Pertanyaan Mengenai Iman Episode 57

Sumber dari Al Qur’an (Kepercayaan penyembahan berhala masa sebelum Islam)

(bagian 1)

Mohamed:

Selamat datang para pemirsa terkasih, di program kami, ”Pertanyaan Mengenai Iman”.  Dan sekali lagi, bersama dengan kita adalah tamu kehormatan Bapak Pendeta Zakaria Botros.  Selamat datang.
Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih banyak.
Mohamed: Saat ini kita telah menerima banyak surat, dan saya akan membacakan 3 buah surat untuk Anda.  Pertama, seorang saudara yang bertanya:  ”Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, satu Allah, Amin.” – Nama saudara ini adalah Ghazwa –  ”Damai Isa menyertai Anda.  Ia bertanya mengenai episode-episode kita, ia katakan bahwa episode-episode itu sudah berhenti dan bertanya-tanya jika akan ada episode lainnya.  Jawabannya, saudaraku, adalah ya, ada masih banyak episode lainnya.  Ada banyak episode dan kita akan terus.  Satu lagi, dari saudara Mustafa.  Ia berkata, ”Dalam nama Allah yang Maha Agung, Maha Pengampun.  Bapak Pendeta Zakaria Botros, saya punya beberapa perbedaan dengan Anda dalam beberapa hal, sebagai seorang Muslim, tetapi saya tidak keberatan menonton Anda untuk memberikan kesempatan kepada pikiran saya untuk berpikir.”
Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.
Mohamed: ”Dan seperti yang Anda katakan, semuanya adalah tentang kehidupan kekal.”
Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sangat tepat.

 

Mohamed: ”Dan oleh karenanya, kita harus mengetahui kebenaran.”  Terima kasih, saudaraku, untuk gaya yang baik ini.  ”Dan saya mempunyai beberapa pertanyaan, dan saya berharap Anda tidak keberatan untuk mendengarkannya.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja.

 

Mohamed: ”Pertama, ada berapa Kitab Injil di seluruh dunia?  Kedua, mengapa mereka menggambarkan Isa berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya?  Dan ketiga, bagaimana Kitab Injil disusun?  Dan keempat, mengenai Isa makan dan minum dan ke toilet…  dan seterusnya.  Saat Ia masuk ke tempat-tempat tidak baik, apakah Ruh Allah Yang Maha Kudus meninggalkanNya, dan seterusnya?  Pertanyaan kelima …  Bagaimana dengan dewan-dewan yang didirikan untuk menentukan siapakah Isa, contohnya dewan Nicea, Constantinople dan Efesus?  Apakah orang-orang itu menentukan siapakah Isa sendiri?  Dan apa yang Anda katakan mengenai kepercayaan atau agama sesat Arious?  Kami juga mohon agar dapat dikirimi sebuah Kitab Suci…”  Silahkan…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya, saya menghormati saudara ini karena karakter dan kelakukannya yang baik.  Ia mengekspresikan opininya dengan sopan, dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kuat.  Inilah etika berdialog.  Mengenai pertanyaan-pertanyaannya…  Ada berapa Kitab Injil di seluruh dunia?  Kitab Injil yang tersebar di seluruh dunia adalah salinan.  Yaitu, salinan yang sama dari aslinya, tetapi itu bukanlah beberapa Kitab Injil yang berbeda seperti yang kita ketahui mengenai Al Qur’an dengan versi Warsh dan Kaloon, dan Uthman.  Ada satu Kitab Injil, dan banyak serta beberapa salinan telah dibuat berdasarkan aslinya.  Pertanyaan kedua…  Mengapa ada banyak gambar Isa?  Gambarnya sama dan ciri-cirinya sama, tapi setiap negara memberikan warna yang berbeda-beda sesuai keseniannya.  Ini memberikan warna asli, seperti Ia berasal dari negara tersebut, untuk membuatNya dekat dengan mereka.  Jadi setiap negara melakukan itu…  orang hitam Afrika menggambarkan Dia sebagai orang hitam supaya serupa dengan mereka, dan orang Cina juga akan membuat Dia seperti orang Cina.  Semua berbeda sesuai dengan goresan dan kuas sang seniman.  Bagaimana Kitab Injil disusun?  Kita sudah membahas itu di keseluruhan episode.

