EPISODE 17

Pembawa Acara : Para pemirsa yang saya kasihi, selamat datang kembali di acara kami “Questions About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman). Merupakan kebahagian bagi kami untuk memulai kembali pertemuan kami dengan Anda dan kami senang karena telah hadir disini bersama kami Bapak Pendeta Zakaria Buotruos. Selamat datang, Bapak Pendeta.

Bpk.  Zakaria: Terima kasih.

Pembawa Acara : Kita sedang mendiskusikan banyak topik akhir-akhir ini dan juga saat ini. Topik diskusi kita adalah ketidak-mungkinan adanya penyimpangan dalam Alkitab. Saya ingin Anda, seperti biasa memberikan penjelasan singkat atas apa yang telah diungkapkan pada episode yang lalu, agar tetap dapat mengikuti diskusi saat ini.

Bpk. Zakaria : Baiklah. Kita sedang berbicara tentang Alkitab yang diungkapkan Allah, dinyatakan oleh Alkitab sendiri dan oleh Qur’an. Alkitab adalah sebuah pesan kasih dari Allah untuk menunjukkan jalan penebusan bagi semua orang berdosa. Kitab tersebut menunjukkan kepada manusia bagaimana Allah bisa menerimanya, karena Dia mengasihinya dan bahwa Kristus telah mati di kayu salib sebagai penebusan. Jadi disini Alkitab mengungkapkan segala sesuatu, misteri iman, sehingga siapapun yang ingin berhubungan dengan Allah dan siapapun yang ingin mengenal Allah, harus mengetahui Alkitab. Oleh sebab itu Setan melawan Alkitab dengan semua kekuatan jahatnya. Setan tidak ingin manusia membaca ataupun membuka Alkitab. Dan dia memberikan tuduhan-tuduhan tentang Alkitab, bahkan dia menuduhnya telah mengalami penyimpangan sehingga tak seorangpun akan menyentuhnya. Tetapi bersyukur pada Allah, seperti yang telah kita bicarakan sebelumnya bahwa ada ayat-ayat dalam Qur’an yang menyatakan ‘ya’ untuk keaslian Alkitab dan kebebasannya dari penyimpangan. Kami telah menyebutkan Surat 5 : 47, “Dan kami telah menurunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan untuk melindunginya.” Ini berarti Qur’an pada masa nabi Muhamad menyatakan bahwa Alkitab tidak mengalami perubahan (“untuk membenarkan apa yang telah diturunkan sebelumnhya”). Apakah isinya tidak benar, Qur’an tidak mengatakan demikian. Mengenai hal ini telah diulang berkali-kali, sekitar 12 sampai 13 Surat. Seperti kita ketahui, ada sesuatu yang lain. Ayat tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa Allah memerintahkan nabi Muhamad dan kaum Muslim untuk merujuk kepada Alkitab. Akankah Allah meminta mereka untuk merujuk kepada kitab yang telah dirusak? Tidak mungkin. Karena kitab tersebut memang tidak dirusak. Surat 10 : 94 mengatakan: “Maka jika kamu (Muhamad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka bertanyalah pada orang-orang yang telah membaca kitab tersebut seb elum kami.” Itu berarti merujuk pada orang-orang itu dan mereka akan menceritakannya kepadamu. Apakah artinya kitab itu telah mengalami penyimpangan? Bagaimana Dia meminta nabi Muhamad dan kaum Muslim merujuk pada kitab tersebut?

Pembawa Acara : Sebaliknya ada sebuah peringatan.

Bpk. Zakaria : Ya, adakah? Surat 6 : 89 dan 90, “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian. Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” Artinya: berjalanlah menurut bimbingan dan petunjuk mereka. Dan dalam Surat 16 : 43, Allah memerintahkan mereka untuk merujuk pada orang-orang yang punya pengetahuan, “Sebelum kamu, Kami telah mengutus orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu, maka bertanyalah kepada orang-korang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Pembawa Acara : Anda telah mengucapkan frase “bertanyalah pada orang-orang yang mempunyai pengetahuan” sebanyak 2 kali.

