Antoine: Selamat datang, para pemirsa terhormat, ke episode terbaru dari program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’. Kita juga menyambut tamu kita yang terhormat, Pendeta Zakaria Botros.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Antoine: Kami berterima kasih kepada semua teman-teman dan para pemirsa yang telah menulis kepada kami. Hari ini saya akan membacakan bagi Anda sebuah surat yang kami terima dari Algeria.
Setelah ucapan salam, tertulis:
“Saya ketagihan menonton program Anda setiap hari. Program ini memberikan definisi yang kaya atas ajaran Isa Al-Masih. Saya menonton semua program-programnya di saluran Al Hayat. Saya menyukai program Pendeta Zakaria. Ia terlihat seperti orang Mesir. Saya menyukai orang tua ini karena pemikirannya yang luas. Beliau membahas isu-isu yang terkait dengan agama Islam dan programnya sangat menarik dan menyenangkan. Beliau menawarkan kepada para pemirsanya informasi yang mendalam mengenai ajaran Isa Al-Masih.
Seharusnya saya menyebutkan bahwa saya adalah seorang Muslim dari Algeria dan saya tertarik untuk mempelajari ajaran Isa Al-Masih karena saya telah sangat tidak tahu. Itulah mengapa saya ingin agar saluran Al Hayat dapat mengirimkan sebuah Kitab Suci dan beberapa buku-buku Anda kepada saya.”
Kami akan dengan senang hati menanggapi permintaan seperti ini dan saya rasa sebuah Kitab Suci sudah dikirimkan kepadanya
Kami mohon Allah memberkatinya dan memberikan ia kesempatan untuk merasakan anugerah dan damai sejahteraNya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya juga berterima kasih atas cinta kasihnya. Terima kasih temanku terkasih. Semoga Allah membantu Anda dan menguatkan Anda. Kita akan berdoa bagi Anda. Semoga Allah memberkati hidup Anda. Terima kasih.

Antoine: Terima kasih. Di episode sebleumnya, Anda berbicara mengenai Hadis dan kita telah mendengar bahwa banyak Hadis-Hadis yang dipertanyakan. Apakah Anda menerima reaksi dari Al Azhar? Apakah mereka memberikan sebuah pendapat?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak, tetapi inilah yang ingin kita capai.
Akhir-akhir ini saya membaca sebuah artikel di internet. Di El Ahram, tanggal 30 Nopember 2002. Berjudul ‘The Cancer of Jewish Elements in the Al Qur’an and Hadith Commentaries’ (Kanker dari Elemen Israel dalam Al Qur’an dan Hadis). Ditulis oleh Mohamed Abdel Khaleq dan ia memberikan sebuah tayangan rinci mengenai usaha-usaha Al Azhar untuk menyucikan warisan Islam. Saya akan mencoba merangkum artikelnya.
Ia berkata, “Di pertengahan tahun enampuluhan, Sheikh Abdel Halim Mahmoud menunjuk Dr. Mohamed Abu Shahba, Profesor Ilmu Pengetahuan Al Qur’an dan Hadis di Universitas Al Azhar, untuk menulis sebuah buku mengenai elemen-elemen Israel dalam Al Qur’an serta buku komentar Hadis Rasul… – Ini merupakan usaha yang baik – …Pada tanggal 1 Maret 1971, almarhum Abu Shahba menyelesaikan buku pertama Islam yang menentang kisah-kisah Bani Israil telah disisipkan ke dalam Islam hampir 14 abad yang lalu. Seperti ia melempar sebuah batu ke air yang tenang. Buku ini merupakan langkah pertama untuk menyucikan komentar-komentar kuno dan buku-buku Hadis.”
Saya rasa, semuanya sangat sulit pada awalnya. Ketika sebuah batu dilemparkan ke danau, pada awalnya batu itu menyebabkan gelombang yang kuat.
Ia melanjutkan, “Tetapi Sheikh Abdul Rahman Bayssar tidak menyelesaikan apa yang Imam Abdel Halim Mahmoud telah mulai… – Sayang sekali… – Ulama-ulama lainnya telah mencobanya dengan Sheikh Gad El Haq, tetapi ia menganggap pekerjaan ini terlalu mahal.”

