Pertanyaan Mengenai Iman Episode 53

Sumber-Sumber Al Qur’an

Mohamed:  Selamat datang, para pemirsa terkasih, ke episode terbaru dari program kita, “Pertanyaan Mengenai Iman”.  Dan kita juga kedatangan tamu kita terkasih, Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang Pak

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih banyak.

Mohamed:  Para pemirsa terkasih, kami telah menerima banyak surat, dan dengan senang hati saya akan membacakannya bagi Anda.  Mari kita mulai dengan surat ini, datang dari Mesir.  Dikatakan:  “Salam dan hormat saya bagi program Al Hayat.  Saluran ini merupakan kubu pengetahuan agama yang luar biasa, dan bermanfaat bagi orang-orang seperti saya.  Semoga Allah terus memeliharanya selamanya.  Ini merupakan kebanggaan dan harta bagi mereka yang mencari pengertian.  Saya telah mendengarkan Bapak Pendeta Zakaria Botros mengenai penelitiannya atas ayat-ayat Al Qur’an dan persengketaan mereka, begitu juga pertentangan diantara ayat-ayat tersebut.  Hal ini telah membangkitkan kegusaran dalam hati saya, tetapi saya tidak menemukan sumber lainnya yang mengungkapkan ini kepada saya, kecuali program ini.  Saya jatuh cinta dengannya, dan sekarang saya tidak menonton yang lain.  Saya merasa terhibur ketika saya menontonnya, sangat terhibur sampai saya mendatangi seorang ulama dan bertanya kepadanya, apa yang telah Bapak Pendeta Zakaria Botros katakan, tanpa memberi tahu dia bahwa ini adalah kutipan dari Bapak Zakaria.  Ia berkata, “Ya, ini benar.”  Dan setelah saya selesai berbicara dengannya, saya memberitahu beliau bahwa saya mendengar ini dari Bapak Zakaria.  Mukanya langsung berubah.  Ia mendamprat saya dan berkata, “Jangan duduk dan mendengarkan hal-hal tersebut dari orang-orang seperti itu.”  Jadi saya katakan kepada beliau beberapa saat kemudian, “Anda mengatakan kepada saya bahwa hal-hal ini benar, jadi mengapa Anda sangat cepat berubah?” Ia pergi dan meninggalkan saya.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Kasihan!

 

Mohamed:  “Jadi mohon kirimkan kepada saya semua hal yang dapat memberi saya pengajaran mengenai ajaran Isa Al-Masih.  Saya ingin mengerti dengan pikiran dan hati saya, yang mana keduanya sungguh mengingininya.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Amin.

 

Mohamed:  “Jadi mohon kirimkan kepada saya semua hal yang dapat memberi saya pengajaran mengenai ajaran Isa Al-Masih.  Saya ingin mengerti dengan pikiran dan hati saya, yang mana keduanya sungguh mengingininya.”  Kami telah menerima banyak pertanyaan-pertanyaan, dan sebelumnya kita berbicara mengenai sumber-sumber yang diambil Muhammad untuk Al Qur’an-nya, dan Anda telah menunjukkan kepada kami isu mengenai legenda-legenda.  Tetapi apakah ada sumber-sumber lainnya yang dapat Anda jelaskan kepada kami di episode ini?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Baik  Tentu saja, ada beberapa sumber, menurut penelitian yang yang dilakukan atas akar dan fondasi agama.  Sekarang saya hanya mengajukan hal-hal yang telah ditunjukkan oleh penelitian-penelitian ke arena diskusi, dan saya berharap agar para ahli agama tidak membiarkan orang-orang tidak mendapatkan jawabannya, tetapi akan menjawabnya.  Ini sebuah kesempatan.  Biarkan mereka menjawabnya.  Anda tahu, saya dapat merasakan Saudara Ahmed, sejujurnya, karena ia pergi ke sumbernya untuk bertanya kepadanya, dan orang itu hanya pergi dan meninggalkan dia.  Maksud saya, saya berharap ini merupakan kesempatan yang akan diambil oleh para ulama, untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Buku-buku referensi perbandingan agama-agama menunjukkan kepada kita akarnya.  Mereka menunjukkan kepada kita bahwa sumbernya adalah Yahudi – Israel – begitu juga sumber Kitab Suci, diantara sumber-sumber lainnya.

 

Mohamed:  Maksud Anda, sumber-sumber Al Qur’an? Yahudi – Israel – dan Kitab Suci juga…?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Dan Kitab Suci.

