Rasul

THE QUALITIES OF THE MESSENGER

Muhammad: Pemirsa yang saya kasihi, selamat datang di episode baru acara kami “Questions About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman) bersama tamu terhormat kami, Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang Bapak Pendeta.

Pendeta Zakaria: Terima kasih.

Muhammad: Teman-teman yang saya kasihi, tidak ada yang lebih baik atau lebih indah daripada berbicara tentang iman dan masalah-masalah iman. Betapa indahnya  berbagi dengan Anda perkataan-perkataan dari Alkitab: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan.” Kami bersyukur pada Tuhan bahwa Dia memperhatikan orang-orang seperti kita, bejana untuk tujuan biasa, namun mengembalikan mereka menjadi bejana untuk tujuan mulia. Kami telah menerima begitu banyak pertanyaan, dan pertama-tama, ada satu pertanyaan yang masih dipertanyakan oleh pemirsa: “Mengapa Anda terlibat dalam diskusi masalah-masalah sensitive seperti ini? Bukankah Anda akan memfitnah agama Islam, dan nabi agama Islam, juga menyinggung kaum Muslim?”

 

Pendeta Zakaria: Tentu saja, para pemirsa mempunyai hak untuk mengajukan pertanyaan seperti itu, karena selama ia berpikir, ia perlu bertanya, dan selama ia bertanya, ia pasti dijawab. Memang mengadakan debat secara umum dapat menyebabkan kepekaan terhadap beberapa orang, karena mereka belum terbiasa dengan suasana debat bebas. Jadi mereka menganggap penelitian atau pertanyaan atau diskusi sebagai sebuah penghinaan.

 

Muhammad: Jadi Anda ingin melakukan sebuah diskusi bebas yang tidak terbatas.

 

Pendeta Zakaria: Tidak juga, ada batasan-batasan. Ada batasan-batasan. Ada batasan-batasan akan pemikiran dan pemahaman, tetapi itu tidak dapat hanya tidak dibatasi. Tidak ada satupun yang benar-benar tidak terbatas.

 

Muhammad: Dalam dunia Arab atau Islam, kami tidak terbiasa akan kebebasan berpikir. Atau menyatakan diri sendiri. Benar, untuk menyatakan diri sendiri. Tepat sekali.

Pendeta Zakaria: Seseorang boleh berpikir untuk dirinya sendiri, tetapi ketika ia ingin mengungkapkan pikiran-pikirannya, ia merasa takut. Tetapi dalam acara-acara debat ini kami berbicara secara terbuka, karena kami tidak mempunyai tujuan-tujuan jahat ataupun jelek. Kami menyampaikan kepada pikiran, dan pikiran berhak untuk berpikir, terutama karena kita berada di abad ke 21 saat ini. Saya mungkin mendapatkan pertanyaan, atau saya sendiri mungkin berpikir tentang sesuatu yang membutuhkan jawaban. Jadi disini kami sedang melakukan diskusi hal-hal. Dan ini bukanlah hal yang salah mendiskusikan hal-hal seperti itu. Dan ngomong-ngomong, teman-teman Muslim yang kami kasihi juga telah mengadakan diskusi terbuka di media, di TV, di surat kabar, dalam buku, dan majalah, dan mereka menulis menentang Kekristenan. Maksud saya, jika seorang Muslim mengkritik kepercayaan dan doktrin kami, yaitu kepercayaan kami pada Ketuhanan Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kemanusiaanNya. Ketika mereka menyangkal sebuah kenyataan seperti itu, bukankah mereka sedang menghina kami juga? Dan memfitnah segala sesuatu yang kami anggap suci? Benar. Lalu mengapa, kami dapat menerimanya dengan semangat yang baik, dan berkata, “Tidak demikian, Anda telah menilai kami salah, ini adalah apa yang kami percaya.” Dan kami menjelaskan segala sesuatu kepada mereka. Kami tidak bereaksi berlebihan. Kami tidak menarik pedang dan berkata,: Jangan sentuh segala sesuatu yang suci milik kami. Tidak, ini tidak akan tersentuh.” Anda menangkap maksud saya? Lalu mengapa Anda, teman Muslim yang kami kasihi, berbicara menentang, menolak dan melakukan protes atas apa yang kami anggap suci, dan kami tidak bereaksi berlebihan? Lalu mengapa Anda bereaksi berlebihan, ketika kami berbicara tentang segala sesuatu yang anda anggap suci dengan tujuan untuk memahaminya?