Bpk. Zakaria : Benar. Dan lagi Muhamad sendiri memberi kesaksian dalam ayat-ayat Qur’an mengenai Taurat dan Injil yang ada pada jamannya. Dia membenarkan bahwa Taurat dan Injil adalah petunjuk yang berguna dan dapat dipercaya. Mari kita lihat ayat yang berikut, yaitu Surat 28 (Al Qasas ) : 49, “Katakanlah: Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih memberi petunjuk daripada keduanya, niscaya aku mengikutinya.”

Pembawa Acara : Apakah yang dia maksud dengan “daripada keduanya”?

Bpk. Zakaria : Taurat dan Qur’an. Dan dalam Surat 5 (Al Ma’idah) : 68 dikatakan, “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Qur’an.” Apakah mereka telah dirusak?

Pembawa Acara : Bagaimana dia bisa mendesak mereka untuk menegakkan kedua kitab tersebut?

Bpk. Zakaria : Nabi Muhamad adalah hakim. Surat 5 : 43 mengatakan: “Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya ada hukum Allah.”

 

Pembawa Acara : Hal itu berarti penghakiman menurut Taurat dan Injil adalah sah dan memiliki pengaruh.

Bpk. Zakaria : Dan itu benar pada masa nabi Muhamad dan fakta mengatakan bahwa dia merasa heran mengapa orang-orang memilih dia untuk menjadi seorang hakim, padahal mereka sudah memiliki hukum-hukum Allah. Jadi bagaimana mungkin kedua kitab tersebut mengalami penyimpangan pada masa nabi Muhamad? Dan dalam Surat 5 : 47, dikatakan: “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara”, yang dimaksud adalah Taurat. “Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya ada hukum Alah.”  Tetapi ayat disini mengatakan: “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.” Jadi, pada masa nabi Muhamad, Injil sudah ada dan berisi hukum-hukum Allah, dan telah diungkapkan oleh Allah. Kalau tidak, nabi Muhamad akan berkata bahwa kedua kitab tersebut telah dirusak. Qur’an sendiri telah memberi kesaksian.

 

Pembawa Acara : Saya hanya ingin mengetahui apakah ada ayat-ayat lainnya?

Bpk. Zakaria : Ya, Qur’an sendiri menyatakan bahwa para ahli kitab menjaga kitab tersebut yaitu Alkitab dan mereka adalah saksi hingga pada masa nabi Muhamad. Ini merupakan kesaksian Qur’an. Surat 5 : 44 mengatakan: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah terhadapnya.”

 

Pembawa Acara : Pernyataan tersebut disini adalah “istuhfizu” yang benar-benar berarti mereka sungguh-sungguh menjaganya.

Bpk. Zakaria : Mereka harus menjaganya. Benar, bukan? Apa yang dimaksud dengan “para nabi yang menyerahkan diri kepada Allah”? Para komentator mengatakan bahwa mereka adalah para nabi yang menyerahkan hidupnya pada kehendak Allah. Asslamu disini dalam bahasa Arab bukan berarti ditujukan pada orang-orang yang memeluk agama Islam, karena agama Islam belum muncul. Allatheena asslamu berarti mereka yang menyerahkan hidupnya kepada kehendak Allah. Itulah yang dikatakan Imam Abdullah Youssef Ali dalam buku terjemahan Qur’an, halaman 261. Setelah itu dalam Surat 2 : 146 dan Surat 6 : 20, yang mengatakan: “Orang-orang yang telah Kami beri kitab itu, mengenalnya seperti mengenal anak-anak mereka sendiri.” Dalam ayat sebelumnya yang menyebut “harus menjaganya” adalah yang dijelaskan juga oleh Imam Abdullah Youssef Ali yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya pada pemeliharaan kitab Allah dan mereka adalah saksi atas kebenaran kitab tersebut. Itu terdapat dalam buku Imam Youssef Ali halaman 261 dan 262.

 

Pembawa Acara : Ini membuktikan bahwa tidak ada ruang buat keraguan terhadap Alkitab yang memang benar tidak dirusak sebelum masa nabi Muhamad.

