Barangsiapa yang berefleksi dengan khusyuk akan keselamatan dari Tuhan akan memasuki ruang kudus iman kita hingga jauh ke dalam hati Tuhan.
“…Juruselamat kita yang menginginkan semua orang diselamatkan dan masuk ke dalam pengetahuan penuh akan kebenaran “ (1 Timotius 2:3-4)

Namun dalam Qur’an, Allah berbicara mengenai diri-Nya sendiri dalam keagungan yang plural:
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaKu; ‘sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam itu jin dan manusia bersama-sama” (Sura 32:13)

وَلَوْ شِئْنَا لآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Pernyataan ini dan pernyataan-pernyataan lainnya dalam kitab orang Muslim menunjukkan bahwa Allah tidak mempunyai niat maupun motivasi untuk memberikan kepada semua umat manusia suatu penebusan yang menyeluruh. Ada semacam sisnisme dalam pengkalimatan ayat ini: “Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya”. Tetapi Allah tidak mempunyai keinginan untuk melepaskan para pengikut-Nya. Mereka tidak berarti apa-apa bagi-Nya. Ia bertindak menurut keinginan-Nya sendiri. Ia adalah sosok ilahi yang tidak terduga-duga, dan sama sekali bukanlah seorang Bapa.

Persiapan karya keselamatan dalam Perjanjian Lama

Awal mula disebutnya keselamatan dalam Taurat adalah ketika Yakub yang telah lanjut usia menjelang ajalnya harus mengumumkan nubuatan yang mengerikan mengenai putranya Dan (Kej.49:17). Orang-tua itu mendesah dan berkata: “Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya Yahweh”. (Kej.49:18).

Ia merindukan suatu kehidupan keluarga yang kudus, diberkati, bersama dengan Tuhan, tanpa adanya kutuk atau takut terus menerus diusir keluar dari negeri. Ia menantikan datangnya keturunan surgawi ke dalam dunia, untuk mendatangkan pembebasan dari Tuhan (Mat.6:10; 13:43; Luk. 12: 36; Roma 8:9; Fil.3:20; 2Pet.3:13; Ibr. 9:28; 10:13: 11:10).

Persekutuan dengan Tuhan membawa keselamatan

Musa sedang berdiri dengan bangsanya di tepi pantai Laut merah. Dibelakangnya, ia melihat gumpalan awan debu yang ditimbulkan oleh pasukan berkuda dan kereta-kereta Firaun yang mengejar orang Israel. Dihadapannya terbentang lautan yang tidak ada ujungnya. Para pelarian yang tidak berdaya ini terjebak dalam perangkap. Musa yang sudah berusia lanjut berdiri dan berkata: “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. 14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Kel.14:13-14)

Setelah menyeberangi lautan, yang telah dibelah oleh angin timur yang kuat, mereka berjalan diatas dasar laut yang kering, dan kemudian disusul dengan tenggelamnya para pengejar mereka, Musa kemudian mengakui bahwa Tuhan bukan hanya menyediakan kemenangan dan keselamatan, Ia sendiri adalah keselamatan. Musa memuji-Nya dengan mazmur berikut ini:

“TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku…” (Kel.15:2)

Di awal perjalanan mereka melalui padang belantara, Musa dan bangsanya memahami bahwa keselamatan hanya dapat ditemukan dalam persekutuan yang tidak pernah terputuskan dengan Tuhan. Tanpa Dia kita tidak dapat melakukan apa-apa (Kel.13:12, 15:25, 16:15, 17:1, 33:10-23, Bil. 6:4, Ul. 2:7, 6:5, 7:11, 14:1).

Persekutuan dengan Tuhan membawa kita kepada pertobatan
Motto Daud sebagai raja adalah dalam kalimat berkat berikut ini: “Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya, dan menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, kepada Daud dan anak cucunya untuk selamanya.” (2 Sam.22:51, Mz.18:51). Secara terbuka ia menyaksikan: “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Tuhan akan Kuperlihatkan kepadanya.” (Mz.50:23)

Walaupun demikian, daud menjadi seorang pezinah dan pembunuh. Ia mengalami kejatuhan yang sangat dalam dan harus mengakui bahwa: keselamatan tidak hanya terbatas pada damai dan kemakmuran dalam negara, melainkan keselamatan membawa penyesalan dan pengertian ke dalam kejatuhan pribadi seseorang. Kita hanya dapat diselamatkan jika natur manusiawi kita diubahkan oleh sebuah tindakan penciptaan baru. Daud telah mengajarkan jutaan orang berdoa demikian: “Ya Elohim, ciptakanlah bagiku hati yang bersih, dan perbaharuilah roh yang teguh dalam diriku. Jangan membuang aku dari hadirat-Mu, dan jangan mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku” (Mz.51:12-13 – ILT).

Dalam Yehezkiel 36:26-27, kita membaca jawaban dari Tuhan yang hidup terhadap doa-doa orang-orang yang bertobat dari generasi ke generasi: “Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Tuhan mereka” (Yer.31:33, Yeh.11:19-20, Roma 1:16-17).

Tanpa pertobatan, pengampunan dan pembaharuan batin, maka tidak ada persekutuan yang berkelanjutan dengan Tuhan Yang Maha Kudus dan Maha Kuasa, dan tidak dapat mengalami keselamatan-Nya.

Janji Tuhan mengenai keselamatan melalui Hamba Tuhan
Salah seorang utusan iman yang luar-biasa dalam Perjanjian Lama adalah Yesaya. Ia menghiburkan bangsanya yang berada dalam kehinaan yang besar selama penawanan oleh Babilonia dengan kata-kata dari Tuhan: “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada Juruselamat selain dari pada-Ku” (Yes.43:11)

Ia menekankan pada mereka: “22 Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. 23 Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, 24 sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN…” (Yes.45:22-24; Fil.2:5-11)

Yesaya bersaksi mengenai fakta bahwa seluruh dunia harus berpaling kepada Tuhan. Tanpa Dia, tidak ada pelepasan dan tidak ada damai, baik dalam masyarakat maupun dalam hidup pribadi lepas pribadi (Mat.11:28-30; Roma 5:1-5; Ef.2:13-22).

Sang nabi juga mendengar berita Tuhan berkenaan dengan kedatangan Hamba Tuhan, yang panggilan-Nya juga adalah untuk menyelesaikan penebusan bagi dunia: “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes.49:6)

Yesaya mengakui bahwa persekutuan dengan Tuhan bukan hanya hak istimewa yang disediakan bagi orang Yahudi, tetapi bahwa semua umat manusia harus dimasukkan ke dalam rencana restorasi-Nya. Hingga hari ini, bagian Firman Tuhan ini selalu disampaikan dalam banyak banyak sinagoga, karena dengan jelas menyaksikan fakta bahwa Mesias adalah terang dunia dan Juruselamat segala bangsa (Yoh.4:42, 8:12).

Hamba Tuhan ini berdoa dalam Mazmur yang menggambarkan kerinduan hati-Nya: “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama Yahweh” (Maz.116:13)

Dengan demikian Ia mengekspresikan kesiapan-Nya untuk menjalani semua yang telah dinubuatkan dalam nubuatan Yesaya yang menakjubkan dalam Yesaya 53:4-12. Keselamatan tidak dapat dibeli tanpa kematian untuk penebusan oleh Yang Diurapi.
Kebangkitan dan kenaikan ke surga dari Sang Kurban yang tidak bersalah berulangkali dinubuatkan: “14 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. 15 Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: “Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, 16 tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!” (Mz.118:14-16)

Lebih jauh lagi kita membaca dalam Mazmur 110:1, “Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” Banyak detil mengenai rencana keselamatan Tuhan yang masih terus dapat ditemukan di dalam Perjanjian Lama.