 

Muhammad: Jadi Anda ingin mengkomunikasikan kebenaran Alkitab secara terbuka kepada setiap orang?

Pendeta Zakaria: Benar. Ini adalah aspek pertama. Aspek yang lainnya adalah saya mempunyai banyak pertanyaan. Saya hanya ingin bertanya. Saya tidak mengklaim bahwa saya adalah seorang cendekiawan dalam pengetahuan Islam. Saya hanya seorang yang membaca dan menyelidiki. Tentu saja, karena saya hanya seorang pegawai biasa, saya harus belajar semua agama, dan dialog-dialog agama membutuhkan pemahaman kita akan agama-agama lain. Saya tidak mengasumsikan bahwa saya adalah seorang cendekiawan dalam bidang studi Islam. Oleh karena itu, saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan saya sehingga seseorang diantara teman-teman Muslim yang kami kasihi, seorang cendekiawan, ahli hukum, atau professor, akan datang dan berkata, “Saya telah mendengar Anda berkomentar ini dan itu tentang suatu hal dan kebenarang tentang itu adalah ini dan itu,” atau melakukan satu acara debat dengan kami di studio, dengan maksud untuk mencapai beberapa semacam pemahaman. Kami mempunyai banyak pertanyaan, buku-buku tidak meyakinkan kami, karena mereka hanya mengkomunikasikan apa yang kami baca, tetapi kami ingin tahu apakah yang kami baca itu benar, atau apakah mereka memahaminya dengan cara yang berbeda yang belum kami lakukan. Jadi kami memberikan pandangan kami, untuk memberitahukan kepada mereka apa yang kami pikirkan, dan untuk mendengar cerita dari sisi mereka. Tetapi kami tidak bermaksud memfitnah. Kami bertanya, karena kami mengasihi kaum Muslim. Kami mengasihi mereka, kami tidak mungkin menyakiti mereka, tetapi kami ingin mencoba untuk memahami. Kami ingin tahu.

 

Muhammad: Anda mengajukan banyak pertanyaan dan semuanya membutuhkan jawaban.

Pendeta Zakaria: Ya, tentu. Dan kami menunggu. Kami mengunggu jawaban. Ini adalah keseluruhan maksud, dan itu akan menjawab pertanyaan Anda.

 

Muhammad: Apa yang harus Anda katakan kepada saudara yang beragama Muslim yang berkata, “Anda menghina saya dengan apa yang Anda katakan”?

Pendeta Zakaria: Saya katakan kepadanya, saya sama sekali tidak sedang menghina. Ini hanya sebuah diskusi. Ini adalah cara sebuah dialog bebas dan terbuka dilakukan. Kami mengasihi Anda dan jika pertanyaan saya  menyinggung, maka saya tidak dapat bertanya, dan jika kami tidak bertanya, kami menjadikan pikiran kami nol dan kosong. Kami meniadakan kecerdasan. Dan jika kami meniadakan kecerdasan, kami bukan lagi manusia.

 

Muhammad: Ada satu hal penting dan sensitive yang akan kami diskusikan pada episode kali ini: Siapakah yang disebut utusan? Bagaimana karakter seorang utusan? Bagaimana kualifikasi seseorang yang dapat menjadi seorang utusan Allah, yang agung dan mulia?

Pendeta Zakaria: Ini adalah hal yang sangat penting; Anda telah masuk ke inti masalah. Secara umum, seorang utusan adalah seseorang yang memiliki sebuah hubungan pribadi dan khusus dengan Allah, sebuah hubungan kasih yang suci dengan Dia. Allah adalah sumber kepuasan dan kegembiraannya, dan Allah mempercayakannya sebuah pesan, untuk mengkomunikasikannya kepada yang lain, sehingga mereka juga boleh memiliki hubungan tersebut. Itulah mengapa Rasul Yohanes berkata, “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Jadi disini seorang manusia mencapai satu level tertentu akan  kegembiraan dengan Allah, sehingga ia mendapat kepercayaan dari Allah, untuk mengkomunikasikan sebuah pesan kasih dan penyelamatan kepada orang-orang, bahwa mereka boleh menikmati penyelamatan dan hidup dalam persahabatan kasih dan hubungan suci dengan Allah.

