Pertanyaan Mengenai Iman Episode 83

Mohamed: Para pemirsa terkasih, selamat datang kembali ke program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’. Merupakan kehormatan untuk menerima tamu kita, Bapak Pendeta Zakaria Botros, bersama kita. Selamat datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: Kita telah menerima banyak surat dan pada episode ini, kita akan membagikan beberapa surat dengan Anda. Satu dari Yordan – Amman, Yordan. Suratnya sebagai berikut:
“Dalam nama Allah, Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Salam dan hormat. Kami sangat berterima kasih atas program yang indah ini. Program ini benar-benar membantu saya menyadari beberapa kebenaran atas agama kita yang benar.
Mohon menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, karena saya bingung.

Pertanyaan pertama saya adalah: Mengapa kita meminta Allah untuk mengampuni Muhammad atas dosa-dosanya, yang dulu dan yang akan datang? Apakah Nabi berbuat dosa?
Pertanyaan kedua saya adalah: Kita berkata ‘Semoga doa Allah dan damai sejahteraNya beserta dia.’ Apa arti dari Allah berdoa bagi Muhammad? Mengapa kita meminta Allah berdoa bagi Muhammad?”
Ada banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Terima kasih saudariku. Kita tidak menyebutkan namanya karena kita khawatir atas orang-orang ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Khawatir akan keselamatan mereka.

Mohamed: Ya, keselamatan mereka.
Surat kedua berasal dari Arab Saudi. Saudara kita berkata:
“Kepada Bapak Pendeta Zakaria,
Salam hangat. Saya mendapat kehormatan untuk menulis kepada Anda, dan saya berharap surat saya menarik perhatian Anda.
Saya ingin memberitahu Anda bahwa saya adalah seorang Muslim dan saya sudah memutuskan untuk meninggalkan Islam dan menerima ajaran Isa Al-Masih, untuk alasan-alasan sebagai berikut:
1. Cara Islam disebarkan adalah dengan pedang, penyerbuan, dan pemusnahan suatu bangsa.
2. Kami, orang-orang Muslim, berdoa menghadap Ka’bah dan doanya tidak diterima kecuali kiblatnya menghadap Ka’bah, sepertinya Allah hanya ada di Ka’bah.
3. Ketika Al Qur’an disusun di masa Uthman Ibn Affan, bertahun-tahun setelah kematian Muhammad dan teman-temannya, sepertinya ada lebih dari 30 salinan Al Qur’an, dan Uthman Ibn Affan memerintah agar semua salinan itu dibakar, dan seterusnya.
4. Muhammad menikahi 9 istri dan ia menikahi istri dari anaknya, Ussama Ibn Zayd.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Maksudnya Zayd Ibn Haritha.

Mohamed. 5. Saya menentang orang-orang Muslim yang menikahi 4 istri. Bahkan orang-orang Muslim sendiri mengejek orang-orang yang menikahi 4 istri, dan mereka tidak mengijinkan orang-orang tersebut masuk ke rumah mereka.
6. Perselisihan dan pertengkaran antara orang-orang Muslim pertama adalah atas kekuasaan, pemerintahan, dan khalifah. Dan pembunuhan banyak orang-orang penting di dunia Islam, seperti Ali Ibn Abi Taleb, El Hassan, El Hussein, Abdullah Ibn El Zubeir, Mus’ab bersaudara, Uthman Ibn Affanm, Talha, dan lain sebagainya.
7. Oleh karena itulah saya bersaksi bahwa Isa Al-Masih adalah Allah yang menjelma, dan Ia adalah Perkataan Allah yang telah datang untuk menyelamatkan dunia dari dosa, serta membawa Kerajaan Allah kepada kita. Ia-lah Allah, dari kekekalan dahulu dan selamanya. Ia tidak dibatasi oleh waktu maupun tempat.”
Ia memberikan alasan-alasan lainnya dan saya ingin menyebutkan komentar terakhirnya. Ia berkata, “Betapa indah kaki orang-orang yang mengabarkan Injil damai sejahtera.”
Apa yang mau Anda katakan mengenai surat ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Surat yang indah. Kedua surat ini sangat indah.
Saya ingin mengatakan bahwa ini semua terjadi dihadapan seluruh dunia. Orang-orang Muslim dari negara-negara yang berbeda mengajukan pertanyaan penting dan para mubalih Muslim harus menjawabnya. Inilah yang selama ini kita minta, dan sepertinya mereka mengulang hal-hal yang telah kita katakan.