Islam – agama mengenai kebenaran diri sendiri
Muhammad telah memasukkan ke dalam Qur’an banyak kutipan dari Mishnah, Talmud dan banyak tulisan Yahudi lainnya yang secara oral disampaikan padanya oleh orang-orang Yahudi di Medina. Namun demikian, ia kehilangan penekanan utama dari Perjanjian Lama. Persekutuan dengan Tuhan Yang Kudus dalam ikatan perjanjian, yang ditetapkan Tuhan dengan Abraham, Ishak dan Yakub dan keturunannya, memang disebutkan namun tidak dimengerti. Berdasarkan konsep Islam, Allah tetaplah Tuhan yang jauh, agung, dan mengerikan. Ia tidak berusaha membangun persekutuan dengan para penyembah-Nya. Ia bukanlah standar bagi kehidupan mereka. Untuk alasan ini, pengudusan orang Muslim dalam keadaan kehidupan sehari-hari bukan merupakan isu sentral. Allah tetaplah yang maha besar yang tidak dikenal, yang menipu siapa yang dikehendaki-Nya dan memimpin di jalan yang benar siapa yang disukai-Nya (Sura 6:39, 13:27, 14:4, 16:93, 35:8, 74:31).Ia tidak pernah datang mendekat pada orang Muslim pada tingkat yang konkret, Ia pun tidak mengikatkan diri-Nya pada para pengikut Muhammad. Mereka tetaplah budak yang tujuan utama hidupnya adalah menyembah-Nya namun tidak pernah dapat menjadi partner-Nya dalam ikatan perjanjian.

Tulang belakang Islam adalah hukumnya, yaitu syariah. Rasa takut akan Allah, dan bukan kasih pada Allah, yang mendominasi ibadah dan hidup orang Muslim sehari-hari (Sura 3:50). Kegentaran akan kematian, kubur dan Penghakiman Terakhir mendorong mereka untuk menghormati 500 perintah syariah (sura 8:50). Mereka berharap, melalui aktifitas mereka untuk Allah dan melalui apa yang mereka sebut dengan amal baik, dapat menutupi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka, untuk mengatasi atau mengkompensasi pelanggaran-pelanggaran mereka (Sura 11:114). Mereka tidak mempunyai perasaan bahwa mereka adalah orang berdosa yang membutuhkan penebusan dan tidak dapat melihat mengapa sebuah pertobatan yang menyeluruh dan pembaharuan pikiran mereka adalah hal yang esensial. Penekanan utama mereka adalah pada ketaatan kepada Allah dan Muhammad (Sura 49:14-15). Seorang Muslim berharap, atas dasar pencapaiannya sendiri, dalam kerangka pemenuhan tuntutan-tuntutan syariah, agar diijinkan memasuki Surga Islam (Sura 2:25, 82). Ia tidak merasa memerlukan seorang Juruselamat. Ia tidak mempunyai pemahaman mengenai kekudusan Tuhan dan juga tidak menganggap dirinya itu jahat atau terhilang. Intinya, ia sudah dipuaskan dengan agamanya.
Saat berperang dalam jalan Allah, seorang Muslim mempunyai keyakinan:
“…janganlah kamu berduka-cita, sesungguhnya Allah beserta kita…” (Sura 9:40)
إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Ia mengirimkan para pejuang yang tidak kelihatan untuk mendampingi kita dalam Perang Suci hingga semua musuh Islam ditaklukkan.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu ke jalan yang lurus” (Sura 48:1-2)
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Peperangan spiritual terhadap dosa dan hawa nafsu dalam diri sendiri, bagi banyak orang Muslim, tidak dikenal.
Muhammad juga terlibat dalam hubungan yang tidak lazim dengan wanita. Ia menikahi Aisha, seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Ia kemudian merayu Zainab, istri anak angkatnya Zaid, dan menerima ijin dari allah untuk menikahinya setelah Zainab bercerai (Sura 33:37). Ia tidur dengan Maria, budak wanitanya, di kamar Hafza salah seorang istrinya, yang waktu itu tidak ada di rumah. Ketika kemudian ia bersumpah dengan penuh amarah di hadapan para istrinya yang masih remaja bahwa ia tidak akan pernah melakukannya lagi, tiba-tiba ia menerima perintah dari Allah, yang juga berlaku untuk semua Muslim, agar ia menarik kembali sumpahnya yang diucapkan dengan terburu-buru oleh karena Allah telah mengaruniakan mereka hak-hak yang tidak terbatas atas budak-budak perempuan mereka (Sura 66:1-7).
Hendaknya kita tidak tergesa-gesa menghukum Muhammad karena Yesus berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh.8:7b). Banyak orang berdosa seperti Daud, namun hanya sedikit yang bertobat seperti dia, karena mereka tidak mengenal Tuhan yang mempunyai kasih yang kudus.

Persekutuan dengan Tuhan Perjanjian dan pengetahuan akan janji-janji-Nya dalam Perjanjian Lama, mempersiapkan jalan bagi keselamatan. Ini sangat tidak dikenal dalam Islam.

Sang Juruselamat menunaikan misi keselamatan-Nya dalam dunia ini
Malaikat Tuhan memerintahkan Yusuf dan Maria untuk menamai Putra mereka, yang dikandung dari Roh Kudus, Yesus, karena Dia-lah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat.1:21, Luk.1:31). Nama Yesus berarti: Yahweh menolong, menyelamatkan dan berkemenangan. Putra Maria dilahirkan untuk menyelamatkan semua orang yang menerima penebusan-Nya. Keselamatan-Nya tidak terutama terdiri dari program politik atau kesejahteraan sebuah negara, tetapi bertujuan melepaskan mereka yang mau bertobat dari dosa-dosa mereka, yang mereka sadari maupun tidak. Yesus membebaskan mereka yang berada dalam perbudakan kuasa Satan dan kematian dan melepaskan mereka dari murka Tuhan. Keselamatan dari Yesus adalah sebuah proses spiritual dalam mana Ia menyucikan dan mendidik umat spiritual-Nya untuk mempersiapkan mereka bagi kerajaan spiritual-Nya (Yoh. 18:36-37). Nama Yesus adalah program Tuhan untuk semua orang. Nama ini mencakup keselamatan yang penuh dan juga kuasa Tuhan untuk penggenapannya. Yang terpenting dari semua, nama ini muncul 975 kali dalam Perjanjian Baru.
Masuknya Sang Juruselamat ke dalam dunia kita
Malaikat Tuhan memecahkan kegelapan yang terbentang di atas bukit-bukit Betlehem dan dalam terang mereka yang penuh kemuliaan memerintahkan para gembala: “10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk.2:10-11).

Oratorio Natal karya Johan Sebastian Bach adalah sebuah gema lembut dari nyanyian pujian para malaikat pada permulaan sebuah era yang baru. Raja Damai yang dijanjikan akhirnya telah datang. Sama seperti Kaisar Agustus, Ia mengenakan gelar kehormatan “Juruselamat” sebagai jaminan abadinya damai dalam dunia. Namun, Yesus lebih besar daripada Agustus! Ia adalah Tuhan yang berinkarnasi! (Yes.9:5-6, 40:11). Tuhan menjadi manusia sehingga kemanusiaan yang telah rusak dapat mempunyai tempat dalam natur-Nya yang ilahi. Keselamatan bagi seluruh umat manusia tersembunyi dalam bayi yang baru lahir ini. Setelah Kristus yang tidak berdosa dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di air sungai Yordan yang keruh, walau sebelumnya Yohanes menolak, Yohanes kemudian mengakui bahwa Putra Maria bukan ingin dibaptis untuk membersihkan dosa-dosa-Nya. Melainkan, sebagai representasi semu manusia, Ia telah mengenakan pada diri-Nya sendiri kesalahan dan ketidakadilan mereka (Mat. 3:13-17). Oleh karena itu, surga terbuka dan Roh Kudus dalam wujud burung merpati, turun dan hinggap pada Yesus sebagai sebuah tanda dari otoritas-Nya yang lembut. Kemudian Tuhan berfirman dan memberikan sebuah wahyu yang penting: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan!” Seketika itu, Yohanes mengerti dan bersaksi di muka umum: “Lihatlah Anak Domba Tuhan, yang menghapus dosa dunia” (Yoh.1:29-34). Tanpa kematian Kristus yang membawa penebusan tidak ada keselamatan bagi kita semua. Baptisan-Nya adalah titik dimana Ia mengambil jabatan-Nya sebagai Juruselamat dunia.

