Pertanyaan Mengenai Iman Episode 84

Mohamed: Selamat datang, para pemirsa terkasih, ke episode program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’. Kami juga menyambut tamu kami, Bapak Pendeta Zakaria Botros.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: Kita telah menerima banyak surat dan kita telah memilih surat ini untuk dibacakan. Suratnya berkata:
“Kepada Saluran Al Hayat. Salam. Baru saja saya mulai menonton Al Hayat dan saluran ini telah sangat mempengaruhi saya. Hidup saya mulai berubah menjadi lebih baik. Sekarang saya sedang menghadapi kesusahan dan penyakit. Saya telah memberikan hidup saya kepada Isa Al-Masih dan saya percaya bahwa Ia-lah satu-satunya Jalan Keselamatan. Saya berharap untuk maju dalam kasih Isa Al-Masih dalam saya dan keluarga saya. Saya menonton program Anda dengan anak perempuan saya yang berumur 8 tahun, dan dia juga sudah terpengaruhi. Saya berharap ia akan bertumbuh dalam Isa Al-Masih dan ajaranNya. Mohon kirimkan saya buklet-buklet dan kaset yang Anda tawarkan mengenai Isa Al-Masih dan ajaranNya, supaya kami dapat belajar dan bertumbuh, dan menjadi berkemenangan dalam Isa Al-Masih, terutama anak perempuan saya satu-satunya. Mohon berdoa agar Isa Al-Masih senantiasa menyentuh hidup kami dan memikul beban dan masalah kami, supaya kami dapat memiliki kehidupan yang lebih baik di dalamNya.

Saudari terkasih, kami akan bersama-sama dengan Anda berdoa dan mengingatkan Anda akan perkataan Isa Al-Masih. Ia berkata, “Aku telah menuliskan engkau di telapak tanganKu.” Dan, “Bahkan jika seorang ibu melupakan anak yang disusuinya… Aku tidak akan pernah melupakan engkau.” Anda adalah seorang ibu dan Anda tidak akan pernah melupakan anak Anda. Ini janji Allah kepada Anda dan siapapun yang mencari Dia.
Surat lainnya mempunyai beberapa pertanyaan dan kita akan menanggapi pertanyaan yang ketiga. Penulis bertanya, “Mengapa Allah berkata dalam Al Qur’an sakral, ‘Engkaulah masyarakat terbaik yang telah diciptakan bagi umat manusia.’?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Masyarakat mana?

Mohamed: Ya, ia berkata, “…masyarakat terbaik yang diciptakan bagi umat manusia.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kita mengenal Al Qur’an dengan dalam.

Mohamed: “Apakah Allah lebih memilih satu masyarakat dibandingkan yang lainnya, diantara orang-orang yang Ia ciptakan? Apakah kita, orang-orang Muslim, paling disukai Allah, dan Muhammad adalah yang terbaik diantara para nabi?
Itulah pertanyaannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebuah pertanyaan yang sangat baik. Saya akan menjawabnya dengan mengajukan sebuah pertanyaan lainnya.

Mohamed: Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Biarkan mereka memberikan pandangan mereka kepada kita. Mengapa Muhammad yang terbaik, yang paling dipilih? Mengapa? Ketika mereka menjawab kita, kita akan memberikan jawaban kita.

Mohamed: Saya akan bergabung bersama saudari ini untuk menanyakan apakah Allah memilih satu masyarakat dibandingkan yang lainnya, atau satu bangsa dibandingkan bangsa lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka meniru pilihan Allah terhadap Bani Israil di Kitab Taurat. Mereka menyalinnya karena mereka hidup diantara Bani Israil dan ingin menjadi lebih baik daripada Bani Israil.
Bukan Bani Israil maupun orang Muslim yang merupakan bangsa pilihan.
Allah menciptakan seluruh bumi dan mengasihi seluruh bumi. Kitab Suci berkata, “Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan Sang Anak yang tunggal itu.” Kami, para pengikut Isa Al-Masih dapat berkata, “Tidak, kitalah bangsa pilihan.”
Tidak, Ia mengasihi seluruh dunia karena Ia menciptakan, mengasihi, dan menyelamatkan semua orang.

