Pertanyaan Mengenai Iman Episode 85

Mohamed: “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku; kepada siapakah aku takut? Tuhan adalah kekuatan hidupku; kepada siapakah aku takut? Ketika orang jahat datang kepadaku untuk memakan dagingku, musuh-musuh dan lawan-lawanku, mereka tersandung dan jatuh. Melalui tentara yang berkemah melawan aku, hatiku tidak takut; melalui perang yang menentang aku, dalamnya aku akan percaya. Satu hal yang aku inginkan dari Allah, yang akan aku cari: bahwa aku akan tinggal di rumah Allah di semua hari-hariku, untuk memandang keindahan Allah, dan untuk tinggal dalam rumahNya. Dalam masa kesusahan Ia akan menyembunyikan aku dalam rumahNya; di tempat rahasia dalam tabernakelnya Ia akan menyembunyikan aku; Ia akan menempati aku di batu tinggi.”(1)

Para pemirsa terkasih, inilah doa yang diangkat berabad-abad yang lalu oleh Nabi Daud. Kita mengulangnya sekarang, mengangkat hati kita kepada Allah seperti yang kita lakukan ini.
Kami menyambut semua orang yang menonton episode program ’Pertanyaan Mengenai Iman’. Kita juga menyambut tamu kita terhormat Bapak Pendeta Zakaria Botros. Selamat datang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dengan senang hati.

Mohamed: Kami telah menerima banyak surat dan kita telah memilih beberapa surat untuk kami bacakan kepada Anda. Surat ini datang dari Beirut, Lebanon.
“Kepada Saudara Mohamed,
Salam kepada Anda dan kepada Bapak Pendeta Zakaria. Saya ingin Anda tahu bahwa banyak pemirsa yang melihat Anda sebagai teladan dan petunjuk di jalan yang terang, kebenaran, dan hidup. Anda telah menerima anugerah besar dari Isa Junjungan Yang Ilahi, seperti yang Rasul Pa’ul terima ketika ia mendengar suara Allah di jalan ke Damaskus ketika sedang dalam perjalanan untuk melawan para pengikut Isa Al-Masih. Ia menjadi salah satu rasul yang paling terkenal, yang memproklamirkan keilahian Sang Anak dan Ruh Allah, yang merupakan kesatuan dengan Allah Bapa. Saya secara teratur menonton Anda dan Bapak Zakaria, yang saya anggap sebagai seseorang yang berwenang untuk menjelaskan isu-isu dan mengajukan pertanyaan yang didokumentasikan, ilmiah, dan logis ini, tanpa menyinggung perasaan orang-orang percaya dari agama lainnya. Saya setuju dengan beliau, bahwa banyak orang yang belum mendengar kabar gembira karena tekanan mental dan terorisme, begitu juga ketakutan untuk melawan lingkungan tempat mereka hidup.”
Kami berterima kasih, saudara terhormat. Untuk alasan keamanan, kami tidak akan menyebutkan nama. Terima kasih banyak telah membagikan hal ini kepada kami. Ini sebuah surat dari Belanda.
“Kepada Bapak Pendeta Zakaria Botros,
Terima kasih kepada semua yang telah bekerja dengan Anda di Saluran Al Hayat. Salam kepada Anda, damai dan hormat. Saya akan sangat berterima kasih jika Anda dapat mengirimkan saya sebuah buku Kitab Taurat dan Kitab Para Nabi; Saya hanya memiliki Kitab Injil. Alamat saya adalah sebagai berikut…”
Dari bahasanya, kita dapat mengetahui bahwa ia telah lama tinggal di Barat. Kami yakin bahwa Anda telah menerima buku yang Anda minta sekarang. Kami berterima kasih atas surat ini dan atas dorongan Anda.
Mari kita kembali ke topik kita, yaitu apa yang ditulis oleh misionaris Muslim, Ahmad Didat tulis dalam bukunya ‘Provision for Jihad’ (Kecukupan Untuk Jihad). Ia menulis bahwa Kitab Ulangan menyebutkan penaklukkan Mekah. Apakah ini benar? Apa pendapat Anda mengenai hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya, Ahmad Didat menuliskan hal tersebut di bukunya, ‘Provision for Jihad’ (Kecukupan Untuk Jihad). Di halaman 12 dari bukunya ia berkata, “Di Kitab Ulangan disebutkan mengenai penaklukkan Mekah.”