 

Mohamed: Tetapi tidak ada orang yang memuja gambar-gambar tersebut.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak, kita tidak memuja gambar-gambar tersebut.  Gambar-gambar tersebut hanyalah sebuah ilustrasi atau gambaran semata; maksud saya, sebagai alat untuk memberikan klarifikasi dari kebenaran yang utama.  Dan bagaimana dengan Isa yang makan dan minum, dan pergi ke toilet?

 

Mohamed: Kita sudah membicarakan topik ini.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi saya ingin mengatakan sesuatu disini.  Saya ingin menanyakan saudara Muslim kita:  Apakah ia percaya dengan Allah yang Maha Hadir?  Atau ada tempat-tempat yang kosong dari keberadaanNya?  Ini adalah sebuah pertanyaan.  Tentu saja, setiap manusia percaya bahwa Allah adalah Maha Hadir, karena Dia tidak terbatas.

 

Mohamed: Dimana saja, ya… Ini tidak dapat dipertanyakan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, tetapi jika kita mengatakan bahwa Allah tidak hadir disuatu tempat tertentu, berarti Allah dibatasi oleh tempat tersebut, karena Ia tidak disitu.  Ia menjadi terbatas, oleh karenanya Ia berhenti menjadi Allah.

 

Mohamed: Itu betul.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jadi Allah Maha Hadir, atau ada dimana saja, walaupun di tempat-tempat yang saudara kita sebutkan tadi… bahkan di tempat-tempat tidak baik.  Tetapi Allah tidak dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.  Kemudian ia terus berkata mengenai dewan-dewan, dan bagaimana manusia-lah yang menentukan sesuatu.  Ini juga serupa dengan sistem undang-undang, atau saat konferensi Islam diadakan, dan mereka memutuskan interpretasi dari Al Qur’an, dan peraturan, dan Fatwa, dan…

 

Mohamed: Peraturan… dan analisa.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah Anda mengikuti maksud saya?  Kita tidak menjegal perkataan Allah, tetapi hanya sebuah usaha untuk mengerti dan mengekspresikan sesuatu dengan cara yang dapat dipahami.  Walaupun begitu, terima kasih banyak.  Sangat hebat.

 

Mohamed: Para pemirsa terkasih, di episodeepisode sebelumnya, kita telah mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tertentu mengenai sumber-sumber agama Islam:  Mitos, elemen Israel, elemen Nasrani, puisi sebelum jaman Islam, Hanifisme, Sabien, Persia dan Zoroastrianisme.  Jadi, apakah Anda punya sesuatu mengenai… apakah Anda punya pertanyaan lainnya?  Dan bagaimana dengan sumber-sumber sebelum masa Islam?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya…  Sebenarnya, hal-hal yang paling mempengaruhi Islam adalah lingkungan dimana ia dibangun; lingkungan penyembah berhala sebelum masa Islam.  Sangat dipengaruhi oleh lingkungan itu, terutama saat Muhammad ingin mendamaikan dirinya dengan para penyembah berhala Qurashit.  Jadi ada dampak yang sangat kuat.