 

Mohamed:  O keajaiban diantara keajaiban-keajaiban! Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada Anda.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Silahkan.

 

Mohamed:  Saya belajar bahwa Muhammad seorang yang buta huruf, ia tidak dapat membaca maupun menulis.  Karena dikatakan:  “Baca dalam nama Allah yang menciptakan”, dan ia berkata “Aku tidak dapat membaca.” Dan semua hal yang kita telah tahu. Jadi bagaimana Anda dapat berkata bahwa ia bertumpu pada sumber-sumber ketika menyusun Al Qur’an?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Sebuah pertanyaan yang baik.

 

Mohamed:  Maksud saya, dalam menulis Al Qur’an.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Baiklah, sejujurnya ini merupakan sebuah pertanyaan yang baik dan serius.  Mari kita mulai dengan bagian pertama yang Anda tanyakan.  Diketahui bahwa Muhammad seorang yang buta huruf; seorang rasul yang buta huruf, dan dikirim ke orang-orang yang buta huruf, dan sudah menjadi gosip di manapun selama 14 abad, bahwa Muhammad seorang yang buta huruf, artinya ia tidak dapat membaca maupun menulis.  Dan fokus benar-benar telah ditempatkan pada aspek ini, yaitu untuk menunjukkan mujizat Al Qur’an…  Yaitu Al Qur’an ini, dengan segala kepandaian berbicaranya dan bahasa yang indah dan jelas, dihasilkan oleh seseorang yang buta huruf…  jadi sumbernya pasti melebihi kebuta-huruf-an itu.

 

Mohamed:  Jadi, inilah yang Anda katakan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ini yang saya lihat, dan saya beritahu Anda mengapa.  Karena melalui penyelidikan dan penelitian, kita menemukan bahwa Muhammad… kata, “Ummia” tidak berarti buta huruf, yaitu tidak dapat membaca maupun menulis, karena ada bukti-bukti bahwa Muhammad dapat membaca.  Anda tertarik untuk mengetahui hal ini?

 

Mohamed:  Oh, ya.  Silahkan

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Biarkan saya memberitahu Anda.  Di Ensiklopedia Islam, volume 26, di halaman 8168… sebuah Ensiklopedia yang diajukan oleh sheikh dari mesjid Al Azhar sendiri, yang sekarang; Sheikh Sayed Tantawy, seorang profesor.  Jadi Ensiklopedia ini, atau “Da’erat Al Ma’aref” berkata:  “Bukan tidak mungkin bahwa saat itu Muhammad menulis sendiri hal-hal yang telah diungkapkan kepadanya di Al Qur’an mulia.”

 

Mohamed: Ia menulis sendiri…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Sendiri.  Ia menulis sendiri.  Ini nomor satu.  Ya.  Nomor dua.  Dari “Prophetic Biography” (Biografi Kenabian) oleh Ibn Hisham, dan buku Ibn Sayed Al Nassafy, “Oyoon Al Athar Fi Fenoon Al Maghazy Wa Al Shama’el Wa Al Seyar”, volume 2, halaman 164:  “Ketika delegasi Qorashite datang untuk bernegosiasi dengan Muhammad…”

 

Mohamed:  Apakah ini di waktu tertentu saat masa perdamaian?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  “Al Hodaybya”, atau perdamaian.  Ketika mereka datang ke Hodaybya untuk mendamaikan mereka dengan Muhammad, supaya ia dapat masuk ke Mekah sesuai dengan perjanjian tertentu.  Jadi setelah mereka menandatangani perjanjian tersebut dan ada banyak negosiasi dan banyak perubahan, mereka sampai ke titik tanda tangan.  Sehingga Aly Ibn Aby Taleb… dialah penulisnya, penulis perdamaian itu, menulis dibawahnya:  “Muhammad, rasul Allah.”  Untuk ditanda-tangani pihak lainnya, jadi delegasi Qurashite berkata, “Oh, tidak.  Apakah ia rasul Allah, dan apakah kita telah mengakui bahwa ia adalah rasul Allah, apakah ini sikap kita terhadap dia?  Kita tidak mengakui bahwa ia rasul Allah.”