Antoine: Apakah semua usaha penyucian berhenti disini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak, tentu saja tidak.
Selanjutnya dalam artikelnya ia mengatakan, “Seorang peneliti dari Universitas Kairo mendaftarkan 2.500 kisah Bani Israil dalam buku komentar Imam El Tabary, dan Menteri Sumbangan Agama menerbitkan pengajarannya di sebuah buku baru… – Saya belum melihatnya… – Jadi ide untuk menyucikan komentar-komentar kuno dari elemen-elemen Bani Israil… – Ia terus melanjutkan – …diangkat ke dewan tertinggi bagian Islam 2 tahun yang lalu, seperti yang dikatakan oleh Dr. Mohamed El Mokhtar El Mahdy, Profesor Penjelasan dan Ilmu Pengetahuan Al Qur’an di Universitas Al Azhar.”
Laporannya terus mengatakan, “Para ulama memutuskan untuk menyucikan komentar dari Imam El Nassafi sebagai awalnya. Surat dan bagian dari buku komentar dibagikan kepada para anggota, kemudian tiba-tiba topiknya dilupakan, mungkin dengan sengaja… – Ini yang dikatakan Mohamed Abdel Khaleq dalam laporannya… – Kami tidak tahu mengapa itu dilupakan.”
Kemudian ia berkomentar dengan berkata, “Seharusnya Al Azhar-lah yang menyucikan tradisi-tradisi Islam, terutama komentar-komentar dari elemen-elemen Bani Israil, yang telah merusak pikiran bangsa Islam.”

Antoine: Hal aneh ketika ia mengatakan bahwa itu telah merusak pikiran bangsa Islam. Apa lagi yang laporan itu katakan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebuah hal yang sangat aneh muncul di laporan ini juga.
“Mengenai pelajaran ini dan kepentingannya, Dr. Amal Rebee berkata… – Ia berkata… – ‘Semua ulama Muslim setuju atas keberadaan elemen-elemen Bani Israil dan bahayanya terhadap pikiran Islam, terutama karena mereka telah menjadi alat bagi para musuh untuk menyerang Islam dengan kejam, serta menimbulkan kecurigaan sekitar pesan Islam, terutama saat ini. Telah muncul tantangan yang memaksa para ulama Islam bersatu untuk menyucikan pikiran Islam dari ketidaksucian yang telah mengotori pikiran selama 14 abad.’”
Penulis mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat kuat. “Mengapa para ulama kita telah membiarkan elemen-elemen Bani Israil dalam referensi kita selama 14 abad?” Mengapa mereka tetap ada?
Ia melanjutkan dengan berkata, “Akademisi Islam, Gamal El Banna, menyerang para pemberi komentar kuno dan para penutur Hadis berkali-kali, serta ia menuduh mereka telah merusak pikiran orang-orang Muslim. Ia minta agar semua buku-buku komentar kuno dibuang ke laut, daripada disucikan dari elemen-elemen Bani Israil. Ia berkata bahwa mencoba untuk menyucikan komentar-komentar ini adalah membuang waktu dan energi. Membuangnya ke laut lebih baik.”

Antoine: Dan Al Azhar tetap berdiam diri dan tidak memberikan tanggapan atas permintaan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Al Azhar menerbitkan sebuah pengumuman di surat kabar ‘El Sharq El Awsat’, tanggal 3 Januari 2003. Di internet http://www.asharkelawsat.com. Ditulis oleh Ahmed Abd Allah. Dikatakan, “Dewan tertinggi bagian Islam di Al Azhar telah memutuskan untuk menyusun sebuah rencana untuk menyucikan komentar-komentar dari Al Qur’an sakral dari elemen-elemen Bani Israil dan dari mitos-mitos, ajaran-ajaran menyimpang, serta kisah-kisah yang tidak ada sumbernya. Dr. Abdel Saboor Marzuk, wakil dari dewan tertinggi bagian Islam di Mesir, berkata bahwa mereka telah memilih beberapa buku yang tersedia bagi orang-orang Muslim dan menunjuk sebuah komite yang terdiri dari para spesialis untuk memeriksa ulang dan membuang elemen-elemen Bani Israil, kemudian untuk mencetak ulang, menerbitkan, dan mendistribusikan buku-buku tersebut diantara orang-orang Muslim. Dr. Marzuk berkata bahwa banyak dari komentar-komentar yang terkenal mengandung banyak elemen-elemen Bani Israil dan mitos-mitos. Walaupun demikian, buku-buku tersebut diajarkan di berbagai universitas Islam.”