Bpk. Zakaria : Ya, benar.

 

Pembawa Acara : Dan sekarang kita telah memperlihatkan ayat-ayat Qur’an bahwa Alkitab tidak mengalami penyimpangan sebelum munculnya nabi Muhamad.

Bpk. Zakaria : Benar.

 

Pembawa Acara : Saya juga ingin Anda menjawab mereka yang menyatakan bahwa penyimpangan terjadi sesudah masa nabi Muhamad.

Bpk. Zakaria : Tentu. Kami telah memberikan 2 asumsi, baik sebelum dan sesudah. Jadi, sebelum masa nabi Muhamad, isu penyimpangan dalam Alkitab disingkirkan oleh fakta-fakta yang dinyatakan Muhamad dalam ayat-ayat dan oleh kesaksian Qur’an. Sederhana saja. Sekarang, alternative kedua yaitu sesudah masa nabi Muhamad. Apakah penyimpangan dalam Alkitab terjadi sesudah masa Muhamad? Pertama, Qur’an menyatakan bahwa Alkitab adalah petunjuk dari Allah. Zikr ذكر  . Apakah Qur’an menyatakan demikian? Ataukah Alkitab yang menyatakan sendiri sebagai petunjuk dari Allah? Injil adalah sebuah petunjuk dari Allah. Taurat adalah sebuah petunjuk dari Allah. Surat 21 : 7 mengatakan: “Sebelum kamu, Kami telah mengirimkan orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu, maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

 

Pembawa Acara : Sebentar, kata Zikr ذكر  disini pasti berarti Alkitab, Taurat dan Injil.

Bpk. Zakaria : Tepat.

 

Pembawa Acara : Ayat yang mengatakan: “Kami telah menurunkan Zikr ذكر  dan Kami melindunginya” menunjuk pada kitab Taurat dan Injil?

Bpk. Zakaria :. Dan itulah yang kami setujui. Surat 16 : 43 mengatakan: “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.” Perkataan ini telah diulang dalam Surat 21 : 7 dan Surat 16 : 43. Hal ini menegaskan maksud dan Qur’an membuktikan bahwa Allah melindungi Zikr ذكر  dari penyimpangan, karena Taurat, Injil dan Alkitab adalah Aikr, tidak hanya Qur’an. Surat 15 : 9 menggunakannya. Beberapa orang salah mengucapkannya dengan “al hajar”, pengucapan itu salah. Pengucapan sebenarnya adalah “al hijr”, karena hijr berarti gunung. Jadi Surat 15 : 9 berbunyi: “Kami sendiri telah menurunkan petunjuk dan Kami melindunginya.” Jadi, apakah petunjuk disini adalah Alkitab?

 

Pembawa Acara : Tentu.

Bpk. Zakaria : Berdampingan dengan Qur’an. Sebenarnya bila ada orang-orang yang menganggap Alkitab sebagai kebohongan dan orang-orang itu mempertanyakannya, sangat disayangkan mereka juga meragukan Qur’an.

 

Pembawa Acara : Bagaimana bisa?

Bpk. Zakaria : Qur’an berkata bahwa Alkitab adalah Zikr ذكر  dan Allah melindungi Zikr ذكر  . Jadi, jika mereka menyatakan bahwa Alikitab telah diubah, maka mereka juga menganggap Qur’an sebagai suatu kesalahan dengan mengasumsikan Allah tidak dapat melindungi petunjuk tersebut. Jadi, mereka bertentangan dengan Qur’an, benar bukan? Oleh karena itu setiap orang yang menentang Alkitab, harus berhati-hati. Orang itu harus tahu apa yang sedang dibicarakannya. Bila demikian, dia juga sedang menentang kitab sucinya sendiri. Jelas?

 

Pembawa Acara : Ya, jelas.