 

Mohamed:  Maksud Anda, saat itu, orang-orang Qurashite tidak mengakuinya sebagai seorang rasul?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, ini sebelum penaklukkan Mekah.  Jadi mereka berkata, “Kita harus mengganti tanda-tangannya, dan harus menggunakan nama yang kita kenal – Muhammad Ibn Abd Allah – jadi Muhammad berkata kepada Aly, “Baik., rubah itu, Aly.”  Tetapi Aly bersumpah:  “Demi Allah, aku tidak akan pernah mengusir engkau.”

 

Mohamed:  Inilah yang Aly katakan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Aly berkata, “Aku tidak akan menghapus namamu sama sekali.”  Ia mencobanya, tetapi tidak berhasil.  Jadi Muhammad harus… Anda tahu yang dikatakan?  Al Bokhary menuturkan …  Al Bokhary:  “Rasul Allah menghapusnya dan menulis… ia menghapus kata ‘rasul Allah’, ‘Muhammad, rasul Allah’, Muhammad menghapus rasul Allah, dan menuliskan dengan tangannya sendiri, ‘Muhammad Ibn Abd Allah.’”

 

Mohamed:  Tulisannya benar-benar berisi:  “Sang Rasul memegang naskah tersebut dan menghapusnya, ia sendiri, dan ia menghapus ‘rasul Allah.’”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ia menghapus “rasul Allah”(1), bukan “Muhammad”.  Jadi ia tahu cara membaca…

 

Mohamed:  Maksud Anda, bukan Aly yang menghapusnya?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Bukan, bukan, sang Rasul yang melakukannya.  Ini contoh kedua dan yang ketiga, hanya untuk membuktikan bahwa ia dapat membaca dan menulis.

 

Mohamed:  Saya bertanya-tanya apakah kejadian ini ada hubungannya dengan kelompok Syiah dan Suni.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tidak, waktu itu Syiah tidak ada.

 

Mohamed:  Yaitu, dihapuskan.  Silahkan teruskan…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Selain itu… ada sebuah buku yang disebut, “The Arab Peninsula Before Islam” (Semenanjung Arab sebelum Islam).  Pengarang buku tersebut adalah Borhan Al Deen Dalw.  Halaman 224…

 

Mohamed:  Apakah buku ini ada di sirkulasi saat ini?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya.  “The Arab Peninsula before Islam” (Semenanjung Arab sebelum Islam).  Salah satu buku yang sangat penting.  Dikatakan, “Muhammad belajar bahasa Arab dari Zaid Ibn Amr Ibn Nofail, ketika ia di gua Hyraa.  Ketika ia ada di gua Hyraa, ia belajar membaca dan menulis.  Zaid Ibn Amr Ibn Nofail adalah seorang Haneef.  Ia mengenakan kebiasaan biksu dan tinggal di gua Hyraa, dan Muhammad sering pergi ke situ dan menghabiskan waktu sebulan, dan ia belajar membaca dan menulis darinya.  Ini ditulis oleh Borhan Al Deen Dalw.  Ibn Hisham juga mengatakan, di “Prophetic Biography” (Biografi Kenabian), volume 1, halaman 223.  Di halaman 223, dikatakan, berbicara mengenai Zaid Ibn Amr:  “Al Khattab sangat mencaci maki Zaid sampai ia mengusirnya ke bagian tertinggi Mekah, jadi ia menetap di Hyraa, di seberang Mekah.  Zaid-lah yang mengajarkan Muhammad.  Ia seorang yang sangat baik.

 

Mohamed:  Ia mengajarkan Muhammad membaca dan menulis.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, membaca dan menulis saat Hanyfa Muhammad(2), sebelum Islam.  Bukti keempat, buku “Al Bedayat Al Oola Lelisraeilyat”.

 

Mohamed:  Buku mana?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  “Al Bedayat Al Oola Lelisraeilyat.” Ini adalah pujian dari elemen Israel, yang diperkenalkan kepada Tradisi.  Dibawah judul “The Translation of the Pentateuch (Torah) into Arabic” (Terjemahan Kitab Taurat ke Bahasa Arab), halaman 13-18, ditulis oleh Hassan Youssef.  Al Thaher; Hassan Youssef.  Al Thaher.  Cetakan pertama di tahun 1991, oleh penerbit Al Zahraa, di Abdeen, Kairo.