 

Muhammad: Apakah Allah sama sekali memimpin nabi?

Pendeta Zakaria: Ya, tentu. Tuhan pasti memimpin utusanNya. Dia memimpinnya dengan Roh Kudus. Roh Kudus bukan hanya sekedar seorang malaikat, seperti yang kita bayangkan. Ia adalah Roh Allah, karena “Allah adalah Roh.”

 

Muhammad: Mengapa Allah ingin memberikan Roh Kudus kepada utusanNya? Atau memberikannya kuasa?

Pendeta Zakaria: Karena manusia secara alamiah terlalu lemah untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang besar. Namun bila ia menyerahkan dirinya pada Tuhan, dan Tuhan memimpinnya dengan Roh Kudus, ia dapat mengkomunikasikan perkataan sampai masuk ke hati yang paling dalam. Ya. Karena perkataan bisa mencapai pikiran dan kemudian ditolak. Benar. Tetapi untuk mencapai hati, dibutuhkan penobatan dengan minyak suci dari Tuhan, dan kuasa dari Roh Allah. Tuhan juga menolongnya dalam mengerjakan mujijat dan nubuat. Ini adalah kehidupan utusan Allah.

 

Muhammad: Dan tujuannya adalah menolong orang-orang kembali dari dosa dan kejahatan.

Pendeta Zakaria: Ini adalah misi yang paling penting yang dia harus laksanakan. Misi dari utusan adalah melakukan penyelamatan jiwa-jiwa dari dosa, dari kuasa setan dan dari kebejatan dunia. Jadi ia mengangkat manusia dari kedalaman kehancuran dan lobang lumpur, sehingga manusia boleh dapat menikmati sebuah kehidupan yang bersih, baik dan kudus dengan Allah.

 

Muhammad: Ya, Amin. Jadi menurut apa yang Anda katakan, utusan adalah seseorang yang mempunyai hubungan suci dengan Allah, dan Allah telah mempercayakannya dengan sebuah pesan suci, yang harus ia komunikasikan kepada orang-orang. Dan itu adalah tugas utusan untuk membimbing orang-orang kepada penyelamatan mereka dari dosa dan dari kuasa setan, sehingga mereka boleh memiliki sebuah hubungan kasih yang kudus dengan Allah maha tinggi.

Pendeta Zakaria: Hal itu benar. Terima kasih. Dan tidak hanya itu, tetapi juga mereka boleh memiliki kehidupan abadi dengan Allah. Ada sebuah kehidupan yang suci, dan sebuah kehidupan yang lebih baik. Benar. Yaitu kehidupan kekal dan abadi, yang pasti diharapkan setiap orang. “         .“

 

Muhammad: Hal tentang kehidupan abadi memang menjadi pusat perhatian banyak orang. Bisakah Anda menjelaskan lebih tentang hal tersebut?

Pendeta Zakaria: Jika kita berbicara terperinci tentang kehidupan abadi, hal itu akan membawa kita keluar dari pokok masalah yang sedang kita diskusikan saat ini. Bolehkan saya memohon Anda untuk menunda hal itu untuk sementara hingga sampai pada saatnya, sehingga kita tidak menyimpang dari satu masalah ke masalah yang lain? Untuk itu, lebih baik kita konsentrasi pada pekerjaan utusan Allah, kualitas utusan, persyaratan yang harus ia penuhi, dan lain sebagainya, agar tidak membingungkan. Maaf.

 

Muhammad: Baiklah. Kita dapat mendiskusikannya nanti. Pertanyaan berikutnya: Pekerjaan apakah yang dilakukan utusan dan apakah misi pesan yang dibawa utusan?