 

Bpk. Zakaria : OK. Ada ayat-ayat Qur’an yang menyatakan bahwa Qur’an sendiri melindungi Alkitab dari penyimpangan. Qur’an sendiri melindungi Alkitab, artinya Allah melindungi Alkitab dari penyimpangan. Dimana itu dikatakan? Surat 5 : 48, “Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya – yang adalah Taurat dan Injil – dan melindunginya.” Apa yang dimaksud dengan “melindunginya”? Mari kita lihat ulasan yang terdapat dalam buku Imam Abdullah Youssef Ali halaman 263. Dia menjelaskan bahwa kata “melindunginya” berarti menjaga/memeliharanya dari perubahan/penyimpangan.

 

Pembawa Acara : Mohon diulang lagi, Bapak Pendeta.

Bpk. Zakaria : Imam Abdullah Youssef Ali dalam bukunya “Interpretation of the meaning of the Qur’an” dalam bahasa Inggris halaman 263, menejelaskan bahwa kata “melindunginya” berarti menjaga/memeliharanya dari pengubahan/penyimpangan.

 

Pembawa Acara : Karena beberapa dari kaum Muslim yang terkasih menterjemahkannya benar-benar berbeda, dan membutuhkan topic lain dan kami akan mendedikasikan seluruh sesi untuk membahasnya.

Bpk. Zakaria : Mari kita mundur kepada para komentator.

 

Pembawa Acara : Ini bukan terjemahan kami sendiri, melainkan terjemahan dari para cendekiawan mereka sendiri.

Bpk. Zakaria : dari para cendekiawan dan ahli hukum mereka sendiri. OK. Qur’an juga memberi kesaksian bahwa Alkitab adalah Firman Allah dan karenanya tidak dapat dirusak atau diubah. Apakah Qur’an membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah atau perkataan manusia?

 

Pembawa Acara : Tentu saja Perkataan Allah.

 

Bpk. Zakaria : Bagaimana bisa? Surat 29 : 46 mengatakan: “Dan janganlah berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. Katakanlah: Kami telah beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami – itu adalah Qur’an – dan yang diturunkan kepadamu – itu adalah Taurat dan Injil. “ “Diturunkan” menunjukkan bahwa Taurat dan Injil adalah Firman Allah yang diwahyukan kepada para nabi. Benar bukan? Diwahyukan. Kemudian Surat 4 : 136, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya – yang dimaksud adalah Qur’an – kemudian perhatikan kalimat selanjutnya – serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya – dan yang dimaksud ini adalah Taurat dan Injil. “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”

 

Pembawa Acara : Maksudnya adalah semua utusan-utusan sebelumnya dan kitab-kitab yang diwahyukan sebelum Qur’an.

Bpk. Zakaria : Itu adalah sebuah kesaksian bahwa kitab-kitab tersebut adalah Firman Allah.  Dan ini sangat jelas, sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya, yaitu Taurat dan Injil. Tahukah Anda berapa kali ayat ini diulang dalam Qur’an? Saya katakan yaitu dalam Surath 5 : 68, 46, 47 dan 44.

 

Pembawa Acara : Saya ingat dari masa lalu ketika saya…. Dan itu adalah kesimpulan dari Surat 2. Mereka membuat kami mempelajarinya dengan sungguh dan sangat sering diulang. “Utusan percaya atas apa yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhan dan juga orang-orang yang beriman, setiap orang yang percaya kepada Allah dan malaikat-malaikatnya dan kitab-kitabNya.” Kami tidak membedakan diantara satupun dari utusan-utusanNya.

Bpk. Zakaria : Anda lihat, bukan? Ada banyak ayat. Surat 5 sendiri ada 4 ayat yang menyatakan. Ayat 44, 46, 47, dan 68. Hal yang sama tentang “kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.” Surath 2 : 146 dan 87, Surat 17 : 2 dan 55, Surat 6 : 92 dan 156, Surat 23 : 49, Surat 4 : 163, Surat 35 : 25, Surat 16 : 43, Surat 21 : 25, Surat 57 : 27 dan Surat 29 : 46.

 

Pembawa Acara :  Lalu bagaimana mereka bisa memberikan tuduhan-tuduhan seperti itu?