 

Mohamed:  …Mesir.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ini yang dikatakan:  “Seorang Israil datang kepada rasul Muhammad, bertanya kepadanya mengenai hukuman atas perzinahan, dan ia sedang memegang Kitab Taurat.”  Ia menunjuk ayat mengenai penghakiman atas perzinahan di Kitab Taurat.  “Dan orang Israil tersebut menunjuk tulisan mengenai penghakiman atas perzinahan, karena ia takut Muhammad akan membaca tulisannya, karena tertulis dalam bahasa Arab.” Jadi Muhammad dapat membaca, dan orang tersebut tahu ia dapat membaca karena orang tersebut telah berhubungan dengannya, jadi orang tersebut bertanya kepadanya, “Apa penghakiman bagi perzinahan?” Tetapi ia telah menyembunyikan ayat mengenai penghakiman.  Ayat yang telah orang tersebut tanyakan.  Jadi ada 4 kebenaran dan bukti dari buku-buku Arab mengenai hal ini.  Dan sekarang kita sampai ke hal yang sangat penting.

 

Mohamed:  Dan ini semua merupakan rincian-rincian khusus yang tertulis di buku-buku.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Dari buku-buku, penelitian, dan pelajaran Arab.  Tetapi sekarang kita sampai ke hal yang sangat penting.  Kalau begitu, mengapa dikatakan bahwa ia seorang rasul yang buta huruf, dikirim ke orang-orang yang buta huruf?  Apa arti dari hal ini?  Ini ditemukan di Surat ke 62 (Al Jumu’a), ayat 2 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka.”  Oh.  Buta huruf tapi akan membacakan.  Apakah ia akan membaca kepada mereka?  Maksud saya, “Ayat-ayatnya dan menyucikan mereka dan mengajarkan mereka buku dan kebijaksanaan… dan seterusnya.”  Mari kita periksa komentar Al Qurtoby mengenai ayat ini.  Ia berkata, “Ibn Abbas berkata, ‘Al Omioon – buta huruf – adalah semua orang Arab, apakah mereka menulis atau tidak, karena mereka bukan orang-orang buku.”  Dan oleh karenanya, ia memanggil mereka buta huruf.

 

Mohamed:  Jadi, ini interpretasi dari “Ommi” seseorang tanpa sebuah buku.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya.

 

Mohamed:  Menurut Al Qurtoby.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Bukan hanya itu, tetapi Al Tabary juga.  Jadi sekarang kita mempunyai 2 orang saksi.  Jelas?  Komentar Al Tabary atas ayat di Surat ke 62 (Al Jumu’a) mengatakan:  “Yonos menuturkan kepadaku.”  Ia berkata, ‘Ibn Wahb memberitahu kami, ia berkata Ibn Zaid berkata, mengenai pernyataan ini:  “Ia-lah yang mengutus sang Rasul dari orang-orang buta huruf diantara mereka sendiri.”  Ia berkata, “Orang-orang Muhammad dipanggil buta huruf, karena sebuah buku belum diturunkan kepada mereka.”  Dan ini benar-benar frase yang sama dengan yang ada di Kitab Suci, tetapi bukan “Omioon”, melainkan “Omamioon”.  Yaitu, orang bukan orang Israil.

 

Mohamed:  Jadi, “Omami” adalah orang bukan orang Israil yang belum menerima buku ilahi.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tepat.  Dan ini adalah orang-orang yang sama yang dipanggil “Omiyoon” dalam Al Qur’an.  Bukankah itu benar?  Hanya satu “M” yang telah dihapus.  “Omamiyoon” telah menjadi “Omiyoon.”

 

Mohamed:  Jadi bagaimana kita dapat menjelaskan ayat yang berkata:  “Baca saya bukan seorang pembaca” dan “Baca saya bukan seorang pembaca”?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Masing-masing mempunyai interpretasi.  Saya bukan seorang penterjemah.  Saya tidak menginterpretasi tulisan.

 

Mohamed:  Saya pribadi bertanya-tanya mengenai ayat ini.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Saya tidak menginterpretasi Al Qur’an.  Tetapi sepertinya ia sebenarnya membaca.  Mungkin pada awalnya ia ragu-ragu, karena ketika ia telah pergi dan kembali, dan berkata kepada Khadija:  “Bungkus aku”, Khadija bertanya kepadanya, “Kamu kenapa?”  Ia menjawab, “Mungkin aku melihat setan, atau aku telah disentuh oleh seorang jin.”

 

Mohamed:  Anda menyebutkan itu sebelumnya.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya.  Bukankah itu benar?  Jadi mungkin ia tidak mau membaca karena ia tidak benar-benar percaya pada dirinya sendiri?