Mohamed: Ini sangat aneh.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Benar-benar aneh! Saya akan membacakan bagi Anda dan para pemirsa, kalimat-kalimat yang ada di Kitab Ulangan supaya Anda dapat melihatnya sendiri jika Mekah disebutkan atau tidak. Mari kita lihat di Kitab Ulangan, pasal 33, ayat 1 dan 2 dikatakan: “Inilah berkat yang diberikan Nabi Musa, abdi Allah itu, kepada orang Israil sebelum ia mati. Berkatalah ia: ”Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kananNya tampak kepada mereka api yang menyala.’”
Ia berkata bahwa Mekah disebutkan disini. Saya tidak melihat ada jejak-jejak Mekah!

Mohamed: Mekah tidak disebutkan, jadi apa yang ia maksud?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kata ‘Paran’. Ia berkata bahwa Paran adalah pegunungan dekat Mekah. Apakah Anda mengikuti?

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bagaimana ini bisa pegunungan Mekah? Itulah yang ingin kami ketahui. Kitab Suci berkata, “Tuhan tampak bersinar”, tetapi Didat mendatangkan bencana dengan mengatakan bahwa “Muhammad tampak bersinar…” Muhammad, dan bukan Tuhan. “Muhammad tampak bersinar dari pegunungan Paran.” Mengapa perubahan ini, saya bertanya. Kitab Suci berkata, “Ia tampak bersinar…”

Mohamed: Artinya Tuhan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tuhan, jadi mengapa ia menjadikannya “Muhammad tampak bersinar”? Siapa yang ia bodohi?

Mohamed: Dengan cara ini, ia benar-benar merubahnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebuah perubahan total. Dan bukan hanya itu. Ada tiga pegunungan – Sinai, Seir, dan Paran. Kitab Suci berkata, “Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran…” Saya bertanya, mengapa Paran yang mewakilkan Mekah? Mengapa ia tidak berkomentar atas dua pegunungan lainnya? Ini benar-benar perubahan. Apakah Anda lihat? Apakah ia mencoba mendewakan Muhammad atau apa? Apakah Didat mau mendewakan Muhammad? Kitab Suci berkata, “Tuhan … tampak bersinar dari pegunungan Paran,” tetapi ia berkata, “Muhammad tampak bersinar dari pegunungan Paran.” Sangat aneh! Dimana integritasnya!

Mohamed: Dapatkah Anda memberitahukan dimana letak ketiga pegunungan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Itu hal penting jika kita ingin tahu apakah Paran mewakilkan Mekah atau tidak.
Pegunungan Sinai ada di sebelah selatan Semenanjung Sinai. Nabi Musa naik ke Pegunungan Sinai untuk menerima Perintah Allah dalam loh batu.
Tidak ada perdebatan atas hal ini.

Mohamed: Gunung hukum. Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Gunung hukum di Sinai. Disebutkan di Kitab Imamat pasal 7 ayat 38. Pegunungan Seir…

Mohamed: Apakah sama dengan Pegunungan Horeb?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Pegunungan Horeb.

Mohamed: Ini adalah Pegunungan Horeb.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Pegunungan Seir ada di sebelah selatan Pegunungan Sinai, dalam perjalanan ke Kanaan.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Disebutkan di Kitab Ulangan, pasal 1, ayat 2: “Sebelas hari perjalanan dari Horeb sampai Kadesh-Barnea, melalui jalan Pegunungan Seir.” Itu adalah sebuah jalanan kecil.
Didat mengklaim bahwa Pegunungan Paran ada di Arabia, dekat Mekah. Menurut buku referensi kami, yaitu kamus Kitab Suci, halaman 667, Paran berada 75 kilometer dari Beersheba dan Beersheba terletak di Israil. Apakah Mekah berada 75 kilometer dari Israil?