Bpk. Zakaria : Surath 10 : 94, semua memberi kesaksian bahwa Alkitab diwahyukan dari Allah. OK. Dan saya ingin mengatakan sesuatu. “Diturunkan Allah” berarti perkataanNya sendiri. Akankah Perkataan Allah diubah? Lihatlah Surat 10 : 64, “Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” Tidak ada perubahan. Dan dalam Surat 6 : 34, “Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat Allah.” Tidak ada perubahan bagi perkataan Allah. Alkitab adalah Kitab Allah dan Firman Allah. Bagaimana mungkin itu dapat diubah? Sekarang saya akan tantang Anda. Jika seorang Muslim manapun yang menyatakan Alkitab telah diubah dan dirusak, berarti dia juga menganggap ayat-ayat Qur’an tidak benar.

 

Pembawa Acara : Anda tahu, kadangkala kami mengatakan kepada saudara dan saudari kami yang beragama Islam: “Tidak ada perubahan”, lalu mereka berkata: “yang dimaksud adalah Qur’an”. Tetapi ayat, yang telah Anda katakan, tentang kitab sebelumnya adalah tidak hanya Qur’an.

Bpk. Zakaria : Tidak hanya 1 ayat, ada sekitar 20 ayat, yang menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan oleh Allah. Alkitab adalah Firman Allah. Jadi bagaimana bisa perkataan Allah diubah? Ini adalah satu pertanyaan besar, jika kaum Muslim mengatakan kepada saya bahwa Alkitab telah diubah dan dirusak, saya katakan, Anda sedang menentang Qur’an Anda sendiri. Itu berarti Qur’an Anda mengatakan bahwa perkataan Allah dapat diubah dan telah memberikan kesaksian bahwa hal itu benar. Saya ingin mengutip perkataan seseorang tentang sesuatu dengan sangat manis. Dia berkata, saya akan ikut dengan Anda selama 3 menit, dan percaya bahwa Alkitab telah diubah.

 

Pembawa Acara : Saya mengenal orang ini.

Bpk. Zakaria : saya, Allah mewahyukan Taurat dan kitab itu telah diubah. Dia membiarkannya diubah. Lalu Allah mewahyukan Zabur dan membiarkannya diubah. Dan Dia menurunkan kitabNya kepada Abraham dan Dia membiarkannya diubah dan Dia mewahyukan kitab itu kepada Yesus dan membiarkannya diubah. Lalu Dia mewahyukan Qur’an dan Anda menyatakan bahwa Qur’an tidak mengalami perubahan? Bagaimana saya bisa percaya pada Allah setelah Dia membiarkan 4 atau 5 kitab sebelumnya diubah?

 

Pembawa Acara : Setelah 4 atau 5 perubahan, Dia baru mendapat pelajaran ketika sampai pada yang terakhir.

Bpk. Zakaria : Sekarang Anda membuat saya ingin tahu apakah Allah berkuasa menjaga kitab-kitabNya, benarkah? Anda tahu tentang semua ini, semuanya tidak masuk akal. Omong kosong.

 

Pembawa Acara : OK, Bapak Pendeta, terpisah dari kesaksian tentang Alkitab dan terpisah dari kesaksian Qur’an tentang kebenaran Injil, berbicara logis, apakah ada bukti logis yang menegaskan ketidak-mungkinan adanya penyimpangan Alkitab?

Bpk. Zakaria : Ya, tentu saja. Bukti logis yang pertama adalah cerita yang baru saja saya ceritakan bahwa Allah mengubah, mengubah dan mengubah lagi dan kemudian hanya datang Qur’an. Lalu kepastian apa yang saya miliki untuk menyatakan bahwa Qur’an tidak mengalami pengubahan, dengan asumsi bahwa Allah tidak punya kemampuan menjaga kitab-kitabNya? Ini adalah bukti yang logis. Hal logis yang kedua adalah sebuah pertanyaan yang ingin saya ajukan pada mereka yang menyatakan adanya pengubahan. Menurut Anda, dimanakah Alkitab mengalami pengubahan? Dimana tepatnya? Karena sebelum Muhamad, Alkitab tidak mengalami pengubahan, Alkitab tidak diubah. Qur’an dan Muhamad memberi kesaksian mengenai hal tersebut. Sesudah Muhamad, maksud saya sesudah abad ke 7 SM (Sesudah Masehi ) ketika Kekristenan telah tersebar ke seluruh dunia? Dimana Alkitab diubah? Di Mesir, atau di Irak, atau di Siria, atau di Inggris, atau di Perancis? Dimana Alkitab diubah? Dimana? Di tempat yang mana? Pertanyaan logis lainnya adalah : Siapa, saya ingin tahu, yang melakukan pengubahan? Apakah orang-orang Yahudi telah mengubah Kitab mereka sendiri?