 

Mohamed:  Tetapi ratusan juta orang sekarang percaya…  Tidak hanya tahu, tetapi percaya bahwa sang Rasul seorang yang buta huruf, dalam arti tidak membaca maupun menulis.  Aneh!

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Percaya saya, percaya saya, saudara terkasihku, tidak ada hal yang lebih menyedihkan daripada ketidakpedulian.  “Orang-orangKu musnah karena tidak memiliki pengetahuan.”  Dan oleh karenanya, seseorang harus menggunakan pikirannya.

 

Mohamed:  Tentu saja.  Tentu saja.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Apakah Anda sudah melihat saudara ini sudah menggunakan otaknya?  Ia menggunakannya.  Oh, silahkan teruskan.

 

Mohamed:  Mari lanjutkan diskusi sebelumnya mengenai sumber-sumber Al Qur’an.  Apa yang ingin Anda beritahu kepada kami mengenai “Israeliyat”? Ini topik yang cukup menarik bagi saya, secara pribadi.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Dan tentu saja, keprihatinan utama kita adalah agar para pemirsa menyadari semua ini.  Tentu saja…

 

Mohamed:  Tentu saja.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Sebenarnya, peninggalan Islam, budaya Islam mengetahui Al Israelyat di Tradisi Rasul.  Setiap Anda mengutip Tradisi Rasul, mereka akan berkata, “Tidak ini Israelyat”.  Apa arti “Israelyat”?  Artinya telah disisipkan oleh orang Israil… datang dari sumber Israil.  Dan oleh karenanya, tidak dapat dipercaya.

 

Mohamed:  Apakah itu benar?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ibn Taymia mengatakan dalam bukunya, “Jamea Al Rasael”, halaman 64, mengenai Tradisi yang dipalsukan:  Ia berkata, “Mereka adalah perkataan yang salah, dan tidak dapat digunakan sebagai bukti.  Mereka adalah Tradisi yang difabrikasi atau dibuat-buat, atau elemen Israel yang tidak resmi yang telah menjalar ke Tradisi.”  Oh, tetapi Tradisi adalah sumber utama hukum Islam.  Jadi mereka telah disisipkan di dalam Tradisi, dan apa yang menghalangi mereka disisipi di yang lainnya?  Dengan segala hormat saya tunggu untuk pendapat lainnya…

 

Mohamed:  Tapi mereka adalah kata-kata yang salah.  Mereka ditolak.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tetapi mereka telah disisipi.  Ya.  Bukankah begitu sekarang?  Hal yang sama telah dikatakan mengenai Al Qur’an, bukan hanya Tradisi Rasul.  Muncul di Surat ke 25 (Al Furqan).  Dari ayat 4-6, dikatakan:  Dan orang-orang kafir berkata:  “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain”; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman dan dusta yang besar.  Dan mereka berkata:  “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.”  Kita belajar sebelumnya mengenai legenda-legenda, bahwa orang-orang berkata demikian mengenai Muhammad.  Dan seperti yang sudah kita katakan, tidak ada asap tanpa api, jadi ini sesuatu yang membutuhkan sedikit penelitian dan pembelajaran.

 

Mohamed:  Jadi apa hubungan ini dengan:  “Kami telah menurunkan surat peringatan dan kita menjaganya.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Itulah masalahnya.  Inilah masalah dan isu yang membutuhkan penelitian yang hati-hati, karena nasib kekal seseorang sedang tergantung.  Apakah Anda berjalan di jalan menuju kekekalan, atau tidak?

 

Mohamed:  Dan itu benar-benar yang kita bicarakan, benar-benar yang mau kita bagikan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Itulah.

 

Mohamed:  Nasib kekekalan seseorang, itulah poinnya.  Silahkan lanjutkan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Elemen Israel, sebagai sumber Al Qur’an… Al Israelyat terdiri dari dua sumber.  Sumber pertama adalah Perjanjian Lama.  Dan sumber kedua adalah cerita-cerita rakyat yang berasal dari cerita rakyat Israil.  Ia bertumpu kepadanya.  Ia menyalin hal-hal dari Kitab Suci, dan mengambil dari situ, cerita-cerita rakyat – cerita-cerita yang terkenal – hal-hal tertentu yang menjadi bagian dari Al Qur’an.

 

Mohamed:  Dan dengan Perjanjian Lama maksud Anda adalah Kitab Taurat…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Kitab Taurat, Kitab Zabur… dan Kitab Para Nabi.