Pendeta Zakaria: Telah kami katakan sebelumnya bahwa pesan yang dibawa utusan adalah pesan penyelamatan, dan saya pikir kami telah cukup menjelaskannya. Pekerjaannya adalah membawa orang-orang untuk diselamatkan, membawa mereka kembali dari dosa dan membiarkan mereka menikmati kehidupan dan hubungan persahabatan dengan Allah. Membawa mereka untuk diselamatkan dengan perkataannya sendiri atau dengan usahanya sendiri? Tidak, ia menyampaikan sebuah pesan dari Allah. Ia hanya membawakan pesan kepada mereka, bukan membawakan pikirannya sendiri, dan ini juga bukan pekerjaannya. Dan ini akan membawa kita untuk mengetahui kualitas dari seorang utusan Allah. Seorang utusan Allah bukanlah seseorang yang hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kehendak Allah. Orang yang mencintai meleburkan diri dalam diri orang yang dicintai. Ketika ia melebur di dalam Nya, ia hidup bagi Nya. “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Jadi, orang ini hidup untuk tujuan Allah dan ia memenuhi kehendakNya. Oleh karena itu, seorang utusan yang benar bukanlah seseorang yang hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tujuan Allah, dan karenanya, ia haruslah seorang teladan yang baik, dalam sikapnya, dalam kekudusannya, kebenarannya, kemurniannya, kejujurannya, kebaikannya, pengasihannya,  pengorbanannya, dalam memberi; seorang teladan yang baik. “          .”

 

Muhammad: Amin. Amin. Jadi, kualitas dari utusan yang Allah percaya padanya adalah: Bahwa ia hidup untuk Dia yang mengutusnya. “Aku harus melakukan pekerjaan-pekerjaan Dia yang telah mengutus Aku.” Benar.  Dan ia juga tidak harus hidup untuk tujuannya sendiri, tetapi untuk memenuhi tujuan Allah. Dan juga untuk menjadi contoh yang baik dalam kemurnian dan kesucian, seperti yang Anda telah katakan. Pertanyaan berikut, yang sebenarnya merupakan pertanyaan yang sensitif: “Apakah utusan agama Islam telah memenuhi standar tersebut?”