 

Pembawa Acara : Tidak mungkin.

Bpk. Zakaria : Apakah orang-orang Kristen telah mengubah Kitab mereka sendiri? Atau apakah keduanya sepakat untuk mengubah Kitab mereka? Kita perlu mencari-tahu dan mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. OK, Lalu dalam bahasa yang manakah Alkitab telah mengalami pengubahan. Apakah dalam bahasa Arab, atau dalam bahasa Yunani, atau dalam bahasa Perancis, ataukah dalam bahasa Inggris? Atau dalam bahasa Siria? Dalam bahasa yang manakah Alkitab telah mengalami pengubahan? Ataukah Alkitab tidak mengalami pengubahan dalam bahasa-bahasa yang lainnya? Ataukah semuanya mengalami pengubahan? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sebuah isu. Jadi sekarang, pertanyaan yang muncul adalah …..

 

Pembawa Acara : OK. Kami akan menjawabnya. Terpisah dari kesaksian Alkitab – kita telah selesai dengan hal tersebut diatas. Apakah ada fakta yang terbukti secara ilmiah mengenai kebenaran Alkitab?

Bpk. Zakaria : Ya, benar, tetapi sebelum saya membahas bukti ilmiah tersebut, saya ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Apakah Anda ingin saya menjelaskannya kepada para pemirsa?

 

Pembawa Acara : Ya, silahkan.

Bpk. Zakaria : Asumsi yang pertama adalah : Dimana Alkitab telah mengalami pengubahan? Dimana dilakukannya? Kami bertanya, Di Negara manakah pengubahan dilakukan? Dan fakta yang sudah diketahui bahwa Alkitab telah tersebar ke semua Negara di dunia. Pada abad 7 sendiri, Alkitab telah sampai dimana-mana: di benua Asia, Afrika dan di Eropa. Alkitab sudah ada dimana-mana. Jadi di Negara manakah Alkitab telah diubah?  OK. Dan ketika kitab tersebut  diubah di sebuah Negara, bagaimana caranya akan diubah di Negara lain?

 

Pembawa Acara :  Jadi seseorang yang telah melakukan pengubahan, harus berkeliling dunia untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Bpk. Zakaria : Akankah dia mengumpulkan seluruh dunia yang tergabung dalam organisasi PBB dan memerintahkan mereka semua untuk setuju akan pengubahan Alkitab? Apakah seluruh dunia pernah setuju akan satu hal? Pertanyaan lainnya, siapa yang melakukan pengubahan? Bila Anda mengatakan Taurat dan Injil, kitab-kitab itu adalah yang kami miliki. Kami memegangnya saat ini disini. Ini Taurat dan ini Injil. Anda melihatnya? Dan kami memilikinya sejak Kristus datang. Dan orang Yahudi hanya memiliki Taurat. Saat ini, bila kita periksa apa yang telah kami miliki dan apa yang dimiliki orang Yahudi, kami menemukan keduanya sama.

 

Pembawa Acara : Benar-benar sama. Dan akankah mereka diam saja?

Bpk. Zakaria : Mereka tidak akan diam saja jika kami mengubah kitabnya.

 

Pembawa Acara : Begitu juga bila mereka mengubah Alkitab, apakah kita akan tetap tenang?

