Pertanyaan Mengenai Iman Episode 50

Apakah Al Qur’an itu perkataan Allah atau perkataan Muhammad atau malaikat?  Atau manusia?

Mohamed:  Selamat berjumpa pemirsa terkasih, dalam episode baru di program “Pertanyaan Mengenai Iman”, dan sekali lagi kita kedatangan tamuBapak Pendeta Zakaria Botros.  Selamat datang Pak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih.

Mohamed:  Kami juga menerima banyak surat dan ini ada salah satunya dari Denmark:  ”Salam hangat, saya beri salam hangat dan berkat.  Nama saya Nishwan, dari Irak, Kurdistan.  Saya adalah seorang pemirsa program Al Hayat yang setia, dan saya selalu menonton diskusi-diskusi dari Bapak Pendeta Zakaria Botros, dan saya terkesan dengannya.  Saudaraku dan temanku terkasih, sekarang saya tinggal Kerajaan Denmark diantara saudara-saudara Nasrani, dan saya merasa sangat senang.  Saya seorang Muslim, dan itu bukanlah salah saya maupun orang tua saya.  Sejak kecil saya sudah dibesarkan di dalam keluarga yang tidak percaya Agama Islam.  Saat saya membuka mata dan telinga, saya dengar orang tua saya berkata bahwa Islam adalah agama yang penuh kekerasan, pembunuhan, tekanan, dan lain sebagainya.  Juga saat saya kecil, saya dengar orang tua saya membandingkan agama Islam dengan agama Nasrani, dan mereka berkata bahwa dalam agama Al-Masih, Isa Junjungan Yang Ilahi mengajarkan bahwa jika kita ditampar pipi kanan, berikan pipi kiri juga, sedangkan agama Islam berkata ”mata untuk mata, gigi untuk gigi.”  Saya menolak agama yang tidak memiliki toleransi, dan saya malu saat orang menanyakan tentang agama saya, Agama Islam yang mengajarkan pembunuhan, pembantaian, pembakaran, dan perkosaan.  Saya tidak mau berkata apapun lagi karena jika saya membicarakan agama Islam, 1.000 halaman juga tidak cukup”, dan seterusnya… sampai ke akhir surat.  Kami beryukur kepada Allah untuk saudara kita, Nishwan, dan kita berdoa agar Allah memperkuat iman Anda saat Anda berjalan di jalanNya yang benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Amin.

Mohamed:  Sekarang kita kembali ke diskusi kita melalui Al Qur’an, dan inilah pertanyaannya:  “Apakah Al Qur’an itu perkataan Allah atau perkataan Muhammad?  Atau malaikat?  Atau manusia?  Kita sudah berbicara mengenai Al Qur’an yang dianggap unik dari sisi bahasa dan ilmu pengetahuan, dan kita sudah menerima sebuah sanggahan yang berkata:  ”Apapun yang Anda katakan, dikatakan karena prejudis terhadap Al Qur’an, kita percaya bahwa Al Qur’an adalah perkataan Allah yang diberikan kepada pembawa pesan dan nabi-Nya.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Baiklah.  Faktanya, saya tidak pernah mengatakan apapun berdasarkan prejudis, sama sekali.  Apa yang saya pernah katakan diambil dari buku yang sudah diterbitkan.  Apakah itu mengenai Al Qur’an, atau Tradisi, atau Biografi Kenabian, atau Ensiklopedia Islam.  Sebenarnya ada banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa Al Qur’an diinspirasikan dari perkataan Allah.  Ini adalah Al Qur’an yang dikirim kepada Muhammad.

  • Di Surat ke 6 (Al An’aam), ayat 19:  “Bacaan ini sudah ditunjukkan kepadaku, dan di
  • Surat ke 18 (Al Kahfi), ayat 110:  “Katakan:  “Saya hanya manusia seperti kamu; hal itu sudah ditunjukkan kepadaku.”
  • Surat ke 53 (Al Najm), ayat 4:  “Hal itu hanya inspirasi yang ditunjukkan kepadanya.”