Mohamed: Tentu saja tidak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini tidak masuk akal. Dikatakan ini adalah tanah dimana Bani Israil mengembara selama tiga tahun. Kemuliaan Allah turun atasnya dan tabernakel ditempatkan disitu; tenda pertemuan. Kamus berkata, “El Paran adalah Elat”.

Mohamed: Elat.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Pohon Paran adalah Elat. Apakah Anda mengikuti saya? Kemudian sepertinya ia mencampur-adukkan keduanya. Ia mencampur-adukkan Arabah dan Arabia. Dari kamus Kitab Suci kita belajar bahwa “Arabah adalah sebuah nama Ibrani yang berarti hutan belantara. Sebuah daerah yang berada di antara Laut Mati dan Laut Merah.” Tetapi Didat berkata bahwa Arabah pasti Arabia.

Mohamed: Tetapi Lembah Arabah cukup terkenal.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, Lembah Arabah sangat terkenal. Dan ini adalah peta yang menunjukkan hal tersebut. Sebuah peta Inggris dan peta Arab yang menunjukkan dimana hutan belantara Paran. Sejak dari dahulu kala. Inilah hutan belantara Paran di Arab. Ini adalah dua teluk dari Laut Merah. Dan disinilah Paran, ada diantara Semenanjung Sinai, yang berupa gurun pasir.

Mohamed: Saya ingin agar kamera dapat mengambil gambar peta ini. Inilah hutan belantara Paran di Sinai, dan Laut Merah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Inilah Semenanjung Sinai. Inilah kedua tangan Laut Merah.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Disinilah Teluk Aqaba dan Teluk Suez. Dan inilah peta Inggris. Peta-peta ini tua dan tersedia di website.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Setiap orang dapat melihatnya. Inilah hutan belantara Paran. Apakah Anda melihatnya?

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sekarang, dimanakah Arab dan dimanakah hutan belantara Paran? Mereka tidak mengerti dan mereka tidak ingin mempelajari atau membaca. Mereka hanya merampas sesuatu dan lari. Ini sangat aneh!

Mohamed: Tetapi sepertinya banyak orang Muslim yang bersikeras bahwa Paran terletak di Semenanjung Arab, dekat Mekah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Baiklah, jika mereka bersikeras, biarkan mereka. Saya tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan menyebabkan orang-orang berkata bahwa Pendeta Zakaria menghasut Bani Israil melawan orang-orang Arab. Jika Anda bersikeras bahwa ini benar, berarti Anda memberikan alasan kepada Bani Israil untuk menempati Mekah! Tetapi mengapa melakukan hal seperti itu? Bukankah Anda berkata bahwa Paran adalah Mekah? Bani Israil menetap di Paran selama tiga tahun. Mereka menempatkan tabernakel mereka disitu dan Allah turun kepada mereka disana. Sekarang, jika Anda terus mengatakan bahwa Mekah adalah Paran, Anda memberikan kesempatan kepada Bani Israil untuk mengambil Mekah juga, tidak hanya Palestina. Anda memberikan Mekah kepada mereka. Pikir sebelum berbicara. Cara ini mungkin membawa kehancuran dan Anda kehilangan rumah Anda.

Mohamed: Apa bukti dari tulisan yang baru saja Anda sebutkan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya berharap ada beberapa bukti. Itulah pertanyaan saya, “Dimanakah buktinya dan dimanakah referensinya?”

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dimanakah buktinya dan dimanakah referensinya? Itulah yang kita cari. Ini merupakah masalah memutar-balikkan fakta untuk memfabrikasi atau membuat-buat sesuatu. Ini bukan cara yang benar.