Yesus menjelaskan kepada Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin, yang duduk di sebelah-Nya pada waktu malam, bahwa: “14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal”. (Yoh.3:13-16).
Yesus, yang juga dicobai sama seperti kita, tidak pernah mengalah terhadap dosa, dijadikan berdosa menggantikan kita, sehingga kita, di dalam Dia, dijadikan benar di hadapan Tuhan, sesuai dengan standar kebenaran yang diterima Tuhan (2Kor.5:21, Ibr.4;15). Dalam kasih-Nya, Ia mengambil semua dosa kita dan mengenakannya pada diri-Nya namun Ia tetap suci. Dalam hal ini, Ia seumpama ular tembaga yang menyelamatkan/menyembuhkan semua orang yang memandang-Nya.

Yesus menjelaskan rahasia ini kepada para murid-Nya: “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. (Mat.20:28)

Ikatan Perjanjian yang Baru dalam karya penebusan kematian Yesus
Ketika melaksanakan Komuni Kudus Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya tujuan dan isi dari karya keselamatan-Nya. Sambil mereka makan, Ia mengambil roti, mengucap syukur, memberkati roti itu, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada para murid, dan berkata: “ambillah, inilah tubuh-Ku”. Setelah perjamuan malam terakhir, bersama dengan sayur pahit, ia mengambil cawan, mengucap syukur, memberikannya pada mereka dan berkata: “27 Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa”. (Mat.26:27-28, 1 Kor.11:24-26).

Sebagaimana roti dan anggur berasimilasi dengan tubuh kita dan diubahkan menjadi kekuatan bagi kita, Yesus ingin datang dan hidup dalam kita dan tinggal bersama kita. Melalui hal ini, persekutuan antara Tuhan dengan manusia menjadi kenyataan. Prasyarat untuk hal ini adalah pengudusan kita seutuhnya dari semua dosa melalui darah dari korban ikatan perjanjian. Keselamatan berarti persekutuan kita dengan Tuhan yang berdasar pada pengampunan atas dosa-dosa kita (Ef. 3:14-21, 1Yoh.1:7, Wah.1:5-6).
Kata pertama yang diucapkan yesus di atas salib adalah syafaat-Nya sebagai seorang Imam Besar untuk semua pendosa: “Bapa, ampunilah mereka; sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” (Luk.23:34). Putra Tuhan dalam kesengsaraan-Nya tidak berdoa agar dilepaskan dari penderitaan-Nya; naman Ia menyatakan kasih-Nya yang tidak berkesudahan sebagai Juruselamat untuk semua orang yang berdosa. Bapa telah mengabulkan permintaan Putra-Nya! Kematian-Nya yang menebus adalah pembenaran bagi semua orang yang percaya pada-Nya.

Ketika satu dari dua penjahat yang turut disalibkan mendengar Yesus berdoa, dan bukannya mengutuki, ia mengakui bahwa ia sendiri dan penjahat yang satunya lagi pantas menjalani nasib seperti itu. Ia memohon kepada sang Raja yang bermahkotakan duri: “Yesus, ingatlah akan aku ketika Engkau datang sebagai raja!” Tuhan segera menjawab: “sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”. (Luk.23:39-43). Penjahat yang sebelah kanan-Nya boleh jadi adalah satu-satunya orang yang diselamatkan Yesus sebelum Ia wafat. Semua rasul-Nya telah melarikan diri. Namun, si terdakwa di atas salib tidak diselamatkan karena berkelakuan baik, tetapi hanya karena imannya. Ia menjadi model dan simbol dari semua orang yang telah diselamatkan. Keselamatan adalah pemberian dari Dia yang disalibkan atas dasar anugerah untuk semua orang yang yang datang kepada-Nya dengan semua dosa mereka.
Kemenangan Yesus di atas salib
Setelah 6 jam tersiksa diatas salib, Yesus berteriak: “Sudah selesai!” (Yoh.19:30). Apa yang telah diselesaikan?
Melalui kematian-Nya di salib sebagai penebusan Yesus telah memuaskan murka Tuhan atas semua manusia. Sejak saat itu, kita telah diperdamaikan dengan Tuhan Yang Kudus.
Tuntutan hukum Taurat telah dipenuhi melalui kematian Kristus bagi kita.
Ia menjalani penghukuman atas dosa semua orang diatas kayu salib yang terkutuk itu.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes.53:5)

Satan telah berusaha mencobai Yesus dengan segala macam dosa. Namun Yesus, mengasihi para musuh-Nya, tetap setia dengan iman-Nya kepada Bapa-Nya, dan menolak untuk berputus-asa walau dalam kesengsaraan-Nya. Sejak itu, Satan tidak berhak menuduh orang-orang yang percaya dalam Kristus.

Kristus berkemenangan atas murka Tuhan, dosa kita dan kuasa Satan. “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”. (Ibr.10:14)
Sejak kematian Kristus di atas salib, realita obyektif keselamatan ini adalah suatu fakta yang pasti bagi semua orang. Ia tidak perlu mati dua kali terutama bagi orang Yahudi dan orang Muslim. Kematian-Nya yang menebuskan berlaku bagi semua, seperti Bapa Boos, seorang Imam Katolik yang pernah mengutarakan hati yang menginjil: “Dunia yang gila ini sudah ditebus dan tidak mengetahuinya, – atau menolak untuk mengetahuinya!”

Kebangkitan Kristus mengkonfirmasi keselamatan kita
Setelah bangkit dari kematian pada Minggu pagi dan menampakkan diri pada para murid-Nya yang ketakutan dan melarikan diri, hal pertama yang Yesus berikan pada mereka adalah damai sejahtera Tuhan: “Damai sejahtera bagimu!” (Yoh.20:19). Ia tidak memaksa mereka untuk tunduk atau menerima syarat-syarat damai sebagaimana yang dilakukan oleh agama Islam, melainkan Ia memberikan pada mereka kesempatan untuk menerima penebusan dari-Nya dengan kehendak bebas mereka. Kebangkitan Kristus adalah segel ilahi atas penelesaian karya keselamatan. Sejak Yesus dibangkitkan dari kematian kita mengetahui bahwa : Yesus kudus dan tidak berdosa. Ia tidak pernah sekalipun melakukan dosa dalam perkataan, perbuatan atau pun pikiran, yang akan memberi kesempatan bagi kematian untuk menguasai-Nya. Namun sekarang, Yesus bangkit dan telah mengalahkan kematian. Ketidakberdosaan-Nya, kekudusan dan natur ilahi-Nya telah menjadi nyata. Kita menyembah-Nya oleh karena kekudusan-Nya.
Kebangkitan Kristus juga berarti bahwa Tuhan telah menerima pengorbanan Putra-Nya bagi penebusan. Yesus tidak gagal, sebagai Anak Domba Tuhan, seperti yang dicemooh orang, melainkan Ia telah mendamaikan dunia dengan Bapa-Nya. Pengorbanan-Nya berlaku selamanya dan membuka jalan kepada Bapa bagi semua pendosa yang mau bertobat. Kita menyembah Yesus karena penebusan-Nya yang sempurna bagi kita.

Yesus hidup! Ia tidak mati, Ia adalah Juruselamat yang hidup! Sebaliknya, Muhammad sudah mati dan menantikan Penghakiman Terakhir. Oleh karena itu semua orang Muslim diwajibkan untuk berdoa baginya setiap kali mereka menyebut namanya (Sura 33:56). Di sisi lain, Yesus mewakili kita di hadapan Bapa dan bersyafaat bagi kita. Kita menyembah Yesus karena Ia hidup dan Ia adalah jurubicara kita di hadapan Bapa.

Kekalahan semua kekuatan yang bertentangan dengan Tuhan melalui Anak Domba memberikan kita suatu pembenaran yang menyeluruh melalui anugerah bersama dengan pengampunan cuma-cuma atas dosa-dosa kita. Martin Luther mengekspresikan rahasia keselamatan dengan otoritas yang tidak terbantahkan dalam Katekismus Kecilnya:
“Saya percaya bahwa Yesus Kristus …adalah Tuhanku, yang telah menyelamatkanku, manusia yang terhilang dan celaka,..menebus dan memenangkan saya dari semua dosa, dari maut dan kuasa si jahat. Bukan dengan emas atau perak, tetapi oleh darah-Nya yang sangat berharga dan dengan penderitaan dan kematian-Nya yang bukan dikarenakan kesalahan, sehingga saya dapat menjadi milik-Nya dan hidup dalam kerajaan-Nya dan tunduk pada-Nya dan melayani-Nya dalam kebenaran kekal, tidak bersalah dan terberkati, sama seperti dia yang bangkit dari kematian, hidup dan memerintah selamanya. Ini sungguh-sungguh benar”.

