Pertanyaan Mengenai Iman Episode 82

Mohamed: Selamat datang, para pemirsa terkasih, ke episode ‘Pertanyaan mengenai Iman’. Kita juga menyambut tamu kita yang terhormat, Bapak Pendeta Zakaria Botros.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih banyak.

Mohamed: Sebelum kita memulai episode ini, saya ingin menyebutkan apa yang Isa Al-Masih katakan.
“Mengapa engkau memandang serbuk kayu yang terdapat pada mata saudaramu, tetapi balok kayu yang ada pada matamu sendiri tidak engkau sadari? Bagaimana engkau dapat berkata kepada saudaramu, ‘Biarlah aku mengeluarkan serbuk kayu itu dari matamu,’ padahal di matamu sendiri ada balok kayu?”

Selama beratus-ratus tahun, telah ada berbagai pertanyaan-pertanyaan dan tidak ada seorangpun yang cukup berani untuk menjawabnya. Di episode-episode ini, kita telah menjawab banyak pertanyaan bagi jutaan pikiran yang belum mendapatkan jawaban apapun juga. Kami menawarkan jawaban untuk menunjukkan kebenaran.
Allah berkata, “Kamu akan mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Di episode terakhir, kita berbicara mengenai tuduhan palsu Sheikh Sha’rawy terhadap Kitab Suci dan Isa Al-Masih.
Bagaimana Anda menanggapi tuduhan-tuduhan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya Sheikh Sha’rawy menggunakan kebebasan berbicaranya terlalu berlebihan. Ia duduk bersila di sofanya, di depan penontonnya dan bernyanyi. Ada sebuah kumpulan pidato-pidatonya dalam buku komentarnya. Sebagai pengganti komentar, ia menyebutnya pemikiran. Jadi ini adalah buku Sha’rawy. Saya hanya memilih satu ayat darinya, untuk menemukan pandangannya.

Mohamed: ‘Sha’rawy’s Commentary’ (Komentar Sha’rawy), Buku 8.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Komentar dan pemikirannya.

Mohamed: Ya, pemikirannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya akan berbicara secara khusus mengenai Surat ke 9 (At Touba), ayat 29, yang ia kutip di halaman 5020. Komentar apa yang ia buat mengenai Surat ini? Benar-benar belum pernah didengar. Dengarkan apa yang ia katakan.
Ayatnya mengatakan, “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Utusan-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah)… – yaitu Islam – …(yaitu orang-orang) yang diberikan Kitab Suci kepada mereka… – yaitu para pengikut Isa Al-Masih dan Bani Israil – …sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk…”
Mari kita lihat komentar Sheikh Didat atas ayat ini. Sangat lucu dan terkadang membuat Anda tertawa atas keadaan sulit mereka ini.

Mohamed: Maaf, Anda katakan Didat, tetapi maksud Anda adalah Sha’rawy?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Maaf. Maksud saya Sha’rawy. Bagaimanapun juga, keduanya sama.
Ia berkata, “Kebenaran memerintahkan peperangan supaya tidak ada dua agama muncul bersamaan di Semenanjung Arab.”
Untuk mendukung komentarnya, ia mengutip sebuah Hadis dari Muhammad, dituturkan oleh ‘Aisha di Musnad Ahmed dan referensi-referensi lainnya yang ia sebutkan di catatan kaki. Ia berkata bahwa Hadis itu berasal dari Nabi Allah. “Tidak ada dua agama dapat muncul bersamaan di Semenanjung Arab.”

Mohamed: Bukankah ini suatu bentuk rasisme?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini seperti Hitler. Hitler, orang yang kita kutuk. Yang telah memusnahkan seluruh bangsa-bangsa? Mereka melakukannya kepada Bani Qurayza, Bani El Nodheir dan orang-orang Najran. Ini mengerikan. Membunuh karena mereka tidak percaya apa yang ia percayai.

Mohamed: Tetapi Muhammad berkata, “Engkau mempunyai agamamu, saat aku mempunyai agamaku.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: “Engkau mempunyai agamamu, saat aku mempunyai agamaku”, adalah ayat Mekah. Al Qur’an Mekah penuh damai, tetapi dibatalkan dengan ayat 29 dari Surat ke 9 (At Touba). Telah dibatalkan. Ia membatalkan ayat-ayat sebelumnya dengan ayat-ayat pedang di Surat (At Touba).
Masalahnya, temanku…

Mohamed: Apakah Anda mengatakan bahwa ayat di Surat (At Touba) membatalkan ayat ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Membatalkannya, begitu juga 124 ayat-ayat damai yang serupa. Pembatalan menjadi sebuah alasan.