Mohamed: Terima kasih telah menulis kepada kami dan kami berdoa agar Allah akan memampukan Anda untuk berdiri kokoh dalam iman yang benar.
Mari kita kembali ke tuduhan palsu. Kita telah berbicara mengenai tuduhan-tuduhan palsu dari Sheikh Sha’rawy dan sekarang kita sampai ke tuduhan-tuduhan palsu dari Sheikh Didat.
Pertama-tama, apakah Anda ingin mengatakan sesuatu mengenai Sheikh Didat dan tulisan-tulisannya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Sheikh Didat, atau Sheikh Ahmed Didat, menulis sebuah buku berjudul ‘This is My Life’ (Inilah Hidupku).

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu sebuah autobiografi. Kita sebaiknya tahu siapa dia karena ada beberapa orang yang kagum kepadanya. Sheikh Didat berasal dari India.

Mohamed: Ia bukan orang Arab?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukan, ia bukan orang Arab. Ia dilahirkan di India dan bermigrasi ke Afrika Selatan, seperti yang ia sebutkan di halaman 9 dalam bukunya. Ia bekerja sebagai seorang asisten di toko bahan pangan. Dalam bukunya dikatakan, “Di tahun 1934 ia bekerja sebagai seorang asisten di sebuah toko yang menjual bahan pangan.” Ia menyebutkan bahwa ia tidak menerima pendidikan.

Mohamed: Ia menyebutkan hal itu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia menyebutkannya dalam bukunya, ‘This is My Life’ (Inilah Hidupku). Orang-orang sebaiknya membacanya dan mempelajari seorang laki-laki yang sangat mereka hargai.
Ada hal-hal yang sangat aneh disebutkan di website Sheikh Dr. Abdullah Youssef. Ia berkata bahwa Sheikh Didat adalah seorang Kedianian.

Mohamed: Kedianian?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kedianisme adalah sebuah gerakan yang muncul di India. Al Azhar menyebutkannya di website internet. Mereka berkata bahwa itu adalah sebuah gerakan agama yang muncul di Punjab, India. Dua bekas pelajar Al Azhar masuk dalam gerakan ini. Di tahun 1930an, Sheikh Al Azhar mengangkat sebuah komite, yang diketuai oleh Sheikh Abdel Megeed El Labban, untuk menyelidiki kedua pelajar yang masuk ke sekte ini. Komite ini sampai pada keputusan bahwa para Kedianian adalah orang-orang kafir.
Jadi Ahmed Didat, seorang Kedianian, adalah seorang kafir, menurut resolusi Islam dan Al Azhar.
Inilah website Al Azhar; http://www.islamicconcepts. Anda dapat mencarinya dibawah Kedianian dan melihat apa yang tertulis mengenai mereka.

Mohamed: Dan para pemirsa dapat membuktikan ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia dapat memeriksanya sendiri. Apakah Anda mengikuti?
Fakta bahwa tidak ada buku-buku Didat yang disahkan oleh Al Azhar menegaskan apa yang saya katakan, sedangkan buku-buku Sheikh Sha’rawy memiliki ‘Azhar Sakral’ tertulis diatasnya dan disahkan oleh Al Azhar.