trial

Pendeta Zakaria: Benar. Ini merupakan satu pertanyaan yang sensitive. Sehubungan dengan pertanyaan ini, pemirsa mungkin akan berkata, “Oh, tidak, sekarang Anda telah keluar jalur.” Benar. Dan tentu saja, ia memiliki hak untuk berpikir demikian. Kami tidak mengekang pikiran seseorang, tetapi kami lebih mencoba mendiskusikannya secara logis. Dan karenanya, sebelum saya merespon pertanyaan ini, saya ingin mengatakan, bahwa saya ingin mengingatkan para pemirsa atas apa yang telah kami katakan pada episode sebelumnya, perkataan dari misionari Islam. Sheikh Abd Al Mo’ez Abd Al Sattar dalam sebuah konferensi di Al Azhar, yang dipublikasikan di banyak surat kabar. Ia telah membuat sebuah saran yang sangat indah, dan itu adalah, perlunya dilakukan pemeriksaan terhadap teks dari semua kitab suci. Pemeriksaan merupakan sebuah kata yang sangat kuat, bukan? Saya sendiri tidak menyukainya. Saya tidak suka kata-kata seperti itu, siapakah kita, berhak mengadili kita-kitab suci! Yang dapat kita lakukan adalah berdiskusi atau mengevaluasi, berunding, dan melihat apa yang baik; maksud saya, segala sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan bagaimana kita memperoleh manfaat dari mereka. Tetapi saya ingin mengatakan kepada para pemirsa bahwa ini mengenai seseorang yang bukan seorang pendeta, ia adalah seorang sheikh, seorang misionari Islam yang telah menggunakan bahasa yang tegas, yang saya sendiri keberatan terhadap hal tersebut. Dan untuk itu, saya juga menambahkan perkataan dari Doktor Aisha Abd Al Rahman, yang terkenal sebagai Bent Al Shati. Saya yakin Anda mengenalnya sebagai seorang professor dalam bidang studi Quran dan Islam tingkat tinggi di Morocco, pada Universitas Qaraween. Ia telah menulis banyak buku, diantaranya adalah sebuah buku yang berjudul, “The Wifes of the Prophet” (Istri-istri Nabi). Pada halaman 7 dan 8, ada beberapa hal yang baik yang kita perlu perhatikan sebelum saya menjawab. Lalu apa yang ia katakan? “Menyembunyikan berita-berita tentang kehidupan pribadi utusan Allah, menyembunyikan berita-berita tentang kehidupan pribadi utusan Allah bertentangan dengan integritas penelitian.” Bila Anda sedang melakukan penelitian, maka pelajarilah juga kehidupan pribadinya, jangan menyembunyikan segala sesuatu. “Hal itu tidak juga mengikuti petunjuk Quran yang memastikan untuk mengatakan cukup bagi mereka untuk membuktikan sifat manusiawi dari utusan tersebut.” Mari kita lihat kesimpulan serius yang ia capai. Nabi Muhamad sendiri mengatakan, “Aku hanyalah seorang manusia seperti kalian.” Benar. Kemudian dia melanjutkan, “Sekarang tidak diijinkan bagi seorang mahasiswa Muslim untuk tidak memperhatikannya.” Ia masih berbicara tentang kehidupan pribadi utusan. Dan ia melanjutkan, “Tidak ada satupun aspek dari kehidupan pribadi utusan Allah yang saya pelajari, yang membuat saya malu untuk mengangkatnya kepada cahaya penelitian.” Nah, ini merupakan sebuah lampu hijau untuk mengangkat kehidupannya kepada cahaya penelitian, selama itu tidak memalukan. Dan itu adalah tujuannya menulis buku tersebut, untuk membuktikan sifat manusiawi nabi Muhamad, melalui kehidupannya dengan istri-istrinya. Oleh karena itu, telah saya katakan, untuk tidak menuduh kami telah menyerang agama Islam atau mempermalukan sifat pribadi dari utusan Allah dalam agama Islam.  Tetapi kami sedang membuka sebuah diskusi dan siap menerima jawaban dari diskusi ini. Setiap orang dapat berkata, “Anda telah mengatakan ini dan itu pada episode sebelumnya, dan karena kami sedang mendiskusikannya, biarkan saya mengatakan bahwa apa yang telah Anda katakan, adalah tidak benar, karena alasan ini dan itu.” Tetapi kami mengharapkan jawaban yang logis dan benar.

 

Muhammad: Itu berarti Anda mempunyai pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Anda, yang ingin Anda tanyakan kepada pemirsa.

Pendeta Zakaria: Sebagai hasil dari banyak mempelajari berbagai agama, saya sebenarnya tidak hanya tertuju pada para pemirsa saja; saya ingin suara saja juga didengar oleh mereka yang memperhatikan yang mungkin dapat menjelaskan kepada saya, juga kepada para pemirsa yang sedang menyaksikan acara ini. Masalah-masalah seperti ini bisa terjadi pada mereka juga, dan mereka sedang mencari jawabannya, namun tidak dapat mengungkapkannya. Jadi saya ingin menyatakan pikiran-pikirannya, dan kami sedang menunggu jawaban tersebut dari para ahli yang mulia. Saya tidak sedang menghakimi Quran, atau utusan Allah, atau bahkan mengangkat berita-berita tentang kehidupan pribadi utusan seperti yang dikatakan Aisha Abd Al Rahman. Tetapi semua yang kami ajukan ini hanyalah penelitian dan debat.

 

Muhammad: Sebagai seorang peneliti agama-agama, Anda ingin mendapatkan jawaban atas pemikiran yang ada di pikiran Anda, dan yang ada di pikiran banyak orang. Ya, benar.  Baik, sejauh ini kami mengerti, lalu mari kita lanjutkan ke pertanyaan berikutnya. Dapatkah Anda menjelaskan secara terbuka, apakah standart yang Anda sebutkan terdapat pada nabi agama Islam? Dan mulailah dengan menjelaskannya secara eksplisit, juga siapakah utusan tersebut?