Mohamed: Ini sebuah topik yang sangat sulit.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini sebuah alasan. Jika Anda menanyakan tentang ayat ini, mereka akan mengatakan bahwa ayat ini telah dibatalkan. Dan yang ini? Dibatalkan. Ini sebuah alasan.

Mohamed: Tetapi saya teringat akan sebuah ayat yang mengatakan, “Engkau tidak akan pernah menemukan perubahan dalam perkataan Allah.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan, “Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Mohamed: Maaf untuk interupsinya. Mari kita kembali ke Sha’rawy.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tuduhan palsu Sha’rawy.
Ia memberikan komentar atas ayat ini di halaman 5023, dengan mengatakan, “Kami menyadari bahwa Kebenaran, semoga Ia dipuji, menggambarkan orang-orang Buku sebagai orang-orang yang tidak percaya Allah.”

Mohamed: Apakah ini benar?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini dia. “…menggambarkan orang-orang Buku sebagai orang-orang yang tidak percaya Allah.”
Coba pikirkan, teman! Orang-orang Buku tidak percaya kepada Allah!!

Mohamed: Sheikh Sha’rawy berkata bahwa orang-orang bukan Muslim tidak percaya kepada Allah, walaupun mereka adalah orang-orang beriman. Ia hampir menentang dirinya sendiri.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukan orang-orang bukan Muslim; orang-orang Buku. Apakah Anda mengikuti? Apakah Anda melihat tuduhan palsunya?
Dimana ayat dalam surat (Al ‘Ankabut) yang mengatakan, “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.’” Dimana itu?

Mohamed: Inilah yang dikatakan Al Qur’an, tetapi akhir-akhir ini, hal ini tidak disebutkan atau diterapkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Membatalkan dan dibatalkan, dan sebuah alasan yang besar untuk materi itu.

Mohamed: Malapetaka terburuk membuat Anda tertawa. Ini hal terkecil yang dapat dikatakan seseorang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Benar. Lihatlah apa yang ia katakan di halaman yang sama.
Ia berkata, “Orang-orang Buku tidak percaya kepada Allah, iman yang memberikanNya kemuliaan dan kesempurnaan karakter.”
Itu tidak memberikan kesempurnaan kepada Allah! Kita tidak memberikan kesempurnaan karakter kepada Allah! Bagaimana?
Mari kita lihat siapa yang memberikan kesempurnaan karakter kepada Allah dan siapa yang tidak.
Di Surat ke 17 (Al Israa), ayat 16, dikatakan, “Kemanapun kami pergi(1)… – ini adalah perkataan Allah, menurut Al Qur’an – …maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Bertindak durhaka, atas perintah Allah! Dan mereka berkata bahwa kitalah yang tidak memberikan kesempurnaan dan kemuliaan kepada karakter Allah!

Mohamed: Ini benar-benar tidak dapat diterima. Pikiran menolak ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini ada di Al Qur’an dan itulah mengapa kita bertanya. Oleh karena inilah, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah ini cocok dengan kehormatan Allah dan kemuliaan karakterNya? Dan mereka menyalahkan kita untuk itu. Kita berkata Allah adalah kasih dan inilah yang mereka katakan. Kita berkata bahwa Allah tidak mencobai siapapun dengan kejahatan. Ia tidak menggoda.
Baiklah, lihatlah…

Mohamed: Anda berkata bahwa Allah tidak mencobai dengan kejahatan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia tidak mencobai siapapun dengan kejahatan.

Mohamed: Tentu saja Ia tidak mencobai siapapun.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Allah melarang DiriNya untuk mencobai siapapun dengan kejahatan.
Mereka berkata, “Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu.”
Mereka bertindak durhaka atas perintah Allah.

Mohamed: Allah melarang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah itu kesalahan mereka?