Mohamed: Dan mengapa hal ini penting?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Pengakuan. Pengesahan. Orang yang mereka kagumi tidak disahkan

Mohamed: Jutaan orang mendengar apa yang Sheikh ini katakan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka tidak menyadari. Ia juga mengaku bahwa ia menyalin semua buku-bukunya dari buku ‘Revelation of Truth’ (Wahyu Kebenaran), oleh Rahmatullah Ibn Khalil El Hindi. Ia mengakui hal ini di halaman 16 dari bukunya, ‘This is My Life’ (Inilah Hidupku). Ia berkata sebagai berikut: “Aku membaca judul sebuah buku. Aku mencari dan kemudian aku menemukan. Suatu pagi, di hari liburku, aku pergi ke gudang toko bahan pangan dan mulai mencari dari tumpukan surat kabar-surat kabar tua, materi bacaan yang menarik. Aku asyik mencari sampai aku menemukan sebuah buku yang telah digigiti serangga. Setelah itu, aku memperbaiki sampul buku ini… dan seterusnya. Buku tersebut berjudul ‘Revelation of Truth’ (Wahyu Kebenaran). Buku tersebut mempunyai pengaruh atas aku. Judulnya dalam bahasa Arab… dan seterusnya. Diterbitkan di India pada tahun 1925.”
Inilah bukunya, ‘Revelation of Truth’ (Wahyu Kebenaran), yang ia salin, kutip, pelajari, dan ulangi.
Buku, ‘Revelation of Truth’ (Wahyu Kebenaran), dan fitnahan-fitnahan didalamnya diambil dari orang-orang ateis yang muncul di masa Renaissance (kebangkitan) Eropa serta menentang ajaran Isa Al-Masih dan Isa Al-Masih.
Mereka adalah orang-orang ateis, jadi bagaimana seorang mubalih Islam mengulang apa yang orang ateis katakan, sedangkan Islam menyetujui Kitab Suci dan percaya bahwa Kitab Suci dari Allah? Bagaimana ia dapat mengulang perkataan orang-orang ateis?

Mohamed: Ini sebuah pertanyaan, kita biarkan para pemirsa untuk menjawabnya.
Apakah Anda mempunyai bukti untuk membuktikan bahwa Al Qur’an mengakui Kitab Suci berasal dari Allah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja. Di Surat ke 5 (Al Maidah), ayat 47, dikatakan, “Hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya.” Dan di Surat ke 29 (Al ‘Ankabut), dikatakan, “Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab …katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu.’”
Jadi Al Qur’an mengakui bahwa Kitab Suci diturunkan dari Allah. Jadi apa masalah mereka?

Mohamed: Apakah Anda mempunyai referensi-referensi lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya punya, tetapi karena masalah waktu, kita harus merangkumnya.

Mohamed: Mereka berkata bahwa Kitab Taurat dan Kitab Injil yang kita miliki sekarang bukan Kitab Taurat dan Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa. Buku-buku itu telah dirusak atau diubah. Apa pendapat Anda mengenai komentar ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya mempunyai 4 pertanyaan.

Mohamed: Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kapan perubahannya terjadi? Dimana terjadinya? Siapa yang melakukannya? Dalam bahasa apa dilakukan perubahan?
Biarkan saya mulai dengan pertanyaan pertama. Kapan perubahan itu terjadi? Apakah ada perubahan-perubahan terhadap buku-buku sebelum Muhammad, ataukah itu semua terjadi setelah Muhammad?

Mohamed: Saya tidak tahu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan untuk alasan itu kami ingin bertanya… Beberapa orang berkata perubahan itu terjadi sebelum Muhammad. Beberapa orang percaya akan hal ini, tetapi saya mengajukan pertanyaan: Apakah Kitab Suci, di masa Muhammad, diubah? Di Surat ke 3 (Ali ‘Imran)(1), dikatakan, “Ia menurunkan buku kepada kamu dengan kebenaran, untuk menegaskan apa yang telah ada sebelumnya. Ia menurunkan Kitab Taurat dan Kitab Injil dahulu sebagai bimbingan bagi umat manusia.”
Muhammad mengakuinya.
Di Surat ke 10 (Yunus), ayat 94, dikatakan, “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu.”
Sebuah pengakuan bahwa buku-buku itu asli.

