Pertanyaan Mengenai Iman Episode 86

Mohamed: Selamat datang, para pemirsa terkasih, ke episode terbaru ‘Pertanyaan Mengenai Iman’. Kita juga menyambut tamu kita, Bapak Pendeta Zakaria Botros.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: Kami telah menerima banyak surat. Surat ini dari Algeria, dan ditutupi dengan banyak perangko.
Pengirimnya berkata,
“Salam dan damai. Saya salah seorang pemirsa dari program Al Hayat yang indah, yang telah benar-benar menangkap perhatian saya dan merubah arah hidup saya.

Telah merubah pikiran saya dan menjawab banyak pertanyaan dan keragu-raguan saya. Juga telah meningkatkan iman dan pengetahuan saya akan kehidupan, terutama hubungan saya dengan Allah. Saya sangat berminat terhadap program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’ Anda yang sangat berarti, yang dibawakan oleh Pendeta Zakaria Botros. Ia telah menarik perhatian saya dengan pengetahuan serta minatnya atas segala aspek dari agama Islam. Saya mempunyai beberapa pertanyaan sulit yang telah ada di pikiran saya, dan menggangu iman saya kepada Isa Al-Masih. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah:

1. Apakah Mesjid Aqsa merupakan kuil yang disebutkan di Kitab Injil dan Kitab Taurat?
2. Apakah Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim, teman Allah, atau oleh orang lain? Jika ia tidak membangunnya, siapakah yang membangun Ka’bah?
3. Apakah bahasa Arab merupakan bahasa penguhuni surga?
4. Orang Muslim berkata bahwa Bani Israil mengadakan pesta pora ketika mereka membunuh seorang anak pengikut Isa Almasih, dan menggunakan darahnya untuk komuni, yang disiapkan oleh seorang Rabi. Dan bahwa para pengikut Isa Almasih mengadakan pesta pora ketika mereka membunuh seorang Bani Israil dan menggunakan darahnya untuk menyiapkan komuni. Apakah ini benar?
Inilah suratnya. Ada banyak pertanyaannya, tetapi ini cukup. Saya ingin Anda menjawabnya secara pribadi.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih banyak karena telah menulis kepada kami dan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan Anda. Surat ini dilakukan di komputer. Ada sekitar 14 pertanyaan, tetapi program kita hanya memiliki waktu yang pendek. Islam mencoba untuk menyembunyikan kebenaran, tetapi Anda mempunyai hak untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Apakah Mesjid Aqsa adalah kuil yang dimaksud? Ya, mesjid itu sama dengan kuil Salomon kuno.
Apakah Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim? Tidak, tidak ada bukti-bukti bahwa Ka’bah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Tidak ada sama sekali. Faktanya, ada bukti bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah pergi ke Arabia.
Apakah bahasa Arab merupakan bahasa penghuni surga? Jika bahasa Arab merupakan bahasa penghuni surga, mengapa Allah berbicara dalam bahasa Ibrani dan mengirimkan Kitab Taurat dalam bahasa Ibrani? Mengapa Ia berbicara dalam bahasa Yunani dan mengirimkan Kitab Injil dalam bahasa Yunani? Ia dapat mengirimkan keduanya dalam bahasa Arab juga. Aneh. Tidak, tidak ada bukti-bukti apapun.
Apakah Bani Israil membunuh anak pengikut Isa Al-Masih dan pengikut Isa Al-Masih membunuh anak Bani Israil? Ini tidak benar. Ini tidak terjadi. Bani Israil membunuh seekor domba, tetapi domba paskah tidak lagi dibunuh.

Mohamed: Ini adalah klaim palsu dan tidak didasarkan pada kebenaran. Ini merupakan mitos-mitos yang tidak tercatat maupun didukung oleh fakta-fakta sejarah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Fitnahan dan halusinasi.