 

Mohamed:  Kitab Taurat, yaitu buku orang Israil?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tepat.  Dan bagaimana kita tahu itu?  Dari Surat ke 87 (Al A’la).  Muhammad sendiri mengaku bahwa Al Qur’an ini dari Kitab Suci, dengan kedua perjanjian.  Di Surat ke 87 (Al A’la), ayat 18 dan 19, dikatakan:  “Sesungguhnya ini – yaitu Al Qur’an – benar-benar terdapat dalam Kitab-Kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-Kitab Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.” Jadi ia sendiri berbicara dan memberitahu kita sumber-sumbernya.  Ada di gulungan-gulungan paling awal.  Dan di Surat ke 53 (Al Najm) ayat 36 dan 37:  “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?  Dan lembaran-lembaran Ibrahim?” Jadi, ini hal yang sama lagi.  Surat ke 26 (Ash Shu’araa) ayat 199(3):  “Ada di Kitab Zabur dari orang-orang awal.”  Yaitu, Kitab Zabur dari orang-orang awal.  Oleh karenanya, gulungan awal, seperti yang dimiliki para komentator, adalah buku-buku yang dibukakan sebelum Al Qur’an.  Jadi, Kitab Taurat dan awal Kitab Injil adalah sumber Al Qur’an.

 

Mohamed:  Mungkin para pemirsa akan mempertanyakan contoh-contoh yang terang dari kutipan-kutipan Kitab Taurat dan Kitab Zabur.  Apakah Anda mempunyai contoh-contohnya?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Oh, tentu saja.

 

Mohamed:  Silahkan…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ada banyak contoh.  Sebagai satu contoh, dari buku Kejadian, cerita penciptaan telah disalin.  Di Kitab Kejadian dikatakan:  “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…” dan di Surat ke 6…

 

Mohamed:  Permisi.  Maksud Anda, penciptaan?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya.  Penciptaan bumi.  Saat saya berkata “Penciptaan” atau “Khalika”, saya percaya keduanya mempunyai arti satu dan sama… secara bahasa, maksud saya.  Jadi dikatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, dan di Surat ke 6 (Al An’am) ayat 63(4), dikatakan:  “Ia menciptakan langit dan bumi.”  Kata-katanya hampir sama.  Baik.  Jadi apakah ini sebuah wahyu yang baru… maksud saya Al Qur’an, mengapa Al Qur’an mengulang frase tua yang sama?  Mengapa ia tidak menghasilkan sesuatu…

 

Mohamed:  Kitab Kejadian ini bagian dari Kitab Taurat?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, bagian dari Kitab Taurat.  Taurat terdiri dari 5 Kitab, dan yang pertama adalah Kitab Kejadian.  Cerita mengenai Nabi Adam dan Siti Hawa … sekali lagi di Kitab Kejadian, yang merupakan Kitab pertama Kitab Taurat, dari ayat 27-28(5):  “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya … Allah memberkati mereka.” Dan di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 30 dibaca sebagai berikut:  “Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”  Seorang manusia.  Cerita mengenai Kain dan Habel.  Di Kitab Kejadian, dikatakan:  “Dan terjadilah bahwa Kain…” (6)

 

