Apakah Kristus Disalibkan? (Ep 12)

1 Comment

Episode 12

Pembawa Acara : Hallo para pemirsa terkasih, selamat datang di episode baru dari program kami “Questions about Faith”. Kami sangat senang menjawab semua pertanyaan Anda, dan ada bersama dengan kami Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang Bapak Pendeta.

Bapa : Terima Kasih

Pembawa Acara : Kita telah membahas fakta-fakta penyaliban Kristus. Bersediakah Anda memberikan pada kita rangkuman khususnya bagi pemirsa yang tidak menyaksikannya, sehingga mereka bisa mengikuti topik yang sedang dibahas, karena Anda tahu betapa pentingnya topik ini bagi kita semua?

Bapa : Ini adalah inti dari kekristenan, ini merupakan kekuatan (pendukung) atau porosnya. Jika Anda meniadakan penyaliban dari kekristenan, kekristenan akan menjadi tidak berarti. Inilah dasarnya. Kita sedang berbicara tentang penyaliban Kristus, tapi dalam hal inkarnasi bahwa Kristus adalah Putra Allah, mengapa? Karena Dia adalah Allah yang berinkarnasi, kenapa? Untuk mengenapi penebusan kita dan kita harus tahu bagaimana Dia menggenapi penebusan itu. Karena pada mulanya Allah menciptakan manusia karena kasih menurut gambar dan rupaNya, menyediakan segala sesuatu bagi manusia. Kemudian dosa masuk melalui tipu daya dan kebencian iblis yang dapat memisahkan manusia dari Allah dengan cara memberontak terhadap Allah, melanggar perintahNya. Dan sekarang manusia harus menghadapi penghakiman yang adil, dia sekarang dihakimi oleh kematian. “Upah dosa adalah maut.” “Pada hari engkau memakan buah ini engkau akan mati.” Sekarang dia menghadapi hukuman mati. Kita telah belajar di episode sebelumnya bahwa Allah Maha Pengampun, jadi akankah Allah membiarkan manusia mati? More

Kesaksian Qur’an & Tuduhan Tahrif dalam Kitab Suci Taurat & Injil

1 Comment

Oleh: Teguh Hindarto

Muhamad dan Islam telah berjumpa dengan Yudaisme dan Kekristenan saat pertumbuhan awal di Medinah. Berbagai interaksi antara Muhamad dan orang-orang Yahudi yang menganut Yudaisme dan orang-orang Kristen, sebagaimana dikatakan Bambang Ruseno Utomo,MA. Bercorak “dialectical relationship”. Artinya, “Disatu pihak bersifat positip, yaitu para ahl ul Kitab telah menerima Wahyu Allah dan kitab yang benar, autentik dan asli dari Allah sendiri. Namun di pihak lain bersifat negatif, yaitu mengritik para ahl ul kitab telah menyembunyikan atau yatumuna, tuchfuna (Qs 2:146), mengubah dan merusakkan atau yuharifuna (Qs 4:46; 5:13,41, Qs 2:75-79) serta mengganti atau baddala, yaluna (Qs 2:58-59; 7:161-162) akan Wahyu Allah dalam hidup mereka[1] Masih  menurut Bambang Ruseno Utomo,MA., “Dari semua tuduhan tersebut, tuduhan yang paling serius adalah tuduhan mengubah dan merusakkan (yuharifuna), kata bendanya Tahrif. Di dalam bahasa Arab, kata ini disebut tahrif lafzi atau dapat diartikan perubahan tafsiran disebut tahrif ma’nawi[2].

Setidaknya ada sepuluh ayat yang memberikan rujukan tudingan adanya Tahrif yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Kristen sbb:[3]

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa” (Qs 2:41). More