Mohamed: Kita mempunyai sebuah surat lainnya.
“Dalam nama Allah, Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Doa dan damai bagi sang Rasul yang buta huruf, yang telah dikirimkan Allah sebagai pembimbing dan anugerah bagi umat manusia, dan atas keluarganya, serta semua teman-temannya. Ini adalah surat pertama saya dan tidak akan menjadi surat yang terakhir. Saya berharap Anda cukup berani untuk menayangkannya di udara…”
Inilah yang kita lakukan saudara…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak, jangan sebutkan nama. Apakah ia menuliskan namanya?

Mohamed: Tidak, tidak ada nama dan surat ini telah diketik. Tidak mengapa. Orang masih takut.
Ia melanjutkan dengan berkata, “Program Anda telah menyesatkan dan penuh dengan kebohongan dan pertengkaran. Program Anda menyerang Islam, agama yang benar. Dahulu banyak yang telah mencoba menyesatkan orang-orang. Ini telah terjadi sejak agama ini muncul di Arab, melalui hati dan lidah seorang Arab yang buta huruf; bukan seorang kafir seperti yang Anda coba menanamkan ke orang-orang.
Jika Anda ingin meningkatkan kekurangan pengetahuan yang Anda dapatkan dari Zionis Mason untuk menyebarkan racun Anda, bacalah ‘The Life of Mohamed’ (Hidup Muhammad), yang di dalamnya mencakup pengakuan musuh besarnya, Abu Gahl dan Abu Lahab… dan seterusnya.”
Kemudian ia melanjutkan, “Allah berkata di buku berhargaNya, ‘Kami telah menurunkan Pengingat seperti Kami telah menjaganya.'”
Jika Anda menonton episode sebelumnya, Anda akan mendapatkan jawaban atas ayat ini.
“Kami menonton drama Anda dan permainan dangkal Anda, mengatakan, ‘Mengapa tidak. Orang Muslim beruntung dengan mengetahui siapa Anda.'”
Kemudian melanjutkan dengan berkata, “Mengapa Anda tidak membaca Ibn Taymiya? Mengapa Anda tidak mengutip Abu Huraira, Muslim dan Ibn Omar?”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia tidak mendengarkan. Ia tidak menonton semua episode karena Abu Huraira telah dipukuli dengan sepotong tongkat dan rantai besi oleh Omar Ibn El Khattab.

Mohamed: Mengapa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Karena kebohongan-kebohongannya.

Mohamed: Ia berbohong?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, kita menyebutkannya di sebuah episode sebelumnya. Ketika Anda sedang tidak ada dan ada pembawa acara lainnya.
Orang yang patut dikasihani ini kecapaian. Mengapa ia marah hanya karena kita mengemukakan pandangan kita? Ketika mereka mengatakan hal-hal mengenai kita, apakah kita bereaksi demikian? Tidak. Serangan pribadinya tidak berarti apapun bagi saya. Kami adalah orang-orang berpendidikan dan kita membahas gagasan-gagasan.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Silahkan.