Mohamed: Penterjemah Arab buku Didat telah membuang frase ‘puluhan ribu orang yang kudus’ dari ayat di Kitab Ulangan ini, agar ayat ini mengacu kepada penaklukkan Muhammad atas Mekah. Apa pendapat Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penterjemah berkata bahwa terjemahan bahasa Inggris adalah ‘puluhan ribu orang kudus’? Frase yang lengkap dalam bahasa Inggris adalah, “dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus.” Sekarang Didat dengan sengaja membuang dua kata dalam frase pendek ini. Kata pertama yang dirubahnya adalah ‘Ia’. Ia membuatnya menjadi ’ia’ dengan huruf ’i’ kecil, yang artinya adalah manusia biasa.

Mohamed: Dari huruf besar menjadi huruf kecil.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Aslinya tertulis dengan huruf besar.

Mohamed: Yang mengacu kepada?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Allah saja.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ketika mengacu kepada Allah, bahkan di tengah kalimat, huruf depannya harus dimulai dengan huruf besar. Ini mengacu kepada Allah. Jadi ini kesalahan besar pertama. Yang kedua adalah terjemahan ‘dengan’.

Mohamed: ‘Dengan’.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘Dengan’, tetapi tidak seperti itu di Kitab Suci. Sama sekali tidak seperti itu. Lihatlah penipuannya. Kitab Suci berkata, “…dan Ia datang dari…”

Mohamed: Ia datang dari…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: ‘Dari’ mengacu kepada sebuah tempat.

Mohamed: Mengacu kepada sebuah tempat tertentu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi ‘dengan’ mengacu kepada orang. Lihatlah penipuan dan pemutar-balikkan fakta ini. Ketika Anda mengacu kepada bahasa Ibrani aslinya, dikatakan, “Me-Ribebot Kadesh”. ‘Me’ artinya ‘dari’. Terjemahan Kitab Suci Katholik berbahasa Inggris di Amerika tidak menterjemahkan frase “Me-Ribebot Kadesh”. Kata itu ditulis apa adanya.

Mohamed: Oh!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia datang dari Me-Ribebot Kadesh. Inilah bagaimana “Ia datang dengan puluhan ribu orang yang kudus” seharusnya diterjemahkan. Ada perbedaan antara Kadesh dan orang yang kudus. Akan sangat mengagetkan seseorang bagaimana mereka mencoba memutar-balikkan dan merubah Kitab Suci, tetapi menuduh kitalah yang melakukannya!

Mohamed: Kembali ke Kitab Ulangan, Ahmad Didat menyebutkan bahwa Allah ingin membangkitkan amarah Bani Israil terhadap bangsa sebelum masa Islam, bangsa Arab. Apa pendapat Anda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, ia berkata demikian. Penterjemah Arab terlalu malu untuk membeberkan tulisan bahasa Inggris yang Didat tulis. Terlalu malu! Tulisan bahasa Inggrisnya berkata, “Dan Aku, Allah Maha Besar, akan membangkitkan amarah Bani Israil terhadap orang-orang Arab, yang bukan sebuah bangsa, yang tidak mempunyai keberadaan, dan membangkitkan Bani Israil kepada kecemburuan terhadap sebuah bangsa yang bodoh, yaitu orang-orang Arab Jahili (masa sebelum Islam).” Darimana ia mendapatkan hal-hal mengenai orang-orang Arab dari masa sebelum Islam ini? Dimana di tulisan aslinya?

Mohamed: Apakah tidak ada disitu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak ada di Kitab Suci.

Mohamed: Tidak pernah ada.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Orang-orang Arab dari masa sebelum Islam! Ia menganggap harapan, pandangan dan pemikirannya merupakan wahyu dari Allah. Ia pikir memfabrikasikannya sedikit. Ayat aslinya berkata, “Mereka telah membangkitkan kecemburuan di dalamku dengan hal-hal yang bukan ilahi; Mereka telah membuatKu marah dengan dewa-dewa bodoh mereka. Tetapi Aku akan membangkitkan kecemburuan mereka terhadap orang-orang yang bukan suatu bangsa; Aku akan membangkitkan amarah mereka dengan sebuah bangsa bodoh.” Tanpa mengacu kepada komentar-komentara maupun wewenang yang dapat dipercaya, Didat telah memutarbalikkan ayat-ayat sesuka hatinya. Apa dukungan atas interpretasinya ini di buku-buku referensi? Apa referensinya?

