidup bersama Allah tidak lagi dimilikinya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia tidak melihat malaikat berdiri di depannya dengan sebuah pedang yang terhunus; akan tetapi keledainya melihat malaikat tersebut. Keledai tersebut adalah seekor keledai betina; seekor keledai bodoh. Keledai itu melihat seorang malaikat berdiri di jalannya dan berusaha menghindarinya. Ia memepetkan kaki sang nabi ke dinding sehingga sang nabi memukulnya dengan pecutnya. Itulah saat dimana Allah memberikan kemampuan berbicara kepada sang keledai.

Mohamed: Allah membuka mulut keledai.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, Ia membukanya. Walaupun keledai itu seekor binatang, ia dapat melihat dengan lebih jelas daripada sang nabi, yang telah melanggar Allah dan dibutakan oleh hal-hal materi.
Banyak orang yang seperti nabi ini.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Banyak orang.

Mohamed: Apa yang Ahmed Didat katakan mengenai hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia tidak menyukainya. Ia menanyakan mengapa seekor keledai dapat berbicara.

Mohamed: Jadi ia keberatan atas keledai yang berbicara.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tepat.

Mohamed: Tetapi Kitab Suci berkata, “Allah membuka mulut keledai itu.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan Didat membahas isu ini seperti ia membahas topik-topik lainnya.
Tetapi ini bukan satu-satunya masalah; masalah lainnya adalah penterjemahnya meralat ini.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penterjemahnya seorang Arab. Didat bukan seorang Arab dan ia tidak membaca semuanya sehingga penterjemahnya membuat amandemen. Ia berkata: “Ini bukan seperti hewan buas di bumi yang disebutkan dalam Al Qur’an.”

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami..” Surat ke 27 (An Naml), ayat 82.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebuah monster! Apakah monster itu?

Mohamed: Lanjutkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah Anda ingin saya memberitahukannya kepada orang-orang apakah monster itu?

Mohamed: Ya, tentu saja.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Benar. Komentar Ibn Katheer dan Qurtuby atas ayat dari Surat ke 27 (An Naml), ayat 82, dapat ditemukan di internet. Keduanya telah memberikan komentar atas binatang buas ini, dengan mengatakan: “Menuturkan Ali Ibn Abi Taleb, pangeran orang-orang percaya, ‘Seekor binatang buas dengan bulu, rambut, cakar, dan janggut. Binatang itu tidak mempunyai ekor.’”
Saat menggambarkan sebuah monster, Ibn Guraih berkata atas wewenang Abi El Zubair, “Mempunyai sebuah kepala seperti kerbau, mata seperti mata babi, kuping seperti kuping gajah, tanduk seperti tanduk rusa jantan, leher seperti leher burung unta, dada seperti dada singa, warna seperti warna macan, punggung seperti punggung kucing, buntut seperti buntut domba, dan kaki seperti kaki unta. Diantara setiap pasang sendi ada 12 hasta. Akan dibawa dengannya tongkat Nabi Musa dan cincin Raja Sulaiman. Tidak akan ada orang-orang percaya yang tertinggal tanpa tanda putih di wajahnya dari tongkat Nabi Musa (yaitu orang-orang percaya). Tandanya akan menyebar sampai seluruh wajahnya menjadi putih dan tidak ada orang-orang tidak percaya tertinggal tanpa tanda hitam di wajahnya dari cincin Raja Sulaiman. Tandanya akan menyebar di wajahnya sampai seluruh wajahnya menjadi hitam. Orang-orang akan berdagang di pasar, berkata, ‘Berapa harganya, O orang percaya?’ ‘Berapa harganya, O orang tidak percaya?’” Akan ada tanda yang jelas.

Mohamed: Apakah binatang buas tersebut akan melakukan ini semua?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, binatang buas tersebut.
“Mereka akan mengetahui siapa orang percaya dan siapa orang tidak percaya. Kemudian binatang buas tersebut akan berkata, ‘Begini dan begitu, bersenang-senanglah, karena engkau salah satu orang surga. Begini dan begitu, engkau salah satu orang neraka.’”
Inilah yang Allah katakan, “ Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.”