Mohamed:  Maksud Anda “Kabeel”?  Kita mengatakan “Kain”, tetapi orang-orang Muslim mengatakan “Kabeel” dan kita mengatakan “Kain.”  Anda mengatakan Kain.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Tetapi, di Kitab Suci, ini bahasa Ibrani asli.  Karena ini bukan kata Arab, tapi nama Israil … Kain, dengan “N”.  Tetapi saat Anda mendengarkannya, suaranya mirip seperti Habeel dan Kabeel, tetapi secara ilmiah, adalah “Kaeen” dan “Habeel.” “Dan terjadilah bahwa Kain melawan adiknya Habel, dan membunuhnya.” (6) Hal yang sama di Surat ke 5(7) (Al Maidah) “Dirinya sendiri mendorong ia untuk membunuh saudaranya, jadi ia membunuhnya.”  Apakah Anda mengikuti?  Maksud saya, kata-katanya hampir sama.  Cerita mengenai Nabi Nuh dan banjir… perbedaannya adalah Al Qur’an mengklaim bahwa salah satu anak Nabi Nuh menghilang diluar bahtera, tetapi di Kitab Kejadian di Kitab Suci, tidak dikatakan demikian.  Semuanya selamat.  Cerita Nabi Ibrahim… Anda menemukannya di Kitab Kejadian, dan di Al Qur’an, di Surat ke 2 (Al Baqarah) dan Surat ke 87 (Al A’la) dan Surat ke 14 (Ibrahim).  Cerita yang sama diulang.  Cerita mengenai Lot.  Anda dapat menemukannya di kitab Kejadian, dan juga dapat menemukannya di Al Qur’an, di Surat ke 11(Hud) sampai Surat ke 37 (Al Saffat)… semua surat-surat tersebut.  Dan sekali lagi, cerita mengenai Yakub, Israil.  Di Kejadian, dan di Surat ke 61(Al Saff), dan Surat ke 2(Al Baqarah)… dan seterusnya.  Cerita mengenai Yusuf.  Di Kejadian, dan di Surat ke 40 (Gafir), dan lainnya.  Ini mengenai Kitab pertama Kitab Taurat.  Kitab kedua Kitab Taurat, yaitu Kitab Keluaran, berisikan cerita mengenai Nabi Musa dan Firaun.  Anda menemukannya di Keluaran, dan di Surat ke 2 (Al Baqarah), tiang awan atau asap di Surat ke 2 (Al Baqarah), dan sama di Kitab Keluaran.  Roti manna dan burung dara, di Surat ke 2(Al Baqarah).  Batu di Surat ke 2 (Al Baqarah).  Di Kitab Imamat… Juga, anak lembu emas di Surat ke 2 (Al Baqarah).  Penampakan Allah kepada Nabi Musa.  Di Surat ke 28 (Al Qasas), diantara yang lainnya…  Kitab Imamat, dan Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan, dan Nabi Samuel, dan I Raja-Raja, dan Nabi Ayub, dan Nabi Yunus.  Banyak hal telah disalin.  Dan tidak ada waktu untuk membicarakannya.

 

Mohamed:  Ya. “Sefr”, apakah itu sebuah ayat atau seperti surat?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Itu sebuah surat.

 

Mohamed:  Baik  Ada sebuah pertanyaan yang muncul. Bagaimana sang Rasul mengetahui semua cerita-cerita tersebut?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Pertama, ia mengetahui itu semua dari orang-orang Israil yang banyak tinggal di situ, di Arab.

 

Mohamed:  Mereka adalah generasi Muhammad di masa itu.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, ia tinggal bersama-sama dengan mereka, ia mempunyai hubungan dengan mereka, dan ia membunuh banyak dari mereka, seperti Banu Qoraitha, dan masih banyak yang lainnya.  Jadi mereka ada disana.  Sheikh Khaleel Abd Al Kareem, dalam bukunya, “Fatret Al Takween Fi Hayat Al Sadeq Al Ameen”, halaman 95, mengatakan sebagai berikut:  “Ibu Khadija telah memberikan kesempatan kepada rasul Muhammad untuk bertemu dengan Pastur Waraka dan orang-orang sepertinya, seperti Biksu Addas dan Bohayra.”

 

Mohamed:  Waraka Ibn Nawfal?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Waraka Ibn Nawfal.  Benar.  “Dan menghabiskan malam hari yang panjang dengan Ibn Nawfal untuk belajar dan mempelajari dan berdialog.”  Ini adalah sumber dengannya, dan:  “Khadija adalah orang yang mempersiapkan Muhammad bergabung dengan para orang agama dari semua agama, sekte, dan ajaran.”  Dan oleh karenanya, ada sumber manusia yang hidup, yang dari mereka Muhammad menyalin dan mempelajari hal-hal tersebut.

 