Mohamed: Ya, Allah adalah kasih.
Mari kita kembali ke topik kita mengenai Sheikh Ahmed Didat, seorang mubalih Muslim yang telah mengajukan tuduhan palsu kepada ajaran Isa Al-Masih dalam bukunya yang berjudul ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Perang). Buku ini digunakan sebagai buku referensi oleh banyak orang Muslim yang menyerang ajaran Isa Al-Masih dengan banyak pertanyaan-pertanyaan. Dapatkah kita membahas pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku ini dengan logika?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja. Seperti yang kita sebutkan sebelumnya, buku ini, ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Perang), adalah sebuah buku kecil dan sederhana, tetapi penuh dengan fitnahan dan paralogisme. Saya tidak pernah membayangkan seorang mubalih dapat membuat tuduhan palsu dan fitnahan yang seperti itu.
Anda berkata bahwa banyak orang Muslim yang menggunakan buku itu sebagai buku referensi.
Di halaman 19 dari bukunya, ‘This is my Life’ (Inilah Hidupku) ia berkata bahwa referensinya diambil dari buku ‘Revelation of Truth’ (Wahyu Kebenaran). Ia berkata, “Saya telah memulai….”

Mohamed: Dapatkah saya melihat bukunya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Kita menunjukkannya di episode terkahir. Ia berkata, “Aku pergi ke gudang toko bahan pangan dan secara tidak sengaja menemukan sebuah buku yang telah digigiti serangga.” Kemudian ia berkata, “Aku menerapkan hal-hal yang kupelajari dari buku tersebut”, dan kemudian ia membahasnya.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jadi inilah referensinya dan seperti yang kita katakan sebelumnya, ini semua diambil dari orang-orang ateis di masa Renaisan (kebangkitan) Eropa. Ini tidak berlaku sama sekali.

Mohamed: Anda berkata bahwa banyak hal yang tidak disebutkan. Dapatkah Anda memberikan sebuah contoh dari hal-hal yang tidak disebutkan dalam terjemahan bahasa Arab?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Versi bahasa Arabnya diterjemahkan dari bahasa Inggris, bisa ditemukan di internet di bagian ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Perang).

Mohamed: ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Perang), artinya ‘senjata perang’.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, senjata perang.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dalam terjemahan bahasa Arab, mereka mengubah judulnya sedikit supaya tidak menggambarkan peperangan dan terorisme. Mereka mengubah judulnya sedikit.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ahmed Didat menyebutkan 55 fitnahan terhadap Kitab Suci dalam buku ber-Bahasa Inggris, tetapi penterjemahnya hanya menterjemahkan 44. 10 fitnahan telah dihilangkan, mungkin karena orang-orang Mesir telah mengetahui yang lebih baik dan tidak mempercayai semuanya. Didat berpikir ia dapat membodohi para pemirsa orang Muslim polos di Barat.

Mohamed: Dapatkah Anda memberikan beberapa contoh kepada kami?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia mendaftarkan topik-topiknya sesuai dengan urutan abjad. Inilah topik pertamanya…

Mohamed: Betul.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Contoh pertama adalah AIDS dan homoseksualitas.