Mohamed: Tentu saja bukan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia mengatakan hal yang lainnya. Di Surat ke 8 (Al Anfal), ayat 65, dikatakan, “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang.”
Kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang!
Kita, yang tidak memberikan kehormatan kepada Allah dan kesempurnaan karakter, berkata, “Kasihilah mereka yang menyeterui kamu, berkati mereka yang mengutuk kamu, berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu, dan berdoalah…”
Tidak ada satu katapun dalam Kitab Injil mengenai pembunuhan.

Mohamed: Ada alasan untuk berkelahi. Saat perang, hal itu diijinkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya tidak mempunyai kepentingan atas isu politik. Saya berbicara mengenai agama dan prinsip-prinsip agama. Jika tidak, itu bukan masalah kita.

Mohamed: Apakah ada tuduhan-tuduhan palsu lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, masih banyak lagi. Tidak ada habis-habisnya.
Di halaman 5024, tidak ada kalimat tanpa tuduhan palsu. Ia tidak menemukan siapapun yang menjawabnya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia tidak menemukan siapapun yang menjawabnya. Semua mulut terbungkam.
Ia berkata, “Beberapa dari mereka… – yaitu Bani Israil –…berkata bahwa Allah mempunyai seorang anak laki-laki bernama Uzeir, dan beberapa anak lainnya… – yaitu Isa Al-Masih – …berkata bahwa Isa Al-Masih adalah anak Allah, jadi mereka tidak percaya kepada Allah, iman yang benar.”
Percaya saya, saya mencari kata ‘Uzeir’ di Kitab Suci, dari ujung ke ujung, dan tidak dapat menemukannya. Saya menantang Muslim siapapun untuk menemukan kata ‘Uzeir’ dalam Kitab Suci.

Mohamed: Sepanjang sejarah, kita telah mendengar bahwa para pengikut Isa Al-Masih telah merusak Kitab Taurat dan mempreteli kalimat-kalimatnya. Apa pendapat Anda mengenai hal itu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Merusak Kitab Taurat? Inilah alasan yang mereka gunakan.
Saya ingin bertanya kepada mereka yang menuduh kita merusak: Dimana Kitab Taurat yang asli, yang mereka bandingkan dengan yang sekarang dan berkata, “Oh, inilah Kitab Taurat yang asli sebelum dirubah. Lihat bagaimana mereka merubah ayat ini!”?
Dengan apa mereka membandingkannya sampai mereka mengetahui bahwa Kitab Taurat telah dirubah? Dengan apa mereka membandingkannya? Inilah isunya, atau ini hanya sekedar tuduhan?
Dan jika mereka percaya bahwa Uzeir adalah anak Allah, mengapa mereka merubahnya jika hal itu merupakan dasar dari kepercayaan mereka? Inilah yang mereka percaya!

Mohamed: Hal ini tidak logis.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini tidak dapat diterima.

Mohamed: Bagaimana dengan pernyataannya bahwa para pengikut Isa Al-Masih berkata Isa Al-Masih adalah anak Allah. Apakah beralasan untuk mengatakan bahwa Allah mempunyai seorang anak laki-laki?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja, ia duduk diatas sofanya dan mengguncangkan tubuhnya ketika ia berbicara mengenai hal-hal ini. Ia seorang pakar bahasa tetapi bersaksi tanpa menjelaskan hal-hal dalam Kitab Suci. Ia berkata bahwa itu semua hanyalah pemikirannya, dan bahkan Al Azhar mengeluarkan ijin baginya untuk menuliskan ‘pemikiran-pemikiran’nya itu.

Mohamed: Tetapi pemikiran-pemikiran ini seperti racun bagi orang-orang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, itu intinya. Dalam iman kita, istilah ‘Anak Allah’ tidak harafiah. Kita tidak secara harafiah mempercayainya.

Mohamed: Apa maksud Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kita tidak mengatakan bahwa Allah menikah dan mempunyai seorang anak. Ini harafiah.

Mohamed: Tentu saja Allah tidak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu tidak. Tetapi kita mengambil arti rohaniah. Mereka yang mengatakan bahwa ide ini harafiah adalah kelompok sesat bernama Mariamite dan kita, para pengikut Isa Al-Masih menyangkalnya. Tetapi ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan maksud harafiah dari kata ‘anak’.
Surat ke 5 (Al Maidah), ayat 16(2), mengatakan, “Al’Masih putra Maryam, apakah kamu memberitahu orang-orang: ‘Ambil aku dan ibuku sebagai dua allah daripada Allah.’” Inilah yang tiga. Ini ajaran sesat kepercayaan Maria. Itulah mengapa, di Surat ke 6 (Al An’am), ayat 101, dikatakan, “Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri?” Seorang istri.
Jadi Al Qur’an menentang hubungan anak secara fisik.
Kita tentu saja tidak berkata demikian. Ketika kita berkata ‘Anak Allah’, berarti sesuatu hal yang berbeda.