Mohamed: Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai apa yang Didat tulis dalam bukunya ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Tempur). Ia fokus kepada kelemahan tulisan Kitab Suci. Ia berkata bahwa Kitab Suci ditulis dalam bahasa yang lemah dan bahasa Kitab Suci tidak dapat dibandingkan dengan bahasa fasih Al Qur’an.
Apa pendapat Anda mengenai hal ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebenarnya penterjemah buku Didat adalah pengarang gagasan ini. Ia mengutip ayat yang berkata, “Dan Aku, Allah Maha Besar, akan membangkitkan amarah Bani Israil terhadap orang-orang Arab, yang bukan sebuah bangsa, dan membangkitkan Bani Israil kepada kecemburuan terhadap sebuah bangsa yang bodoh.” Ia memberikan komentar atas ayat ini dengan mengatakan, “Kelemahan bahasanya jelas terlihat dan tidak layak disebutkan, dan artinya sebenarnya cukup diekspresikan dengan mengatakan, “Aku akan membangkitkan amarah mereka terhadap orang-orang yang bukan sebuah bangsa, yang hampir bukan sebuah bangsa karena kerendahan hatinya dan pikiran sebelum masa Islam.” Ia memberikan komentar dan berkata, “Apakah tulisan aslinya fasih dan layak berasal dari Allah?” Jadi ia menantang fakta bahwa Kitab Suci adalah perkataan Allah.
Kita tidak mau menjadi pembawa kesenangan bagi manusia. Mereka menggunakan kata-kata yang kasar dalam menantang dan menyerang Kitab Suci, tetapi kita hanya bertanya dengan terbuka: Apakah Al Qur’an fasih?
Mari kita mengambil contoh-contoh dari Al Qur’an untuk melihat kefasihannya, serta mendapatkan pandangan darinya mengenai hal ini. Ia berkata, “Aku berlindung dengan Allah umat manusia, raja umat manusia, Allah umat manusia, dari setan yang berbisik-bisik.” Dimana kefasihannya disini?
Ada sebuah bacaan yang berkata, “Katakan: ‘O orang tidak percaya! Aku tidak menghidangkan apa yang kau hidangkan, juga engkau tidak menghidangkan yang aku hidangkan! Aku tidak akan memuja apa yang telah kau puja, engkau juga tidak akan memuja …’“ Apakah ini fasih?
Jika mereka tidak takut untuk berbicara, saya juga tidak akan takut.
Lihatlah ini. “Ledakan yang menarik perhatian! Bukankah sebuah bencana? Apa yang membuat engkau menyadari akan ada sesuatu yang menarik perhatian (Anda)?” Apakah ini fasih?

Mohamed: Baiklah, itu cukup. Kita mempunyai sebuah pertanyaan lainnya. Apa tanggapan Anda terhadap komentar Didat mengenai ayat-ayat dalam Kitab Ulangan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lihatlah temanku terkasih, orang ini tidak mengerti arti dari ayat ini. Tidak ada hal mengenai masa sebelum Islam di tulisan aslinya. Ia berkata, “Di kerendahan hatinya di masa sebelum Islam.” Dimana ia menemukan ‘masa sebelum Islam’? Apakah ia pikir ia dapat menulis lebih baik dari Allah? Apakah begitu? Ia meninggalkan bagian pertama dari ayat tersebut, dan menulis bagian kedua, dan ketika kita menyatukan keduanya kita mengerti maksudnya.
Kitab Suci berkata, “Mereka telah membangkitkan kecemburuan di dalamku dengan hal-hal yang bukan ilahi; Mereka telah membuatKu marah dengan dewa-dewa bodoh mereka. Tetapi Aku akan membangkitkan kecemburuan mereka terhadap orang-orang yang bukan suatu bangsa; Aku akan membangkitkan amarah mereka dengan sebuah bangsa bodoh.”
Ayat ini tidak ada hubungannya dengan orang-orang Arab di masa sebelum Islam atau kerendahan hati.

Mohamed: Siapakah bangsa bodoh di ayat ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di episode sebelumnya kita mengatakan bahwa bangsa bodoh mengacu kepada bangsa-bangsa yang dianggap bodoh oleh Bani Israil; tidak sepandai Bani Israil.

Mohamed: Mereka yang tidak menuruti perintah Allah dan pergi sesuai jalan mereka sendiri.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan menolak untuk menerima Dia.

Mohamed: Benar, tidak menerima Dia. Apakah ada celaan bagi orang-orang dalam ayat ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja.

Mohamed: Apakah itu?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada sebuah celaan bagi Bani Israil yang memuja dewa-dewa dan meninggalkan Allah.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sekarang, mari kita kembali ke kelemahan bahasa yang ia bicarakan. Sebenarnya, orang ini benar-benar tidak tahu apapun mengetahui kefasihan bahasa maupun bahasa kiasan. Saya menyarankan agar ia membaca buku ‘Al Idah fi Ulum Al Balagha’, oleh Imam Khateeb Al Qazwini, diterbitkan oleh Dar El Kitab Al Alami di Beirut tahun 1989. Bacalah halaman 477-490 dan pelajari kefasihan yang baik, daripada apa yang telah ia katakan.
Ada kebalikan dan perbandingan dalam ayat ini. Lihat, “Mereka telah membangkitkan kecemburuan di dalamku dengan hal-hal yang bukan ilahi…” Kebalikan dan perbandingan. “Aku akan membangkitkan kecemburuan mereka terhadap orang-orang yang bukan suatu bangsa.” Dan, “Mereka telah membuatKu marah dengan dewa-dewa bodoh mereka… Aku akan membangkitkan amarah mereka dengan sebuah bangsa bodoh.”
Ini kefasihan. Seorang yang bodoh tidak dapat menghadapi sesuatu yang tidak ia ketahui.