 

Mohamed: Apakah anda punya bukti pendukungnya?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Baiklah, temanku, kesaksian utama atas itu… saya punya beberapa, tetapi saya akan mulai dengan Ensiklopedia Britannica, yang merupakan hasil dari penelitian khusus.  Janganlah kita menolaknya hanya karena fakta bahwa buku itu dihasilkan oleh orang-orang bukan Arab.  Orang-orang itu melakukan penelitian… penelitian ilmu pengetahuan.  Jadi di dalam Ensiklopedia Britannica, volume 1, halaman 1047, dikatakan:  “Pandangan dari para peneliti, bahwa agama penyembah berhala Arab adalah asal dari agama Islam.”  Singkat tapi langsung menuju ke pokok permasalahannya.  Sheikh Khaleel Abd Al Kareem, dalam bukunya ‘Al Jozoor Al Tarikhia Le Al Shariaa Al Islamia’, halaman 8-12, berkata:  “Arab di jaman sebelum Islam merupakan sumber dari berbagai peraturan, sistem, undang-undang, dan tradisi dimana Islam dibangun atau dikokohkan.  Oleh karenanya, kita dapat menekankan dengan pasti bahwa Islam diturunkan dari Arab sebelum masa Islam, sejumlah besar hal ini dan dalam segala hal… pemujaan, sosial, ekonomi, politik, dan peraturan perundang-undangan.”  Dan ia menambahkan kepadanya, di buku yang sama, di halaman 8, sebagai berikut:  ”Sebagai tambahan, ada sebuah tempat dimana misionaris Muslim diabaikan atau diusir dengan sengaja, yaitu di musholla atau tempat berdoa, sehingga banyak pembaca yang heran.”  Ia membicarakan tentang bukunya sendiri… Sheikh Khaleel, dalam bukunya ‘Al Jozoor Al Tarikhia’.  Pembacanya sendiri akan tercengang.  Dan saya mengikuti dia dan berkata para pemirsa tercengang:  “Saat Anda tahu bahwa Islam telah diambil dari agama penyembah berhala sebelum masa Islam, sangat banyak hal-hal agama dan doa.”  Anda dapat bertanya kepada saya:  Apakah Sheikh Abd Al Kareem menyebutkan hal-hal apa saja?  Tentu saja.  Sheikh Abd Al Kareem memasukkan banyak ritual doa dalam bukunya, ‘Al Jozoor Al Tarikhia Le Al Shariaa Al Islamia’.

 

Salah satunya adalah pemujaan Ka’bah, dalam bukunya di halaman 15.  Kewajiban naik haji, Omra, dan hak-hak naik haji di halaman 16.  Bulan Ramadhan di halaman 18, kesucian dari bulan suci di halaman 18, pemujaan Ibrahim dan Ismail di halaman 19, jemaah umum di hari Jumat, di halaman 21 .  Ini seorang sheikh yang berkata, dan ia berkata:  ”Kami menekankan bahwa hal-hal ini adalah benar di masa sebelum Islam dan telah diturunkan ke Islam.”

 

Mohamed: Siapa sheikh ini?  Apakah ia seorang pendeta Muslim?  Dan apalagi yang dikatakannya mengenai Ka’bah?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dengarkan.  Sheikh Khaleel Abd Al Kareem adalah seorang ulama Islam yang memakai turban, yang berpergian dengan memakai turban dan kain kafan; ia seorang alumni Al Azhar, dan seorang pengacara hukum di Mesir.

 

Mohamed: Kapan?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di Mesir, baru-baru saja.  Ia meninggal, mungkin baru lima tahun lalu.  Tetapi ia tinggal di Mesir, dan ia menulis banyak buku.

 

Mohamed: Ya.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya.  ‘Al Nass Al Moassess’, volume 1 dan volume 2.  Dan banyak lainnya.  Sheikh Abd Al Kareem, dalam bukunya, “Historical Roots of the Islamic Law” (Akar Sejarah Hukum Islam), di halaman 15:  “Walaupun keberadaan dari ke-21 Ka’bah sebelum Islam di Semenanjung Arab, semua suku-suku Arab, tanpa pengecualian, setuju atas pemujaan terhadap Ka’bah di Mekah”.  Yaitu, di masa sebelum Islam.