Mohamed: Saya bertanya-tanya…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini adalah pendapatnya sendiri.

Mohamed: Baiklah, tapi apa arti sebenarnya dari ayat ini? Pasti ada arti yang lebih besar dari apa yang telah disebutkan Didat. Apa yang dimaksud dengan “bangsa bodoh”. Siapakah bangsa bodoh ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dengarkan temanku. Ini semua adalah nubuatan mengenai penolakan Bani Israil dan pintu yang dibukakan bagi orang-orang kafir.

Mohamed: Penolakan Bani Israil… Mengapa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Karena mereka menolak iman. Mereka menolak Isa Al-Masih.

Mohamed: Ya, mereka menolak Isa Al-Masih.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini semua mengenai Bani Israil dan penolakan mereka terhadap Al’Masih atau penyelamat, yang merupakan fokus dari semua nubuatan.

Mohamed: Maksud Anda, apakah negara moderen Israel, atau di Kitab Taurat Bani Israil?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kitab Taurat Bani Israil, sampai masa Isa Al-Masih.

Mohamed: Oh, benarkah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: “Ia datang ke bangsaNya sendiri, dan bangsaNya sendiri tidak menerima Dia.”

Mohamed: Tetapi ini tidak ada hubungannya dengan negara Israel yang sekarang ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya mereka adalah kelanjutan dari penolakkan tersebut. Negera Israel moderen terus menolak Isa Al-Masih.

Mohamed: Aha!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukankah begitu?

Mohamed: Sepertinya iya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka adalah kelanjutan dari nenek moyangnya.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukankah mereka begitu? Bacaan tersebut membicarakan penolakan ini.

Mohamed: Menolak Allah; tidak mau menerima Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lebih kepada penolakan terhadap Isa Al-Masih.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: “Ia datang ke bangsaNya sendiri, dan bangsaNya sendiri tidak menerima Dia.”

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan itulah alasan Allah membuka pintu kepada orang-orang kafir.

Mohamed: Ah. Apakah…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia membuka pintu kepada orang-orang kafir untuk masuk ke iman tersebut.

Mohamed: Siapakah orang-orang kafir?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Orang-orang kafir adalah orang-orang yang di luar Bani Israil. Jika Anda bukan Bani Israil, Anda seorang kafir.

Mohamed: Apakah ini termasuk para pengikut Isa Al-Masih dan orang-orang Muslim?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di masa itu, tidak ada pengikut Isa Al-Masih maupun Muslim.

Mohamed: Mereka belum ada.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada orang Yunani, Persia dan Mesir, dan pintunya dibukakan lebar bagi mereka semua.

Mohamed: Jadi orang-orang kafir sebenarnya semua orang diluar Bani Israil.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Semua bangsa lainnya.

Mohamed: Diluar Bani Israil.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Diluar Bani Israil. Apakah Anda mengikuti? Inilah artinya. Rasul Pa’ul mengatakan hal yang sama. Ia berkata, “Karena tidak ada perbedaan antara Bani Israil dan orang Yunani (orang kafir), karena Allah yang sama adalah Allah yang kaya bagi semua yang memanggil Dia. Siapapun yang memanggil nama Allah (Isa Al-Masih) akan diselamatkan.”
Dan sebelumnya Nabi Musa berkata, “Aku akan menggerakan kemarahan mereka oleh bangsa yang bodoh.”

Mohamed: Karena siapapun yang memanggil nama Allah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Memanggil nama Allah akan diselamatkan. Yaitu, siapapun yang menerima Allah, berdoa kepadaNya, dan memanggil Dia, akan diselamatkan.