Mohamed: Jadi gagasan bahwa Kitab Suci telah dirubah sebelum masa Muhammad ditolak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Karena Muhammad mengakui dan berkata, “Bawakan aku sebuah buku yang merupakan petunjuk yang lebih baik dari pada semuanya, supaya aku dapat mengikutinya.”
Jadi bagaimana buku-buku itu dapat dirubah, jika tidak ada petunjuk lainnya yang lebih baik? Bukankah begitu?

Mohamed: Ya, ini terdengar logis. Dan jika ada ulama Muslim yang berkeberatan, kami akan dengan senang hati menerima keberatan mereka dan menjawabnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tepat.

Mohamed: Ada juga yang mengatakan bahwa perubahannya terjadi setelah masa Muhammad. Apa pendapat Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mari kita lihat gagasan ini. Kita membahas semuanya dengan rasional. Apa pendapat mereka mengenai ayat dalam Al Qur’an yang mengatakan bahwa perkataan Allah yang diturunkan tidak dapat dirubah?
Di Surat ke 10 (Yunus)(2), dikatakan, “Tidak boleh ada perbahan dalam perkataan Allah.” Dan di Surat ke 6 (Al An’am)(3), dikatakan, “Tidak ada seorangpun yang dapat merubah perkataan Allah.”
Oleh karena itu, bagaimana dapat dirubah?

Mohamed: Maaf, tetapi orang Muslim berkata bahwa ayat-ayat ini mengacu kepada Al Qur’an, bukan Kitab Taurat maupun Kitab Injil.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukankah Kitab Taurat dan Kitab Injil diturunkan? Bagaimana mereka dapat mengacu kepada Al Qur’an saja?
Di Surat ke 29 (Al ‘Ankabut), ayat 46, dikatakan, “Janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu.’”
Apa yang telah diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu.

Mohamed: Jadi telah diturunkan dari Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, dan kemudian ia berkata, “…kitab yang Allah turunkan sebelumnya.”
Di Surat ke 4 (Al Nisaa), ayat 136(4), dikatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” Kitab-KitabNya.

Mohamed: Siapa yang telah tersesat, atau orang kafir, adalah orang yang menolak…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kitab-KitabNya.

Mohamed: Kitab-Kitab Allah. Ini bukti yang jelas, tidak perlu diperdebatkan, bahwa Kitab Suci adalah perkataan Allah yang diturunkan.
Apakah Anda mempunyai bukti lainnya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mari berpikir secara logika. Jika perkataan yang diturunkan Allah tidak dapat dirubah, dan kita mempunyai bukti bahwa Kitab Injil dan Kitab Taurat telah diturunkan dari Allah, apakah kita dapat merubahnya?
Kita tidak dapat dan ini adalah Q.E.D.(5)
Karena perkataan Allah tidak dapat dirubah dan Kitab Suci adalah perkataan Allah, seperti yang telah kita buktikan, artinya Kitab Suci tidak dapat dirubah. Q.E.D.

Mohamed: Tetapi kita tahu bahwa Allah berkata, “Kita telah menurunkan ilmu pengetahuan dan Kita menjaganya.” ilmu pengetahun tersebut mengacu kepada Al Qur’an.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka mengatakan ‘ilmu pengetahuan’ tersebut adalah Al Qur’an, tetapi jika kita melihat ayat-ayat Al Qur’an, kita melihat hal-hal yang berbeda.
Di Surat ke 21 (Al Anbiyaa), ayat 7, dan Surat ke 16 (Al Nahl), ayat 43, dikatakan, “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.”