Mohamed: AIDS dan homoseksualitas.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia menuliskan judulnya, kemudian menyalin apa yang tertulis di Rum, pasal 1, ayat 22 sampai 27. Dikatakan, “Mereka menyatakan diri sebagai orang yang bijaksana, padahal mereka bodoh. Kemuliaan Allah yang tidak binasa mereka ganti dengan patung-patung yang menyerupai manusia.” Kemudian ia melanjutkan ke bagian yang berkata, “Sebab itu Allah membiarkan mereka tertawan dalam keinginan hati mereka yang menyukai kecemaran, sehingga mereka saling melakukan hal-hal yang hina terhadap tubuh mereka sendiri. Kebenaran tentang Allah pun sudah mereka ganti dengan kebohongan.” Ia melanjutkan dengan berkata, “Itulah sebabnya Allah membiarkan mereka tertawan oleh hawa nafsu yang hina. Bahkan perempuan-perempuan di antara mereka tidak lagi melakukan hubungan yang wajar dengan laki-laki, tetapi menggantinya dengan hubungan yang tidak wajar. Demikian juga dengan para lelaki. Mereka pun tidak lagi melakukan hubungan yang wajar dengan perempuan, tetapi sebaliknya, birahi mereka menyala-nyala seorang terhadap yang lain, sehingga laki laki melakukan perbuatan mesum dengan laki laki. Karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal dengan ketidak-beresan mereka.”
Mengapa ia tidak memberikan sebuah komentar? Mengapa ia hanya membiarkannya saja? Mengapa? Apa idenya?

Mohamed: Karena tidak mendukung apa yang ia katakan atau apa yang ia klaimkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, ia tidak ingin mengekspose dirinya sendiri kepada kebodohan, sehingga ia membiarkannya. Apakah Anda mengikuti?
Ia ingin membodohi orang-orang agar percaya bahwa Kitab Suci mendorong homoseksualitas, yang akan menyebabkan dan menyebarkan AIDS.
Sebenarnya, kesaksiannya mendukung Kitab Suci, selama duapuluh abad sebelum penyakit bernama AIDS ditemukan, Kitab Suci berkata, “…menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal dengan ketidak-beresan mereka…” Pernyataan ini mendukung Kitab Suci, bukan menentangnya.

Mohamed: Itu benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Oleh karena itu, kita dapat melihat tuduhan palsunya.

Mohamed: Ya, tetapi apakah Anda pikir Didat begitu naïf?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penterjemahnya percaya ia seorang yang naïf.

Mohamed: Mungkin penterjemah atau yang lainnya menduga ia seperti itu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penterjemah tahu bahwa ayat-ayat ini mendukung Kitab Suci, itulah alasan mengapa ia menghilangkannya.

Mohamed: Apa tujuannya? Apa maksud di belakang ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Kitab Suci mendorong hawa nafsu. Akan tetapi, jika kita mengacu pasal dalam Kitab Suci tersebut, kita menemukan bahwa dikatakan, “Murka Allah sedang dinyatakan dari surga atas segala kekafiran dan ketidak-benaran manusia.” Ahmed Didat hanya mengambil apa yang ia mau dan meninggalkan sisanya. Tetapi Allah berkata bahwa murkaNya ada atas semua ini.
Ini seperti mengutip ayat dari Al Qur’an, “Jangan mencoba berdoa…” dan kemudian meninggalkan sisa ayatnya, yang berkata, “…ketika engkau sedang mabuk.”
Ini sebuah pelanggaran kepercayaan atau tidak menghargai pikiran para pembaca.
Sekarang, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan.

Mohamed: Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukankah ia membaca mengenai homoseksualitas dalam Al Qur’an?

Mohamed: Apakah ada?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Laki-laki dengan laki-laki, melalui sesuatu yang tidak pantas.

Mohamed: Dimana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di Surat ke 6 (Al An’am), ayat 80 dan 81(1). Diulang di Surat ke 27 (Al Naml), ayat 55, dan juga di Surat ke 29 (Al ’Ankabut), ayat 29. Cerita mengenai Lut. Dikatakan, “Jadi Lut berbicara kepada orang-orangnya, ‘Engkau memanjakan diri dengan perbuatan seksual yang tidak benar. Engkau bahkan menyapa laki-laki dan menyergap mereka, bukan perempuan. Engkau adalah orang-orang yang membangkang.’”
Di Surat ke 26 (Al Shoura’), ayat 165, disebutkan secara eksplisit: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki…?” Ini artinya laki-laki dengan laki-laki.
Tetapi Ahmed Didat berpura-pura hal ini tidak ada dalam Al Qur’an dan bahwa Kitab Suci telah menyebabkan masalah ini dengan berbicara mengenai homoseksualitas. Ia seorang penuduh palsu!
Apakah Anda seorang mubalih atau seorang penuduh? Hal-hal yang aneh!
Mereka mengijinkan Didat mengatakan hal-hal ini dan ketika kita menanggapi, mereka menuduh kita mengakibatkan pertengkaran agama!