Ensiklopedia Islam, volume 26, halaman 8166, mengatakan hal ini di bagian judulnya:  “Muhammad dan Al Qur’an”.  Dikatakan, pandangan Muslim Suni terdiri dari kepercayaan bahwa Allah yang Maha Kuasa adalah pembicara dan Muhammad adalah penerima, akan tetapi ada ayat Al Qur’an lainnya yang memberikan indikasi lain.  Ensiklopedia yang mengatakan ini.

 

Mohamed:  Apa maksud Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Indikasi lainnya… dikatakan di halaman 8167, “dan di beberapa ayat-ayat lainnya terlihat seperti Muhammad sebagai pembicara, bukan penerima”.  Bukan penerima dari Allah.  Seperti di Surat ke 81 (Al Takwiir), ayat 15-21, dan Surat ke 84 (Al Insyiqaaq), ayat 16, dan seterusnya, juga banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah pembicara.

 

Mohamed:  Apakah Anda dapat memberikan referensi dari ayat-ayat tersebut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tentu saja.

  • Di Surat ke 6 (Al An’aam) ayat 104, dikatakan:  “dan aku sekali-kali bukanlah pemelihara [mu]” – ini Muhammad yang berkata – “Aku”, “dan aku sekali-kali bukanlah pemelihara [mu].”
  • Dan di Surat ke 6 (Al An’aam) ayat 114, berkata:  “Patutkah aku mencari allah lain selain Allah” “aku mencari.”
  • Dan di Surat ke 11 (Huud), ayat 2-3, berkata:  “agar kamu tidak menyembah selain Allah:  Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripadaNya. Aku seorang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripadaNya”.

Mohamed:  Disini pembicaranya adalah…

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Jelas…  Aku” adalah orang pertama, seperti di:  “kemudian aku takut… untuk kamu.”

  • Dan lagi di Surat ke 27 (Al Naml) ayat 91 dan 92:  “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini…  Aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Jadi ini semua adalah orang pertama dan pembicara disini adalah Muhammad.
  • Di Surat ke 27 (Al Naml) ayat 92:  “dan supaya aku membacakan Al Qur’an. Maka barang siapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk dirinya. Dan supaya aku membacakan Al Qur’an.”
  • Di Surat ke 42 (Asy Syuuraa), ayat 10:  “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya kepada Allah.  Itulah Allah Tuhanku.  kepadaNya lah aku bertawakal dan kepadaNya lah aku kembali.”

Baiklah, perkataan dalam Al Qur’an, yang sangat terkenal, seharusnya merupakaan perkataan Allah, dan setiap Allah ingin Muhammad mengatakan sesuatu, Ia akan berkata kepadanya, “Katakan”.

 

Mohamed:  Tetapi Anda tahu bahwa El Tabari menterjemahkan bahwa dengan mengatakan hal itu berarti, “katakan ini”, atau “katakan itu”. Jadi apa pendapat Anda mengenai hal itu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Agak benar, tetapi kata-kata tersebut tidak mengatakan “Katakan”. Jadi jika El Tabary menterjemahkannya seperti mereka telah mengatakan “Katakan”, berarti ia menambahkan.  Dapatkah kamu menemukan kata “katakan” di ayat-ayat Al Qur’an ini, atau si penterjemah menambahkannya untuk catatan mereka?  Tentu saja kata-kata tersebut tidak disitu, karena mereka tidak ada di aslinya, seperti yang sudah saya baca kata demi kata.

 

Mohamed:  Tidak ada di situ?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Kata “katakan” tidak ada di tulisan.  Apakah mereka menambahkannya?  Apakah mereka menambahkan sesuatu di Al Qur’an?  Ini merupakan masalah.  Dan kata yang mereka tambahkan ini, apakah ada di torah yang dilestarikan, dan bagaimana mereka dapat menambahkannya?  Bukankah itu berarti merusak?

YA!