Pendeta Zakaria: Nah, sekarang kita masuk kepada masalah yang sulit. Namun bila saya berbicara, saya mengutip banyak buku yang telah saya pelajari tentang Islam. Buku-buku Islam. Ya, buku-buku Islam yang berbicara tentang kehidupan pribadi utusan, seperti buku Aisha Abd Al Rahman, dan buku-buku tentang tradisi para nabi dan biografi nabi Muhamad, dan lain sebagainya, juga ulasan-ulasan dan banyak buku lainnya. Persyaratan pertama bagi seseorang adalah memiliki hubungan kasih dengan Allah. Jujur saja, saya melihat bahwa ada yang hilang dalam seluruh warisan agama Islam. Hubungan manusia dengan Allah dalam Islam adalah berhubungan dengan kewajiban dan tugas. Ia harus memenuhi kewajiban, seperti kewajiban naik haji, kewajiban sholat, melakukan kewajiban yang satu setelah kewajiban yang lain. Kewajiban berasal dari kata “wajib”. Dalam Islam, ada lima sholat yang wajib dilakukan. Ini merupakan kewajiban. Konsep bahwa seorang manusia hidup dalam kasih dengan Allah, saya kira konsep ini … berdasarkan pembacaan dan kesimpulan saya … tetapi mungkin beberapa dari antara para pemirsa akan berkata kepada saya, “Tidak, Anda belum membaca buku ini dan itu.” Anda mengerti maksud saya, bukan? Tetapi saya mengangkat isu ini berdasarkan penelitian saya sejauh ini, yang telah dilakukan kira-kira selama 54 tahun, dengan mempelajari acara-acara debat agama, agama bandingan, terutama polemik Islam Kristen, tidak secara umum, mempelajarinya selama 54 tahun. Namun saya belum menemukan konsep dari sebuah hubungan kasih antara manusia dan Allah. Saya bahkan ingat, bahwa Tawfeek Al Hakeem, dalam hari-hari terakhinya, telah menulis artikel-artikel pada surat kabar Al Ahram, yang mengatakan: “Mulai sekarang, saya tidak ingin mempekerjakan pena saya untuk menulis tentang hal lain selain tentang Allah.” Dan ia telah menulis artikel-artikel dibawah judul “Berbicara dengan Allah”. Dan dengan caranya yang indah, ia berkata: Saya berkata pada Allah ini dan itu, dan Allah berkata kepada ku ini dan itu dan tentang kasih.” Dan ia berbicara tentang kasih, dan lagi tentang kasih. Lalu mereka bangkit menentang nya dan menyebutnya sebagai seorang penghianat dan seorang atheis. Mengapa? Karena mereka bertanya kepada nya: “Apakah kamu seorang nabi? Apakah kamu mendapat wahyu dan berkata, Tuhan berkata kepada ku? Dan apakah hubungan kasih itu? Yang kami miliki hanya kewajiban-kewajiban.”

 

Muhammad: Jadi Anda mengatakan bahwa hubungan manusia dengan Allah adalah sebuah hubungan kasih.

Pendeta Zakaria: Ya, tetapi sejauh saya melihat di dalam Islam, hubungan manusia dengan Tuhannya itu merupakan hubungan perbudakan, seorang budak belaka bagi Allah. Tetapi Alkitab berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat.“ “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.“  Sebuah hubungan kasih dari tempat tertinggi, dimana manusia diangkat dan berharga.

 

Muhammad: Mengatakan: “menjadi anak-anak Allah”, Anda tahu bahwa hal itu sulit dipahami oleh pikiran manusia.

Pendeta Zakaria: Itu memang agak sulit. Tetapi Anda tahu, masalah yang selalu dimiliki teman-teman Muslim kita adalah, seperti yang baru Anda sebut, “anak-anak Allah”, mereka berkata, “Oh, tidak, tidak, tidak, Allah menikah dan memiliki? Aku mohon pengampunan Allah atas pelanggaran besar ini. Allah menikah dan mempunyai anak?” Teman yang saya kasihi, perkataan ini merupakan sebuah metaphor, metonymy, sebuah gambaran yang menunjukkan kasih antara ayah dan puteranya. Sebuah indikasi atas kasih yang menghubungkan ayah kepada anaknya dan anak kepada ayahnya. Dan tentu, setiap ayah mengasihi anaknya, dan setiap anak mengasihi ayahnya. Tentu, kita berbicara tentang memiliki sebuah hubungan dengan Allah kita, Bapa, sebagai Pencipta, Bahkan Bapa kita sebagai Pencipta.