Mohamed: Allah mengijinkan binatang buas (melata) berbicara dan binatang tersebut akan mempunyai dada singa, dan seterusnya. Ini sangat aneh!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Imajinasi! Imajinasi para pengembara Arab di Afrika Utara!
Mari kita kembali ke penterjemah. Ia berkata jangan dibingungkan antara keledai dengan binatang buas. Mengapa? Ia memberikan sebuah alasan dan juga perbedaan antara keledai dan binatang buas di bumi. Ia berkata, “Ini adalah salah satu tanda di hari kebangkitan, ketika bumi akan diubahkan. Hukum alam akan berubah hari itu. Jadi apakah keledai tersebut berbicara karena hari kebangkitan telah datang?”
Kami ingin memberitahu sang penterjemah bahwa isu ini tidak semudah itu dan ini bukan akhir dari ceritanya. Anda perlu menyadari bahwa ada kekuatan agung yang dapat membuat seekor binatang buas atau seekor keledai berbicara, dan ini terjadi di waktu-waktu tertentu. Apakah berbicara sekarang maupun di hari kebangkitan, itu sama saja. Masalahnya adalah Allah mempunyai kuasa untuk membuat seekor binatang buas berbicara. Apa yang menghalangi seekor keledai untuk berbicara juga?

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Masalahnya adalah kekuatan Allah.
Apa yang dipikirkan oleh sang penterjemah terkasih mengenai burung hud-hud dan semut yang berbicara dengan Raja Sulaiman?

Mohamed: Bagaimana dengan Raja Sulaiman dan burung hud-hud serta semut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini ada di Al Qur’an.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lihatlah teman, di Surat ke 27 (An Naml), ayat 17-28, mengatakan sebagai berikut…

Mohamed: Surat An Naml (semut-semut).

Bpk. Pdt. Zakaria B.: An Naml, ayat 17-28.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa yang dikatakan oleh semut?
Al Qur’an berkata, “Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’”
Mungkin semut-semut mempunyai sebuah bahasa yang mereka gunakan untuk berbicara dengan semut lainnya. Itu boleh. Kita tidak akan memberikan komentar atas hal tersebut.

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi dengarlah ini. “Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu…”

Mohamed: Raja Sulaiman mendengar semutnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia mendengar semutnya dan mengerti apa yang ia katakan. Ini hal yang pertama.
Sekarang kita sampai ke burung hud-hud. “Dia memeriksa burung-burung…” Raja Sulaiman memeriksa burung-burung. Ini juga ada di Surat ke 27 (An Naml).

Mohamed: Raja Sulaiman memeriksa burung-burung?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Burung-burung.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lalu berkata: Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras…
Mengapa? Apa yang dilakukan burung hud-hud? Apa yang dilakukannya? Burung-burung itu tidak hadir di hadapan raja.
…atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: – Ini adalah hud-hud yang berbicara kepada Raja Sulaiman. – “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”
Tentu saja kita tidak dapat menjelaskan hal ini, jadi kita kembali ke komentar dan mencari pandangan mereka.
Komentar Ibn Katheer mengatakan, “Tetapi burung hud-hud tidak tinggal lama (artinya, burung tersebut hanya absen untuk sementara waktu). Kemudian ia datang kepada Raja Sulaiman dan berkata, “Aku telah memahami apa yang tidak kamu pahami (artinya, aku telah mengerti sesuatu yang tidak diketahui oleh kamu ataupun tentaramu) dan aku telah datang kepadamu dari Saba dengan berita penting (artinya, dengan berita benar dan spesial). Saba mengacu kepada sebuah dinasti di Yemen”
Kata Raja Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”
Apakah Didat dan penterjemahnya membaca semua ini? Bukan seekor keledai maupun seekor binatang buas di bumi yang berbicara; tidak, tetapi seekor burung hud-hud dan seekor semut.
Saya bertanya-tanya apakah Didat membaca cerita mengenai keledai yang berbicara; keledai Ya’foor?