Untuk menambahkannya ke dalam Al Qur’an.  Jadi seseorang harus mengakui sunguh-sunguh bahwa ini merupakan perkataan Muhammad, dari kesaksian di Ensiklopedia Islam, halaman 8167.  Tidak tidak hanya itu saja, ada perkataan-perkataan lainnya di luar perkataan Muhammad, yaitu perkataan para malaikat.  Mereka berbicara dalam bahasa mereka, bukan mengucapkan perkataan Allah, tetapi perkataan mereka sendiri.  Allah seharusnya – maksud saya di dalam Al Qur’an – Allah seharusnya berbicara kepada para malaikat, dan para malaikat akan mengkomunikasikannya kepada Muhammad.  Kemudian Muhammad memberitakan perkataan Allah, tetapi sekarang kita melihat bahwa Muhammad mengatakaan perkataannya sendiri, tanpa katakan”, dan para malaikat juga mengatakan perkataannya sendiri, dan apa yang mereka katakan dicatat sebagai perkataan mereka sendiri.

 

Mohamed:  Apakah Anda katakan bahwa dalam Al Qur’an ada ayat-ayat yang dikatakan oleh para malaikat, bukan oleh Allah?

TEPAT!

dan bukan sebagai penghubung inspirasi.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tidak.

 

Mohamed:  Bagaimana Pak?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Mereka berkata dalam bahasa mereka sendiri.  Di Surat ke 19 (Maryam) ayat 64:  “Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” Para malaikat berkata, “Kami turun”, dan para ahli naskah agama juga mengatakannya.  Ibn Katheer berkata, mengutip Ibn Abbas – dan ada cerita dibelakang ini – alasan kenapa ayat ini dibuka, kesempatan dimana ayat ini diungkapkan, katanya, mengutip Ibn Abbas:  “Jibril berlambat-lambat.”  Apa arti “berlambat-lambat”?  Artinya ia terlambat datang ke pembawa pesan Allah, sehingga pembawa pesan Allah berduka.  Apa arti “berduka”?  Artinya ia merasa sedih, sehingga pembawa pesan Allah berduka karenanya, dan sedih, dan karenanya Jibril datang kepadanya dan berkata “Oh Muhammad… Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” Jadi disini ia tidak mengkomunikasikan perkataan Allah, ia adalah pembicaranya sendiri.  Jadi bagaimana hal ini bisa ada di Al Qur’an?  Dan di Pegunungan Mogahed, ia berkata, “Pembawa pesan terlambat datang kepada para pembawa pesan” – yaitu para malaikat – kemudian Jibril datang, jadi ia berkata kepada Jibril – Muhammad bertanya kepada malaikat – “Apa yang menyebabkan engkau terlambat, Jibril? – “Apa yang membuat engkau berlambat-lambat?”  Jadi Jibril menjawabnya:  “Dan bagaimana aku dapat datang kepadamu saat engkau tidak memotong kukumu dan membersihkan mata kakimu, maupun mencukur jenggotmu, juga tidak menggosok gigimu?”  Kemudian ia berkata:  “Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” Jadi apa yang sebenarnya mengakibatkan malaikat tidak muncul?  Apa itu?  Saat seseorang tidak gosok gigi, malaikat pantang untuk datang!  Apakah mereka jijik dengan bau mulut, atau apa?  Dan ia harus memotong atau mencukur jenggotnya?  Maksud saya, hal-hal ini menimbulkan banyak pertanyaan!  Mengapa malaikat harus menunda karena hal-hal seperti itu?  Ini salah satu contoh, dan ada satu lagi di Surat ke 37 (Al Safat), ayat 164…

 

Mohamed:  Surat ke 37 (Al Safat).