Mohamed: Orang-orang yang berilmu pengetahuan bukanlah orang-orang Muslim.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukan Al Qur’an, dan Sheikh Muslim, seperti yang mereka katakan, karena dikatakan, “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.”
Seperti yang Anda ketahui, kita tidak menjelaskan Al Qur’an; sebaliknya kita mengacu kepada buku-buku mereka.
Dalam penjelasan Ibn Katheer, dikatakan, “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, artinya bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu dari Bani Israil dan para Pengikut Isa Al-Masih.”
El Tabary, dalam komentarnya mengenai ayat yang sama menambahkan, “Tanyakan orang-orang yang berilmu, ber-Taurat dan ber-Injil.”
Jadi Allah melindungi Kitab Taurat dan Kitab Injil dari perubahan, dan mereka yang menantang Kitab Injil, juga menantang Al Qur’an.

Mohamed: Ini adalah penjelasan dari El Tabary, begitu juga…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …Ibn Katheer.

Mohamed: Ya, Ibn Katheer. Apakah Anda punya bukti-bukti lainnya lagi?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Pertama-tama, kita bertanya kapan. Apakah sebelum atau sesudah Muhammad, dan kita sudah menemukan bahwa hal itu tidak mungkin.
Kemudian kita bertanya dimana perubahan itu terjadi, siapa yang melakukan dan dalam bahasa apa? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus ditanyakan oleh orang-orang Muslim kepada dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak menerima semua hal begitu saja.

Mohamed: Apakah Anda mempunyai jawaban untuk pertanyaan, ‘Dimana perubahannya terjadi?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di masa Muhammad, Kitab Suci telah tersebar di seluruh dunia. Jadi, apakah terjadi di Eropa atau di Amerika? Amerika belum ditemukan. Eropa? Afrika? Asia? Dimana? Dimana perubahannya terjadi?
Dalam bukunya, ‘Duha El Islam’, bagian 1, halaman 358, ahli sejarah, Ahmed Amin, berkata, “Kitab Taurat telah menyebar ke Timur dan ke Barat, dan tidak ada orang yang tahu ada berapa jumlah salinannya kecuali Allah. Tidak mungkin berkonspirasi untuk melakukan perubahan terhadap semua salinan ini.”

Mohamed: Oleh karena itu, ia berkata bahwa jika mereka ingin melakukan perubahan, mereka harus mempunyai semua salinannya. Ini bagus.
Bagaimana dengan pertanyaan selanjutnya, ‘Siapa yang membuat perubahan?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak ada, tetapi…
Apakah Bani Israil membuat perubahan terhadap Kitab Taurat mereka, atau para Pengikut Isa Al-Masih merubah Kitab Injil mereka, ataukah keduanya setuju untuk merubah Kitab Taurat dan Kitab Injil?

Mohamed: Ada tiga kemungkinan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kemungkinan?

Mohamed: Dapatkah Anda menyediakan sebuah jawaban?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja.
Mari kita bayangkan bahwa Bani Israil merubah Kitab Taurat mereka. Ini dia… Kitab Taurat Bani Israil. Ini sebuah salinan dari buku mereka. Jadi, jika Bani Israil merubah apa yang mereka punya, kita akan menangkap mereka dan berkata, “Kamu telah merubahnya. Ini dia.” Tetapi Kitab Taurat sekarang ini persis sama dengan Kitab Taurat yang mereka miliki di tangan mereka. Tidak mungkin mereka melakukannya.

Mohamed: Kitab Tauratnya persis sama, tanpa perubahan apapun.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak ada perubahan, bahkan tidak ada satu hurufpun.

Mohamed: Dan Kitab Taurat adalah bagian dari Kitab Suci. Bukankah begitu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kitab Taurat adalah bagian dari seluruh Kitab Suci. Kitab Injil juga disebut Perjanjian Baru. Kitab Taurat dan Kitab Injil menjadi sebuah Kitab Suci.
Jadi, jika kita berkata bahwa para Pengikut Isa Al-Masih membuat perubahan, mereka akan ditangkap oleh Bani Israil karena mereka adalah musuh.
Dan jika kita berkata bahwa mereka menyetujui perubahan-perubahan tersebut, amat sangat tidak mungkin karena mereka adalah musuh. Bani Israil menyalibkan Isa Al-Masih dan menentang para Pengikut Isa Al-Masih, jadi tidak mungkin mereka bersatu dan merubah Kitab Suci.