Mohamed:  Anda katakan di awal… Permisi, apakah Anda sudah selesai? Anda katakan di awal bahwa sumber-sumber dari Al Qur’an adalah Israelyat. Al Israelyat adalah cerita-cerita rakyat orang Israil.  Apa maksud Anda?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Cerita-cerita rakyat, yaitu cerita-cerita rakyat… Talmud Israel, yang disebut Babylonian Talmud.  Sembilan surat dalam Al Qur’an berisikan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa generasi rasul Muhammad yakin bahwa apa yang ia katakan sebenarnya berasal dari legenda-legenda kuno, dan mereka menyatakannya kepada sang Rasul sendiri.  Ini terbukti di Surat ke 6 (Al An’am), “Dan orang-orang kafir berkata:  Dongengan-dongengan orang-orang dahulu… dan seterusnya”, begitu juga Surat ke 25 (Al Furqan) dan 23 (Al Muminun) dan 27 (Al Naml), dan seterusnya.  Sekarang kita datang ke ulama besar, yaitu Sheikh Abd Allah Youssef Aly, ia seorang penterjemah Al Qur’an.  Ia berkata dalam komentarnya mengenai Al Qur’an, halaman 1382:  “Al Qur’an menyalin dari buku-buku, yang dengan hormat disebut, “buku-buku cerita rakyat Semit.”  Ia menyalin dari buku-buku cerita rakyat Semit, dimana ia berkata ada sebuah buku dari buku-buku tersebut yang berbahasa Yunani.  Buku tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan diterbitkan di London, di tahun sekian dan sekian”, dan Sheikh Abd Allah menambahkan sebagai berikut:  “Sepertinya buku ini telah diambil dari asal usul orang Israil”, dan menjadi referensi – Sheikh Youssef Aly lakukan ke sumber lainnya, yaitu buku Israel Medrash.  Ia menulis mengenai hal ini di halaman 1638.  Jadi cocok bagi seorang pencari kebenaran untuk mengunjungi beberapa website di internet, untuk membaca lebih banyak penelitian-penelitian dan membuktikannya secara ilmiah…  Talmud, Midrash, dan Ensiklopedia Judaica, Ulasan Islam, Cahaya Kasih, mitos-mitos dalam Al Qur’an.  Ini semua adalah website-website di internet, dan ia dapat membaca mengenai topik ini lebih banyak.

 

Mohamed:  Talmud, dan Midrash, dan Ensiklopedia Judaica, Ulasan Islam Moragaat Al Islam, Cahaya Kasih…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  “Mitos-mitos dalam Al Qur’an”, “Al Asateer Fi Al Al Qur’an.”

 

Mohamed:  “Al Asateer Fil Al Al Qur’an.”  Di sisa waktu yang kita miliki, dapatkah Anda mengutip beberapa contoh bagi kami?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Ya, ada banyak contoh.  Contohnya, Al Qur’an menyalin dari sebuah buku bernama “Pharqi Rabbi Eli Azzer.” Bab 21 … legenda mengenai Kain belajar dari seekor burung gagak bagaimana mengubur saudaranya sendiri, di Surat ke 5 (Al Maidah).  Aslinya ditemukan di buku “Pharqi Rabbi Eli Azzer Beny Hooda”, dan dari buku “Midrash Raba”, yang disebutkan oleh Youssef Abd Allah.  Ia menyalin legenda Nimrod mengurung Nabi Ibrahim dalam api, dan Nabi Ibrahim tidak terbakar.  Majelis Raja Salomo dengan dewannya, yang terdiri dari peri-peri dan setan-setan dan burung-burung… ini ditemukan di Targom kedua, Kitab Istir (Ester).

 

Mohamed:  Kita kehabisan waktu.  Baik?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.:  Terima kasih banyak.  Topiknya adalah…

 

Mohamed:  … Kita kehabisan waktu.  Kita membutuhkan waktu yang lebih banyak.  Teman-temanku terkasih, kami berharap kita dapat meneruskan topik ini di episode selanjutnya, dan sampai pertemuan selanjutnya di episode baru…  Terima kasih.

 

Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974”. version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

(1) Please check the original script.  English version uses “Abd Allah”.  According to previous sentences, it should be “Messenger of God”.  We use “Messenger of God” in Indonesian version – Versi Bahasa Inggris menggunakan “Abd Allah”, seharusnya “Rasul Allah”.  Kita menggunakan “Rasul Allah” dalam versi Bahasa Indonesia.

(2) Please check the original script.  What Is “Mohamed’s Hanyfa”?  We use “Hanyfa Muhammad” in Indonesian version – Apakah “Mohamed’s Hanyfa” itu?.  Kita menggunakan “Hanyfa Muhammad” dalam versi Bahasa Indonesia.

(3) & (4) Exact text is not found.  We just translate the English version – Kata-kata yang sama tidak ditemukan.  Kita hanya menterjemahkan versi Inggris.

(5) Please check the original script.  It should be verse 27 to 28, not 26 to 34.  We use Indonesian Bible version – Seharusnya ayat 27 sampai 28, bukan 26 sampai 34.  Kita menggunakan Kitab Suci versi Indonesia.

(6)& (7) Exact text is not found.  We just translate the English version – Kata-kata yang sama tidak ditemukan.  Kita hanya menterjemahkan versi Inggris.