Mohamed: Tetapi ia berkata bahwa salah satu pernyataannya lebih fasih daripada bahasa Kitab Suci.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu adalah pendapatnya. Walaupun demikian, saya akan menjelaskan ayatnya kepada Anda supaya Anda dapat melihat kesalahan yang ia buat.
Ia berkata, “Kita dapat berkata, ‘Dan Aku akan membangkitkan amarah mereka terhadap orang-orang yang bukan sebuah bangsa, yang hampir bukan sebuah bangsa karena kerendahan hati dan pikiran sebelum masa Islam.'”
Ini benar-benar merupakan hal yang telah kita pelajari mengenai bahasa yang lemah ketika kita sedang bersekolah. Seperti sebaris kalimat di salah satu puisi Gahez, yang berkata, “Kuburan perang ada di sebuah tempat yang ditinggalkan, tetapi tidak ada sebuah kuburan dekat kuburan perang.” Lihatlah betapa lemah dan diulang-ulang kata-katanya.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jadi teman kita ini sama-sama mengulang. Apa yang ia maksudkan dengan kerendahan hati dan pikiran sebelum masa Islam? Seharusnya ia belajar mengekspresikan dirinya sendiri dengan baik. Kitab Suci, yang kita percayai merupakan perkataan Allah, sedangkan mereka yang tidak percaya, adalah fasih.
Ia berkata, “Aku akan membangkitkan kecemburuan mereka terhadap orang-orang yang bukan suatu bangsa; Aku akan membangkitkan amarah mereka dengan sebuah bangsa bodoh…” Akan tetapi, tidak ada yang mengatakan, “…karena kerendahan hati atau pikiran sebelum masa Islam. ” Ini adalah hubungan sebab akibat.
Jelas?

Mohamed: Ya. Bagaimana dengan komentar penterjemah bahwa tulisan asli Kitab Suci tidak tersedia bagi orang-orang.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya ingin tetap pendek dan sederhana. Ia tidak mengerti kiasan, penjelasan, atau komentar Kitab Suci, dan ia tidak berhenti membicarakan itu semua.
Ini mengingatkan saya akan sebuah cerita yang indah.
Ada seorang Uskup tua yang pergi ke kota di Mesir Atas, dimana kebodohan tersebar luas.

Mohamed: Lanjutkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Seorang asisten pastor berdiri untuk membacakan cerita mengenai perempuan Samaria di Kitab Suci. Ketika ia sampai ke bagian dimana Isa berkata kepada bangsa tersebut, mengatakan, “Celakalah engkau, Chorazin! Celakalah engkau, Bethsaida!” Asisten pastor tersebut tetap membaca dan berkata, “Celakalah engkau, O tong kaca!” Sang Uskup bertanya kepadanya apa yang ia maksud dengan ‘tong kaca’ dan asisten pastor itu berkata, “Itu adalah alat yang digunakan orang Samaria untuk diisi dengan air dan diberikan kepada Isa Al-Masih.” Ia hanya memfabrikasinya. Sang Uskup menjawab dengan mengatakan sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada penterjemah. Ia berkata, “Engkau seorang yang bodoh dan seorang pemberi komentar.” Seorang yang bodoh adalah seorang yang benar-benar bodoh.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Fakta sebenarnya, tulisan asli Kitab Suci yang ia klaim tidak ada, benar-benar ada. Ada di salinan naskah-naskah kuno Vatican, Alexandria, Petersberg, dan Lembah Qumran.
Inilah naskah kuno Qumran dan ini sebuah buku mengenai Lembah Qumran, ‘The Complete Dead Sea Scrolls’ (Gulungan Laut Mati yang Lengkap).