Dan mereka sangat bersemangat melakukan ziarah kesitu.  Yaitu, masa sebelum Islam… Dan sekarang kita sampai ke bomnya.  Ia berkata:  ”Saat Islam muncul, tetap memelihara pemujaan terhadap Ka’bah dan Mekah, dan Al Qur’an memberikan Ka’bah dan Mekah beberapa gelar kehormatan yang terkenal.”  ‘Al Mawsoaa Al Arabia Al Moyassara’.  Disini dikatakan, di halaman 1465:  “Ka’bah merupakan kuil utama dari Quraish dan merupakan tempat tinggal dewa-dewanya.”  Dan dikatakan disebuah dokumen penemuan arkeologi di Arab, di internet:  “Sebelumnya ada 360 berhala di Ka’bah yang disembah oleh orang-orang Arab, dimana dewa bulan adalah Allaho Akbar, kepala dari semua dewa.”

 

Mohamed: Ini aneh.  Dan apa posisi Ka’bah di Islam?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Pertanyaan indah.  Di Surat ke 5 (Al Maidaa) ayat 97, dikatakan:  “Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia.” Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci …  sudah disebut rumah suci.  Sudah disebut Ka’bah

 

Mohamed: Tetapi itu kuil penyembah berhala, seperti yang Anda katakan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan sebuah kuil penyembah berhala.  Bagaimanapun juga … Surat ke 2 (Al Baqarah), ayat 127:  “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):  ’Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui!’” Apakah Ibrahim yang mendirikan fondasinya?  Agak bermasalah.

 

Mohamed: Apakah bapak kita Nabi Ibrahim benar-benar membangun Ka’bah di Mekah?  Ini adalah pertanyaan yang ditanyakan oleh banyak orang, dan orang-orang percaya bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang membangun Ka’bah.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini adalah hal yang sangat aneh, dari sisi sejarah dan arkeologi, bahkan buku yang diwahyukan.  Amat sangat aneh.  Dengarkan, temanku … Kitab Suci tidak pernah menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim pergi ke Arab.

 

Mohamed: Tidak pernah?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak pernah.  Dia ada di Palestina, pergi ke Mesir, kembali dari Mesir ke Palestina melalui padang pasir Sinai, dan tidak pernah menyeberangi Arab selama perjalanannya.  Dan saya akan mengatakan sesuatu kepada Anda…  Catatan sejarah dan arkeologi kuno dari daerah dekat sebelah timur dan Arab, sebagai satu contoh:  ”Siapa yang membangun Ka’bah?”

 

Mohamed: Siapa yang membangun Ka’bah?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ”Tempat beribadah paling suci bagi orang Muslim.”

 

Mohamed: Tempat beribadah paling suci bagi orang Muslim.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Oleh penulis W. L. Katy, diterbitkan di tahun 2001.  Penelitian ini didukung dengan peta geogratis dari perjalanan bapak kita Nabi Ibrahim, teman Allah.  Penulis, dari penelitian ini, meneliti kesimpulan akhir bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah pergi ke Arab, sama sekali.

 