Penyangkalan terhadap penyaliban Kristus dan kebangkitan-Nya di dalam Qur’an
Allah di dalam Islam tidak menerima mediator, Anak Domba, maupun penolong. Hanya Dia-lah Sang Pencipta, Tuhan dan Hakim atas semua ciptaan-Nya. Banyak orang Muslim yakin bahwa jika Allah memerlukan seorang pengantara atau seorang juruselamat untuk menebus manusia, maka Ia tidak Maha Kuasa. Mereka percaya bahwa Allah dapat mengampuni siapapun yang dikehendaki-Nya dan bila Ia menghendaki. Jika Ia tidak ingin mengampuni, maka Ia tidak akan melakukannya. Ia tetap berdaulat, tidak terikat dan bebas. Allah dalam Islam bukanlah Tuhan Bapa yang penuh kasih, yang siap mengorbankan Putra Tunggal-Nya untuk menggantikan orang-orang berdosa yang jahat (Yoh.3:16).

Qur’an juga menyingkirkan kemungkinan adanya seorang pengganti yang mengenakan pada dirinya penghukuman atas kesalahan orang lain, demikian juga semua pengorbanan demi pendamaian dan pengampunan dosa. Oleh karena kasih ilahi (agape) tidak eksis dalam Islam, substitusi spiritual juga tetap merupakan sesuatu yang asing. Semua hukum pengorbanan dalam Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam kematian Kristus ditolak oleh para pakar Hukum Qur’an dan ditetapkan sebagai sesuatu yang mustahil dan kosong.

Qur’an secara radikal menyangkali fakta historis penyaliban Kristus (Sura 4:157). Oleh karena itu, ada terlalu banyak kekurangan pemahaman dalam Islam mengenai konsep pembenaran dan rekonsiliasi dengan Tuhan. Murka Tuhan Yang Kudus tetap ada atas semua orang (Muslim dan juga yang lainnya), yang tidak memenuhi tuntutan hukum (Yoh.3:36). Para pengajar Qur’an mengintimidasi semua Muslim dengan mengancam bahwa malaikat kegelapan akan menulahi mereka bahkan di dalam kubur mereka, jika perbuatan-perbuatan jahat mereka jauh lebih banyak daripada perbuatan-perbuatan baik mereka, – yang celakanya ini dialami oleh semua orang.

Dalam Islam tidak ada keselamatan melalui anugerah, cuma-cuma, karena Islam adalah agama yang legalistik dan memaksa semua orang untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Orang Muslim menolak kebangkitan Kristus. Dua kali dalam Qur’an Muhammad menyatakan bahwa Allah membuat ‘Isa tertidur dan membawa Isa hidup-hidup kepada-Nya. Berdasrkan pernyataan-pernyataan ini, ‘Isa tidak pernah dikuburkan, dan oleh karena itu Ia tidak dibangkitkan. Ia tidak mengalahkan kematian. Allah membawa ‘Isa hidup-hidup kepada-Nya untuk menjauhkan-Nya dari penderitaan di atas salib (Sura 3:55, 4:158)!! Oleh karena itu, di mata orang Muslim, ;isa bukanlah penakluk murka Tuhan, dosa, Satan dan maut. Kuasa-kuasa ini bertentangan dengan Tuhan, dan tetap eksis serta tidak terkalahkan dalam Islam.

Muhammad menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang pengingat dan bukan seorang juruselamat yang akan menyelamatkan dari penghakiman yang akan datang. Hukumnya yaitu syariah, adalah sebuah jalan yang lebar yang diperkirakan (dapat) memimpin orang-orang Muslim langsung ke firdaus. Namun, yang yang benar adalah yang sebaliknya. Tidak seorang pun dapat dibenarkan oleh hukum (Roma 3:20, Gal.2:16). Semua sistem keadilan menghukum orang-orang yang bersalah/melanggar hukum. Hukum, yang menjadi tempat orang Muslim berharap, akan menghukum mereka (Roma 4:15, Yak.2:10).

Kata “keselamatan” dan “Juruselamat” tidak ditemukan di dalam Qur’an. Dalam Islam, tidak ada hal-hal seperti kemurahan Allah terhadap kemanusiaan yang telah rusak, dan juga tidak ada ketegangan batin antara kekudusan yudisial dan kasih-Nya yang menyelamatkan. Islam tidak mengetahui bahwa “Tuhan sangat mengasihi dunia yang jahat ini, sehingga Ia mengorbankan Putra tunggal-Nya, supaya semua orang yang percaya pada-Nya tidak binasa, namun memperoleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16).

Barangsiap yang memahami bahwa semua Muslim mengasingkan diri mereka, melalui liturgi doa harian mereka, dari keselamatan penuh yang telah dikerjakan oleh Kristus, menyadari bahwa penolakan konstan terhadap anugerah dan keselamatan, yang ditransmisikan dengan kuat selama lebih dari 53 generasi, membawa kepada sebuah perbudkan kolektif. Melalui penolakan keras mereka terhadap pembebasan dari murka Tuhan, orang-orang Muslim dengan terng-terangan memilih penghukuman Tuhan (Yoh.3:36).

Implementasi keselamatan dalam hidup individu dan gereja
Yesus memerintahkan para rasul-Nya, sebelum kenaikan-Nya ke surga, untuk menantikan apa yang telah dijanjikan Bapa dan menjelaskan pada mereka: “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” (Kis.1:5)
Yesus telah berbicara secara yudisial, menggenapi penebusan dunia melalui kematian-Nya yang menebus manusia. Kini Ia hendak mengerjakan keselamatan-Nya dalam diri para pengikut-Nya pada tataran spiritual, sama seperti para imam, setelah mempersembahkan kurban di Bait Suci, mengumumkan berkat Tuhan pada umat yang sedang menunggu. Oleh karena itu, setelah kebangkitan-Nya dari kematian, Yesus menjanjikan para murid-Nya: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis.1:8).

Pencurahan Roh Kudus
Setelah yesus membuang dosa dunia di salib, yang bagaikan sebuah bendungan yang tinggi yang telah menahan berkat Tuhan, Roh Kudus pada hari raya Pentakosta, meluap dan tecurah seperti aliran sungai atas semua orang percaya yang sedang berdoa dan menunggu (Kis.2:1-4). Salib tetaplah merupakan prasyarat untuk mendapatkan Roh Kudus, yang tidak bisa diberikan tanpa darah Yesus. Kita tidak menerima Roh Kudus karena usaha kita, tetapi hanya melalui Yesus Kristus,. Ia adalah pokok anggur yang benar, kita adalah carang-Nya (Yoh.15:4-8). Kepada-Nya kita berhutang ucapan syukur dan penyembahan.

Fakta pertama yang disaksikan oleh Petrus dan para rasul, setelah pencurahan Roh Kudus, adalah kebangkitan dan kehadiran Kristus yang telah disalibkan. Kemudian mereka menghimbau agar semua pendengar bertobat dan mengakui dosa-dosa mereka, mendorong para audiens mereka yang terkejut untuk percaya pada Tuhan Yesus yang hidup dan mendesak semua orang untuk dibaptis, sebagai langkah penting kepada Juruselamat mereka, sehingga mereka dapat menerima anugerah Roh Kudus (Kis.2:38).

Penggenapan keselamatan dalam hidup individu
Roh dari Bapa dan Putra, yang berdiam dalam orang-orang percaya, berasal dari luar dan masuk ke dalam mereka. Kehadiran-Nya tidak dalam bentuk menghipnotis diri sendiri dan juga bukanlah peningkatan kadar adrenalin. Disini Tuhan mengintervensi secara personal hidup semua orang yang mencari kebenaran dan mengijinkan-Nya berpartisipasi dalam natur-Nya sendiri (Yoh.14:16,23,26). Ini berseberangan dengan pengajaran Muhammad; Roh Kudus bukanlah suatu roh yang diciptakan, tetapi sudah sejak dari kekekalan berbagi substansi Tuhan yang sangat otentik. Ia adalah “Tuhan yang sejati” (Yoh.4:24). Bilamana Roh berdiam dalam seorang manusia, Ia juga membawa kuasa Tuhan dan karakter etis. Keselamatan menjadi realita dalam hidup orang-orang percaya melalui menerima Roh Kudus. Marilah kita bersyukur kepada Bapa dan Putra untuk anugerah yang dahsyat ini!