Mohamed: Ini adalah naskah kuno Lembah Qumran?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lembah Qumran.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Hasil pekerjaan yang lengkap. Akan muncul di layar sekarang, menunjukkan gua-gua dimana naskah-naskah kuno itu ditemukan di Lembah Qumran.

Mohamed: Bagus.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Beberapa naskah-naskah kuno tua akan muncul di layar, bersama-sama dengan tempat dimana mereka ditemukan. Lihatlah bukunya di layar. Merkea menemukan Kitab Suci Perjanjian Lama, yang berumur 2 abad sebelum Masehi. Naskah kuno itu lengkap dan benar-benar sama dengan salinan yang kita miliki.

Mohamed: Saya rasa Dr. Mahmoud Abbas El Akkad telah berbicara mengenai naskah-naskah tersebut.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mahmound Abbas El Akkad menulis materi setingkat doktorat dan ia hanya mencapai kelas 6 SD. Ia seorang genius. Ia menulis mengenai gulungan-gulungan tersebut, mengatakan, “Gulungan arkeologis, yang berumur abad pertama sebelum Masehi ditemukan di sebuah gua di Lembah Qumran. Setelah mereka disusun, gulungan-gulungan tersebut merupakan salinan Kitab Yasyaya (Yesaya) dan kitab-kitab sakral lainnya. Tidak ada perbedaan atau perubahan antara buku-buku ini, dan buku-bukunya tersedia saat ini.”
Di halaman 441 ia membuat sebuah komentar mengenai Kitab Suci Injil. Ia berkata bahwa ditemukan dalam naskah kuno Lembah Qumran contoh tulisan mula-mula Kitab Suci Injil dalam bahasa Yunani.
Artinya adalah naskah-naskah kuno tersebut berisikan naskah Kitab Suci Injil dalam bahasa Yunani mula-mula, berumur di masa para rasul yaitu di abad pertama setelah Masehi.

Mohamed: Apakah ia tidak memperdulikan naskah-naskah tersebut, atau sekedar mengabaikan mereka?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya rasa sedikit dari keduanya. Ia tidak perduli, tetapi memberikan komentar atas Kitab Suci.

Mohamed: Tetapi ini semua adalah fakta-fakta sejarah yang tercatat dan ada di museum. Setiap orang dapat melihatnya. Saya telah sangat beruntung untuk melihat gulungan Laut mati dengan mata saya sendiri.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Gulungan yang aslinya?

Mohamed: Ya, saya melihatnya di sebuah museum di Yordan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya mengunjungi Yerusalem di tahun 1995 dan saya melihat gua-gua dimana gulungan-gulungan tersebut ditemukan.

Mohamed: Mari kita kembali ke Al Qur’an.
Apakah ada gulungan-gulungan dari Al Qur’an yang asli?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itulah pertanyaannya. Orang itu berkata kita tidak mempunyai gulungan, dan kita telah membuktikan bahwa kita memilikinya, jadi mari kita tanyakan kepadanya: Apakah ada gulungan-gulungan Al Qur’an yang tersedia sekarang ini? Itu sebuah pertanyaan. Mengapa ia tidak merasa sedih bahwa tulisan asli yang tertulis diatas tulang dan kulit di masa Nabi Muhammad tidak ada?

Mohamed: Tetapi, Pak Pendeta, kita tahu bahwa Al Qur’an disusun dari pikiran-pikiran para penulisnya di masa Abu Bakr.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Baiklah, Zayd Ibn Thabet menyusunnya dari pikiran-pikiran para penutur. Mana yang ditulis di masa Nabi Muhammad? Website Ensiklopedia Islam menanyakan hal ini.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Alamat websitenya adalah http://www.islampedia.com Ensiklopedia Islam.