Mohamed: Tidak pernah?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan mengenai topik Nabi Ibrahim membangun Ka’bah…  Ensiklopedia Islam berkata, di volume 1 halaman 77, sebagai berikut:  Dikatakan, “dan tidak pernah disebukan sebelumnya bahwa Ibrahim adalah pendiri rumah itu.”  Itu adalah Ensiklopedia Islam.  Bukan sembarang buku yang tidak resmi, tetapi Ensiklopedia Islam, di halaman 77:  “tidak pernah disebukan sebelumnya bahwa Ibrahim adalah pendiri rumah itu, juga bahwa ia adalah Muslim pertama di surah Mekah, tidak ada di Surah Mekah yang menyebutkan Ibrahim.  Sedangkan di Surah Medinah, situasi di mereka berbeda, dimana Nabi Ibrahim disebut seorang ‘Haneef’ Muslim.  ”Baiklah, mengapa ia tidak pernah disebut di Mekah?  Hanya di Medinah.”  Maafkan…  Dan pendiri sekte Ibrahim:  “Oleh karenanya, Ibrahim, bersama dengan Ismail, meninggikan dasar-dasar bagi Baitullah:” Ka’bah, seperti yang disebutkan di Surat ke 2 (Al Baqarah) ayat 118.  “Dan rahasia perbedaan antara Surah Mekah dan Surah Medinah adalah bahwa Muhammad pada awalnya telah bertumpu kepada orang Israil di Mekah, tetapi setelah mereka menerima rencana permusuhan melawan dia, dia tidak punya pilihan lain tetapi mencari seseorang yang mendukung dia.  Dan untuk itu ia telah dipimpin oleh intel yang masuk, bukan dipimpin oleh wahyu, dipimpin oleh intel untuk masuk ke posisi baru sebagai bapak dari orang Arab; Nabi Ibrahim.  Dan oleh karenanya, ia dapat menyingkirkan agama Israel dari masanya, untuk menghubungkan dirinya dengan ke-Israel-an Ibrahim, bentuk ke-Israel-an sebagai pendahulu Islam.  Dan saat Mekah datang untuk memenuhi semua pemikiran para rasul, Nabi Ibrahim menjadi pendiri rumah suci di kota itu.” Apakah Anda tahu, jika Anda membaca kata-kata ini di buku lainnya, mereka akan mengatakan:  ”Anda tahu, ini adalah elemen Israel!  Tidak, ini telah ditulis oleh orang-orang bukan Arab, oleh orang Nasrani.”  Tetapi ini muncul di Ensiklopedia Islam.

 

Mohamed: Saya sangat terkejut.  Jutaan orang percaya hal yang sebaliknya.  Hal yang sangat aneh!

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dapatkan Anda bayangkan?  Silahkan sahabatku.

 

Mohamed: Bagaimana dengan ritual Islam yang ditiru dari penyembah berhala sebelum masa Islam?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mohon diulang.

 

Mohamed: Bagaimana dengan ritual Islam yang ditiru dari penyembah berhala sebelum masa Islam?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya.  Sekarang kita sampai ke hal yang serius.  Hal pertama yang diambil dari ritual masa sebelum Islam adalah ritual ziarah atau naik haji.

 

Mohamed: Ziarah atau naik haji?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, kewajiban untuk naik haji.

 

Mohamed: Ziarah ke rumah suci Allah…  ”…berlaku bagi siapapun yang mampu membayarnya.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Surat ke 3 (Ali ‘Imran) ayat 67 “Ziarah ke rumah suci adalah kewajiban bagi umat manusia oleh Allah, berlaku bagi siapapun yang dapat membayarnya.” Jadi ziarah atau naik haji merupakan tiang utama dalam Islam.  Dr. Aly Hosny Al Kharbotly, dalam bukunya, ”Kakbah Down the Ages” (Ka’bah Sepanjang Masa), halaman 24, di serial Iqra, bulan Maret tahun 1967, mengatakan:  Ia berkata, “Orang-orang Arab, sebelum Islam, terbiasa bermigrasi ke Mekah dari seluruh Arab selama musim ziarah, setiap tahun, untuk melaksanakan kewajiban ziarah.”  Sebelum Islam.

 

Mohamed: Sebelum Islam.  Jadi apa arti dari ziarah, dan bagaimana caranya… Apa arti sebenarnya?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ziarah atau naik haji…  Ada sebuah pengajaran yang indah dan sangat kuah mengenai arti dari ziarah.  Fantastis, tetapi akan mencengangkan para pemirsa.  Percaya saya.  Dr Jawwad Aly mengatakan di bukunya, ‘Al Mofassal Fi Tareekh Al Arab Qabl Al Islam’, volume 5 halaman 223.  Ia berkata kata ’haji’, atau ’ziarah’ aslinya diambil dari kata ’hak’, atau ’gosokan’.

 

Mohamed: Siapa mengatakan itu?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jawwad Aly, dalam bukunya, ’Al Mofassal Fi Tareekh Al Arab Qabl Al Islam’.