Ada beberapa konsep dalam Injil yang menunjukkan tindakan penyelamatan ini, oleh karena kata-kata manusia sangat terbatas dalam mengungkapkan keagungan mujizat ini.
Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa tak seorangpun yang dapat melihat kerajaan Tuhanmaupun memasukinya tanpa dilahirkan kembali (dari atas) dengan air dan Roh (Yoh.3:1 dst).

Yohanes sang penginjil juga bersaksi: “ sebab semua yang lahir dariTuhan, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. (1Yoh.5:4)
Mengenai diri-Nya sendiri Yesus bersaksi: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku” (Luk.4:18, bdk. Yes.42:7).

Seorang Kristen yang sudah lahir baru dapat mengulangi kalimat ini dengan iman. Pada beberapa kesempatan, Alkitab mengkonfirmasi bahwa para pengikut Kristus juga menerima pengurapan Roh (Yoh.16:13, 2Kor.1:21-22, Yer.31:33-34, 1Yoh.2:27).
Paulus menulis bahwa orang percaya telah “dimeteraikan di dalam Dia” dengan Roh Kudus sebagai sebuah proteksi terhadap penghakiman yang akan datang. (2Kor.1:21-22, 5:5, Ef.1:13-14, Wah.7:2-8).

Karunia hidup yang kekal adalah cara lain untuk menggambarkan “berdiamnya” Roh Kudus, sebab Ia sendiri adalah Hidup yang datang dari Tuhan (Yoh.3:16, 5:24, 10:28, 17:2, Kis.13:48, Roma 7:6, 8:10,23, 1Yoh.3:14, 5:11, dll). Siapakah yang menyembah Tuhan Tritunggal atas pemberian-Nya yang tidak dapat terlukiskan ini?

Keselamatan dalam gereja sebagai suatu keseluruhan
Pemberian Roh Kudus tidak hanya ditujukan kepada orang percaya secara individual, tetap sejak semula juga mencapai komunitas secara keseluruhan. Perjanjian baru tidak mengijinkan keegoisan spiritual atau kepuasan soliter. Semua pengikut Kristus membentuk satu Bait Tuhan, oleh karena Roh-Nya hidup dalam mereka (1Kor.3:16-17, 2Kor.6:16, Ef.2:21). Paulus juga menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus yang spiritual (Roma 12:5-8, 1Kor.12:27, Ef.4:4) dimana Kristus menjadi kepala dan kita adalah para anggotanya, yang saling melengkapi satu sama lain.

Tuhan Tritunggal, bagai sebuah magnet yang pemurah, ingin menarik kita kepada-Nya, saat kita berjalan dalam Roh (Yoh.17:21-23). “…kasih Tuhan telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:5).
Oleh karena itu Yohanes menekankan kesaksian yang dahsyat ini: “…Tuhan adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam dia”. (1Yoh.4:16, Ef.3:18-19).

Kenyataan bahwa Roh Bapa dan Putra masuk dalam kita dan tinggal bersama kita lebih lanjut dikonfirmasi, walau mendapatkan ekspresi yang berbeda, oleh bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu kita harus sekali lagi belajar untuk mengakui: “Saya percaya pada Roh Kudus!” – dan tidak meninggalkan artikel iman yang ketiga dari Pengakuan Iman Nicea ke tangan sekte-sekte dan para visioner, namun kita menghidupinya dalam kuasa Kristus. Kehadiran Roh Kudus dalam diri manusia fana berarti persekutuan erat dengan Tuhan diberikan secara cuma-cuma, yang sebelumnya telah dipersiapkan melalui Perjamuan Malam Terakhir. Keselamatan berimplikasi kesatuan dengan Tuhan Bapa, melalui Yesus Kristus Putra-Nya, dalam kuasa Roh Kudus. Siapakah kita sehingga Tuhan harus menetapkan kita untuk menerima hidup kekal?

Bagaimana kita dapat menerima Roh Tuhan?
Pertama, kita harus mengakui bahwa pada Hari Pentakosta Tuhan mencurahkan Roh-Nya pada semua manusia (Yoel 3:1-5, Kis. 2:16-21). Roh ini tidak usah dicurahkan lagi, terutama untuk kita. Melalui darah dan kebenaran Kristus, kita berhak menerima Dia. Barangsiapa yang mendengar perkataan Yesus: “Terimalah Roh Kudus!” (Yoh.20:22) dan percaya pada-Nya, telah menerima Roh Kudus melalui imannya kepada Kristus. Roh masuk ke dalam kita melalui iman, demikian pula iman adalah buah Roh (Yoh.1:12-13, Kis.16:31, Ef.2:8-10, Fil.2:12-13 dll). Tidaklah penting bahwa kita merasakan (kehadiran) Roh pada peristiwa ini. Yang utama adalah kita percaya Ia telah menguasai kita. “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Tuhan akan Kuperlihatkan kepadanya.”(Maz.50:23).

Barangsiapa yang bersyukur dalam iman untuk pemberian Roh Kudus, memuliakan Tuhan, dan ini berarti Tuhan akan menunjukkan padanya jalan keselamatan. Yesus telah menjelaskan pada kita pada beberapa kesempatan, bagaimana kita dapat benar-benar Roh Tuhan (Luk.11:9-12, Yoh.6:47,63, 10:27-30, 11:40, 14:26-27, 15:4-8, bdk.Kis.2:39, 9:17-19, dll). Beranilah untuk percaya! Berdoa dengan ucapan syukur dan memiliki keyakinan, karena Yesus sendiri akan menarik anda kepada keselamatan-Nya dan menguatkan anda didalamnya. Kasih-Nya tidak pernah gagal.

Roh Kudus tidak diberikan kepada kita untuk mempertinggi kenikmatan spiritual kita, melainkan, Ia ingin memperbaharui dan menguduskan seluruh cara hidup kita. Untuk tujuan inilah Ia memberikan kita pengenalan akan Bapa dan Putra (Roma 8:15-16). “Tidak seorangpun dapat berkata, ‘Yesus adalah Tuhan!’, kecuali oleh Roh Kudus” (1Kor.12:3).

Roh Kudus adalah kasih.
Ia ingin mengalahkan keegoisan kita.
Roh Kudus adalah sukacita
Ia ingin menyingkirkan depresi kita.
Roh Kudus adalah damai.
Ia ingin menenangkan kegelisahan kita.
Roh Kudus adalah kebenaran.
Ia ingin membersihkan kebohongan kita.
Roh Kudus adalah kesabaran.
Ia ingin mengatasi sifat kita yang gampang tersinggung.
Roh Kudus itu rendah hati dan lembut.
Ia ingin mematahkan kesombongan kita
Roh Kudus itu suci.
Ia menyucikan semua bidang kehidupan kita.
Tanpa pengudusan, tak seorangpun akan dapat melihat Tuhan
(2Kor.7:1, 1Tes.4:3-8, Ibr.12:14).

Roh Kudus menggerakkan kita
Roh Yesus mengajarkan kita untuk berdoa, menyembah Bapa dan Putra, mengakui dosa-dosa kita, memuji dan bersyukur (Mat.6:9). Ia memberanikan kita untuk memanggil Tuhan sebagai Bapa dalam doa-doa kita. Ia bersaksi kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Tuhan (Roma 8:14-16). Ia memotivasi kita untuk berdoa dengan tekun dan tidak putus-putusnya (Ef.6:18-20).

Roh Kudus memberi kita empati yang mendalam, belas kasihan bagi semua orang yang mati dalam dosa-dosa mereka. Ia mendorong kita untuk memberitakan Injil pada mereka dalam cara yang dapat mereka mengerti. Petrus sendiri bersaksi di hadapan hakim-hakimnya di Sanhedrin: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis.4:12, bdk.10:43).

Roh Kudus itu murah hati, sabar dan menaklukkan kehinaan kita. Ia menghibur kita dan mewajibkan kita untuk bersaksi, sebagaimana Ia berulangkali menguatkan Paulus dalam kekuatirannya, seperti yang ia akui: “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Tuhan yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, …” (Roma 1:16).