Antoine: Walaupun ada kecurigaan ini, apakah Hadis tetap dianggap sebagai sumber kedua agama Islam?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya tidak mau menjawab atau mengatakan apapun, kecuali yang telah dikatakan oleh seorang bekas professor Al Azhar; ia dipecat karena penerangannya.
Dr. Ahmed Sobhy Mansour menulis sebuah buku berjudul ‘The Al Qur’an is Enough as a Source of Legislation’ (Al Qur’an Cukup Sebagai Sumber Hukum). Diterbitkan di internet dalam ‘Modern Dialogue’ (Dialog Moderen) dan ia menyuguhkan banyak fakta-fakta yang membuktikan bahwa tidak ada Hadis Rasul yang benar, bahkan tidak ada Hadis yang benar sedikitpun, serta mereka benar-benar bukan perkataan Muhammad. Kemudian ia sepenuhnya menyangkal Hadis sebagai salah satu sumber Islam.
Saya akan memberitahu Anda dan para pemirsa hal-hal yang ia katakan. “Menuturkan Ahmed, Muslim, Darmy, Turmuzy dan Nasai, bahwa Abu Saeed El Khudri berkata bahwa sang Rasul berkata, ‘Jangan menulis apapun dariku kecuali Al Qur’an, dan siapapun yang menulis apapun dariku, selain Al Qur’an harus menghapusnya…’ – Ia mengatakan hal yang lain lagi… – El Darmy, Sheikh El Bukhari, menuturkan, dengan wewenang dari Abu Saeed El Khudri, bahwa mereka bertanya kepada sang Rasul untuk mengijinkan mereka untuk menulis mengenai dia, tetapi sang Rasul menolak. Muslim dan Ahmed menuturkan bahwa Zeid Ibn Thabet, salah seorang penulis Al Qur’an yang terkenal, masuk dan bertanya kepada Muawiya mengenai Hadis yang Muawiya perintahkan seseorang untuk menuliskannya. Zeid memberitahu kepadanya bahwa rasul Allah memerintahkan mereka untuk tidak menulis Hadis-Hadis sang Rasul, jadi Muawiya menghapuskannya. El Bukhari mengaku dalam Hadisnya bahwa sang Rasul tidak meninggalkan tulisan apapun, kecuali Al Qur’an. Ibn Rafee’ menuturkan bahwa ia dan Shaddad Ibn Ma’quel mendatangi Ibn Abbas. Shaddad Ibn Ma’quel bertanya kepadanya apakah sang Rasul telah meninggalkan sesuatu. Ia menjawab, ‘Ia tidak meningalkan apapun, kecuali apa yang ada diantara dua sampul (Al Qur’an).’ Ia berkata bahwa mereka mendatangi Mohamed Ibn Al Hanafiyya dan bertanya kepadanya. Ia menjawab, ‘Ia tidak meninggalkan apapun kecuali apa yang ada diantara dua sampul.’”
Ini ditemukan di El Bukhari, Hadis 234, edisi Dar El Sha’b.