Mohamed: Jadi walaupun Islam tidak mendukung gagasan bahwa Allah mempunyai seorang anak, dan Anda mengambil posisi yang sama, Sha’rawy berceloteh mengenai pemikiran-pemikiran yang tidak disetujui seorangpun.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka yang bijaksana tidak menerimanya, tetapi ia ingin sorotan lampunya fokus kepada dirinya sendiri.

Mohamed: Ya. Dapatkah Anda menjelaskan kepada para pemirsa konsep ajaran Isa Al-Masih mengenai ekspresi ’Anak Allah’? Banyak orang tidak dapat menerimanya. Ekspresi ini sulit untuk dimengerti.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja. Saya berharap Sheikh Sha’rawy mengerti bahwa memberikan arti yang berbeda kepada sebuah ekspresi menunjuk kepada kebenaran penting lainnya.

Mohamed: Apakah kebenarang penting lainnya itu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Contohnya, dalam Al Qur’an, Surat ke 2 (Al Baqarah), ayat 215, dikatakan, “Jawablah: ‘Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (secara harafiah, anak-anak jalanan).’”
Bagaimana Anda dapat mengambil ‘anak-anak jalanan’ secara harafiah? Apakah jalanan itu seorang laki-laki atau perempuan? Siapakah yang menikahi jalanan itu? Apakah jalanan itu menikahi jalan, kemudian jalan mengandung dan melahirkan seorang anak yang harus kita beri uang?

Mohamed: Artinya bahwa kita seharusnya tidak mengambil arti secara harafiah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja tidak. Seperti anak berkat. Apa arti ‘anak berkat’? Artinya seseorang yang penuh dengan berkat. Jadi ketika kita berkata ‘Anak Allah’, maksud kita adalah keilahian penuh, keilahian Allah. Dalam Kitab Suci, di Surat Kolose dikatakan, “Sebab di dalam Al’Masih secara jasmani berdiam keilahian yang sempurna.” “Hebatlah misteri keilahian: Allah menjelma dalam daging.”

Mohamed: “Hebatlah…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …misteri keilahian…”
Benar.

Mohamed: “…misteri keilahian: Allah menjelma dalam daging.”
Apakah ada tuduhan-tuduhan palsu lainnya yang dibuat oleh Sha’rawy?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja. Ada sebuah tuduhan palsu yang sangat aneh di halaman 5024 dari bukunya.
Ia berkata, “ Bani Israil mempercayai surga rohani.” Kemudian ia berkata bahwa Bani Israil mempercayai…

Mohamed: Surga rohani. Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Rohani, bukan fisik. Kemudian ia menyanggah dirinya sendiri dalam komentarnya atas Surat ke 18 (El Kahf), ayat 32. Masalahnya adalah ketika orang-orang ini menulis, mereka lupa apa yang telah mereka katakan sebelumnya. Mungkin mereka lupa, seperti Muhammad. “Apa yang kita batalkan atau menyebabkan kita lupa.” Atau mungkin ia mempelajari pembatalan dan membatalkan apa yang telah ia katakan di Surat ke 18 (Al Kahf), ayat 32. Di website Sha’rawy di internet, dikatakan, “Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.”
Sha’rawy memberikan komentar atas hal ini, dengan mengatakan, “Tetapi apakah ibarat ini nyata dan apakah kedua laki-laki ini benar-benar hidup dalam sejarah?” Ia berkata, “Ya, mereka hidup diantara anak-anak bani Israil, dan mereka adalah… – ia memberikan nama kepada kedua laki-laki tersebut – …Brachos dan Yuda. Yuda adalah seorang percaya dan Brachos adalah seorang yang merdeka… – dari Allah –…dan mereka masing-masing mewariskan 8000 dinar dari ayahnya. Brachos mengambil bagiannya dan membeli sebidang tanah dan sebuah istana untuk ditempati. Ia menikah dan mempunyai anak-anak serta banyak hamba-hamba. Yuda memutuskan untuk memberikan bagiannya sebagai sedekah dan membeli sebidang tanah dan sebuah istana di surga. Ia memilih bidadari bermata hitam (houris) dan anak-anak muda yang tetap muda di surga Eden, dibandingkan dengan seorang istri dan anak-anak di dunia, serta kenikmatan yang menyertainya.”
Bagaimana Anda dapat berkomentar atas Surat ke 5 (Al Touba) dan mengatakan mereka mempercayai surga rohani, kemudian di Surat (Al Kahf) Anda mengatakan bahwa anak-anak muda dan bidadari (houris) adalah fisik atau tubuh? Mereka mencampuradukan ayat-ayat tersebut; sekali waktu mereka mengatakan satu hal, dan di lain waktu mereka mengatakan sebaliknya.