 

Muhammad: Anda telah menyebutkan bahwa semua yang telah Anda perhatikan tentang Islam adalah bahwa Islam terfokus pada kewajiban-kewajiban agama yang harus dilaksanakan setiap orang. Kemudian, kami disini memiliki pertanyaan lain. Bagaimana standart pesan itu sendiri yang dibawa oleh utusan Allah?

Pendeta Zakaria: Ini juga merupakan area sulit lainnya, karena seperti yang telah dikatakan, bahwa pesan atau misi dari utusan adalah menyampaikan perkataan Allah kepada manusia untuk tujuan penyelamatan mereka, untuk menunjukan jalan kepada penyelamatan, untuk menunjukan jalan menuju ke kehidupan. Karena manusia telah terhukum mati sejak dia melakukan dosa. “Turunlah kalian semua darinya.” Quran berkata, “Beberapa dari kalian akan menjadi musuh bagi yang lain.” Jadi kata “turun” disini, berarti, mereka telah ditendang, mereka telah dihukum mati. Dan jalan kembali kepada surga adalah pesan yang dibawa oleh utusan. Maksud Anda adalah penyelamatan. Ya benar. Apa itu penyelamatan? Kembali kepada Allah. Kembali kepada hubungan persahabatan dengan Allah, pembebasan dari kehancuran, pembebasan dari penghukuman, pembebasan dari takdir setan, menikmati kemuliaan Allah, kasih dan rangkulan. Demikianlah Adam kembali ke taman firdaus segera setelah ia hilang. Lalu hasil yang saya kumpulkan dari penelitian saya, dan hanya Tuhan yang tahu, apa yang saya perhatikan adalah bahwa tujuan dari penyelamatan jiwa tidak terdapat dalam Quran, dan dalam pesan nabi Muhamad. Tetapi ia memiliki satu tujuan yang lebih tinggi, dan berusaha keras untuk menyelesaikannya, menurut buku-buku yang say baca. Yang mana yang berbeda dari apa yang telah Anda sebutkan? Ya, pembentukan bangsa Arab, dan bangsa Hashemite, dan kerajaan Islam, yang benar-benar telah terjadi. Ia telah mencapai tujuannya.

 

Muhammad: Tetapi tujuannya mendapatkan penghargaan.

Pendeta Zakaria: Ya, itu meminta sangat banyak korban, mereka yang telah dibunuh. Seorang nabi mengorbankan dirinya sendiri. Namun apa yang saya pelajari adalah bahwa ia membuat orang-orang mengorbankan diri mereka demi pembentukan kerajaan Islam, dan mungkin, maksud saya, menurut konsep saya sendiri, ia ingin membangun kota Platonic Utopian. Lalu ketika kerajaan Islam ini terbentuk, orang-orang akan menjadi baik. Mungkin. Dan hanya Tuhan yang tahu.

 

Muhammad: Saya ingin tahu ada apakah mengenai keinginan-keinginan duniawi.

Pendeta Zakaria: Hal itu lebih penting dalam seorang utusan dari pada keinginan manusia untuk meningkatkan level manusia lebih tinggi dari dosa dan persetubuhan. Namun apa yang saya lihat dan temukan dari hasil penelitian saya adalah bahwa nabi Muhamad memberikan mereka sedikit kebebasan. Bukannya monogamy, melainkan ia mengijinkan terjadinya bigamy (beristri dua), beristri tiga, beristri empat, dan sebanyak yang dimiliki tangan kanan Anda. Tidak terbatas. Benar bukan? Ini adalah kebebasan yang besar. Jadi bukannya menolong orang dan mengangkatnya lebih tinggi dari keinginan-keinginan sexualnya, malah sebaliknya ia memuaskan keinginan-keinginan tersebut.