Antoine: Mungkin mereka tidak mencatat Hadis supaya tidak mengacaukannya dengan Al Qur’an?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dr. Ahmed Mansour menanggapi teori ini dengan berkata, “Beberapa orang mencoba untuk menyelesaikan masalah ini dengan berkata bahwa mereka bermaksud untuk tidak mengacaukan Hadis dengan Al Qur’an… – Ide yang sama, tetapi inilah jawabannya… – Alasan ini tidak berhubungan dengan pengakuan mereka mengenai keunikan Al Qur’an, yang melebihi perkataan manusia.”
Kemudian Dr. Mansoor mengulangi bahwa sang Rasul melarang penulisan apapun kecuali Al Qur’an dan para kalifah yang benar telah mengikuti perintahnya dan melarang penulisan atau penuturan Hadis.
Ia menyebutkan beberapa contoh dan berkata, “Abu Bakr mengumpulkan orang-orang setelah kematian sang Rasul dan berkata, ‘Engkau berbicara mengenai sang Rasul dan perkataanmu berbeda-beda… – Lihat, perbedaan dimulai sejak para kalifah yang benar… – Engkau tidak setuju dan orang-orang lebih tidak setuju, jadi jangan mengatakan apapun mengenai rasul Allah, dan katakan kepada siapapun yang bertanya kepadamu bahwa buku Allah adalah antara engkau dan mereka. Mengijinkan apa yang telah diijinkan, serta melarang apa yang telah dilarang.’ Inilah yang dituturkan oleh El Thahaby di ‘Tathkaret El Hifaz’. Ia menuturkan bahwa Omar Ibn El Khattab memenjarakan Abu Mas’ood, Abu El Darda’ dan Abu Mas’ood El Ansary, dan berkata, ‘Engkau telah berbicara mengenai rasul Allah terlalu banyak.’ Ia memenjarakan mereka di Medinah, kemudian Uthman melepaskan mereka. Ibn Assaker menuturkan bahwa Omar berkata kepada Abu Huraira, ‘Hentikan pembicaraan mengenai rasul Allah, kalau tidak engkau akan diasingkan ke tanah Doss.’ – Artinya Omar akan mengusir Abu Huraira… – Ia juga berkata kepada Ka’b El Ahbar, yang merupakan salah satu penutur, ‘Engkau harus berhenti berbicara mengenai yang pertama… – Artinya Abu Huraira… – kalau tidak engkau akan diasingkan ke tanah monyet-monyet.’ Dan Uthman Ibn Affan melakukan hal yang sama kepada kedua orang tersebut.”
Inilah yang Dr. Ahmed Mansour katakan.

Antoine: Jadi Abu Huraira-lah yang dituduh telah berbohong dan menuturkan terlalu banyak Hadis?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, dialah orangnya. Lihat apa yang telah Dr. Ahmed Mansour katakan mengenai Abu Huraira.
“Jumlah Hadis yang dituturkan oleh Abu Huraira meningkat setelah kematian Omar karena tidak ada lagi yang Omar yang ditakutinya. Biasanya ia berkata, ‘Jika aku menyebutkan hal-hal yang aku katakan ini di masa Omar, ia akan memukuli aku dengan sebuah cambuk.’” Dan di sebuah cerita lainnya, “…ia akan memecahkan kepalaku.”
Abu Huraira juga berkata, “Jika aku telah membagikan Hadis-Hadis ini ketika Omar masih hidup, dengan Allah, cambuknya akan mendera punggungku karena Omar biasanya berkata, ‘Bekerjalah dengan Al Qur’an, karena Al Qur’an adalah perkataan Allah.’”
“Rasheed Reda berkata… – Ini juga terdapat di buku Ahmed Mansour… – Rasheed Reda memberikan komentar mengenai hal ini di ‘Manar’, dengan mengatakan, ‘Jika Omar hidup melebihi Abu Huraira, semua Hadis-Hadis ini tidak akan sampai ke kita.’”
Jadi Abu Huraira dipukuli karena ia membicarakan omong-kosong.