Mohamed: Pertanyaan yang mempunyai posisi sendiri dan kami tinggalkan bagi para pemirsa untuk menjawabnya: Surga mana yang Allah pilih; surga rohani atau surga dengan para bidadari (houris) dan anak-anak muda yang tetap muda? Mungkin Sha’rawy melupakan ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Atau membatalkan apa yang telah ia katakan.

Mohamed: Atau membatalkan apa yang telah ia katakan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Seperti yang kita katakan, hanya Allah yang tahu!
Ia melanjutkan dengan berkata, “Kami, orang-orang Muslim, tidak mengetahui surga rohani.” Orang tersebut berkata, “Kami, orang-orang Muslim, tidak mengetahui surga rohani dan kita tidak mengetahui hal itu sama sekali.” Ini menegaskan bahwa surga ini fisik.

Mohamed: Apa yang Kitab Suci katakan mengenai surga?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu sebuah hal penting lainnya yang ia katakan. “Bagaimana Allah dapat mencobai kita dengan suatu hal yang tidak kita ketahui?” Apakah Anda mengikuti? “Semoga Ia dipuji, ketika Ia berbicara kepada kami tentang surga, Ia berbicara mengenai hal-hal yang kami ketahui.”
Kemudian, di halaman yang sama, ia menyangkal dirinya sendiri dan menyebutkan apa yang Muhammad katakan mengenai surga. Ia berkata, “Di dalam surga, ada hal-hal yang belum pernah dilihat mata.” Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa Allah tidak mengatakan hal-hal yang tidak diketahui oleh kita, kemudian berkata, “Hal-hal yang belum pernah dilihat mata atau belum pernah didengar kuping, atau masuk ke hati manusia”?
Sha’rawy menyebutkannya di catatan kaki sebagai kutipan dari Sahih Muslim, Hadis 2825, dan sumber-sumber Islam lainnya.

Mohamed: Tetapi hal-hal yang Anda sebutkan sebelumnya serupa dengan yang digambarkan Kitab Suci mengenai surga.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu benar.

Mohamed: Apa yang Kitab Suci katakan mengenai surga?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dalam Surat 1 Korintus pasal 2, ayat 9, Kitab Suci mengatakan hal yang sama. Ia menyalinnya dan berpura-pura seolah-olah itu adalah perkataan Muhammad. Dikatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, itulah yang telah disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang mengasihi Dia.”
Ini ada di Kitab Suci, di Surat 1 Korintus.

Mohamed: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, itulah yang telah disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang mengasihi Dia.”
Kata-kata indah yang menenangkan hati.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Benar. Jadi ia mencuri hal-hal dan mengklaim hal-hal tersebut sebagai miliknya. Seperti contohnya, “Bapa kami yang di surga”, itu kita semua hapal dengan hati dan mengajarkannya kepada anak-anak kita. Ini ditemukan di Kitab Injil Matius, di Kotbah Isa Al-Masih di Bukit.
Nabi Muhammad mengambilnya.
Lihatlah Sunan Abu Dawood, buku Obat Nabi, Hadis 3894, yang saya sebutkan di episode obat Nabi. Muhammad berkata, “Jika ada dari engkau yang menderita apapun juga, atau saudaranya menderita, ia sebaiknya berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah, yang ada di surga, dikuduskanlah namaMu. Perintahmu bertahta tinggi di surga dan di bumi, seperti anugerahMu di surga, berikanlah anugerahMu di bumi. Ampuni kami atas dosa-dosa dan kesalahan kami. Engkaulah Allah dari orang-orang baik. Kirimkan anugerah dari anugerahMu, dan kesembuhan dari kesembuhanMu atas rasa sakit ini, supaya sembuh.”