Mohamed: Hal-hal ini cabul.
Mari kembali ke buku Didat, ‘The Combat Kit’ (Perlengkapan Perang), dan melihat sebuah topik lainnya yang ia katakan ada di Kitab Suci: Orang-orang Arab dan Arabia.
Ia menyebutkan ayat dari Kitab Yasyaya (Yesaya), pasal 21, ayat 13 dan 14, dan mengatakan, “Mereka berbicara mengenai beban tanggung jawab Arabia untuk menyebarkan pesan Islam kepada semua orang.”
Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya ingin membuat komentar cepat sebelum memberikan jawaban saya.
Apakah Allah menubuatkan penyebaran Islam dengan ujung pedang?
Baiklah, lihatlah gambar di layar. Sebuah pemandangan yang mengerikan. Menunjukkan Islam yang membunuh dan membantai. Lihat ke layar. Lihatlah peperangan dimana para Muslim membantai orang-orang, seperti Musab Al Zarqawi dan yang lainnya.
Apakah Kitab Suci menubuatkan tentang hal ini?
Mari kita kembali ke beban tanggung jawab yang ia bicarakan. Ayat yang ia kutip dari Kitab Yasyaya (Yesaya) berkata, “Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hal kafilah-kafilah orang Dedan.” Perhatikan kata ’Dedan’.

Mohamed: Apa artinya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tunggu… “Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti.” Kitab Yasyaya (Yesaya) pasal 21 ayat 13-14.
Disini, penterjemah buku Didat berkata, “Bacaan ini di versi Collins berjudul ‘Beban atas Arabia’. Siapakah Collins? Siapa yang menerbitkan versi Collins? Dimana? Kapan? Siapa penerbitnya? Mungkin Saksi Yehovah yang melakukannya? Bukankah para peneliti dan ulama harus memberikan referensi yang sah? Atau Didat mengalamatkannya kepada para Muslim yang naif, berharap mereka akan mengelu-elukannya?

Mohamed: Apakah Didat berkata, “Allah, semoga Ia dipuji, menaruh beban tanggung jawab kepada orang-orang Arab.”?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, untuk menyebarkan pesan Islam. Sebuah salah pengertian yang total terhadap bacaan ini.
Lihatlah, temanku terkasih, kita baru saja membaca apa yang Kitab Suci katakan, tetapi Didat tidak mengutip kata-kata dari Kitab Suci, hanya referensinya. Ia tidak mengutip ayatnya. Ia selalu melakukan hal ini untuk melarikan diri dan memperdaya para pembacanya agar berpikir tulisannya berisikan bukti-bukti yang asli, sedangkan pada kenyataannya berbeda.

Mohamed: Jika kita kembali ke buku bahasa Inggris, bagaimana Anda menjelaskan apa yang telah ia katakan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mohon diulang.

Mohamed: Jika kita kembali ke buku asli…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika kita membandingkan versi bahasa Inggris dengan versi bahasa Arab, kita akan menemukan hal yang sangat berbeda.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya mengambilnya dari website. Ini alamat websitenya supaya Anda dapat melihatnya sendiri.

Mohamed: Websitenya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: http://www.jamaat.net

Mohamed: http://www.jamaat.net

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Anda bisa mendapatkan bukunya dengan masuk ke http://www.jamaat.net/combatkit

Mohamed: Combat Kit (Perlengkapan Perang)

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Masuk ke website dan silahkan baca sendiri. Anda akan menemukan bahwa versi bahasa Inggris ini berbeda dengan terjemahan bahasa Arab. Bandingkan keduanya dan Anda akan melihat perbedaannya. Anda tidak perlu mencarinya; tulisan bahasa Inggrisnya ada di website.