 

Muhammad: Tetapi Bapak Pendeta, ada ayat yang mengatakan, “jika kamu takut, kamu tidak akan bertindak adil …” dan kemudian dikatakan, “kamu tidak akan pernah mengatur dengan adil kepada wanita.”

Pendeta Zakaria: Benar. Dan karena tidak bertindak dengan adil, mereka tidak diijinkan menikahi lebih dari satu orang. Saya akan mengatakan sesuatu kepada Anda. Tahukan Anda bahwa para istri dari utusan bangkit melawan nabi dan mengirim Fatima, anak perempuannya dan berkata kepada nabi, “Istri-istrimu meminta mu untuk bertindak adil, karena mereka melihat bahwa nabi telah menghabiskan lebih banyak waktu dengan Aisha daripada dengan istri-istrinya yang lain. Namun dia tidak pernah merespon. Lalu Zainab Bent Gahsh pergi dan berbicara kepada nya, tetapi ia tidak merespon. Lalu nabi Mohamad sendiri tidak bertindak adil. Namun saya ingin tahu, apakah ia puas akan satu istri? Ini semua adalah pembicaraan yang tajam, tetapi ini merupakan implementasi dan aplikasi masalah-masalah tersebut. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa ini merupakan masalah penting, cukup penting dan saya tidak ingin menyelidiki masalah ini. Jadi, tolong jangan paksa saya, OK? Saya lebih baik membicarakan perkataan yang manis dan penuh kasih kepada para pemirsa agar tidak menyakiti mereka. Anda memang pewawancara yang cerdas.

 

Muhammad: …..

Pendeta Zakaria: Silahkan lanjutkan.

 

Muhammad: Bagaimana dengan “pernikahan senang-senang”?

Pendeta Zakaria: Anda tidak pernah menyerah, ya? Apa yang dapat saya katakan?  Saya tidak ingin membuat malu orang. “Pernikahan senang-senang” berarti kemana saja seseoran berpergian, ia menikmati seorang wanita dan membayarnya, membayar upahnya, seperti yang dikatakan, “Karena kamu telah menikmatinya, bayarlah upah nya.” Selesai. Hal ini terjadi pada masa nabi Muhamad, dan pada masa Abu Bakr dan pada masa-masa awal dari Omar dan Omar lah yang mengakhirinya. Tetapi kaum Shiites belum menghapusnya, karena mereka tidak percaya akan semuanya itu.

 

Muhammad: Sudah hampir waktunya. Terima kasih, dan kita akan mempunyai diskusi-diskusi lainnya. Amin. Pemirsa yang saya kasihi, kami berterima kasih karena telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengunjungi Anda melalui TV, dan masalah ini akan berlanjut pada episode mendatang, apabila Tuhan menghendaki. Kami juga bersyukur pada Tuhan, yang memberikan kemulian kepada kami untuk menyatakan kebenaran. Ini merupakan tujuan dari program “Questions About Faith” (Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman); untuk dapat berbicara tentang iman yang benar, dan tentang dimana iman yang benar itu. Apa itu iman yang benar? Yang manakah jalan menuju Allah? Apakah itu mungkin? Ada banyak pertanyaan. Apakah mungkin Allah memberikan satu agama yang pertama dan satu agama yang kedua dan yang ketiga dan selanjutnya? Kemudian Ia mengubahnya sedikit pada agama yang ini, dan sedikit pada agama yang itu, namun menahan diri dari mengubah satu agama tertentu. Kami meninggalkan pertanyaan-pertanyaan ini pada Anda dan kami menunggu pertanyaan-pertanyaan Anda.

Bila Anda ingin menerima satu buah Alkitab gratis, kami akan mengirimnya dengan senang hati. Alamat dan website kami akan muncul pada layar TV, untuk menghubungi kami dan Bapak Pendeta Zakaria. Terima kasih. Kami serahkan Anda dalam kuasa perlindungan tangan Tuhan. Sampai jumpa.

Pendeta Zakaria: Amin.