Mohamed: Saya hampir mendengar Anda mengatakan bahwa Muhammad mengambil kata-kata ini dari Kitab Suci.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bapa kami yang di surga.

Mohamed: Bapa kami… Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kata demi kata.

Mohamed: Mari kembali ke surga fisik yang dibicarakan Sha’rawy, yang mempunyai sungai arak, susu dan madu.
Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lebih dari itu, tetapi ia terlalu malu untuk membicarakannya. Ia tidak menyebutkan bidadari-bidadari cantik dan anak-anak muda yang tetap muda. Ia terlalu malu untuk menyebutkan mereka, tetapi menyebutkannya saat memberikan komentar atas Surat lainnya; Surat ke 19 (Maryam), ayat 97.

Mohamed: Apakah ini ada di komenar Sha’rawy’s?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Di Surat ke 19 (Maryam), ayat 97(3). Ia berkata, “Kenikmatan surga adalah untuk umum dan semuanya dapat saling berbagi, kecuali hadiah bidadari bermata hitam, yang dinikmati secara pribadi. Sepertinya Allah, semoga Ia diberkati dan ditinggikan, menghormati perasaan cemburu laki-laki.”
Dan mengapa Allah tidak menghormati perasaan cemburu perempuan? Apakah iman Islam merupakan agama laki-laki saja? Perempuan jelas-jelas dianiaya.

Mohamed: Menyebutkan hal-hal ini adalah suatu kecabulan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kecabulan. Terus katakan itu dan kita tidak akan berbicara sama sekali.
Ia berkata, “Dalam masalah ini, setiap dari kita mempunyai surganya masing-masing dan tidak ada orang yang berbagi dengannya. Ketika Nabi Allah melihat surga, ia melihat sebuah istana, jadi ia pergi jauh dari istana tersebut… – Sha’rawy terlalu malu untuk berkata bahwa sang Nabi melihat seorang perempuan, jadi ia berkata bahwa sang Nabi melihat sebuah istana. – …Ketika sang Nabi ditanya mengenai hal tersebut, ia menjawab, ‘Itu adalah milik Omar dan aku tahu betapa cemburunya Omar.’” Apakah Omar seorang yang posesif terhadap sebuah istana atau seorang perempuan?
Dapatkah Anda melihat betapa kontroversial hal ini? Mengapa ia tidak menyebutkan jumlah bidadari, dimana disitu adalah sebuah surga fisik? Mengapa ia terlalu malu untuk menyebutkan apa yang ada di komentar Ibn Katheer, bagian 4, halaman 68, yang mengatakan, “Setiap rumah akan mempunyai 70 ranjang, dan di atas setiap ranjang ada 70 selimut, dan di bawah setiap selimut ada 70 istri.” Jika Anda mengalikan 70 dengan 70 dengan 70, Anda akan mendapat 343.000 bidadari.

Mohamed: Ini sebuah peringatan atas apa yang Isa Al-Masih katakan mengenai mengampuni sesama.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, tetapi ini mengenai bidadari, Muhammad. Ini mengenai bidadari (houris), anakku.

Mohamed: Bahwa Anda mengampuni 70 kali…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: 70 kali 70, tetapi disini 70 kali 70 kali 70. 343.000 istri, ditambah para bidadari (houris).
Bagaimana dengan kesenangan dari anak-anak muda yang tetap muda di surga fisik? Mengapa ia terlalu malu untuk menyebutkannya? Mengapa ia tidak mengutip apa yang Ibrahim Mahmoud tulis mengenai anak-anak muda ini dalam bukunya ‘Sex in Paradise’ (Seks di Surga), halaman 384 dan 386. Ia berkata, “Sheikh Mohamed Galal Kishk, seorang ahli hukum Ortodox Al Azhar yang terkenal, menuliskan hal ini dalam bukunya ‘A Muslim’s Thoughts about Sex’ (Pemikiran-Pemikiran Seorang Muslim Mengenai Seks), halaman 214. Ia menegaskan isu mengenai kenikmatan seksual hasil dari hubungan seksual dengan para anak-anak muda yang tetap muda, dengan mengatakan, ‘Bukankah mereka yang telah menahan keinginan mereka dan menjaga kesucian diri di bumi layak menerima ganjaran? Dan apakah ganjarannya, kecuali menerima di surga, apa yang kamu inginkan di bumi, atau bahkan lebih baik?’”