Mohamed: Berbeda dengan versi bahasa Arab?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, mereka tidak sama. Bandingkan versi bahasa Arab dengan versi bahasa Inggris dan Anda akan menemukan bahwa keduanya berbeda. Halaman 13. Didat tidak memasukkan bacaan dari Kitab Suci dalam buku versi bahasa Inggrisnya, tetapi penterjemah memasukkannya, dan membuat beberapa perubahan di dalamnya.
Inilah kata yang Anda tanyakan maksudnya. Kita membaca, “…kafilah-kafilah orang Dedan.” Kata ’Dedan’ akan membelokkan artinya dari orang Arab, jadi ia memanggil mereka ‘kafilah-kafilah orang Feddan’. Siapakah orang-orang Feddan ini? Orang Dedan berbeda dengan Orang Feddan. Saya tidak tahu mengapa ia menulisnya seperti itu. Feddan adalah ukuran tanah. Ia merubah kata ‘Dedan’ menjadi ‘Feddan’.

Mohamed: Jadi penterjemahnya menggunakan ijin pujangga.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sang penterjemah merubahnya untuk lari dari artinya, dan kita tidak mengijinkan siapapun untuk merubah Kitab Suci. Pemalsunya adalah seorang jahanam. Biarkan ia memberitahu kita dimana diterbitkan. Dimana ia mendapatkannya? Ia sama seperti gurunya. Ia berkata ia mengacu kepada Kitab Suci ajaran Isa Al-Masih. Kita mempunyai banyak versi Kitab Suci, versi mana yang ia pakai?
Ini layar berasap, karena orang Muslim tidak akan membaca atau meneliti. Orang Muslim akan mengambil ini apa adanya.

Mohamed: Didat menyebutkan, lebih dari sekali, bahwa ada nubuatan dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa tanggung jawab menyebarkan Islam ada di tangan orang-orang Arab dan bahwa Kitab Suci mendukung gagasan ini.
Apa pendapat Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Versi Collins mempunyai judul ini, jadi mari kita bahas. Judulnya adalah ‘Beban atas Arabia’.

Mohamed: ‘Beban atas Arabia’.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika Anda mencari arti kata ‘beban’ di kamus, Anda akan menemukan bahwa artinya adalah ‘sebuah kewajiban atau tanggung jawab’, atau ‘untuk memberati atau menekan’. Mengapa ia memilih untuk menggunakan kata ‘tanggung jawab‘ daripada kata ‘menekan’?
Kitab Suci membedakan kedua nubuatan; yang satu mendahului yang satunya.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebelum nubuatan mengenai Arabia, ada sebuah nubuatan mengenai Dumah. “Beban Dumah”, yang artinya ‘tanggung jawab Dumah’. Nubuatan lainnya berbicara mengenai “Beban atas Arabia”. Isunya berbeda dari yang ia sebutkan. Arti yang sebenarnya sangat berbeda dengan apa yang telah ia katakan.
Sebagai seorang pengikut Isa Al-Masih, kita tidak memberikan komentar atas Al Qur’an atau mencoba menjelaskannya. Kita hanya mengutip apa yang telah ditulis oleh para ahli tulisan. Mengapa mereka mengijinkan diri mereka sendiri untuk menjelaskan Kitab Suci tanpa mengacu kepada para komentator dari pengikut Isa Al-Masih?