Antoine: Apa tujuan Dr. Ahmed Mansour?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dr. Ahmed Mansour menjelaskan hal ini dengan berkata, “Ada bukti yang cukup bahwa sang Rasul memberikan kita Al Qur’an dan melarang yang lainnya, dan para teman-temannya yang hebat juga melakukan hal yang sama dengan berpegang kuat pada Al Qur’an saja. Mencatat Hadis-Hadis ini serta menganggapnya berasal dari sang Rasul merupakan, dan masih merupakan, suatu ketidakpatuhan kepada sang Rasul dan tidak mengikuti perintahnya, karena menceritakannya dalam buku-buku mereka.”
Ahmed Mansour melanjutkan dengan berkata, “Catatan ini, yang tidak sesuai dengan hukum Allah dan perintah rasulNya yang agung, tidak dimulai sampai ke abad ketiga Hijriah, 2 abad setelah kematian sang Rasul.”
Kemudian Ahmed Mansour bertanya, “Jika Hadis-Hadis ini merupakan bagian dari Islam, seperti yang mereka katakan, dan sang Rasul melarang penulisannya, bukankah ini merupakan kelalaian sang Rasul dalam menyampaikan pesannya? Bukankah beralasan untuk menunjukkan bahwa pesan Islam tidak lengkap sampai orang-orang datang di masa kekacauan untuk menyelesaikan kekurangan ini?”
Dr. Ahmed Mansour menutup pembicaraannya dengan berkata, “Allah, semoga Ia ditinggikan, mengirim satu sumber untuk agamanya, tetapi orang-orang memfabrikasi atau membuat-buat sumber lainnya, serta memalsukan perkataan Allah. Mereka yang memfabrikasi sumber-sumber lainnya mengatakan bahwa Hadis berasal dari sang Rasul, serta mengaku bahwa sang Rasul melarang penulisan Hadis; dan di masa keemasan Islam, tidak ada penulisan Hadis yang dilakukan. Penulisan Hadis dilakukan di masa kekacauan ajaran, perpecahan agama, dan penyimpangan politik.”
Kemudian ia berkata, “Kami menantang para pembaca Muslim untuk mengambil masa perenungan sendiri dan memikirkan apa yang telah kami katakan ini.”
Inilah penutup dari Dr. Ahmed Mansour yang telah mencapai penerangan dan ia adalah salah seorang ulama Al Azhar. Ini adalah pandangannya.

Antoine: Jadi Anda mendorong mereka untuk melakukan hal yang sama. Anda memberikan mereka kesempatan untuk memikirkan ketidakpastian seputar Hadis dan mengesampingkannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Beberapa orang berkata, “Syukur kepada Allah, Hadis yang Anda maksud ketika membicarakan isu-isu seperti menyusui seorang dewasa adalah elemen Bani Israil dan bukan sumber Islam. Syukur kepada Allah bahwa Anda bersaksi atas fakta bahwa Hadis bukan sumber Islam.”
Sebenarnya hal-hal ini tidak semudah itu. Hadis adalah sebuah dilema besar di kedua sisi.
Antoine: Anda berkata bahwa ini hanyalah masalah Al Azhar. Bukankah orang-orang Syi’ah mempunyai masalah yang sama, ataukah tidak disadari?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Syi’ah juga mempunyai Hadis.

Antoine: Apakah mereka mempunyai masalah yang sama dengan Hadis?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Masalah yang sama, karena Hadis Syi’ah dicatat di abad keempat dan kelima; setelah Hadis Suni yang dicatat di abad ketiga.
Ada dua pandangan. Yang pertama menyarankan untuk membatalkan Hadis, dan yang lainnya menegaskan bahwa Hadis adalah sumber Islam. Inilah dilema yang mereka hadapi.
Mari pilih mereka yang mempercayai bahwa Hadis adalah sumber Islam. Bisa?