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Al Safat.  Ayat 164:  “Tidak seorang pun di antara kami, mempunyai kedudukan yang tertentu.  Kita diangkat derajatnya. Kita adalah orang-orang yang memuja Allah.” Apa artinya?  Baiklah, mari kita periksa apa yang dikatakan para ahli naskah agama…  Baiklah , Anda tahu bahwa kita tidak menginterpretasi, tetapi kita memeriksa apa yang para komentator katakan.  Al Galalan berkata, “Jibril berkata kepada nabi, “Tidak seorang pun di antara kami para malaikat – mempunyai kedudukan yang tertentu,” di surga, di tempat ia melayani Allah, dan tidak melampaui batas.”  Jadi para malaikat yang berbicara, bukan Allah yang berbicara.  Al Qurtoby berkata hal ini merupakah perkataan para malaikat:  Kita diangkat derajatnya.” Jadi para malaikat berbicara dalam bahasa mereka sendiri, bukan inspirasi dari perkataan Allah.  Tetapi mengapa?  Mengapa?  Bagaimana kita dapat mencocokkan ini dengan ayat yang berkata Hanya sekedar…”

Mohamed:  Inspirasi yang diungkapkan?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Surat ke 53 (Al Najm), ayat 4:  “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya].” Apa wahyu malaikat dalam perkataan ini?  Apa wahyu dalam perkataan Muhammad?  Jadi masalah ini sudah lebih dari pewahyuan.  Apakah Anda mengikuti?  Inilah yang Al Siouty katakana di komentarnya mengenai perkataan-perkataan ini, dalam bukunya “Al Etqan Fi Uloum Al Qur’an”.  Ia berkata, “Bicara dalam masa kejadian di dalam Al Qur’an sampai masa seseorang selain Tuhan.”  Ia berkata, ”Nabi, dapat berdoa dan damai sejahtera akan turun, bicara dalam Al Qur’an dan tidak atas nama Allah,” dan ia berkata, “Ini adalah pencerahan dariMu Allah, ini telah diucapkan olehnya sendiri, dapat berdoa dan damai sejahtera turun atasnya.”  Dan kemudian berkata, “Dan aku sekali-kali bukanlah pemelihara[mu].” Dan juga pernyataannya, “Patutkah aku mencari allah lain selain Allah,” dan Al Siouty juga mengatakan dan mengakui bahwa para malaikat juga berkata-kata dalam iramanya mereka sendiri, seperti pernyataannya, “Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu…” Sampai ke ayat terakhir yang diucapkan oleh Jibril.  Dan pernyataannya “Tidak seorang pun di antara kami, mempunyai kedudukan yang tertentu.” Para malaikat…  Jadi ini adalah perkataan mereka.  Al Siouty sekali lagi mengomentari hal ini, katanya, “Pernyataan ini dapat diinterpretasikan sebagai “katakan”, dan juga ayat-ayat lainnya.”  ”Tetapi bagaimana ini bisa terjadi?”  Apakah kita akan menambahkan ini di Al Qur’an?  Apakah kita akan menyisipkannya?  Bukan masalah pengelakan…  Bukan pengelakan.  Ini masalah yang membutuhkan pengertian yang jelas.  Perkataan Allah dalam Al Qur’an, apakah benar-benar perkataan Allah?  Ya, perkataan Allah…  Ia berkata kepada para malaikat, dan para malaikat menyampaikannya kepada Muhammad.  Jadi seharusnya tidak ada perkataan mereka sendiri… baik para malaikat maupun Muhammad.

Mohamed:  Tentu tidak.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Jadi, bagiamana hal ini dapat terjadi?  Sejujurnya, apakah banyak hal lainnya selain ini dan bahkan hal-hal yang lebih ganjil mengenai para pembicara?