Mohamed: Akan diselamatkan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Aha. “Aku dicari oleh mereka yang tidak meminta Aku; Aku ditemukan oleh mereka yang tidak mencari Aku.”

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Yaitu semua bangsa.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kitab Suci mengartikannya sendiri.

Mohamed: Aha.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bangsa bodoh yang dimaksud disini adalah semua bangsa yang tidak mencari Allah. Dimata Bani Israil, ini adalah semua bangsa diluar Bani Israil. Mereka dianggap bodoh. Orang-orang bodoh. Sama seperti orang Muslim memandang orang lainnya. Mereka menyalinnya dari Bani Israil.

Mohamed: Oh, ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika Anda bukan seorang Muslim, Anda seorang kafir.

Mohamed: Tepat seperti…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tepat seperti yang Bani Israil lakukan. Muhammad hanya menyalinnya dari Bani Israil.

Mohamed: Tetapi sebenarnya orang yang bodoh atau bangsa yang bodoh adalah mereka yang tidak mencari wajah Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Menolak Allah dan Isa Al-Masih.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini adalah Ahmad Didat dan pandangannya.

Mohamed: Ahmad Didat.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kepada setiap Muslim saya berkata: Allah memberikan Anda pikiran untuk dipakai. Mohon baca perkataan Didat dan pikirkan.
Saya telah menyebutkan beberapa buku-bukunya. Mungkin sekarang ini buku-buku terjual dengan keras atau buku-buku itu akan dilarang. Anda tahu, setiap kali saya menyebutkan sebuah buku, mereka melarangnya! Bahkan mereka melarang Ensiklopedia Islam.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka telah melarangnya. Jika Anda mencari buku tersebut, Anda tidak akan dapat menemukannya.

Mohamed: Dan kita masih membutuhkan kebebasan di abad ke-21 ini.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Semua pembual. Hanya kata-kata yang kosong. Tidak ada yang benar. Nasihat saya kepada Anda, para saudara Muslim, adalah untuk memikirkannya dengan bebas untuk kekekalan Anda. Seluruhnya adalah tanggung jawab Anda, bukan orang lain.

Mohamed: Mari kembali ke interpretasi ‘puluhan ribu Kadesh (orang yang kudus).’ Apakah Anda mengira ‘Kadesh’ mengacu ke Yerusalem moderen?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Seperti yang disebutkan sebelumnya, Kitab Suci berkata, “Allah datang dari Ribebot Kadesh.”

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kadesh adalah tempat yang menjadi kudus ketika Allah turun diatasnya. Seperti kejadian di Surat ke 20 (Ta ha) ayat 14(2), dimana Allah berkata kepada Nabi Musa, “Aku ini adalah Allahmu! Lepaskan sendalmu, engkau ada di lembah kudus Tuwa.”

Mohamed: Tuwa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa yang menyucikan lembah itu? Penampakan Allah terhadap Nabi Musa disitu.

Mohamed: Jadi Kadesh adalah tempat manapun yang disucikan dengan keberadaan Allah disitu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan Allah mewujudkan diriNya sendiri di ketiga pegunungan tersebut.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sinai, Seir dan Paran.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukankah Ia melakukan itu?

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mengapa orang ini melakukan semua ini? Cukup beritahu saya mengapa. Ada sisi lainnya dari manipulasinya. Yaitu menggantikan kata ’Allah’ dengan kata ’Muhammad’. Daripada “Tuhan tampak bersinar dari pegunungan Paran “, ia menjadikannya, “Muhammad tampak bersinar dari pegunungan Paran “.

Mohamed: Ah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penipuan dan fabrikasi terbuka. Ia yakin bahwa orang-orang Muslim yang naïf tidak akan membaca, mempertanyakan atau mencari tahu.
Nasihat saya kepada Anda, temanku, bagi kepentingan kehidupan kekal Anda, adalah untuk mencari bagi diri Anda sendiri. Anda bertanggung jawab atas keputusan Anda sendiri.