Mohamed: Itu adalah Ensiklopedia Islam.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dikatakan bahwa seluruh Al Qur’an disusun di masa hidup sang Rasul.

Mohamed: Ini disebutkan di Ensiklopedia Islam?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itulah yang dikatakan oleh http://www.islampedia.com. Jika ini yang terjadi, dimana naskahnya?

Mohamed: Islampedia, bukan media.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Islampedia.

Mohamed: ISLAMPEDIA
Islampedia.com

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dimana? Mengapa mereka harus menyusun ulang Al Qur’an?
Zayd Ibn Thabet adalah salah satu penulis Al Qur’an di masa Nabi Muhammad. Mengapa ia menyusun ulang Al Qur’an? Dimana naskah yang pertama?
Di masa Uthman Ibn Affan, Zayd Ibn Thabet telah diminta untuk menyusun sebuah Al Qur’an yang baru, tetapi dimana Al Qur’an yang disusun di masa Abu Bakr, dan dimana Al Qur’an di masa Nabi Muhammad? Mengapa menyusun Al Qur’an lainnya di masa Uthman Ibn Affan? Apakah salinan-salinan lainnya hilang?

Mohamed: Mereka membakar sekitar 31 satu salinan di masa Uthman Ibn Affan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Setelah Zayd Ibn Thabet menyusun sebuah salinan, mereka menemukan salinan-salinan yang berbeda sehingga mereka diperintahkan untuk memilih satu secara acak dan menyatakannya sebagai yang benar. Sisa salinannya dibakar. Jadi mereka membakar Al Qur’an.
Dimana gulungan Al Qur’an yang ia bicarakan? Dimana mereka?

Mohamed: Tetapi ada sebuah alasan untuk membakar salinan-salinan Al Qur’an di masa Uthman. Ia dipaksa untuk membakar buku-buku tersebut karena perselisihan yang terjadi diantara suku-suku mengenai salinan-salinan yang berbeda. Ada 7 bacaan yang berbeda dan ada perpecahan diantara suku-suku.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tujuh surat.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika ketujuh surat tersebut merupakan alasan untuk membakar buku-buku, mereka masih membodohi orang-orang. Jika ini yang menyebabkan perselisihan, seharusnya ini bukan merupakan sebuah masalah, karena di masa Nabi Muhammad, Omar mendengar ayat-ayat yang dibacakan berbeda-beda sehingga ia mendatangi Nabi Muhammad dan berkata kepadanya, “Ayat-ayat ini berbeda dari ayat-ayat yang Engkau ajarkan kepada kami.” Nabi Muhammad menjawab, “Benar, karena ayat-ayat itu diturunkan dalam 7 surat.” Tidak ada perbedaan, kecuali memang Al Qur’annya yang berbeda. Dua salinan lolos dari pembakaran; Mushaf dari Abdullah Ibn Massood dan dari Ubai Ibn Ka’b.

Mohamed: Dan ada dimana salinan tersebut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Salinan tersebut tidak dibakar.

Mohamed: Jadi mereka ada dimana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka masih ada.

Mohamed: Dimana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di perpustakaan tua. Qaloon diambil dari mereka, dan Warsh, salinannya lazim ditemukan di Afrika Utara dan Tunisia.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ensiklopedia Islam mengatakan bahwa mereka diambil dari salinan asli tetapi banyak terdapat perbedaan antara salinan-salinan tersebut dengan Mushaf dari ‘Uthman. Jadi perbedaan-perbedaannya penting.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sheikh Sajestani mencatat perbedaan-perbedaan ini.

Mohamed: Sajestani?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, dalam bukunya ‘Al Masahef’ dan juga di Ensiklopedia Islam.
Saya telah membahas perbedaan-perbedaan yang muncul di salinan-salinan Al Qur’an yang berbeda di episode sebelumnya.