Mohamed: Jadi, apa yang para komentator katakan mengenai bacaan yang telah disalah-artikan oleh Ahmed Didat sebagai beban Arabia untuk menyebarkan Islam kepada umat manusia?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kita membicarakan dua hal disini; orang Dedan dan beban. Beban yang kita bicarakan disini adalah memberati atau menekan, tetapi orang Dedan… “Beban diatas orang Arabia. Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan.”
Sayang sekali, Didat telah menghindar ‘kafilah-kafilah orang Dedan’ dan penterjemah terjerumus kedalamnya.
Siapakah orang Dedan? Mereka adalah keturunan Dedan, anak Yoksan, anak Ketura, istri Ibrahim.

Mohamed: Dimana Anda menemukan nama-nama ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di Kitab Kejadian, pasal 25, ayat 2 dan 3. Dedan adalah anak laki-laki Yoksan, yang merupakan anak laki-laki Ketura, istri Ibrahim.
Apakah Muhammad seorang keturunan Ketura atau Hagar?
Sebenarnya, fitnahan palsu mereka ada dimana-mana. Mengapa mereka tidak menetap di satu tempat? Penterjemah yang pandai berpikir bahwa jika ia menulis ’Dedan’, seseorang akan menemukan siapa mereka, sehingga ia menyebutkan ‘Feddan’. Siapakah Orang Feddan?

Mohamed: Mereka tidak mempunyai asal muasal.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak mempunyai asal muasal. Apakah Anda mengerti?

Mohamed: Jadi penterjemahnya tidak jujur dalam terjemahannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amat sangat tepat. Apa yang membuat Didat menghubungkan Feddan, atau Dedan, dengan pelarian dan kehausan Muhammad, serta ia diberi air? Muncul di pikirannya bahwa cerita ini bisa merupakan cerita mengenai Muhammad, karena setelah lari dari Mekah, Muhammad menjadi haus saat pergi ke Medinah. Ia berharap hal ini bisa menjadi nubuatan mengenai Muhammad dan setan mengabulkan permintaannya seperti setan mengabulkan permintaan Muhammad ketika ia berbicara mengenai al-Lat, al-Uzza dan Manat, ketiga; dewa-dewa Mekah.
Surat ke 53 (An Najm)(2) berkata, “Ini adalah allah-allah yang ditinggikan, perantaraannyalah yang dicari.” Jibril berkata kepadanya, “Aku tidak memberitahu kamu hal ini, setanlah yang memberitahu kamu. Tetapi jangan bersedih, Muhammad, karena setan mengabulkan permintaan setiap nabi yang bernubuat.”
Jadi sepertinya teman kita, Ahmed Didat, berharap ini merupakan nubuatan mengenai Muhammad.

Mohamed: Mungkin ia bingung.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kebingungan! Saya telah menjelaskan hal ini sebelumnya dan saya pikir semua pemirsa menyadari hal ini. Orang-orang Mesir akan mengetahui hal ini. Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah siaran olah raga di televisi Mesir. Pembaca acaranya adalah almarhum Mohamed Latif, dan ia terkenal dengan selera humornya. Mussaad Noor (Cahaya), dari Port Said, sedang bermain di salah satu pertandingan yang disiarkan. Pada saat pertandingan, Latif berkata, “Mussaad Noor mengambil bola dan naik keatas dan akan… Apakah Mussaad Noor saudara dari Pillar Noor? Tidak, mereka hanya mempunyai nama yang sama.”
Jadi, sepertinya Didat membaca mengenai orang-orang pelarian, dan karena Muhammad telah melahiran diri ke hutan belantara, cerita ini pasti mengenai Muhammad…

Mohamed: Jadi?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …tetapi saya ingin memberitahu beliau bahwa hanya namanya saja yang sama.

Mohamed: Jadi apa arti sebenarnya dari ayat ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Arti sebenarnya adalah Arabia yang ditekan atau dikalahkan.
Jika ia melanjutkan ke Kitab Yasyaya (Yesaya) pasal 21, ayat 16 dan 17 ia akan membaca, “Sebab beginilah Firman Tuhan kepadaku: ‘Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis.’”
Didat sendiri berkata bahwa Kedar mengacu kepada orang-orang Arab.