Mohamed: Apakah ada…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja, ada banyak perbedaan. Ia berkata bahwa ada perbedaan-perbedaan diantara Kitab Suci-Kitab Suci versi bahasa Inggris. Bagaimana dengan terjemahan Al Qur’an? Bukankah mereka berbeda?

Mohamed: Anda berkata bahwa terjemahan Al Qur’an berbeda-beda?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja. Sebagai contoh, ini adalah sebuah terjemah dari Al Qur’an. Penerbitnya tidak tertera di sampulnya; tertulis di dalam. Dar Al Ma’arif dari Damaskus, dengan izin dari Al Azhar. Ini satu. Ada lagi terjemahan lainnya. Al Qur’an Mulia. Siapa yang membuat ini? Dr. Mohamed Muhsin Khan dan Dr. Mohamed Taqiy Ad Din Al Hilali. Dan ada sebuah terjemahan bernama ‘Al Qur’an Al Karim’ oleh Dr. Ahmad Zidan dan istrinya, Dina Zidan. Disini ada tiga salinan. Ada juga terjemahan Abdallah Yusif Ali.
Saya hanya akan mengutip satu contoh dari perbedaan-perbedaan diantara beberapa versi Al Qur’an ini.

Mohamed: Diantara salinan-salinan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada sebuah ayat yang kecil, ayat di awal Surat ke 1 (Al Fatiha). Dikatakan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Sederhana bukan? Apakah ada masalah sampai disini? Tidak juga.
Lihatlah terjemahan Abdallah Yusif Ali. Di halaman 14, dikatakan, “Segala puji bagi Allah, pengasih dan pendukung dunia.”
‘Pengasih dan pendukung’! Dari mana ia mendapatkan itu?
Sekarang terjemahan Dr. Mohamed Khan dan Dr. Taqiy Ad Din Al Hilali. “Segala puji dan syukur bagi Allah, Tuhan semua alameen, umat manusia, jin dan semua yang hidup.”

Mohamed: Tentu saja ini tidak berarti apa-apa bagi mereka yang tidak mengetahui bahasa Inggris, tetapi saya dapat mengetahui perbedaannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan apakah perbedaannya! Yang ini mengatakan, ‘Pengasih dan pendukung’. Yang lainnya berkata, ‘Allah’ saja. Ia menambahkan ‘Tuhan alameen’, yaitu, ‘umat manusia, jin, dan semua yang hidup’.
Ini yang ketiga. “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” Dan mereka meninggalkan ‘pengasih’.

Mohamed: Ya. Puji atau syukur bagi Allah, yaitu Allah atas segalanya, Allah yang menciptakan alam semesta. Ya, ada perbedaannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada banyak perbedaan. Akan tetapi, mereka terus mengatakan, “Kitab Suci Anda mempunyai banyak versi dan mereka semua berbeda-beda.” Ini hanyalah sebuah ayat kecil dengan kata yang sangat sedikit; satu, dua, tiga, atau empat kata semuanya. Lihat begitu banyak perbedaan di dalamnya?

Mohamed: Sebagai seorang anak, saya belajar bahwa Anda tidak dapat menterjemahkan Al Qur’an. Jadi semua ini adalah usaha manusia.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi mereka mendapatkan izin dari Al Azhar, bukankah begitu?

Mohamed: Diasumsikan mereka tepat dan benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ini sangat aneh.

Mohamed: Baiklah, kita sudah cukup membahas ketidak-konsistenan. Saya kembali ke pertanyaan yang sama, “Apa solusinya?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apa solusinya? Hari ini kita mempunyai sebuah topik baru mengenai solusi atas masalah keegoisan.
Manusia berkodrat egois dan ia menderita karena keegoisannya, sangat menderita sampai ia makan dirinya sendiri dan jatuh sakit. Manusia adalah egois dan cemburu atas apa yang dimiliki orang lain. Mengapa orang itu mempunyai mobil baru dan saya tidak. Mengapa orang itu mempunyai sebuah rumah dan anak orang lain berhasil. Ia egois dan mau semuanya bagi dirinya sendiri. Egois membuat Anda sakit dan pahit.
Sekarang, apa obatnya? Isa Al-Masih. Isa Al-Masih dalah jawabannya. Rasul Pa’ul, suratnya kepada jamaah di Galatia, pasal 2, ayat 20, berkata, “Aku sudah disalibkan bersama-sama dengan Al’Masih. Sekalipun aku masih hidup, bukan aku lagi yang hidup, melainkan Al’Masih yang hidup di dalam aku.” Itulah jawabannya.