Antoine: Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kami menemukan bahwa ketika mereka dihadapkan dengan Hadis yang memalukan serta kata-kata yang tidak dapat diucapkan oleh siapapun, mereka berkata Hadis-Hadis tersebut telah disisipkan, dihentikan, atau dilarang. Kemudian mereka terjebak di pusaran Hadis dan elemen Bani Israil, mencoba membenarkan atau membela Hadis.
Pendukung lainnya menyarankan untuk membuang Hadis ke laut karena Hadis tidak mungkin berasal dari sang Rasul. Mari kita membuangnya dan kemudian bersantai. Saya bertanya kepada mereka, “Bagaimana Anda dapat melakukannya?” Sumber Islam adalah Al Qur’an dan Sunna yang berisikan Hadis. Jika Anda membuangnya, apakah masalahnya akan selesai?
Lihatlah sebuah pertanyaan memalukan dari Mohamed Abdel Khaleq. “Mengapa ulama-ulama kami membiarkan elemen-elemen Bani Israil di tradisi-tradisi kami selama empatbelas abad?”
Kepada mereka yang menyarankan untuk membuang semua Hadis ke laut, bagaimana kalian dapat membuang setengah dari sumber Islam? Islam berdiri diatas dua tiang penyangga, Al Qur’an dan Hadis. Ketika mereka membuang Hadis ke laut, mereka membuang setengah dari sumber-sumber mereka dalam satu gerakan. Satu gerakan! Ini membuang kecurigaan atas semua hal.
Isu ini menghasilkan sebuah pertanyaan yang sangat besar dan sejujurnya, mereka berada di sebuah dilema besar.
Jika Al Qur’an menjadi sumber Islam satu-satunya, ada banyak hal yang perlu dikatakan mengenai Al Qur’an.

Antoine: Al Qur’an bersaksi bahwa ada sumber-sumber lainnya di buku-buku sakral lainnya, jadi kami mendorong teman-teman untuk membaca Kitab Taurat, Kitab Zabur, dan Kitab Injil. Ini semua adalah sumber-sumber lainnya, jika mereka membaca ayat-ayat Mekah dalam Al Qur’an.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya ingin mengatakan bahwa ada sebuah masalah besar mengenai Al Qur’an sendiri.
Kita membahas pembatalan dalam lima episode dan kita menemukan bahwa menurut ulama-ulama yang membatalkan, lebih dari 62% ayat-ayat Al Qur’an telah dibatalkan. Melalui kesaksian dari para exegete (orang yang mempelajari atau menterjemahkan), kita melaporkan kesalahan tata bahasa, sejarah, dan ilmu pengetahuan dalam Al Qur’an. Oleh karenanya, Al Qur’an sendiri dipertanyakan karena mengandung banyak pertentangan di dalamnya.
Lihatlah sebuah ayat dalam Surat ke 4 (An Nisaa), ayat 82, yang berkata: “Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
Fakta ada sangat banyak pertentangan dalam Al Qur’an merupakan sebuah isu yang perlu diperiksa.

Antoine: Tentu saja. Apa kesimpulan para pemirsa setelah 80 episode dari program ini dan 2 tahun penelitian? Anda mengatakan bahwa bahkan para ulama-ulama agama memeriksa dan mencari bukti. Jadi apa tujuan dari ini semua?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Hasil yang diharapkan dari 80 episode ini adalah agar orang-orang Al Azhar akan mengevaluasi dan mengambil keputusan. Apakah masih ada orang-orang yang yakin bahwa Hadis adalah sumber Islam atau telah dikeluarkan dari kurikulum?
Setelah membuktikan bahwa Al Qur’an berisikan pertentangan yang sangat banyak, dan di bagian awal ayat berkata, “Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya,” apakah mereka masih menganggapnya sebagai sumber Islam dan pengetahuan agama?
Dan jika keduanya dipertanyakan, diatas apa iman orang Muslim dibangun? Bagaimana dengan kehidupan kekal manusia?