Mohamed: Bagaimana dengan keledai Ya’foor?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebuah cerita yang sangat aneh. Sangat aneh! Cerita mengenai keledai Ya’foor disebutkan dalam beberapa buku referensi, sehingga mereka tidak dapat berkata bahwa…

Mohamed: …ini hanyalah ciptaan Anda sendiri.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …kita membuat-buatnya sendiri.
Ada di buku Ibn Katheer ‘The Beginning and the End’ (Yang Awal dan Yang Akhir), bagian 6, halaman 158, dan buku Ibn Al Atheer ‘The Lion of the Forest’ (Sang Singa Hutan). Juga di ‘The Scale of Moderation’ (Timbangan yang Wajar), oleh El Thahaby, ‘The Tongue of the Scale’ (Timbangan Lidah), oleh El Hafez Ibn Hagar, dan ‘The Conquest’ (Penaklukkan), bagian 6, halaman 70. Juga di ‘The Handmade Pearls’ (Mutiara Buatan Tangan), oleh El Siouty, bagian 1, halaman 276, dan di ‘Sahih El Bukhari’.

Mohamed: juga?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘Sahih El Bukhari’, Hadis 2856. El Bukhari menamai babnya ‘The Horse and the Donkey’ (Kuda dan Keledai).

Mohamed: Dan apa yang dikatakan di Hadis?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya akan beritahu Anda apa yang dikatakan Hadis.

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada referensi lainnya tetapi saya tidak dapat menyebutkan semuanya. Para peneliti dapat mencari informasi ini bagi dirinya sendiri.
Kata Abu Manthur: ‘Ketika Allah membuka Khaybar kepada rasulnya…’

Mohamed: Rasul Khaybar?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukan. Allah membuka Khaybar, yang dimiliki oleh Bani Israil, kepada sang Rasul.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada di Arabia.
Nabi Muhammad menerima bagian jarahannya, 4 pasang sepatu. Mereka adalah bagian dari rampasan yang ia dapatkan.

Mohamed: Bagi sang Rasul?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu yang ia dapatkan.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Empat pasang sepatu untuk dipakai.

Mohamed: Sepatu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan bukan hanya sepatu. Ia juga mendapatkan “Sepuluh periuk emas dan perak, serta seekor keledai hitam yang lesu.” Inilah masalahnya. Ini ditemukan di buku-buku dan referensi-referensi Islam yang saya sebutkan tadi.
“Sang rasul berbicara kepada sang keledai, menanyakan, ‘Siapakah namamu, keledai?’ Keledainya menjawab, ‘Namaku Yazid Ibn Shihab…’
Jadi bahkan keledai mempunyai nama!

Mohamed: Keledai mempunyai sebuah nama?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dipanggil Shihab.

Mohamed: Lucu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘…Allah membawa dari nenek moyangku 60 keledai…’

Mohamed: Siapa yang berbicara disini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Keledai.

Mohamed: Keledai berbicara dan ia mempunyai nenek moyang dan seorang kakek?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, 60 keledai.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘…Tidak ada dari mereka yang dikendari oleh orang lain kecuali para rasul … – 60 rasul – … Tidak ada keturunan dari kakekku yang masih ada kecuali aku…’

Mohamed: Kasihan!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘…Dan tidak ada rasul yang tertinggal kecuali engkau, dan aku berharap engkau mengendarai aku…’

Mohamed: Jadi sang keledai mengenal sang Rasul?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Kemudian ia melanjutkan dengan berkata, ‘Sebelum engkau, aku milik seorang Bani Israil, yang telah aku jatuhkan dengan sengaja…’
Lihat bagaimana cerdiknya keledai ini. Ia membuat seseorang jatuh.