Mohamed: Saya mendengar desas-desus bahwa Anda adalah seorang Zionis, tetapi Anda baru saja berkata bahwa Pengikut Isa Al-Masih dan Bani Israil adalah musuh.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Secara teori, mereka adalah musuh, akan tetapi, kita mengasihi semua orang. Saya tidak ada apa-apa dengan Bani Israil atau mempunyai hubungan apapun dengan mereka sebelum Allah.
Saya, sebagai seorang Zionis hanyalah salah satu alasan yang mereka pakai. Seperti di masa Nasser, ketika mereka menemukan seorang Muslim, mereka akan berkata bahwa orang tersebut adalah seorang ekstrimis dari kelompok persaudaraan Muslim. Atau ketika mereka memenjarakan seorang Pengikut Isa Al-Masih, mereka menuntutnya sebagai seorang komunis atau menuduhnya telah mengutuk Abdel Nasser. Hal-hal seperti ini telah terjadi.

Mohamed: Saya bertanya-tanya dalam bahasa apa perubahan itu dilakukan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini sebuah asumsi lainnya. Ada Bahasa Ibrani, Bahasa Aram, dan Bahasa Yunani, ditambah bahasa-bahasa lainnya seperti Coptic, Etiopia, Assyrian, dan sebagainya. Bagaimana mereka dapat mengumpulkan Kitab Suci dalam semua bahasa ini kemudian membuat perubahan? Tidak mungkin, karena hal yang benar-benar sama ditemukan di semua Kitab Suci tersebut.

Mohamed: Apa yang ilmu arkeologi katakan mengenai Kitab Suci?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ah, kita sampai ke ilmu pengetahuan. Ada sebuah buku yang ingin saya tunjukkan kepada Anda. Judulnya ‘The Dead Sea Scrolls’ (Gulungan Laut Mati), dan buku itu mengenai gulungan dari Lembah Qumran. Disinilah banyak salinan-salinan Kitab Suci ditemukan: Naskah kuno Vatikan, berumur sekitar 250 tahun sebelum Islam; naskah kuno Sinaia, berumur 200 tahun sebelum Islam; naskah kuno Alexandria, berumur 200 tahun sebelum Islam. Ada juga sebuah salinan lainnya di Museum Petersberg di Rusia.

Mohamed: Petersberg?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, Petersberg, kota Petrus. Dalam Bahasa Arab, kita menyebutnya Botrosberg. Ada sebuah salinan disitu yang mendahului Islam.
Penemuan terbesar naskah-naskah kuno terjadi di Lembah Qumran, sebelah barat Yordan. Abbass Mahmoud El Akkad menulis mengenai kejadian itu pada edisi ‘Al Helal’ bulan Desember 1959. Ia berkata, “Harta karun Lembah Qumran ditemukan di salah satu gua di Lembah Qumran, sebelah barat Yordan. Mereka berumur 2.000 tahun yang lalu, sekitar 6 abad sebelum kemunculan Islam. Diantara beberapa penemuan penting tersebut adalah sebuah salinan lengkap Kitab Yasyaya (Yesaya) dan buku-buku lainnya dari Kitab Suci. Serta beberapa buku dari Kitab Injil dan surat-surat Pa’ul (Perjanjian Baru).”
Naskah-naskah Kitab-Kitab Injil ini ditulis di abad kesatu setelah Masehi, di masa para rasul. Ini ditemukan di sebuah buku berjudul ‘The Complete Dead Sea Scrolls’ (Gulungan Laut Mati yang Lengkap), oleh G. Vermes, halaman 441.