 

Bpk. Zakaria :, siapa yang akan mengadakan pengubahan dan siapa yang akan tetap diam terhadap perubahan? Hal ini adalah hal yang ingin jelaskan. Hal yang ketiga berkenaan dengan …

 

Pembawa Acara : Bukti ilmiah.

Bpk. Zakaria : Bukan. Dalam bahasa yang manakah? Dalam bahasa yang manakah pengubahan terjadi? Alkitab telah ditulis dan diterjemahkan ke dalam seluruh bahasa di dunia sejak abad ke 7 SM (Sesudah Masehi).  Dan ada 3 denominasi mayoritas : Orthodox, Katolik dan Protestan. Dan kita semua tahu bahwa mereka terpecah satu sama lain.

 

Pembawa Acara : Dari induk Gereja.

Bpk. Zakaria : Ketika mereka terpecah, yang mana diantara mereka yang melakukan pengubahan pada Alkitab? Apakah aliran Katolik yang mengubahnya? Apakah aliran Orthodox yang mengubahnya? Apakah aliran Protestan yang mengubahnya? Tetapi kami semua membawa Alkitab yang sama.

 

Pembawa Acara : Dan akankah mereka tetap diam terhadap pengubahan tersebut?

Bpk. Zakaria : Akankah mereka membiarkannya berlalu? Dan yang penting saat ini, pergilah dan belilah satu salinan Alkitab Katolik, satu Alkitab Orthodox, dan satu Alkitab Protestan, dan Anda akan menemukan ketiganya sama.

 

Pembawa Acara : Anda tahu, Bapak Pendeta? Kadangkala mereka berkata bahwa ada pengubahan dan kami ingin menjelaskan pada mereka bahwa pengubahan terjadi pada terjemahan, sedangkan makna/pengertian tetap sama.

 

Bpk. Zakaria : Tepat. Seperti telah kami katakan sebelumnya mengenai 7 Suratt Qur’an.

 

Pembawa Acara : Maksud Anda, mereka lebih baik tetap diam.

 

Bpk. Zakaria : Kalau tidak, saya akan mengulangnya lagi. Saya bersedia. Jadi, bagaimana tentang pemusnahan ke enam salinan?

 

Pembawa Acara : OK. Itu sudah cukup sekarang.

 

Bpk. Zakaria : Jangan biarkan saya menghasut para pemirsa. OK. Mereka adalah orang-orang baik. Dan mereka sedang menonton saat ini.   Dan saya juga harus penuh perhatian pada mereka. Dan mengenai hal tersebut, Ali Amin berkata dalam bukunya ‘Duha al Islam’ jilid 1 halaman 358 : “Sekelompok pemimpin dari tradisi ramalan dan ahli hukum dan teologia menyatakan bahwa pengubahan terjadi dalam melakukan interpretasi, bukan pada teks yang diwahyukan. Dan orang-orang ini berargumen bahwa Taurat telah dikenal di seluruh dunia sebelum munculnya Muhamad. Dan hanya Tuhan yang tahu jumlah salinannya. Dan tidak mungkin untuk mengubah dengan mengumpulkan semua salinan bersama-sama dan melakukan konspirasi, supaya semua salinan di dunia ini menjadi berubah.”  Perkataan siapa ini?

 

Pembawa Acara : Saya baru saja ingin bertanya. Kembali untuk tujuan penegasan, perkataan siapa ini, Bapak Pendeta?

Bpk. Zakaria : Ahmad Amin yang menulis ‘Duha al Islam’ jilid 1 halaman 358.

 

Pembawa Acara : Dia adalah seorang yang berpendidikan tinggi ….

Bpk. Zakaria : Seorang Muslim.

 

Pembawa Acara : Ya, seorang Muslim.

Bpk. Zakaria : Dan seorang sejarahwan. Dia berkata bahwa tidak mungkin, karena bagaimana mungkin mereka mengumpulkan semua salinan Alkitab dan mengubah mereka? Ada begitu banyak. Benar, bukan? Jadi tidak mungkin dalam bahasa apapun, juga dimanapun di dunia ini, dan juga tidak seorangpun dapat melakukan pengubahan tersebut, karena salinan Alkitab telah tersebar ke seluruh Negara di dunia ini. Bagaimana mereka dapat mengumpulkan semua salinan dan mengubahnya?