Antoine: Kami menantang semua pemirsa, tidak peduli apapun agamanya, untuk melakukan seperti yang dikatakan Kitab Suci untuk menguji semua hal dan berpegang kuat pada hal yang baik.
Sekarang, dapatkah Anda membagikan perkataan cinta kasih dan damai sejahtera dari Kitab Suci?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di akhir episode ini, saya ingin mengajak para pemirsa untuk mempertimbangkan hal-hal yang telah kita bicarakan dan mencari Isa Al-Masih. Al Qur’an tidak mengatakan satu hal negatifpun mengenai Isa, kecuali menolak penjelmaan agungNya. Kita telah membahas hal ini sebelumnya. Biarkan para pemirsa melihat contoh yang tinggi, iman yang nyata, dan jaminan yang ditemukan dalam Isa Al-Masih, serta bersuka cita didalamNya.
Isa Al-Masih berkata, “Marilah kepada-Ku, hai kamu semua yang lelah dan menanggung beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu.” Jika engkau letih, atau apapun juga.
Sekarang, kita merenungkan perkataan Isa Al-Masih dalam kotbah di bukit. Ia berbicara mengenai jangan munafik dalam berdoa, memberikan sedekah, dan berpuasa. Ketika seseorang berdoa, memberikan sedekah atau berdoa, ia selalu ingin memamerkannya di depan orang lain supaya mereka memujinya. Isa Al-Masih menentang hal-hal ini dan berkata bahwa itu tidak berguna.
Ia berkata, “Jangan kamu menunaikan ibadahmu di hadapan orang dengan maksud supaya terlihat oleh mereka. Karena jika begitu, kamu tidak akan mendapat pahala dari Bapamu yang di surga.”
Ia juga berkata, “Pada waktu kamu berdoa, janganlah kamu berdoa seperti orang-orang munafik. Karena mereka suka berdoa dengan berdiri di rumah-rumah tempat ibadah serta di persimpangan-persimpangan jalan, dengan maksud supaya mereka dapat dilihat oleh orang-orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka itu sudah mendapat pahalanya.”
Dan hal yang sama mengenai berpuasa. “Demikian pula halnya pada waktu kamu berpuasa. Janganlah kamu berpuasa seperti orang-orang munafik. Mereka mengubah air muka mereka dan bermuka masam, supaya orang-orang dapat mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka sudah mendapat pahalanya.”
Ini mengenai kemunafikan dan pamer ketika berdoa. Isa Al-Masih memberikan aturan, dengan berkata, “Lalu berdoalah kepada Bapamu yang tidak kelihatan itu.”

Antoine: Ia mengetahui hati.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Berdoa adalah hubungan antara Anda dengan Allah. Anda tidak harus menyombongkan diri atau memamerkannya untuk membuktikan diri sendiri. Orang yang telah mati bagi dirinya sendiri, dan Isa Al-Masih telah menjadi satu-satunya orang dalam hidupnya, mempunyai hubungan pribadi dengan Allah. Ia dapat berbicara denganNya dan memanggilNya dimana saja.
Jadi, ada sebuah kehidupan rahasia yang tersembunyi. Bukan memamerkannya di depan, membanggakan diri sendiri ataupun munafik.
Ketika Anda memberikan sedekah, jangan biarkan tangan kirimu tahu apa yang tangan kananmu lakukan. Jangan meniup terompetmu sendiri dan mengatakan betapa baiknya Anda.
Jika Anda berpuasa, jangan menggerutu dan memberitahu semua orang bahwa Anda sedang berpuasa. Berpuasa adalah antara Anda dengan Allah, jadi Anda tidak menerima pujian dari manusia. Pahala Anda dari Allah.
Kita sampai di akhir episode ini. Saya ingin Anda mengatakan ini kepada Allah, “Allah, biarkah aku mengikuti Engkau dan hidup dengan Engkau. Masuklah ke dalam hidupku dan jadilah penguasa atas hati dan hidupku. Amin.”

Antoine: Amin.
Terima kasih banyak telah membagikan ini kepada kami, dan terima kasih juga kepada para pemirsa terhormat.
Jangan lupa untuk menulis kepada kami di alamat yang akan muncul di layar sebentar lagi. Jika Anda menginginkan sebuah Kitab Suci, kami akan dengan senang hati memberikannya kepada Anda sebagai hadiah.
Semoga Allah menyentuh hati Anda dan memberikan Anda anugerah untuk merasakan cinta kasih dan damai sejahteraNya. Amin.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Texts being used:
The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.
The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.
The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/
Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind
Notes on this episode:
N. A.