Mohamed: Komentar saya satu-satunya adalah tidak ada seorang sucipun yang dapat menerima hal-hal cabul ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukankah kita yang tidak memberikan karakter sempurna kepada Allah? KemuliaanNya? Apakah kita atau mereka?

Mohamed: Yang baru saja Anda sebutkan ada di buku berjudul ‘Sex in Paradise’ (Seks di Surga), oleh Ibrahim Mahmoud.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, di halaman 214. Buku ini tersedia di toko-toko.

Mohamed: Orang dapat menemukannya di toko-toko.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka dapat mencarinya, tentu saja.

Mohamed: Mari kita tinggalkan isu-isu ofensif ini dan melihat kepada Allah. Mari kita masuk ke topik rohani, ‘Apa solusinya?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.
Apa solusinya? Isa Al-Masih adalah solusinya. Isa Al-Masih menyelamatkan kita dari hukuman dosa, yaitu kematian kekal, dan dari kekuasaan dan perbudakkan dosa.
Kitab Suci berkata, “Siapapun yang berdosa adalah budak dosa.” Ia menjadi budak setan.
Lihatlah yang Kitab Suci katakan di Kitab Injil Yahya pasal 8, ayat 36. “Jika Sang Anak memerdekakan kamu, maka kamu akan benar-benar merdeka.” Jika Sang Anak memerdekakan kamu, maka kamu akan benar-benar merdeka. Sang Anak adalah Isa Al-Masih.
Mengapa? Karena Isa Al-Masih memutuskan ikatan dan melepaskan tawanan. Ia melepaskan ikatan kejahatan dan memperbolehkan manusia untuk menikmati kemerdekaan.
“Karena dosa tidak berkuasa atas kamu.” Mengapa? Karena Ia telah memberikan kita Ruh kekuatan dari atas, yang memberikan kita kekuatan. “Untuk dikuatkan dengan besar melalui ruhNya dalam tubuhnya.”
Mengapa manusia budak dosa? Karena ia lemah terhadap godaan dosa.

Mohamed: Jika saya seorang Muslim, bagaimana saya dapat mempercayai ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Baik. Ini sebuah pertanyaan yang sangat penting dan kita akan menjawabnya dengan kasih.
Kepada saudara-saudara Muslim yang terkasih, tidak ada jalan keselamatan lainnya bagi manusia, kecuali melalui Isa Al-Masih. Katakan kepada Isa Al-Masih, “Aku telah mencoba semuanya untuk menjadi orang yang baik dan dibebaskan dari ikatan dosa, tetapi aku telah gagal.”
Isa Al-Masih adalah jawaban. Katakan kepadaNya, “Allah, bantu aku. Jangan tinggalkan aku sendiri. Isa Al-Masih, kuatkan aku dan berikan aku kemenangan atas dosa.”
Berdoalah dengan saya sekarang.
“Isa Al-Masih dari semua generasi, yang datang untuk menyelamatkan aku dari dosa, aku mengaku kepadaMu bahwa aku adalah seorang pendosa. Aku lemah dan aku membutuhkan Engkau untuk menguatkan aku dan masuk ke dalam hidupku supaya aku dapat mengalahkan dosa. Amin”
Semoga Allah menyertai Anda.

Mohamed: Terima kasih.
Pemirsa terkasih, kita sampai ke ujung episode ini. Kami berterima kasih dan juga kepada Bapak Pendeta.
Kami mendorong Anda untuk mengangkat mata Anda kepada pencipta surga dan bumi, dan mengulangi kata-kata Nabi Daud, yang berkata, “Aku akan mengangkat mataku ke bukit-bukit, dari mana datangnya pertolonganku.” Angkat hati Anda kepada Allah dan minta Dia untuk menunjukkan kebenaran kepada Anda.
Terima kasih dan selamat tinggal.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Texts being used:
The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.
The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.
The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/
Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind
Notes on this episode:
(1), (2), (3) Exact same texts are not found. Therefore, it is translated directly from the English version. – Text yang sama tidak ditemukan. Jadi diterjemahkan langsung dari versi Bahasa Inggris.

Advertisements