Mohamed: Jadi orang Muslim memiliki Mushaf dari ‘Uthman di tangan mereka saat ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya harap mereka memilikinya. Akan tetapi, Haggag Ibn Youssef El Thaqafy tidak menyukai Mushaf dari ‘Uthman sehingga ia merubahnya. Hal ini disebutkan dalam buku ‘Al Mashafef’ oleh Abi Dawood El Sajestani, salah satu penutur Hadis Rasul. Ia melaporkan bahwa Haggag Ibn Youssef El Thaqafy di Irak merubah huruf-huruf dan kata-kata dalam Al Qur’an, kemudian mencetaknya dan membakar sisanya, sama seperti ‘Uthman membakar salinan-salinan sebelumnya.
Dimana naskah asli yang ia bicarakan? Biarkan ia datang dan menunjukkannya kepada saya. Dimana?

Mohamed: Bukankah gulungan Samarqand ada di Turki sekarang?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, mereka ada di Turki.

Mohamed: Di Istanbul, Turki.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, di Istanbul, tetapi ada banyak kekurangan antara gulungan-gulungan ini dengan salinan yang ada di tangan orang-orang Muslim saat ini.

Mohamed: Kekurangan atau perbedaan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Perbedaan dalam kata-kata dan ekspresi. Gulungan Samarqand tidak memiliki huruf-huruf yang jelas, dan tidak ada titik maupun huruf vokal. Gulungan itu merupakan garis yang tidak terputus.

Mohamed: Ada 3 salinan Al Qur’an dalam peredaran sekarang ini. Mereka adalah Mushaf dari Hafs, Mushaf dari Warsh dan Mushaf dari Qaloon. Saya tidak menyadari perbedaan-perbedaan dari ketiganya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ada banyak sekali perbedaan. Kita telah membahas hal ini di episode sebelumnya, tetapi sepertinya Anda lupa. Kita telah membahas 3 versi Al Qur’an dan melihat perbedaan-perbedaan di surat-suratnya.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah Anda ingat?

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mushaf Hafs beredar di Mesir dan sebagian besar negara-negara Arab. Mushaf Warsh beredar di Moroko dan Mushaf Qaloon beredar di Tunisia.
Saya ingin menyebutkan sesuatu mengenai Mushaf Warsh yang kita baca di episode sebelumnya. “Tulisan Al Qur’an telah dirubah di gulungan aslinya, yang ditulis oleh penutur Hafs Gara sesuai dengan tuturan Warsh, dalam bacaan Imam Nafe’.” Ada perubahan disini!
Dan di Mushaf Qaloon, “Disetujui untuk mengijinkan perubahan agar sesuai dengan tuturan Qaloon.”
Buku-bukunya tersedia di pasar,dan komentar-komentar ini dapat ditemukan di bagian pembukaan.

Mohamed: Sepertinya Ahmed Didat perlu meminta maaf atas banyak hal-hal yang kontroversial.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja, begitu juga penterjemah bukunya.

Mohamed: Ya, dan penterjemah bukunya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Yang dapat saya lakukan bagi mereka adalah berdoa dan meminta Allah untuk membimbing mereka, dan memimpin mereka ke jalanNya. Amin.
Orang Muslim, carilah kebenaran dengan baik.

Mohamed: Ya, kita sampai ke pertanyaan, ‘Apa solusinya?’

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Seperti yang telah kita katakan sebelumnya, Isa Al-Masih adalah solusinya.
Hari ini kita akan membahas jawaban atas masalah kebencian. Kebencian memakan pikiran dan tubuh seseorang. Mereka saling membenci satu sama lain. Isa Al-Masih menyediakan sebuah solusi atas masalah kebencian dan kedengkian ini.
Isa Al-Masih berbicara mengenai hal ini di Kotbah di Bukit, yang telah kita bicarkan di episode-episode sebelumnya.
Ia berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu, kasihilah mereka yang menyeterui kamu dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kamu. Dengan demikian kamu bertindak sebagai anak-anak sejati dari Bapamu yang di surga. Karena Ia menerbitkan matahari-Nya bukan hanya untuk orang yang baik, tetapi juga bagi orang yang jahat. Ia pun menurunkan hujan tidak hanya untuk orang yang saleh, tetapi juga bagi orang yang fasik.”
Inilah ajaran Isa Al-Masih! Ajaran Isa Al-Masih adalah kasih karena Allah adalah kasih. “Semua orang yang mengasihi dilahirkan dalam Allah dan mengenal Allah. Ia yang tidak mengasihi tidak mengenal Allah, karena Allah adalah kasih.”