Mohamed:  Apa maksud Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Maksud saya, tidak hanya perkataan Muhammad yang ada di Al Qur’an, juga tidak hanya perkataan para malaikat yang ada di Al Qur’an.  Tidak, ada yang lebih ganjil daripada itu.  Sebenarnya, ini yang ensiklopedia katakan, di halaman 8166, di kolom pertama… paragraf ke-2 dari bawah.  Tertulis:  “Analisa dari tulisan Al Qur’an menunjukkan kepada kita bahwa hal ini lebih rumit dari itu, karena tidak ada acuan sama sekali mengenai asal wahyu, maupun dalam bentuk perkataan sang pembicara, di surat-surat dan ayat-ayat yang merupakan bagian-bagian tertua dari Al Qur’an agung, di beberapa ayat, tidak ada sedikitpun acuan yang menunjukkan adanya pesan dari Allah yang Maha Kuasa.”  Ya begitulah.  Dan ia mengutip contoh-contoh seperti ayat 1-10 dari Surat ke 91 (Asy Syams), 101 (Al Qaari’ah), 102 (At Takaatsur) and 103 (Al ‘Ashr).  Mengenai perkataan-perkataan yang tidak berisikan pesan dari Allah yang Maha Kuasa.

Mohamed:  Dapatkah Anda membacakan ayat-ayat ini, supaya mereka dapat melihat apa yang dimaksud dengan ensiklopedia.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, tentu saja.

SILAHKAN.

Surat ke 91 (Asy Syams), dari ayat 1:  Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya.” Apa… apa ini?  Ensiklopedia Islam, yang dikemukakan oleh Sheikh of Al Azhar, mengatakan bahwa ada perkataan-perkataan yang tidak berarti atau bukan pesan dari Allah.  Baiklah.  Ayat kedua:  Surat ke 101 (Al Qaari’ah), dari ayat 1:  “Hal yang menarik perhatian!  Hari kiamat, apakah hari kiamat itu?  Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?  Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.  Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.  Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.  Dan tahukan kamu apakah neraka Hawiyah itu?  Api yang sangat panas.”  Contoh lainnya:  Surat ke 102 (At Takaatsur) ayat 1-8:  “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.  Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.  Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.  Niscaya kamu benar-benar akan melihat nereka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ’ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pad hari itu tentang kenikmatan.” Ensiklopedia Islam berkata bahwa perkataan ini… apa?:  “Karena di beberapa ayat, tidak ada sedikitpun acuan yang menunjukkan adanya pesan dari Allah yang Maha Kuasa.”

Mohamed:  Dalam ayat-ayat ini.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Dalam ayat-ayat ini, Surat ke 103 (Al ‘Ashr), ayat 1-3:  “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,” – sebuah sumpah…  Allah bersumpah – “Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” Tidak ada sedikitpun acuan yang menunjukkan adanya pesan dari Allah yang Maha Kuasa.  Bahkan ada banyak ayat-ayat lainnya, lebih banyak lagi di dalam Al Qur’an, yang tidak berasal dari Allah, dan bahkan perkataan- perkataan tersebut tidak mungkin berasal dari Allah.