 

Mohamed: Ya.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Buku ‘Al Melal Wa Al Nehal’, oleh Abu Al Qasem Al Shahrestany, halaman 247 menjelaskan hubungan antara ‘menggosok’ dan ‘gosokan’ dan ‘ziarah’…  Para peneliti itu mengatakan bahwa kata ‘haji’, atau ‘ziarah’ asalnya adalah ‘hak’, atau ‘menggosok’, jadi Al Shahrestany menjelaskan hubungan antara keduanya.  Ia berkata, “Ada sebuah praktek…” perhatikan, dan kepada para pemirsa … perhatikan:  “Ada sebuah praktek ritual yang aneh saat ziarah, yaitu menggosokkan diri ke batu hitam.”  Aneh!  Dan sebagai penjelasan dari ‘menggosokkan diri ke batu hitam’, saya mengutip komentar Dr. Jawwad Aly, dalam bukunya, ‘Al Mofassal Fi Tareekh Al Arab Qabl Al Islam’.  Ini yang ia katakan.  ”Dulunya ada sebuah ritual diantara penyembah berhala sebelum masa Islam.”  Tolong didengar… ”…dimana dilakukan oleh para perempuan kepada batu, yaitu menyentuh batu hitam dengan darah mentruasi. ”

 

Mohamed: Buruk untuk disebutkan.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ”…dan darah menstruasi dari seorang perempuan…”  Ini yang penulis katakan lebih lanjut:  ”…Dan darah menstruasi dari seorang perempuan, yang dilihat oleh orang-orang kuno, adalah rahasia kelahiran, jadi dari seorang perempuan datang darah, dan air mani dari seorang laki-laki, dan dari Allah, ruh.”

 

Mohamed: Permisi, mari kita selesaikan disini saja, karena ini merupakan topik yang sangat buruk.  Mari kita lanjutkan dengan pertanyaan lainnya.  Apa tujuan dari ziarah ini?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi biarkan saya memberitahu Anda suatu hal.

 

Mohamed: Baiklah, tetapi hal-hal ini terlihat sangat tak pantas.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika ini adalah arti dari ziarah sebelum Islam… maksud saya, dalam rangka menjelaskan sesuatu Anda harus fokus pada cahaya didalamnya.  Tetapi apakah kita akan merahasiakannya juga?  Hal-hal ini harus ditunjukkan supaya para pemirsa kita dapat melihat asal muasal dari semuanya.  Tetapi mereka disembunyikan, jadi haruskah kita menyembunyikannya juga?  Kemudian orang-orang akan tetap tinggal dalam kegelapan.   Tetapi cahayanya tetap harus difokuskan kepada fakta-fakta.  Inilah arti ziarah sebelum Islam; menggosokkan diri ke batu hitam, karena kata ‘haja’ berasal dari kata ‘haka’, ‘menggosok diri’ dengan batu.  Anda lihat maksud saya?  Dan sekarang, apa artinya di Islam?  Apakah mereka masih pergi dan menggosokkan tubuh mereka ke batu?  Anda menanyakan kepada saya mengenai tujuan dari ziarah.

 

Mohamed: Ya.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah itu betul?  Tujuan ziarah sebelum Islam, menurut Ensiklopedia Islam, volume 11 halaman 3565.  Dikatakan, astaga…  3400…  3400.

 

Mohamed: Dan orang dapat mengklarifikasikannya.  Ensiklopedia Islam ada di sirkulasi dan tersedia di pasaran.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya.

 