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jadi kasih menjadikan kuat, menerima, dan sempurna. Kasih menghancurkan kebencian dari dalam.
Isa Al-Masih, dari kasihnya kepada musuh-musuhNya yang telah menyalibkan Dia di salib, berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Kasih tertinggi!
Ketika Isa Al-Masih tinggal dalam kita, hati kita berdetak dengan kasih ini. Kita mengasihi sesama melalui Isa Al-Masih. Kita tidak membenci mereka tetapi kita mengharapkan kebaikan bagi mereka karena Allah kebaikan tinggal dalam hati kita.
Jadi, Isa Al-Masih adalah solusinya.

Mohamed: Dialah solusinya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Jika Anda membenci orang lain, seperti seorang saudara, seorang musuh, atau salah seorang teman sekerja Anda, Isa Al-Masih adalah solusinya. Jika Anda, sebagai seorang istri, membenci orang lain, berdoalah bagi mereka, kasihi mereka dan katakan kepada Allah, “Penuhi hatiku dengan kasih kepada mereka.” Kemudian Isa Al-Masih akan menumpahkan kasihNya.
Para pemirsa terkasih, Kitab Suci berkata, “Kasih Allah telah ditumpahkan ke dalam hati kita oleh Ruh Allah yang kudus yang telah diberikan kepada kita.”
Minta Allah menumpahkan kasihNya kepada hati Anda sekarang.
Amin.

Mohamed: Terima kasih banyak.
Saya teringat perkataan Allah kepada kita semua. Ia berkata, “Aku telah mengasihi engkau dengan kasih yang tidak berkesudahan; oleh karena itu dengan kebaikanlah Aku telah menarik engkau.”
Jika kita benar-benar mengasihi orang lain, kita tidak akan dapat melihat kesalahan mereka atau mempunyai pikiran negatif mengenai mereka. Murid-murid membagikan semua yang mereka miliki; semua dibagi diantara mereka.
Kita memiliki perkataan yang memberikan harapan bagi saudara-saudara terkasih kita di negara-negara Islam.
Sebagai seorang saudara dalam iman, saya berkata kepada Anda, “Siapakah yang dapat menceraikan kita dari kasih Al-Masih? Dapatkah kesusahan, kesengsaraan, aniaya, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang menceraikan kita dari kasih-Nya?… Karena menurut keyakinanku, baik kematian maupun kehidupan, baik para malaikat maupun para penguasa, baik perkara yang ada sekarang maupun yang akan datang, berbagai kekuatan, tempat yang tinggi, tempat yang dalam, ataupun ciptaan yang mana pun, tidak akan dapat menceraikan kita dari kasih Allah dalam Isa Al-Masih, Junjungan kita Yang Ilahi.” Dan, “Janganlah takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak mampu membunuh jiwa. Hendaklah kamu lebih takut kepada Dia, yang dapat membinasakan baik jiwa maupun tubuh di neraka jahanam.”
Terima kasih, pemirsa terkasih. Sampai berjumpa kembali di episode lainnya. Kami meninggalkan Anda dalam perlindungan Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: Terima kasih.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin.

Texts being used:
The Indonesian Bible text used for New Testament is “The Indonesian (1912 Translation) – Greek Diglot New Testament” – “Kitab Suci Injil Dwibahasa Indonesia (Terjemahan 1912) – Yunani” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 2000.
The Indonesian Bible text used for Old Testament is “The New Translation, 1974” – “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974” version. © LAI (Lembaga Alkitab Indonesia – Indonesian Bible Society), 1974.
The Indonesian Al Qur’an text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/
Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind
Notes on this episode:
For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

Advertisements