Mohamed: ‘The Complete Dead Sea Scrolls’ (Gulungan Laut Mati yang Lengkap)…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Atau ‘The Qumran Valley’ (Lembah Qumran).

Mohamed: Saya adalah salah satu orang yang melihat gulungan-gulungan itu dengan mata saya sendiri di Yordan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya rasa mereka muncul di layar sekarang, agar semua pemirsa dapat melihatnya.

Mohamed: Apa yang para ulama Islam katakan mengenai keaslian Kitab Suci? Mereka mengatakan bahwa Kitab Suci telah dirubah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada beberapa yang mengatakan bahwa Kitab Suci tidak dirubah. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar bermaksud demikian atau tidak. Hanya Allah yang tahu.
Diantara mereka adalah Sahih El Bukhari. Ketika ia memberikan komentar atas ayat yang mengatakan, “…memindahkan kata-kata dari tempatnya yang benar”, ia berkata, “Sebenarnya, tidak seorangpun dapat membuang satu katapun dari buku-buku Allah manapun.” Tidak seorangpun yang dapat membuang satu katapun!
Dalam bukunya ‘The Great Triumph in the Fundamentals of Exegesis’ (Kemenangan Besar dalam Fundamental Exegesis), ulama Shah Walii Allah berkata, “Bani Israil merubah arti dari beberapa ayat, tetapi mereka tidak merubah tulisan aslinya.” Kemudian ia menambahkan, “Ibn Abbass juga menyetujui hal ini.”
Apakah kita marah ketika para mubalih Islam menyerang Kitab Suci dan berkata bahwa Kitab Suci telah dirubah serta bukan berasal dari Allah? Tidak, kita hanya menanggapi mereka dengan menyediakan bukti bahwa Kitab Suci adalah buku dari Allah.
Jika kita menyindir Al Qur’an Muslim bukan dari Allah, apakah mereka pikir mereka akan marah? Saya kira jika mereka dapat menangkap saya, mereka akan meledakkan saya dari muka bumi!

Mohamed: Mereka akan membunuh Anda.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka akan membunuh saya. Tetapi saya berkata kepada mereka bahwa kita telah berdiam diri selama 14 abad. Kita telah dibungkam dan tidak dapat berbicara mengenai kebenaran karena ancaman pedang dan penjara. Kita tidak dapat berbicara tetapi sekarang kita menikmati kebebasan.

Mohamed: Ada tuduhan-tuduhan bahwa Anda bukan mencari kebenaran tetapi Anda hanya ingin menciptakan pertengkaran agama.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lihat, kita tidak dapat mengacuhkan isu utama dan fokus pada pertengkaran seperti yang mereka lakukan. Mereka hanya ingin membuang saya. Saya menasehati Anda untuk mencari dan berpikir. Allah telah memberikan Anda pikiran, jadi pergunakanlah.
Dengarkan, saya ingin mengatakan sesuatu. Muslim terbagi menjadi beberapa bagian, tetapi saya hanya peduli kepada mereka yang mencari kebenaran dan yang tidak fanatik… tidak lebih, tidak kurang.
Lihat, berikan saya bukti yang membuktikan bahwa Al Qur’an berasal dari Allah. Pertimbangkan ayat yang berkata, “Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” Surat ke 4 (An Nisaa), ayat 82. Sebenarnya, pembatalan dan ayat-ayat yang dibatalkan mencangkup sekitar 62%, atau lebih, dari ayat-ayat Al Qur’an. Pembatalan adalah pertentangan. Apakah ini membuktikan bahwa Al Qur’an berasal dari Allah? Jika mereka mempunyai bukti bahwa Al Qur’an berasal dari Allah atau bahwa itu adalah perkataan Allah, biarkan mereka menunjukkannya kepada kita.

Mohamed: Ini sangat serius. Ini menantang semua orang dan membuat banyak orang marah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini membuat mereka marah. Ini sebuah fakta.