Mohamed: Karena ia seorang Bani Israil?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, karena ia seorang Bani Israil.
‘…Jadi biasanya ia menendang perutku dan memukuli punggungku.’ Sang rasul berkata, ‘Aku akan memanggil engkau Ya’foor, O keledai.’
Kemudian ia memanggil keledai itu, dengan mengatakan, ‘Ya’foor.’
Keledai berkata, ‘Aku mematuhi.’
Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang sangat serius. Dengan sebuah keajaiban, sang Rasul berbicara dengan seekor keledai. Kemudian sang Rasul mengajukan sebuah pertanyaan kepada sang keledai. Menurut Anda, pertanyaan seperti apakah yang akan diajukannya?
Sang rasul berkata, ‘Apakah engkau mengingini betina, Ya’foor?’

Mohamed: Ini cabul!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak, tunggu.

Mohamed: Mereka mungkin berpikir ini adalah elemen Israel.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kita akan lihat. Pertama-tama, biarkan saya menyelesaikan ceritanya. Tunggu, anakku Mohamed. Anda terlalu sensitif atas perasaan mereka, tetapi saya khawatir atas kehancuran mereka. Kehancuran kekal, bukan perasaan mereka.
Sang keledai memberikan sebuah jawaban yang sangat baik, yang benar-benar tidak diduga. Tebak apa yang ia katakan?
Sang keledai berkata, ‘Tidak rasul Allah. Aku tidak mengingini perempuan, O rasul Allah.’

Mohamed: Sang keledai mengatakan hal tersebut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia berkata kepada sang Rasul, ‘Aku tidak mengingini perempuan… Aku tidak mengingini betina.’ Artinya keledai betina.
Selanjutnya dikatakan bahwa sang Rasul biasanya mengendarai keledai tersebut untuk melakukan pekerjaannya, dan seterusnya.
Jadi Ya’foor berbicara dan itu bukan di hari kebangkitan!!
Mengapa Anda mencemoohkan Kitab Suci dengan mengatakan bahwa seekor keledai betina berbicara. Tidak ada yang menanyakan apakah keledai itu mengingini jantan atau…
Ini menjijikkan!

Mohamed: Tetapi…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia berbicara agar diselamatkan.

Mohamed: Ya, tetapi beberapa orang mengatakan bahwa ini semua adalah elemen-elemen Israel.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu yang mereka katakan.

Mohamed: Mereka katakan ini omong kosong.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Percaya saya, saudara Mohamed, disamping semua referensi-referensi ini, mereka masih mengatakan ini semua adalah elemen Israel.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bahkan mereka mengatakan lebih dari ini. Orang Suni berkata bahwa orang Syiah menyisipkan ini untuk membalas dendam kepada orang Suni. Mereka terpecah-belah dan tidak dapat sampai kepada kesimpulan yang pasti. Mereka berkata itu telah disisipkan di Hadis, hancur, ditinggikan atau dihentikan. Itulah alasan mereka satu-satunya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka melewatkan kenyataan yang pahit.

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kita tidak tahu dimana menemukan kebenaran dalam buku-buku Islam. Bukankah jumlah referensi atas cerita ini bersaksi atas keasliannya? Selain itu, mereka terus menerus mengangkat kecurigaan atas hal tersebut.

Mohamed: Saya berharap mubalih Muslim, Ahmed Didat…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …telah membaca lebih banyak.

Mohamed: Ya. Ia akan menyelamatkan dirinya sendiri dari situasi sulit seperti ini. Hal ini tidak mempunyai arti dan benar-benar tidak berguna.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kita mengetahui hal ini sejak dulu, tetapi saya tidak mengangkatnya di program ini karena saya tidak dapat. Akan tetapi, ia telah memberikan kita kesempatan…

Mohamed: Jadi mengapa Anda tidak menghadapkan Ahmed Didat dengan fakta-fakta ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Alasan utamanya adalah mereka membungkam mulut saya di Mesir tercinta.

Mohamed: Mereka membungkam Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya hanya membicarakan apa yang kita percaya; Tritunggal dan satu Allah, penyaliban Isa Al-Masih, Anak Allah, dan hal-hal lainnya mengenai iman kita. Dan karena saya mengutip Al Qur’an, mereka memenjarakan saya, 2 kali!!