Dalam pekerjaan misi diantara orang Yahudi dan Muslim, keselamatan Yesus Kristus tidak hanya dikonfirmasi oleh suatu perasaan sukacita yang subyektif, tetapi juga kelepasan dari perbudakan kolektif, pembebasan dari cengkeraman kuasa-kuasa spiritual/roh jahat dan suatu keberanian yang penuh sukacita untuk bersaksi dengan sungguh-sungguh akan satu-satunya Juruselamat. Yesus ingin agar sukacita kita menjadi penuh (Yoh.15:11, 16:24, 17:13). Ini dapat menjadi pengalaman kita ketika bersaksi bagi Yesus dan keselamatan-Nya yang penuh. Marilah kita memproklamasikan kemenangan Yesus Kristus, karena:..lihatlah, inilah hari penyelamatan” (2Kor.6:2).

Apakah yang dikatakan Qur’an mengenai Roh Kudus?
Dalam kitab suci orang Muslim ada 29 ayat yang menyebut “roh Allah” dan “roh Yang Maha Kudus”. Dalam banyak kesempatan, Jibril (malaikat Gabriel) yang dimaksudkan; ia dipandang sebagai yang telah menyatakan Taurat, Injil dan Qur’an. Roh Allah memanifestasikan diri-Nya pada waktu penciptaan Adam, ketika Perawan Maria mengandung, melalui mujizat-mujizat Kristus dan melalui pewahyuan Kitab Suci kepada Muhammad. Dalam tiap kesempatan, roh Allah adalah makhluk ciptaan, yang tidak memiliki atribut keilahian maupun juga kekekalan (Sura 17:85, 42:52, 97:4 dll). Oleh karena itu dalam Islam semua elemen dari artikel iman kita yang ketiga tidak ada!

Barangsiapa yang memahami konsekuensi dari pernyataan ini juga telah melihat hingga kepada implikasi pastoral dari doktrin Islam. Agama gurun pasir ini tidak mengijinkan adanya hidup spiritual dan menyingkirkan kemungkinan bahwa Muhammad atau para penirunya menjadi tempat kediaman Roh Kudus. Pengetahuan mengenai Tuhan Sang Bapa dan Outra ditolak dan dianggap sebagai penghujatan yang tidak terampuni. Penebusan melalui anugerah adalah sesuatu yang tidak terbayangkan dalam Islam (Sura 35:29-30, 9:11). Buah Roh atau berdoa dengan bebas, seperti layaknya sebuah percakapan, adalah sesuatu yang tidak ada. Allah adalah satu-satunya penguasa. Disamping-Nya tidak boleh ada Putra dan Roh ilahi. Oleh karena itu Islam adalah, dari sudut pandang spiritual, “maut dalam kuali” (2Rj.4:40).

Absennya pembaharuan hidup
Kesalehan hidup, fanatisme dan ritual-ritual doa orang Muslim tidak ada hubungannya dengan Roh dari Yesus. Mereka tetaplah ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Pengudusan dan transformasi orang percaya ke dalam keserupaan dengan Tuhan dianggap sebagai suatu penyimpangan dalam Islam. Berlomba-lomba mendapatkan uang dan rampasan perang (Sura 8:41, 67,70; 48:20) sebagaimana praktek poligami bagi kaum pria, sangat diperbolehkan. Kuasa dan kehormatan dalam sebuah negara religius adalah tujuan dari semua usaha keras mereka.
Pengharapan kuat akan hidup kekal, seperti yang dikomunikasikan Roh Kudus, tidak dikenal oleh seorang Muslim. Ia berharap bahwa Allah akan mengevaluasi perbuatan-perbuatan baiknya secara positif, sehingga perbuatan-perbuatan jahatnya akan dihapuskan (Sura 11:114). Roh yang menghiburkan dan menjanjikan pembenaran atas dasar kematian Yesus Kristus yang membawa penebusan tidak ditemukan di dalam Islam. Roh hukum menyingkirkan roh pengampunan dan kasih. Roh yang berbicara melalui Muhammad bukanlah roh yang kudus, tetapi anti Kristen dan najis.

Semua agama dan filosofi yang tidak dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan mengenai kehidupan sesudah kematian sesungguhnya tidak berharga. Yesus telah menyatakan pada kita dalam konteks ini: “25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh.11:25-26).

Pengharapan pasti akan hidup kekal
Berkenaan dengan berdiamnya Roh Kudus dalam diri para murid Kristus, Paulus menulis: “Kristus dalam kamu, pengharapan kemuliaan!” (Kol.1:27). Roh Kudus adalah janji kemuliaan yang akan dinyatakan bagi mereka yang percaya pada Kristus (1Kor.1:22, 5:5, Ef.1:14).
Mengenai subyek ini Yohanes menulis: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Tuhan, dan memang kita adalah anak-anak Tuhan. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. 2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Tuhan, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”. (1Yoh.3:1-2, Wah.1:13-18).

Sebelumnya Paulus telah bersaksi: “ Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara”. (Roma 8:29).
Orang-orang Kristen membawa dalam diri mereka suatu pengharapan yang pasti akan hidup kekal, karena Roh Kudus di dalam mereka adalah hidup kekal (Yoh.6:63, 17:3, Roma 6:23, 8:10, Gal.6:8, 1Pet.4:6, Wah.11:11). “ Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya”. (Roma 13:11, 1Pet.5:9, Ibr.9:28).

Kembalinya Kristus dan penggenapan keselamatan
Saat berdiri di hadapan Sanhedrin di Yerusalem, Yesus menyatakan pada para hakim-Nya bahwa, ketika memandang dari kerajaan orang-orang mati, mereka akan dapat melihat Dia duduk di sebelah kanan Kuasa dan datang kembali di atas awan-awan surga (Maz.110:1, Dan.7:13-14, Mat.26:64). Kembalinya Kristus adalah peristiwa yang paling penting di masa depan. Semua pengalaman kita harus dipahami dalam terang ini dan kerja keras kita harus diorientasikan kepada tujuan ini. Bahkan orang Muslim mengetahui bahwa Yesus akan kembali; tetapi mereka percaya bahwa Ia akan datang kembali untuk membunuh anti Kristus, menghancurkan salib-salib di gereja dan kuburan, menikah dan mentobatkan umat manusia kepada Islam. Sungguh ini sebuah realita karikatur! Sebuah penyimpangan demonis! Nubuatan Alkitab mengenai kedatangan Kristus yang kedua kali dalam terang kemuliaan menyebutkan tentang peristiwa-peristiwa yang penting yang berhubungan dengan hal ini. Kita mengakui, dalam Pengakuan Iman Nicea, bahwa Ia akan datang kembali untuk “menghakimi orang yang hdup dan yang mati”. Pada kedatangan Kristus yang kedua kali, semua yang telah mati akan dibangkitkan kembali agar hadir di Penghakiman Terakhir (Roma 14:10, Kis.17:31, 2Kor.5:10).

Tahta Penghakiman Kristus
Semua orang yang kritis pada diri sendiri, menantikan hari besar yang digambarkan dalam Mat.25:31-46 akan didesak untuk berefleksi dan sangat terusik:
Tuhan Kemuliaan akan duduk di tahta-Nya, mengumpulkan semua bangsa dalam hadirat-Nya dan membagi umat manusia satu sama lain seperti gembala memisahkan domba dari kambing. Ia akan memuji para pengikut-Nya di sebelah kanan tangan-Nya dan akan menyebut mereka sebagai orang-orang yang diberkati Bapa, karena mereka telah menolong orang-orang yang ada dalam kesesakan. Namun, orang-orang yang adil tidak menyadari apa yang mereka lakukan pada waktu itu dan menganggap bantuan mereka adalah sesuatu yang bermakna. Tetapi Yesus akan menilai pelayanan mereka berarti hanya apabila mereka melakukannya untuk Yesus sendiri. Ia akan menjanjikan mereka Kerajaan Tuhan sebagai warisan abadi mereka.

Hakim akan bertanya pada mereka yang berdiri di sebelah kiri-Nya mengapa mereka tidak melayani-Nya dengan menolong orang-orang miskin. Mereka akan menjawab-Nya dengan mengatakan bahwa mereka tidak menemukan orang-orang yang susah. Hati mereka keras, mereka hanya dapat memandang diri mereka sendiri dan tujuan-tujuan mereka yang egois. Yesus akan berkata kepada mereka: “…Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Mat.25:41).