Mohamed: Karena kita kehabisan waktu, mari kita tinggalkan ini sejenak dan masuk ke topik rohani, ‘Apa solusinya?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Solusi dari semua masalah kita adalah Isa Al-Masih. Al’Masih adalah jawabannya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia adalah jawaban atas pergumulan kita di dalam. Banyak orang menderita dari pergumulan di dalam.
Rasul Pa’ul banyak bergumul sebelum ia menikmati pengenalan akan Isa Al-Masih. Apa yang ia katakan? Ia berkata bahwa setiap ia ingin berbuat baik, kejahatan akan muncul darinya. Ia berkata, “Sebab aku tidak melakukan apa yang kukehendaki, yaitu yang baik, melainkan apa yang tidak kukehendaki, yaitu yang jahat, itulah yang aku lakukan.” Jadi apa yang Rasul Pa’ul lakukan? Ia berkata, “Aku adalah orang yang celaka! Siapakah yang dapat melepaskan aku dari tubuh yang mendatangkan maut ini?”

Mohamed: Disini, maut berarti…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa?

Mohamed: Dosa.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dosa.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dosa maut.
“Siapa yang akan menyelamatkanku?” Kemudian Rasul Pa’ul berkata, “Aku bersyukur kepada Allah – melalui Isa Al-Masih Tuhan kita!” Ia memberiku kuasa untuk melakukan apapun juga.
Dalam Filipi pasal 4, ayat 13, Rasul Pa’ul berkata, “Segala perkara dapat kuatasi, karena Tuhanlah yang menguatkan aku.”
Jadi, saya ingin mendorong semua saudara Muslimku terkasih, yang merasa letih dan bingung, dan merasa bergumul dalam hatinya, serta merasa ditarik ke segala arah oleh kekuatan baik dan jahat.
Tidak ada jawaban dari masalah Anda, kecuali melalui Nabi Isa. Katakan kepada Tuhan, “Bantu aku dan kuatkan aku dalam Isa Al-Masih.” Minta Allah masuk ke hati Anda dan diam di hidup Anda. Ia dapat menyelamatkan Anda. Kitab Suci berkata, “Oleh karena itu, jika Anak membebaskan engkau, engkau akan dibebaskan.”
Tidak ada lagi yang dapat menolong Anda, menguatkan dan menyelamatkan Anda, kecuali mengenal Isa Al-Masih. Kenali Dia dan Anda akan diselamatkan.
Jika Anda serius ingin mengetahui Isa Al-Masih, katakan bersama saya, “Tuhanku dan Allahku, aku minta Engkau untuk menyelamatkan aku. Isa Al-Masih, tinggallah dalam hatiku dan terangi mata dan pikiranku. Bebaskan aku dari semua dosa. Amin.”

Mohamed: Terima kasih.
Para pemirsa terkasih, saya tidak ada lagi komentar untuk menambahkan kata-kata yang baru saja kita dengar, kecuali Kitab Suci yang berkata, “Engkau sebaiknya mengenal kebenaran, dan kebenaran itu akan membebaskan engkau.” Kebenaran itu adalah Allah sendiri.
Sekali lagi terima kasih. Kita akan bertemu kembali di episode lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Texts being used:
The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.
The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.
The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/
Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind
Notes on this episode:
(1), (2), (3) Exact same texts are not found. Therefore, it is translated directly from the English version. – Text yang sama tidak ditemukan. Jadi diterjemahkan langsung dari versi Bahasa Inggris.
(4) English version is verse 135, Indonesian version is verse 136. Therefore it’s changed into 136. – Versi Bahasa Inggris adalah ayat 136, versi Bahasa Indonesia adalah ayat 135. Jadi ayat dirubah menjadi ayat 136.
(5) The meaning or acronym of Q.E.D. is unknown – Arti atau kepanjangan dari Q.E.D. tidak diketahui.

Advertisements