Mohamed: Di Mesir?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, di Mesir.

Mohamed: Di negara Anda sendiri? Tetapi Anda adalah seorang warga negara Mesir.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, kampung halaman saya. Di tahun 1981 saya dipenjara selama hampir setahun; 318 hari tepatnya. Kemudian saya dipenjara lagi di tahun 1989.

Mohamed: Jadi sekarang Anda mau menyamakan angkanya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak, tidak ada balas dendam.

Mohamed: Dan ingin mengembalikannya 2 kali lipat?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak! Anda berbicara dengan bahasa mereka. Saya tidak yakin Anda benar-benar percaya akan hal ini. Saya rasa Anda hanya mengekspresikan pandangan sebagaian besar orang.

Mohamed: Saya hanya bertanya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Oh, benarkah! Jadi Anda hanya bertanya?

Mohamed: Tentu saja, saya bertanya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak. Anda berkata bahwa Anda hanya bertanya. Baiklah. Saya tidak mencoba membalas mereka. Hanya saja sekarang saya mempunyai kebebasan. Saya ada di negara bebas, dan dari kasih yang suci atas jiwa-jiwa ini, saya berbicara mengenai kebenaran dan bersaksi atas kebenaran, dengan harapan bahwa kebenaran ini akan bertakhta atas hidup orang-orang ini. Saya tidak menyerang Muslim karena saya mengasihi mereka, dari hati saya yang terdalam.

Mohamed: Dan saya setuju dengan Anda. Kita berdoa kepada Allah bahwa harinya akan datang, dimana akan ada kebebasan berpikir di semua negara-negara Arab, seperti yang ada di Barat, walaupun kita berbicara hal-hal yang negatif mengenai Barat.
Ada sebuah kritik serius yang diangkat oleh Didat. Ia mengacu kepada Kitab Suci dan berbicara mengenai seorang perempuan yang melahirkan bayi perempuan dan ibunya 2 kali disucikan. Ini sebuah isu yang serius. Dapatkah Anda menjelaskannya kepada kami?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja.
Didat berkata, “Melahirkan seorang bayi perempuan menggandakan ketidaksucian sang ibu.”

Mohamed: “Melahirkan seorang bayi perempuan…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …menggandakan ketidaksucian sang ibu.”

Mohamed: Maksud Anda lebih dari itu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lebih tidak bersih.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penterjemah menambahkan, “Kitab Suci menyebutkan bahwa setelah seorang perempuan melahirkan bayi laki-laki, ia tetap tidak suci selama seminggu. Kitab Injil… – maksudnya Perjanjian Lama – …berkata bahwa jika ia melahirkan seorang bayi perempuan ia tidak suci selama 2 minggu dan selama menstruasinya ia tetap 66 hari, dalam darah penyuciannya.”

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia mengutip ini dengan tidak benar. Pertama-tama, ia berkata bahwa ini ada di Injil Ulangan. Ulangan ada di Perjanjian Lama. Injil ini ada di Perjanjian Baru.

Mohamed: Dan apa yang lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ketidaksucian tidak dapat digandakan. Ketidaksucian adalah ketidaksucian. Sebagian yang tidak suci sama seperti seluruhnya tidak suci.

Mohamed: Tidak dapat digandakan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak dapat 2 kali lebih.

Mohamed: Tidak dapat dirangkap 2.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak dapat digandakan. Ia berkata, “… menggandakan ketidaksucian ibunya.” Salah!

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ketidaksucian adalah ketidaksucian.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah Anda mengikuti? Seharusnya ia berkata, ‘…penggandaan masa penyucian.” Ini mempunyai arti yang berbeda dari yang ia katakan.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa hubungannya secara rohani?
Ini mengingatkan umat manusia atas kejatuhan yang disebabkan oleh Hawa yang jatuh terhadap godaan. Jadi, setiap kali seorang perempuan dilahirkan, mereka diingatkan atas alasan meninggalkan surga; tidak lebih dan tidak kurang.
Tetapi ketika Isa Al-Masih datang dan mati di kayu salib…

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …Ia menghapus semuanya. Ia menghapus semua ketidaksucian dan menyucikan manusia. Kitab Suci berkata, “Darah Isa Al-Masih, AnakNya, menyucikan kita dari semua dosa.”
Jia ia mencemoohkan penyucian perempuan, seharusnya ia melihat Al Qur’an. Apakah mereka tidak membaca?