Mohamed:  Apakah ada ayat-ayat lainnya dalam Al Qur’an yang tidak berasal dari Allah, selain yang baru saja Anda sebutkan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Oh ya.  Saya amat bersyukur kepada Allah, sejujurnya, untuk Ensiklopedia Islam ini.  Ini…  Sebaiknya tidak ada rumah Muslim yang tidak memilikinya.  Seharusnya tersedia bagi siapapun yang ingin mengetahui kebenaran, agar dapat belajar dan melihat.  Dan bahkan bagi orang-orang Nasrani yang prihatin untuk mengetahui kebenaran.  Sangat hebat.  Di halaman 8246 dikatakan… 8246, kolom pertama… Turun ke bawah, hampir dibawah judul, “Ayat-Ayat Upacara Agama”.  Dikatakan:  “Ada kata-kata dalam Al Qur’an yang berbentuk doa.”  Dan disini kita bertanya, apakah Allah akan berdoa?  Bukankah seharusnya Al Qur’an merupakan perkataan Allah?  Baiklah.  Karena itu perkataan Allah, apakah Allah akan berdoa?  Mereka dapat berkata, “Tetapi kata “katakan” tersirat.”  Oh, apakah kita akan menambahkannya ke dalam Al Qur’an?  Dan juga di torah yang dilestarikan… apakah ada disitu atau tidak?  Anda mengikuti?  Jadi, contohnya, di Surat ke 1 (Al Faatihah)…  Ensiklopedia ini memberikan contoh-contoh.  Dikatakan, “Surat ke 1 (Al Faatihah) ayat 6:  “Tunjukilah kami jalan yang lurus,”” Oh, apakah ini perkataan Allah, atau perkataan manusia?  Perkataan manusia… sepertinya di dalam Surat ke 1 berisikan permohonan manusia.  Anda tidak dapat menyimpulkan bahwa itu adalah perkataan Allah sama sekali.  Mari dan lihatlah (Al Faatihah).  Ini dia, ini (Al Faatihah) ayat pertama, dan ini merupakan Surat pertama, maksud saya, di dalam Al Qur’an.  Dikatakan… ini dia, dikatakan… Lihat, lihat jika ini adalah perkataan Allah, atau manusia:  “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang!” Apakah Allah akan mengucapkan “basmala” lagi?  “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,” Apakah Allah akan berkata, Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam? Yang menguasai hari pembalasan.  Hanya kepada Engkaulah kami menyembah.” Dengan siapa Allah berbicara, dan berkata:  “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah? Ini adalah perkataan manusia, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan HANYA KEPADA Engkaulah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Apakah Allah akan berkata, “Tunjukilah kami jalan yang lurus?  Tidak mungkin!  Anda katakan kepada saya bahwa berlaku “katakan”.  Tapi bagaimana kita dapat diijinkan untuk menambahkan kata “katakan”?  Saya akan mengutip Gadafi, yang berkata bahwa ada sekitar 300 ayat atau bahkan lebih, yang mengandung kata “katakan”.  Ia berkata:  “Kita harus menghapuskan kata “katakan” karena cukup membawa banyak pertanyaan, tetapi bahkan disini kata “katakan” tidak ada, jadi jika ada manusia yang menambahkan, betapapun hebatnya dia, dia telah merusak Al Qur’an.”

TENTU SAJA.

”Karena tidak ada di torah yang dilestarikan, jadi ini semua bukanlah perkataan Allah, tetapi perkataan manusia.  Berdoa dan memohon.”  Sekali lagi, ada kutipan lagi… maksud saya, contohnya, pujian.  Dalam Surat ke 62 (Al Jumu’ah), dikatakan:  Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Bertasbih kepada Allah? Apakah Allah yang berkata demikian?  Apa yang akan Allah katakan, Bertasbih kepada Allah”?  Surat ke 57 (Al Hadiid), ayat 1, dan Surat ke 59 (Al Hasyr), Surat ke 61 (Ash Shaff), dan Surat ke 64 (Al Taghaabun).  Semuanya dimulai dengan:  “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Jadi ini bukanlah perkataan Allah.  “Dan di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata yang berbentuk – menurut ensiklopedia – berbentuk pengagungan, mengagungkan Allah, mengatakan ‘pujian bagi Allah’, ‘Sobhan Allah’.”  Ini pujian untuk Allah, mengatakan, Bertasbih kepada Allah.” Dalam Surat ke 17 (Al Israa’):  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa”.

Mohamed:  Siapa pembicara disini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Siapa yang bicara disini?  Siapa yang dipuji?  Dalam Surat ke 28 (Al Qashash) ayat 68:  “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.  Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” Siapakah yang mengatakan, “Maha Suci Allah?  Apakah Allah akan mengatakan hal itu kepada diriNya sendiri, “Maha Suci Allah”?  Apakah Ia akan memuji diriNya sendiri?  Surat ke 36 (Yassiin) ayat 36:  Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya…” Surat ke 7 (Al A’raaf) ayat 180, Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaulhusna itu.” Surat ke 43 (Az Zukhruf), ayat 82:  Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi…” Jadi ini semua tentu saja merupakan pertanyaan yang besar.  Apakah Allah akan memuji diriNya sendiri?  Akankah Allah memuji diriNya sendiri?  Perkataan-perkataan ini bukan milik Allah, kalau begitu, Al Qur’an tidak semuanya perkataan Allah, seperti yang dikatakan di Ensiklopedia Islam… tidak semuanya perkataan Allah.