Mohamed: Apa artinya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Artinya bahwa manusia mati bagi dirinya sendiri dan keegoisannya, dan melenyapkan pusat dari kehidupannya sendiri.

Mohamed: Oh.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Isa Al-Masih menjadi pusat kehidupannya. Hidupnya berubah dan menjelma dari mengasihi diri sendiri, mendewakan diri, dan memuliakan diri yang berlebihan. Tetapi di hari ia menerima Isa Al-Masih, ia menyerahkan kemuliaan diri, keegoisan, hidup bagi dirinya sendiri dan pemujaan diri, untuk menyembah Allah. Isa Al-Masih masuk ke hatinya.
Saya tahu ada seorang artis yang karena memuja dirinya sendiri, melakukan suatu hal yang sangat aneh. Ia mempunyai selang dan memasukkannya ke hidungnya sendiri. Mengapa ia melakukan hal itu? Kemudian ia mengambil lumpur dan memoleskannya ke seluruh wajahnya dan membuat cetakan dari wajahnya. Kemudian ia membukanya, melepaskannya, dan menyambungnya kembali. Ia menuangkan gipsum ke dalamnya dan menjadikannya sebuah patung kepala.

Mohamed: Sebuah patung?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kemudian ia menempatkannya di tempat terbaik di rumahnya, dan mulai memuja dirinya sendiri.
Tetapi ketika seseorang menerima Isa Al-Masih ke dalam hatinya, ia mengasihi Isa Al-Masih dengan seluruh hatinya, dan hidup untuk memuliakan Isa Al-Masih. Ia mau memuliakan Allah.
Pertanyaan saya, para pemirsa terkasih, adalah: Apakah Anda salah satu dari mereka yang memuja diri sendiri? Apakah Anda memuja diri sendiri? Apakah Anda memikirkan diri sendiri? Apakah Anda sedang menderita karena Anda cemburu kepada orang lain dan ingin memiliki semua hal?
Anda membutuhkan Isa Al-Masih untuk membebaskan Anda dari pemujaan diri sendiri. Katakan dengan saya, “Isa Junjungan Yang Ilahi, masuklah kedalam diriku, matikan diriku, dan mulailah hidup di dalamku supaya aku dapat hidup bagi Engkau di setiap hari-hariku. Amin.”
Jika Anda berdoa dari hatimu, Allah akan menerima Anda dan Ia tidak akan pernah meninggalkan Anda.

Mohamed: Terima kasih banyak.
Para pemirsa terkasih, tidak ada lagi kata-kata yang perlu ditambahkan kecuali panggilan Allah kepada semua orang, yang mengatakan, “Berikan Aku hatimu.” “Anakku, berikan Aku hatimu dan biarkan matamu melihat jalanKu.”
Terima kasih banyak. Sampai kita berjumpa lagi di episode lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Mohamed: Terima kasih.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Harapan saya satu-satunya adalah supaya setiap pemirsa akan mencari penyelamatanNya.

Mohamed: Amin.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Allah menyertai Anda.

Mohamed: Terima kasih.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Texts being used:
The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.
The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.
The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/
Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind
Notes on this episode:
(1) Since verse numbers are not given, they are translated directly from the English version. – Karena nomor ayat tidak diberikan, diterjemahkan langsung dari versi Inggris.
(2) Exact same texts are not found. Therefore, it is translated directly from the English version. – Text yang sama tidak ditemukan. Jadi diterjemahkan langsung dari versi Bahasa Inggris.