Mohamed: Baik.  Silahkan…

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dikatakan:  ”Tujuan dari ziarah, tujuan dari ziarah.  Dua pasar diselenggarakan setiap tahunnya sebelum masa Islam, di bulan Zo Al Qeada.  Yang pertama di Okaz dan yang kedua di Majana, dan mereka mengikutinya di hari pertama bulan Zo Al Heja, pasar Zp Al Majaz.”  Dan ditambahkan:  ”Pasar-pasar utama, yang diselenggarakan selama masa akhir panen kurma, berhubungan dengan ziarah.  Dan pasar-pasar ini merupakan hal terpenting yang mereka miliki.”  Yaitu pasar perdagangan.  Musim panen kurma… Ada juga arti lainnya dari kata ‘mawasem’, atau ‘musim’ yang Dr. Sayed Al Qemny katakan dibukunya, “Mythology in the Heritage” (Mitos dari warisan), halaman 165:  “Bahasa menguatkan kepastian ekspresi ‘Mawsem Al Haj’, karena kata ‘Mawsem’… – Ini adalah hal-hal yang sangat aneh, dan seharusnya diketahui, seburuk apapun itu”  …Artinya masa perayaan melalui Wasm, atau perayaan kesuburan dan Momes.  “Wasm, atau Mawsem, berhubungan dengan Momes yang adalah perempuan…  Momes adalah seorang perempuan bertanda pelacuran, dan diketahui bahwa pelacuran cukup tersebar di Mekah sebelum Islam.”

 

Mohamed: Ya ampun!

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dr. Sayed Al Qemny menambahkan hal ini di bukunya, ‘Al Ustoora Fi Al Torath’, di halaman 160.  Ia menambahkan kejelasan dalam hal ini:  “Sebelumnya ada di Ka’bah juga dewa Hobal, yang adalah dewa kesuburan yang diasosiasikan dengan…”  Dengarkan, pemirsa terkasih …  Saya mohon maaf; kata-kata ini pahit bagi jiwa saya, tetapi saya harus mengatakannya…  karena saya harus fokus kepada cahaya itu agar fakta-fakta dapat dibukakan.  ”…yang diasosiasikan dengan ritual hubungan seksual yang lazim terdapat di semua daerah.  Dan ini menekankan pandangan kita bahwa ada pemujaan seksual di tempat pemujaan Mukka, di Yemen.”  Dewa Mekah dipanggil awalnya dari Yemen.  Dr. Al Qemny meringkas topik ini di bukunya, ‘Al Ustoora Fi Al Torath’ , sebagai berikut:  “Perkumpulan yang mempraktekkan hubungan seksual terbuka bertujuan untuk mencari pertolongan dan kesuburan”, dan oleh karenanya, ini merupakan kebiasaan sebelum masa Islam…  Sebelumnya mereka mengelilingi Ka’bah dengan telanjang… mereka akan melakukan ziarah, telanjang.  Dan sekarang, sistem yang hampir sama telah ditiru.  Mereka melakukannya setengah telanjang.  Hanya memakai sebuah selimut.  Dan mengapa?  Karena itu sebuah ritual dari jaman dahulu, dimana mereka akan jalan berkeliling dengan bertelanjang.

 

Mohamed: Ya.  Dan bagaimana dengan ritual ziarah di masa sebelum Islam, seperti itu juga?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Maksud saya, ziarah di masa sebelum Islam, dalam rangka mengetahui apakah itu, di Islam.  Sheikh Khaleel Abd Al Karim dalam bukunya, ‘Al Jozoor Al Tarikhia Le Al Shariaa Al Islamia’, halaman 16 berkata:  ”Orang-orang Arab, di masa sebelum Islam, sebelumnya melakukan ritual yang sama dengan yang Muslim lakukan sampai saat ini.”  Ritual yang sama.  Apakah itu?  Tanggapan dari ”Labayka Allahumma Labayk.”  Ini dari masa sebelum Islam.  “Ehram, dan menggunakan pakaian Ehram, mengendarai korban, berdiri di Gunung Arafat, berhamburan menuju Al Mozdalefa, menuju ke Menna, melemparkan batu, menyembelih korban, melingkari Ka’bah 8 kali, dan mencium batu hitam sebagai cara memujanya, pergi bolak balik antara Safa dan Marwa.  Dan juga mereka memanggil hari kedelapan dari Ze Al Heja, Yawm Al Tarwya, dan dimulai di hari kesepuluh Menna dan pelemparan…”  Benar-benar sama dengan ritual islam, yang kita punya sekarang.  Tidak ada, sama sekali tidak ada yang berubah darinya.