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di Surat ke 2 (Al Baqarah), ayat 222. Jika anda lupa, cukup pikirkan 2-2-2. “ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu.’”
Ini dia.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini dia.
Di Sahih El Bukhari dikatakan, “Doa dipotong oleh anjing, keledai dan perempuan.”
Apakah kita mengatakan ini?
Bahkan ‘Aisha berkata, “Kamu telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing.”
Kita tidak mengatakan ini.

Mohamed: Mari kita bahas topik selanjutnya mengenai perempuan. Dalam catatan kaki di buku yang sama, penterjemahnya berkata, “Mereka mengklaim bahwa perempuan Muslim diperlakukan dengan tidak adil, tetapi Islam memastikan hak-haknya serta mempertahankan harga dirinya.”
Apa yang Anda katakan mengenai hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Baik. Apakah Islam benar-benar memastikan hak-hak serta harga diri perempuan, seperti yang penterjemah ini katakan? Apakah menolong harga diri perempuan dengan menganggap perempuan berkekurangan dalam kepandaian dan agama? Apakah ini harga diri? Apakah ini menolong harga diri perempuan ketika ia dipukuli seperti seekor hewan dengan alasan apapun juga? Apakah ini harga diri?

Mohamed: Apakah Anda mempunyai bukti-bukti atas hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja. Kita telah membicarakan ini dengan luas. Saya hanya merangkum episode-episodenya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya berbicara mengenai kesaksian seorang perempuan di episode sebelumnya.

Mohamed: Ada hal-hal yang dikenal dengan luas.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dibawah hukum Islam, apakah kesaksian seorang perempuan sama dengan seorang laki-laki?

Mohamed: Tidak, kesaksian 2 orang perempuan sama dengan 1 orang laki-laki.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan bukan hanya itu, seorang laki-laki harus menemani mereka.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Harus ada seorang laki-laki dengan 2 orang perempuan.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Empat orang perempuan tidak dapat menggantikan 2 orang laki-laki.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah hak perempuan untuk mendapatkan warisan yang sama dengan laki-laki?

Mohamed: Setahu saya seorang laki-laki mendapatkan warisan 2 kali lipat dari seorang perempuan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Benar.
Daptkah seorang perempuan mempunyai 2, 3, atau 4 suami, seperti seorang laki-laki?
Dan apakah ia mempunyai hak untuk menceraikan suaminya dan berkata, “Kamu saya ceraikan”, seperti sang suami mempunyai hak untuk menceraikan istrinya?
Apakah seorang perempuan akan menikmati 72 houris laki-laki, seperti seorang laki-laki menikmati 72 houris perempuan?

Mohamed: Jadi seorang laki-laki mempunyai 72 perawan (houris) di surga?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu adalah angka minimum. Mereka dapat mempunyai 343,000, seperti yang telah kita hitung di episode sebelumnya.

Mohamed: Jangan sebutkan itu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Setelah mendengar semua ini, apakah Islam memastikan hak-hak dan harga diri perempuan dan memperlakukan mereka dengan adil? Jika Ya, kemudian mengapa di negara-negara Arab saat ini kita melihat pertentangan antara apa yang ada di Al Qur’an serta Hadis dengan hak azasi manusia, terutama hak-hak perempuan?
Mengapa ada perjuangan di negara-negara Arab atas isu ini? Apakah Islam memperlakukan perempuan dengan tidak adil? Ini sebuah pertanyaan yang besar dan semua orang harus menyelidiki hal ini.