Pada titik ini, muncul pertanyaan-pertanyaan: Apakah mereka yang terberkati hanya melakukan yang baik danti dak pernah melakukan yang jahat? Dan para pengikut kejahatan juga tidak ada melakukan yang baik? Tentu saja! Tetapi para pengikut Yesus mengakui dosa-dosa mereka, bertobat dan menerima pengampunan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada pengingat negatif dalam hidup mereka. Hati mereka jadi penuh kemurahan melalui kasih dan penderitaan Yesus.

Bagi para pengikut Satan, mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Mereka tidak menyadari atau mengakui dosa mereka dam menolak untuk menerima pengampunan Kristus. Mereka memisahkan diri mereka sendiri dari keselamatan yang telah disediakan bagi mereka. Uang, kekuasaan, seks dan gengsi menjadi motivasi pendorong kehidupan mereka. Jadi secara bertahap mereka jatuh lebih dalam ke kehancuran.

Kita harus merenungkan jauh ke depan dalam mencari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang jelas mengenai Hakim kita di masa yang akan datang, berdoa dengan serius mengenai hal itu dan menyerahkan diri kita untuk bersyafaat untuk semua orang Muslim dan Yahudi yang menolak pengorbanan Putra Tuhan yang membawa penebusan. Dapatkah kasih Yesus mengubahkan kita menjadi pendoa-pendoa yang peduli, percaya, berkorban dan melayani, karena itu didesak oleh Roh-Nya?

Transformasi universal pada kedatangan Yesus
Ketika Yesus ada di dunia Ia melakukan banyak mujizat sebagai tanda kemahakuasaan-Nya (Yoh.21:25): Ia menyembuhkan semua orang sakit, mengusir roh-roh jahat keluar dari orang yang kerasukan dan memerintah sebagai Tuhan yang berkuasa atas alam. Kedatangan-Nya menghancurkan kekuatan-kekuatan merusak dari kuasa jahat atas hidup kita. Tindakan-tindakan berotoritas ini adalah sebuah bayangan dari pemerintahan-Nya di masa yang akan datang atas langit dan bumi yang baru, yang akan didirikan diatas kebenaran-Nya (Yes.65:17, 66:22, 2Pet. 3:13, Wah.21:1, 27).

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menyatakan bentuk eksistensi kita di masa depan (Luk.24:36-43), ketika Ia dengan diam-diam bergerak dalam tubuh spiritual-Nya menembus batu kubur-Nya dan pintu-pintu yang tertutup (Yoh.20:19). Kita akan mempunyai tubuh spiritual yang tidak dapat rusak, tanpa noda atau keriput (1Kor.15:42-44, 1Pet.1:4-9). Disana tidak ada pernikahan antara pria dan wanita (Mat.22:29-33, Gal.3:28). Kita akan melayani Tuhan dan Domba-Nya, berpakaian jubah kudus pembenaran-Nya (Wah.7:15, 22:2-5). Maka akan menjadi nyata bahwa: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor.5:17, Gal.6:15).

Kita tidak mengharapkan makanan dan minuman atau kenikmatan duniawi saat di surga. Kita ingin kembali pulang dan bertemu Bapa kita (Luk.15:17-24)! Persekutuan dengan Tuhan Sang Bapa dan Putra adalah rahasia, isi dan tujuan keselamatan kita (Yer.7:3, Wah.21:3). Damai dan kasih-Nya akan mengelilingi dan melindungi kita. Tidak ada lagi penderitaan dan sakit, dan kematian tidak akan ada lagi. Bapa akan menghapus semua air mata dari mata kita. Ia akan menjadikan segala sesuatunya baru, kudus dan murni (Wah.21:3-5, Im.11:44, 19:5, Mat.5:48). Khotbah Di Bukit akan terbukti kebenarannya (Mat.5:3-12). Kita akan mengalami apa artinya menjadi anak-anak dalam keluarga Tuhan (Ef.2:19-22). Anak Domba yang telah dikorbankan, telah menebus kita, dan memasukkan kita ke dalam keselamatan-Nya dan mengkonfirmasi kita dalam keselamatan-Nya itu (Wah.7:10, 17, 21:22-23). Yesus adalah pengharapan kita dan kehidupan kita (Yoh.14:6,27, Ef.2:14), seperti dalam lirik puisi karya Krummacher yang mengatakan:

Tiada yang dapat kubawa kepada-Mu

Engkau, Ya Tuhan, adalah segalanya bagiku!
Penyesatan Qur’an berkenaan dengan Hari Penghakiman
Artikel keenam dari iman berkenaan dengan kebangkitan orang mati. Orang Muslim memperhitungkannya dengan tanda-tanda yang heboh. Dalam hal ini, termasuk Gog dan Magog, yang akan diadakan oleh Alexander Agung/Yang Bertanduk Ganda (Sura 18:83-98)! Antikristus (Dajjal) akan dibunuh oleh Kristus ketika Ia kembali, demikian juga dengan babi-babi. Setelah ‘Isa mentobatkan dunia yang tidak bertuhan kepada islam, Ia sendiri juga akan mati. Pemakaman-Nya di kubur Muhammad di Medina akan mengawali Penghakiman Terakhir (Sura 43:61)!
Seorang malaikat akan meniup terompet yang pertama dengan hembusan yang dahsyat. Setelah mendengarnya, semua makluk hidup akan mati atau kehilangan kesadaran. Pada tiupan terompet yang kedua, langit akan terkoyak dan remuk, gunung-gunung akan berlalu dan orang mati akan hidup kembali (Sura 6:73, 18:99, 20:102, 23:101, 27:87, 36:51, 39:68, 69:13, 74:8, 78:18, 82:1-5, 101:4-7). Lalu mereka akan berdiri dalam barisan yang panjang dan tetap diam sampai mereka ditanyai (Sura 78:38). Penghakiman Terakhir akan berlangsung selama 50.000 tahun bumi (Sura 70:4). Itu disebutkan sebanyak 148 kali di dalam Qur’an dengan nama yang berbeda. Delapan malaikat akan mengangkat tahta Allah di atas kepala mereka, yang akan memeriksa penghakiman umat manusia (Sura 1:2-4, 69:17). Kitab-kitab akan dibuka, yaitu yang didalamnya tercatat semua perbuatan manusia. Pada timbangan-timbangan tinggi, masing-masing dengan dua skala, perbuatan-perbuatan baik mereka akan ditimbang terhadap kejahatan-kejahatan mereka (Sura 7:7-9, 23:102-103, 42:17). Orang yang benar akan menerima keputusan di tangan kanan mereka, orang yang jahat di tangan kiri. Saat mereka menyeberangi jembatan yang melintasi jurang yang menyala-nyala dengan api, orang-orang yang terkutuk akan langsung jatuh ke dalam lautan api, sementara orang-orang yang diberkati akan berjalan dengan mulus dan ringan menyeberanginya dan masuk ke dalam Firdaus.
Perbandingan apapun antara pengharapan eskatologis dalam Qur’an dan janji-janji dalam Alkitab akan menghasilkan kontradiksi yang mencolok:
Hakim di dalam pengadilan Islam bukanlah Yesus Sang Juruselamat, tetapi Allah yang menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan membimbing siapa yang diinginkan-Nya ke jalan yang benar.

Orang Muslim tidak mempunyai pemahaman yang menyeluruh mengenai dosa. Mereka tidak tahu bahwa mereka jahat dan terhilang, sama seperti semua orang lain. Mereka berharap bahwa iman dan perbuatan-perbuatan baik mereka akan cukup untuk membenarkan mereka di hadapan Tahta Penghakiman.

Mereka yakin bahwa mereka tidak memerlukan pengorbanan untuk menebus mereka dan juga mereka tidak memerlukan seorang pengantara. Mereka dengan keras menolak Dia yang disalibkan (Sura 4:147). Kebencian mereka terhadap Putra Tuhan dapat memuncak hingga sampai kepada penghujatan (sura 3:61, 9:29). Mereka memerangi Juruselamat dan Hakim mereka.