 

Pembawa Acara : Dan sekarang kita sampai pada pembuktian secara ilmiah. Ada bukti yang ditemukan secara ilmiah yang menyatakan kebenaran dari Alkitab, yaitu kesaksian dari bidang arkeologi. Dapatkah Anda menjelaskan nya kepada para pemirsa mengenai bukti secara ilmiah dan arkeologis.

Bpk. Zakaria : Arkeologi adalah sebuah ilmu yang tidak dapat berbohong. Dapatkah? Kami memiliki naskah Alkitab, yang asli (kuno). Tetap terjaga baik hingga saat ini. Dan siapa saja yang ingin memastikan mereka ada, dapat datang ke tempat-tempat yang akan saya sebutkan dan lihat naskah yang asli disana.

 

Pembawa Acara : Siapa saja yang ingin.

Bpk. Zakaria : Ya, siapa saja. Naskah kuno Vatikan, yang sekarang ada di Vatikan, ditemukan 250 tahun sebelum agama Islam muncul. Naskah yang tetap terjaga baik, sejak dari 250 tahun sebelum agama Islam. Bila Anda membandingkannya saat ini, Anda akan menemukannya sama dengan yang kami miliki saat ini. Dan naskah ini ada di Vatikan, Roma. Naskah kuno lainnya yang disebut “Sinaiticus”, yang berhubungan gunung Sinai, ditemukan di Biara St. Catherine di Sinai, sejak dari 200 tahun sebelum Islam. Naskah tersebut sekarang disimpan di British Museum, London. Naskah kuno Alexandrinos juga ditemukan sejak dari 200 tahun sebelum Islam dan disimpan juga di British Museum. Saya sudah melihat sendiri semua naskah tersebut. Yang terakhir adalah ‘Dead See scrolls’ (gulungan Suratt Laut Mati). Saya tidak akan membicarakannya, tetapi saya akan mengutip seorang penulis Islam yang membahas hal tersebut. Dia adalah Abbass Mahmoud El Akkad. Saya pikir tentang dia tidak perlu diperkenalkan. Dia menulis dalam buku “Hilal” edisi Desember tahun 1959 tentang “The treasures of the Qumran valley” (Harta karun dari desa Qumran). Gulungan Suratt arkeologis tersebut ditemukan di sebuah gua di desa Qumran, di timur sungai Yordan, ditemukan 2000 tahun yang lalu, yaitu dari tahun 1959. Itu berarti lebih dari 6 abad sebelum Islam. Dan itu muncul setelah persiapan dari gulungan-gulungan kertas yang ditemukan tersebut. Dan yang paling penting adalah gulungan-gulungan kertas tersebut mengandung sebuah salinan kitab Yesaya yang lengkap dan beberapa kitab-kitab suci lainnya.. Sekarang perhatikan penjelasan dari … siapa namanya? Abbass Mahmoud El Akkad. Tidak ada perbedaan atau pengubahan diantara mereka dan dengan kitab yang ada ditangan kami saat ini. Dia adalah Abbass Mahmoud El Akkad, yang juga menulis ‘Genius of Mohamed’ dan ‘Genius of Christ’. Dia memberi kesaksian dari bidang arkeologi.

Pembawa Acara : Maaf, karena waktu kita telah habis. Terima kasih Bapak Pendeta atas penjelasannya dan atas bukti-bukti yang berasal tidak hanya dari sisi kita, tetapi juga bukti yang tidak lagi memberikan ruang keraguan mengenai kebenaran Alkitab. Terima kasih dan kami menunggu wawancara berikutnya. Pemirsa yang saya kasihi, terima kasih telah menjadi pendengar yang baik. Sekali lagi, bila Anda ingin memiliki Alkitab atau buku rohani lainnya, silahkan kirimkan Suratt kepada kami dan kami akan mengirimkannya ke alamat Anda. Terima kasih dan sampai jumpa.