Mohamed: Saya ingin mengetahui alasan yang sebenarnya, mengapa mereka mengangkat topik-topik kritis seperti ini, yang telah menyimpangkan agama yang dimaksudkan oleh Allah kepada umat manusia – ajaran Isa Al-Masih.
Sekarang, mari kita kembali ke pertanyaannya, ‘Apa Solusinya?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa solusinya?

Mohamed: Apa jawabannya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jawaban yang memposisikan dirinya sendiri adalah tidak ada solusi lainnya, kecuali dalam Isa Al-Masih.
“Tidak ada penyelamatan dari yang lainnya, karena tidak ada nama lainnya di bawah surga telah diberikan kepada umat manusia, yang dengannya kita dapat diselamatkan.”

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Hari ini, kita akan berbicara mengenai solusi atas masalah iri hati dan cemburu; ruh iri hati dan cemburu.
Manusia sakit karena dosa telah masuk dalam hidupnya dan 2 gejala dosa adalah iri hati dan cemburu.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Seperti saudara-saudara Yusuf. Mereka cemburu kepadanya sehingga mereka berencana untuk membunuh dia dan kemudian menjual dia. Jadi iri hati muncul di hidup manusia karena dosa, seperti Kain ketika ia iri hati terhadap Habel dan membunuhnya. Ini adalah iri hati dan cemburu.
Jadi bagaimana ini dapat ditaklukkan?
Ketika seseorang menerima Isa Al-Masih dalam hatinya, Ia memberikan orang tersebut cinta kasih bagi sesama, bukan iri hati dan cemburu.
Dalam Kitab 1 Yahya pasal 4 ayat 7, dikatakan, “Kita saling mengasihi, karena kasih itu berasal dari Allah dan barangsiapa mengasihi, ia pun telah menerima hidup baru dari Allah serta mengenal Allah. Orang yang tidak mengasihi, tidak mengenal Allah, karena Allah itu kasih adanya.”
Jadi, ketika kita menerima Allah dalam hati kita, kita menerima cinta kasih yang suci ini. Kita tidak membatasi Allah. Ketika matahari bersinar melalui jendela, sinarnya masuk ke kamar dan membersihkannya. Dengan cara yang sama, kita minta Allah masuk ke dalam hati kita dengan Ruh Allah. Ruh Isa Al-Masih tinggal di dalam kita dan memberikan kita cinta kasih; cinta kasih yang besar.
Dalam Surat Roma pasal 5, ayat 5, tertulis, “Karena kasih Allah sudah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Ruh Allah yang telah dianugerahkan kepada kita.”
Para pemirsa dan pendengar terkasih, mintalah kepada Allah, “Allah, saya ingin dipenuhi dengan RuhMu untuk membersihkan aku dari keberadaan kejahatan, iri hati, kebencian, kecemburuan, supaya aku dapat seperti Engkau. Biarkan RuhMu membersihkan aku. Amin.”

Mohamed: Amin.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Allah akan menjawab Anda jika Anda memintanya dengan sepenuh hati.

Mohamed: Amin. Terima kasih banyak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kembali.

Mohamed: Kitab Suci mengajarkan, “Hati berdusta atas segala hal… siapa yang dapat mengetahuinya?”
Saat kita sampai di ujung episode ini, kita ingin membagikan kepada Anda perkataan Nabi Daud di Kitab Zabur pasal 103. Ia berkata, “Tuhan menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas. Ia telah memperkenalkan jalan-jalanNya kepada Musa, perbuatan-perbuatan kepada orang Israil. Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; …Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia.”
Terima kasih pemirsa terkasih. Kami harap berjumpa Anda kembali di episode yang akan datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin. Terima kasih.

Texts being used:

The Indonesian Kitab Suci text used for New Testament is the “Shellabear” version, printed 2006 by LAI (Kitab Suci Society in Indonesia).

The Indonesian Kitab Suci text used for Old Testament is the “New Translation” version, by LAI (Kitab Suci Society in Indonesia). “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974.

The Indonesian Al’Al’Quran text used is taken from

http://Quran.al-islam.com/,

Indonesian version:

http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:
For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

About these ads