Mohamed:  Ini adalah pernyataan yang serius, dan telah membuat marah banyak orang.  Apakah Anda mempunyai ayat-ayat lain yang ingin Anda bicarakan?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, tentu saja.  Sekali lagi, sesuai dengan ensiklopedia.  Halaman 8247, berkata:  “Ada ayat-ayat yang bertuliskan Maha Suci Allah”, banyak yang seperti Surat ke 7 (Al A’raaf), mereka mengutip contoh Surat ke 7 (Al A’raaf) ayat 54:  Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam!” Apakah Allah akan berkata kepada diriNya sendiri, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam!”?  Apakah ini perkataan manusia atau perkataan Nabi Muhammad?

  • Surat ke 23 (Al Mu’minuun) ayat 14:  “Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik!” Surat ke 25 (Al Furqaan), ayat 1, 10 dan 61:  “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an).”
  • Surat ke 40 (Al Mu’min):  “sangat diberkatilah Tuhan semesta alam!”
  • Surat ke 43 (Az Zukhruf):  “Diberkatilah Dia yang berkuasa atas Surga dan Bumi.”
  • Surat ke 55 (Ar Rahmaan), ayat 78:  “Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia.” Allah siapa?  Siapa yang berkata “Maha Agung” dan di
  • Surat ke 67 (Al Mulk), ayat 1 berkata:  “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Jadi ini bukan perkataan Allah, tetapi perkataan manusia.  Perkataan-perkataan manusia ini juga berbentuk pujian bagi Allah.  Ensiklopedia juga berkata:  “Mereka berbentuk ucapan syukur”, seperti, Surat ke 1 (Al Faatihah):  “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”, Surat ke 6 (Al An’aam):  “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, Surat ke 18 (Al Kahfi):  Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an)”, Surat ke 34 (Saba’):  Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit”, Surat ke 35  (Faathir):  “Pujilah Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.” Begini, kita seharusnya – menurut ensiklopedia – percaya bahwa setiap ayat di dalam Al Qur’an – semuanya – seharusnya merupakan perkataan Allah kepada malaikat, yang diungkapkan kepada Muhammad.  Ia berkata kepadanya, “Bacalah”, dan ia pergi untuk menyebarkannya.

Mohamed:  Juga, Kitab Suci berkata bahwa “Hamba-hamba Allah yang suci berbicara saat mereka digerakkan oleh Roh Kudus.”  Mereka juga perkataan manusia.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Betul.  Disinilah terletak perbedaannya, yaitu inspirasi.  Inspirasi, menurut Islam, mengatakan bahwa Al Qur’an ini ada di torah yang dilestarikan, kata demi kata.

Mohamed:  Itu adalah perkataan Allah.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Perkataan Allah, dan bukan orang lain, dan Muhammad hanya membacanya dan…

Mohamed:  Dan Anda tidak setuju dengan ide ini?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tentu saja.  Di Kitab Suci amat sangat berbeda dengan itu.  Arti inspirasi bukan seperti itu.  Kitab Suci berkata bahwa “Hamba-hamba Allah yang suci berbicara saat mereka digerakkan oleh Roh Kudus.” Jadi disini ada kebebasan, tetapi mereka harus menyerahkan diri mereka.  Muhammad telah menyerahkan dirinya.  Ia berkata bahwa Al Qur’an adalah perkataan Allah, kuno dan ada di torah yang dilestarikan, tetapi kita menemukan perkataannya sendiri, perkataan malaikat, pernyataan keagungan, pujian, dan pemberkatan.