 

Mohamed: Menjamah batu hitam…  Apa artinya?

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dulunya, mereka … Anda tahu, Arab adalah sebuah lahan besar dengan orang yang sangat sedikit, jadi mereka menginginkan banyak anak.  Laki-laki seperti binatang, dalam pertandingan dengan kesuburan dan penciptaan, dalam rangka memenuhi tempat itu.  Mereka ingin mempunyai anak-anak, jadi perawan tua dan perempuan mandul pergi ke tempat-tempat tersebut dan melakukan pernikahan bersama untuk meningkatkan kesempatan hamil, jadi para perempuan itu akan pergi ke batu, telanjang.  Batu tersebut ditempatkan disana dan mereka akan pergi dan menggosoknya dengan vagina mereka yang berdarah, untuk mendapatkan berkat, dan ruh dewa akan datang – batu hitam itu adalah seorang dewa – dia akan memberikan ruh untuk melahirkan anak.  Inilah yang dipercaya di masa sebelum Islam.  Dan bukti ini terdapat di buku referensi yang kita baca.

 

Mohamed: Hal tersebut sangat bertentangan dengan logika dan akal sehat dan tidak dapat diterima.  Sangat sulit dipercaya.  Amat sangat sulit.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Hal-hal ini sangat sulit.

 

Mohamed: Sangat sulit.  Sangat sulit.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Maksud saya, jika dahulu mereka memuja batu hitam untuk alasan tersebut, kemudian mengapa mereka masih memujanya dalam Islam hari ini?  Saya percaya kita harus memberikan waktu khusus untuk batu hitam di program kita, jika waktu mengijinkan… di episode yang terpisah.

 

Mohamed: Ya.  Sebuah ayat dari Kitab Nabi Yasyaya (Yesaya) muncul di kepala saya, dimana Allah berkata:  “Sekarang datanglah, dan mari kita menalarkan bersama, kata Allah, walaupun dosa-dosamu seperti kirmizi, akan menjadi seputih salju; walaupun mereka merah tua, akan menjadi seperti bulu domba.” Ini yang dikatakan di Kitab Nabi Yasyaya (Yesaya):  ”Dosa-dosamu telah diampuni dalam NamaNya.” Yaitu, Isa.

Menjauh dari batu hitam dan putih ini… Disini ada seseorang yang bertanya:  ”Saya benar-benar memulai jalan yang baru, syukur kepada Allah, dan terima kasih kepada program Anda.  Tetapi saya ingin tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya?”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Indah.  Ini sangat baik.  Terima kasih, Allah.  Semoga Allah memberkati semua jiwa-jiwa yang telah memulai, dan mengangkat mereka yang telah memulai bersama Isa, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlebihan.  Sekarang tetaplah memperlakukan Allah sebagai seorang Bapa.  Dengarkan suaraNya di dalam Kitab Suci; bicara denganNya seperti seorang anak yang membicarakan segala sesuatu yang muncul dipikirannya, seperti seorang anak bicara dengan bapaknya, yang meliputi hubungan pribadi antara Anda dan Allah.  Jika Anda menerima Isa dalam hati Anda, Anda telah menjadi anak Allah dan sekarang ada hubungan kasih yang mengikat Anda dengan Allah.  Bicara kepadaNya, dimanapun Anda dan bagaimanapun Anda, dan dengan perkataan apapun, dan Anda akan mendapatkan bahwa Ia mendengarkan Anda dan menjawab doa-doa Anda.

 

Mohamed: Terima kasih banyak, “O Engkau yang mendengar doa, kepada Engkau semua makhluk akan datang.”

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

 

Mohamed: Dan kami datang kepadaMu dan kami mengangkat hati kami kepadaMu.  Terima kasih banyak.  Sampai kita bertemu lagi di episode lainnya.  Terima kasih banyak.

 

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

 

 

 

Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.

The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974”.version.  © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.

The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:

For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.