Mohamed: Jadi mereka adalah orang-orang Arab?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia mengatakan hal ini di halaman 12 buku ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Perang). Ia berkata, “Kedar adalah orang-orang Arab.”

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Halaman 12. Ini dia. “Kedar adalah orang-orang Arab.”

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lihat. “Desa-desa tempat ia tinggal… Kedar, dan diketahui bahwa Kedar adalah seorang Arab, seorang keturunan Ismail.”

Mohamed: Seorang keturunan Ismail.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini Kedar. Jadi apa yang dikatakan buku ini?

Mohamed: Itu benar. Kedar adalah…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan ini benar. Ini benar.

Mohamed: Baiklah. Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jadi Kitab Suci berkata, “Sebab beginilah Firman Tuhan kepadaku: ‘Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis.’” Artinya bahwa kemuliaan orang-orang Arab akan habis. Kemudian dikatakan, “…dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari Bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab Tuhan, Allah Israil, telah mengatakannya.”
Nubuat ini telah digenapi dalam sejarah ketika prajurit Assyria Banibal menyapu Arabia dan mengalahkan orang-orang Arab. Ini terjadi setahun setelah nubuat tersebut. Hal ini ditemukan di halaman 167 di Simplified Arabic Encyclopedia (Ensiklopedia Arab Sederhana).

Mohamed: Ensiklopedia Arab, halaman…?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sederhana… halaman 167.

Mohamed: Dapatkah para pemirsa memeriksa ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mengacu kepadanya dan memastikannya.

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah benar bagi seorang mubalih Muslim untuk memperdaya para pembacanya? Bukankah lebih baik jika ia benar-benar mempelajari topiknya sebelum ia menulis mengenai hal-hal tersebut dan jatuh kedalam perangkap fitnahan dan salah pengertian?
Saya ingin menanyakan satu pertanyaan terakhir.
Muhammad mencatat sebuah Hadis mengenai ‘takiyya’ dan mengijinkan berbohong dalam Islam. Apakah Didat menggunakan ini sebagai alasan?

Mohamed: Ini sebuah pertanyaan yang sangat serius. Apakah Anda mengatakan bahwa ada Hadis-Hadis yang mengijinkan berbohong?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Inilah yang ingin saya katakan kepada masyarakat, supaya mereka menyadari etika yang diajarkan sang Nabi yang mereka ikuti.
Dalam buku ‘Sharh El Bari bi Sahih El Bukhari’, Hadis 2495, dikatakan…

Mohamed: ‘Sharh El Bari…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: …bi Sahih El Bukhari’

Mohamed: El Bukhari. Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sahih El Bukhari.
“Menuturkan Ya’koob Ibn Saad bahwa ayahnya berkata, ‘Sang Nabi mengijinkan berbohong dalam tiga kasus. Ia mengijinkannya dalam pertempuran, mendamaikan orang, dan percakapan seorang laki-laki dengan istrinya.’”
Ia dapat pergi dan mengkhianatinya, kemudian kembali ke rumah dan memberitahu istrinya bahwa mobilnya mogok dan makan waktu lama untuk memperbaikinya.

Mohamed: Ini di Sahih El Bukhari, jadi orang-orang dapat memeriksanya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Hadis 2495. Ini bukan sebuah Hadis di El Bukhari, hanya sebuah komentar atas Hadis 2495.

Mohamed: Di Sahih El Bukhari?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di ‘Sharh El Bari’, sebuah buku yang menjelaskan Sahih El Bukhari.
Dan di ‘Kanzul Ummal’, oleh Muttaki El Hindi, Hadis 2447, ia berkata, “Berbohong adalah kejahatan, kecuali saat menguntungkan seorang Muslim.” Dapatkah Anda mempercayai itu?

Mohamed: Sangat tidak dapat dipercaya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika seorang Muslim diuntungkan dari berbohong atau ia membela agamanya, berbohong diijinkan, Hadis secara tidak langsung mengatakan hal ini.