Mohamed:  Jadi kita hanya mengumpulkan apa yang Anda telah katakan, yaitu Al Qur’an sama sekali bukan dari Allah.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Pertanyaan yang besar, satu pertanyaan ke pertanyaan lainnya.  Saya tidak mau memberikan fakta, saya mau pemirsa melakukan penelitian dan memutuskan sendiri.  Apakah saya akan menggerakkan orang dengan remote control?  Dan saya katakan kepada mereka, “Jangan bertanya, Ahmed.”  “Jangan bertanya, Ali, jangan berdebat, jangan bertanya.”  “Jangan menanyakan hal-hal yang akan membuat hati Anda gelisah jika ditunjukkan kepada Anda.” Oh, tidak.  Saya mengutip fakta-fakta yang ditemukan di buku-buku yang dipublikasikan oleh Al Azhar.  Biarkan mereka melakukan penelitian, mempelajari dan membaca Al Qur’an sendiri, memeriksa ayat-ayat dan memeriksanya kembali.  Ia dapat meminjam kaset dan memeriksanya, dan kemudian berpikir sendiri, “Apa masalahnya?”  “Apa sebenarnya seluruh permasalahnnya?”  Kita membantu orang untuk berpikir, tetapi tidak mendikte pendapat kepada siapapun.

Mohamed:  Dalam 2 menit ke depan, kita akan pindah ke topik yang berbeda.  Kita menerima sebuah surat dari pemirsa, yang berkata, “Saya baru saja tahu dari seorang teman mengenai episode-episode di program Al Hayat, dan sejak itu saya tidak pernah melewati satu episode pun.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terpujilah Nama Allah!

Mohamed:  “Saya amat sangat terkesan atas apa yang Anda katakan mengenai episode-episode ini, dan saya mau hidup untuk Allah, tetapi saya lihat bahwa jalannya sangat sulit dan oleh karenanya, saya membutuhkan nasihat dari Anda.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tidak masalah.  Jalannya susah bagi mereka yang ingin menjalaninya dalam daging, dengan nafsu birahi, ketidak-sucian dan kecintaan akan dunia.  Itu sulit dan mereka tidak dapat menjalaninya, tetapi akan menjadi sangat mudah bagi mereka yang mau berjalan dalam Ruh.  Kitab Suci dalam Kitab Injil Matius pasal 6 ayat 14 berkata, Sedangkan pintu yang sempit dan jalan yang sesak adalah jalan yang menuju pada kehidupan, dan hanya sedikit orang yang mendapatkannya.” Tetapi jika mereka memasukinya dalam Ruh, akan ada pelepasan dari Ruh, dan Isa Al-Masih menolong.  Isa Al-Masih sendiri menolong, dan Ruh Allah yang Maha Suci membantu, dan oleh karenanya, menjadi mudah… Saya dapat melakukan apapun dalam Isa Al-Masih yang menguatkan saya.  Saudaraku, katakan kepadaNya:  “Allah, tolong aku, kuatkan aku.  Aku datang kepadamu dengan lemah… kuatkan aku.”  Dan biarkan yang lemah berkata, “Aku kuat di dalam Allah.”  Anda akan mengalami kekuatan Isa Al-Masih di dalam anda.

Mohamed:  Amin. Terima kasih banyak Pak Pendeta.  Para pemirsa terkasih, dahulu Nabi Daud(1) berkata:  “Aku akan pergi ke rumahMu dengan persembahan bakar, aku akan membayar nazar yang telah diucapkan mulutku Aku menjerit kepadaNya dengan mulutku dan Ia memuji lidahku.  Jika aku memikirkan kejahatan dalam hatiku, Allah tidak akan mendengar.  Tetapi Allah telah mendengar aku; Ia telah menjawab doa-doaku.  Terpujilah Allah yang tidak pernah mengesampingkan doaku juga pengampunanNya padaku.”  Allah tentu saja mendengar suara mereka yang menangis kepadaNya, dan mendengar suara mereka yang bertobat kepadaNya, dan seperti yang telah kami katakan, Ia tidak pernah mengesampingkan doa kita atau menahan pengampunannya dari orang-orang yang meminta kepadaNya.  Terima kasih banyak dan sampai berjumpa lagi di episode lainnya. Terima kasih.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih sahabatku, Amin.

 

 

Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

(1) Because verses is know known – the text is translated as it is.  Karena ayat-ayat tidak diketahui, terjemahan berdasarkan text aslinya.