Dalam Islam tidak ada pembaharuan spiritual untuk segala sesuatu (Wah.21:5). Melainkan, orang Muslimmemperhitungkannya dengan sebuah versi kedua dari penciptaan yang pertama, sehingga bahkan cap jempol mereka pun akan identik dengan yang terdahulu. Kenikmatan dan kesakitan menjadi semakin intensif baik di surga dan juga di neraka. Oleh karena Roh Kudus tidak ada dalam Islam, maka tidak akan ada regenerasi spiritual bahkan di dalam Firdaus.
Berdasarkan satu tradisi yang berhubungan dengan Muhammad, 90% dari penghuni surga adalah pria dan 90% penghuni neraka adalah wanita, karena mereka senantiasa tidak taat kepada suami mereka. Inilah alasan mengapa Allah telah menciptakan bagi setiap pria Muslim beberapa bidadari (hingga 70 bidadari untuk seorang pria) dan memberikan kepada orang-orang benar kemampuan seksual yang hebat (Sura 36:55-58, 37:49, 55:56,74, 56:35-37, 78:33, dll).

Pada masa kini, ayat-ayat Qur’an ini kan menunjukkan bahkan pada orang-orang yang merupakan sahabat para Muslim, bahwa Islam adalah sebuah bidat, yang diekspos oleh Yesus, ketika Ia menjawab spekulasi orang Saduki: “29 Yesus menjawab mereka: “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasaTuhan! 30 Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga”. (Mat.22:23-33, Mark.12:18-27, Luk.20:27-38).
Allah sendiri tidak akan hadir di Firdaus orang Muslim. Ia berdiam jauh tinggi di langit ketujuh. Ia tetaplah Tuhan yang besar, jauh, tidak terjangkau, yang tidak bersekutu dengan para penyembah-Nya dan tidak memberikan mereka penebusan maupun pengudusan. Para mistikus Islam berusaha untuk menafsirkan beberapa ayat Qur’an sedemikian rupa untuk mengakui kehadiran Allah di Firdaus, tetapi usaha mereka ditolak oleh beberapa komentator ternama.
Tidak ada orang Muslim yang mendapatkan jaminan keselamatan dalam agamanya yang legalistik. Pengharapan yang ada hanyalah bahwa Allah, pada Penghakiman Terakhir, akan mengampuni dosa-dosa, karena Ia disebut “Yang Mengampuni” lebih dari 100 kali di dalam Qur’an. Apakah ia akan berkehendak untuk mengampuni dan apakah Ia akan memberikan amnesti menyeluruh atau sebagian saja adalah sesuatu yang tidak dapat diduga. Cara Yesus berbicara kepada orang lumpuh: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni”(Mat.9:2, Luk.7:48) adalah hal yang tidak terbayangkan dalam Islam, oleh karena keputusan itu hanya dapat diumumkan oleh Allah sendiri pada Penghakiman Terakhir.

Karena orang-orang Muslim tidak percaya pada putra Tuhan atau Roh Kudus, mereka tidak dapat mengakui Allah sebagai Bapa mereka. Lebih jauh lagi, mereka dengan keras kepala tidak percaya pada rekonsiliasi dengan Tuhan melalui Kristus dan tidak bayangan mengenai hidup dalam Roh Kudus. Dalam Islam, kematian spiritual terjadi di sepanjang jalan menuju ke surga.
Dalam wahyu Yesus, kita mendengar nyanyian kemenangan surgawi para martir, yang telah keluar dari penyiksaan besar di hari-hari terakhir:
“Keselamatan bagi Tuhan kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”
(Wahyu 7:10, bdk. 11:15, 12:10)
Para saksi yang telah kehilangan hidup mereka, melihat apa yang telah mereka percayai. Mereka beriman bahwa keselamatan sempurna akan digenapi dalam kita juga dan semua janji dalam Perjanjian Baru akan menjadi kenyataan. Kristus telah dikorbankan satu kali dan untuk semua orang untuk mengambil alih dosa banyak orang. Pada kedatangan-Nya yang kedua, Ia tidak akan dimanifestasikan karena dosa, tapi untuk keselamatan mereka yang sangat menantikan-Nya (Ibr.9:28).

Dalam konteks ini Petrus menulis:
“Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Tuhan karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir”. (1Pet.1:5).
“8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, 9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu”. (1Pet.1:8-9).
“ 23 Semoga Tuhan damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. 24 Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”. (1Tes.5:23-24).

K U I S   5
Pembaca yang kekasih!
Jika anda telah mempelajari tulisan ini dengan teliti, anda dapat dengan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Barangsiapa yang menjawab 90% dari semua pertanyaan dari tulisan-tulisan yang berbeda dari seri ini dengan tepat, akan memperoleh sebuah sertifikat dari pusat kami di:

Advanced Studies
In Basic Differences between Islam and Christianity

Untuk menyemangati pelayanan anda di masa depan bagi Kristus. Kami akan sangat menghargai jika anda memuat referensi Qur’an dalam jawaban anda.
1. Dalam Perjanjian Baru kita membaca bahwa Tuhan menginginkan agar semua manusia diselamatkan. Apakah ayat ini juga mencakup semua orang Muslim?
2. Allah berkata di dalam Qur’an, “Jika Kami menghendaki, Kami akan memberikan petunjuk bagi setiap orang. Tetapi sudah ditetapkan bahwa: Aku akan memenuhi neraka dengan jin dan manusia”. Apakah artinya bahwa Allah tidak ingin menyelamatkan semua orang?
3. Orang Kristen percaya bahwa Kristus adalah pengganti bagi kita, yang menyingkirkan semua dosa. Apakah ia juga menghapuskan dosa orang Muslim, atau haruskah Ia mati lagi untuk mereka?
4. Di dalam qur’an ada tertulis: “Perbuatan baik menghapuskan perbuatan jahat” (Sura 11:114) apakah arti pernyataan itu?
5. Mengapa orang Muslim, yang berperang bagi Allah dengan senjata, percaya bahawa dosa-dosanya akan diampuni?
6. Bagaimanakah Martin Luther menjelaskan rahasia keselamatan dalam Katekismus Kecil?
7. Apakah arti fakta yang mengejutkan bahwa Muhammad menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang pengingat dan bukan sebagai seorang juruselamat berkenaan dengan penghakiman yang akan datang?
8. Mengapa Syariah (Hukum Islam) adalah jalan yang lebar yang harus membawa semua Muslim ke Firdaus?
9. Mengapakah Hukum, yang dipercayai orang Muslim sebenarnya menghakimi dan menghukum mereka?
10. Mengapa pencurahan Roh Kudus merupakan buah atau hasil dari kematian Kristus di salib?
11. Mengapa tidak mungkin bagi Islam untuk mengetahui atau memiliki Roh Kudus dan harus tetap tanpa pengharapan yang pasti akan hidup kekal?
12. Berapa banyak terompet yang diceritakan Qur’an yang menandai penghakiman terakhir?
13. Apa yang akan terjadi setelah tiupan terompet yang kedua menurut Qur’an?
14. Berapa lama penghakiman terakhir akan berlangsung menurut pandangan Muslim?
15. Mengapa timbangan besar dengan dua wadah timbang merupakan alat yang penting pada hari penghakiman bagi orang Muslim?
16. Mengapa orang Muslim berpikir bahwa 90% penghuni surga adalah pria dan 90% penghuni neraka adalah wanita?
17. Mengapa orang Muslim berharap bahwa Allah akan menyediakan baginya hingga 70 bidadari di surga?
18. Bagaimana Yesus dapat menetapkan bahwa pengharapan masa depan islami sebagai sebuah kesalahan?
19. Mengapa orang Kristen tidak boleh takut terhadap penghakiman terakhir?
20. Sejauh apa para pengikut Kristus pada masa kini telah mempunyai hidup kekal dalam diri mereka?
Setiap peserta dalam kuis ini diijinkan untuk menggunakan buku apa saja yang dipandangnya baik dan bertanya pada orang yang dapat dipercayai yang dikenalnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kami menantikan jawaban tertulis anda termasuk alamat lengkap anda pada surat atau dalam e-mail anda. Kami berdoa untuk anda pada Yesus, Tuhan yang hidup, agar Ia memanggil, mengutus, menuntun, menguatkan, menjaga dan menyertai anda setiap hari dalam hidup anda!
Saudaramu dalam pelayanan-Nya,
Hamba-hamba Tuhan

Kirimkan jawaban anda ke:
GRACE AND TRUTH, P.O.Box 1806
70708 Fellbach, GERMANY
Atau melalui e-mail ke:
Info@grace-and-truth.net