Mohamed: Jadi, berbohong diijinkan untuk situasi seperti peperangan, perdamaian antara orang, dan percakapan seorang laki-laki dengan istrinya. Juga diijinkan jika menguntungkan seorang Muslim atau ketika ia membela agamanya, agama Allah.
Apakah ini bisa benar?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Orang-orang yang kasihan!

Mohamed: Baiklah, kita sudah cukup membahas ini. Mari kita kembali ke pertanyaan yang penting, ‘Apa solusinya?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘Apa solusinya?’ adalah sebuah serial dimana kita mencoba memecahkan masalah yang disebabkan oleh Islam.
Hari ini kita melihat solusi terhadap masalah keluarga. Banyak pasangan yang menghadapi masalah, bahkan ketika mereka sangat jatuh cinta ketika bertunangan. Banyak konflik yang muncul karena perbedaan pribadi dan sikap.
Bagaimana kita dapat menghindari konflik keluarga? Sebenarnya tidak ada jalan lain kecuali Isa Al-Masih. Bagaimana bisa?

Mohamed: Beritahu kami.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ketika Isa Al-Masih menyatukan sebuah pasangan dalam pernikahan, persekutuannya bukan hanya antara suami dan istri. Isa Al-Masih menjadi kepala rumah tangga; Ia kepala suami. Jika seorang laki-laki mempunyai Isa Al-Masih dalam hidupnya, ketika ia menghadapi masalah ia dapat berkata kepada Tuhan, “Apa yang harus saya lakukan? Tolong selesaikan bagi saya. Isa Al-Masih ditinggikan dengan menyelesaikan masalah ini. Saya menyerahkan masalah ini kepada Engkau.”
Seorang laki-laki harus mengasihi istrinya dengan hati Isa Al-Masih dan berkorban baginya. Dalam Surat Efesus 5 dikatakan bahwa ia harus mengasihi istrinya dan mengorbankan dirinya sendiri bagi sang istri.
Dengan cara yang sama, seorang perempuan yang mempunyai Isa Al-Masih dalam hatinya mengasihi suaminya. Bukti kasihnya adalah ia mengorbankan dirinya sendiri bagi sang suami dengan tunduk kepadanya.
Jadi sang suami mengasihi dan mengorbankan dirinya bagi sang istri, dan sang istri mengasihi Allah dan suaminya dan tunduk kepada sang suami.

Mohamed: Terima kasih banyak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan ini terjadi di saat yang bersamaan. Harmoni ini melalui Isa Al-Masih. Tanpa Isa Al-Masih, semuanya terbakar.

Mohamed: Terima kasih banyak.
Allah berkata, “Aku telah mengasihi engkau dengan kasih yang tidak berkesudahan; oleh karenanya, dengan kasih dan kebaikan aku telah memanggil engkau.” Juga tertulis, “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong.”
Angkat mata dan hati Anda, memohonlah kepada Allah, pencipta Anda. Kenalilah Dia supaya Anda akan menghabiskan kekekalan bersama denganNya.
Terima kasih dan selamat tinggal.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.
Semoga Allah ditinggikan dan membiarkan setiap pemirsa membuka hatinya kepada Isa Al-Masih sekarang. Katakan kepada Allah: “Datanglah ke hidup saya. Selesaikan semua masalah keluarga, pribadi, dan sosial. Tuhan, sertai aku sepanjang waktu. Dan segala kemuliaan dan pujian bagiMu. Amin.”

Mohamed: Amin.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Mohamed: Terima kasih.

Texts being used:
The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.
The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.
The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/
Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind
Notes on this episode:
(1) Story of Lot is not found in these verses, even though the story does exist in the Bible. – Cerita mengenai Lut tidak ditemukan dalam ayat-ayat ini, meskipun betul cerita Lut ada dalam Kitab Suci.
(2) Since verse numbers are not given, they are translated directly from the English version. – Karena nomor ayat tidak diberikan, diterjemahkan langsung dari versi Inggris.

Advertisements