Pertanyaan Mengenai Iman Episode 87

Mohamed: Selamat datang, para permisa terkasih, ke episode baru dari program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’. Ada juga tamu kita, Bapak Pendeta Zakaria Botros, bersama kita. Selamat datang Pak Pendeta.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Terima kasih.

Mohamed: Kita mendapat banyak surat. Surat ini dari … sepertinya dari Mesir. Ya, dari Kairo.
“Dalam nama yang Satu dan satu-satunya, yang kita semua sembah … Bapak Pendeta Zakaria Botros, saya ingin memberikan salam kepada Anda dengan cara yang menyenangkan hati Anda. Anda seorang yang tidak waras, yang mendapatkan kenikmatan jiwa dari mengikuti keinginan pribadi, yang membawa kerusakan. Apakah hanya sekedar kebetulan, seperti yang dunia katakan, atau takdir, seperti yang orang-orang percaya percayai. Anda dan saya telah dibesarkan bersama-sama. Teman sekerja Anda menyiapkan jalannya bagi Anda dengan segala barang dagangan Anda, kemudian Anda duduk, dikelilingi dengan buku-buku referensi Anda, mengambil mereka dan membuangnya.

Saya mengira Anda mempunyai sebuah tujuan dan tujuan itu sangat sakit. Jika Anda mengklaim Anda bertindak netral, bagaimana Anda sampai kesitu? Dan jika Anda berkata bahwa Anda adalah seorang pendakwah, mana buktinya? “Anda akan mengenal mereka dari buah-buah mereka.” “Ikuti seseorang yang tidak meminta bayaran ketika mereka sedang dibimbing.”

Anda dipekerjakan oleh orang-orang yang telah menugaskan Anda dengan pesan ini, mengklaim bahwa ini adalah sebuah pelayanan yang dipersembahkan untuk ajaran Isa Al-Masih dan Isa Al-Masih. Bagaimana bisa? Anda juga mengklaim bahwa Islam adalah tambahan dari itu dan sebuah fabrikasi. Sebenarnya, “Tetapi mereka menolak apa yang tidak dapat mereka mengerti, (terutama) ketika pengertiannya tidak pernah mereka dapatkan.” Dan juga, “Beberapa dari mereka mempercayai hal itu ketika yang lainnya tidak akan mempercayainya….”

Ini sebuah surat yang panjang. Saya ingin membacakan semuanya tetapi waktunya tidak mengijinkan. Sepertinya sang pengirim telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk menulis surat ini. Saya serahkan kepada Anda untuk menjawabnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kami berterima kasih banyak kepadanya karena telah repot-repot menulis surat seperti ini. Ia menggunakan kertas yang banyak. Sepertinya ia seorang tua, karena ia menggunakan kertas seperti milik almarhum ayahnya, atau seperti itu. Kertasnya amat sangat tua. Saya berterima kasih kepadanya atas usahanya, dan saya berharap ia mendengarkan kita. Saya menghargai alasannya. Orang dapat mengajukan pertanyaan apapun yang mereka suka dan kita akan menjawabnya.
Lihatlah, teman terkasih. Jika Anda bertujuan untuk menyinggung saya, saya memaafkan Anda. Saya tidak membahas topik pribadi di program ini. Saya membahas konsep, jadi saya berharap Anda menulis topik yang telah kita bahas, dan melengkapi kita dengan referensi dan logika. Lain kali, cobalah melakukan hal ini. Saya memaafkan Anda karena telah membuat tuduhan-tuduhan, dan semoga Allah juga memaafkan Anda. Ada kemungkinan suatu hari nanti kita berjumpa di depan singgasana pengampunan. Saul dari Tarsus seperti Anda, dan kemudian ia menjadi Pa’ul sang rasul. Kami akan menyambut Anda ketika Allah memberikan penerangan atas pengetahuanNya kepada Anda. Saya akan menyimpan surat Anda dan kita akan berdoa bagi Anda. Terima kasih.

Mohamed: Kita mempunyai sebuah surat lainnya dari Mesir tercinta. Dikatakan:
“Bapak Pendeta Zakaria Botros. Salam. Saya adalah seorang pengikut Isa Al-Masih dari Mesir. Saya telah menonton program ‘Pertanyaan Mengenai Iman’ di progam Al Hayat untuk waktu yang lama. Mohon maafkan saya karena tidak menyebutkan nama saya, karena seperti yang Anda tahu, tidak ada kebebasan berpendapat di Mesir seperti di negara-negara Islam Arab lainnya. Surat ini tidak akan pernah sampai ke Anda, dengan cara apapun.”
Surat Anda sampai ke kita, saudara, dan merupakan sukacita bagi kami untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.
Ia melanjutkan dengan berkata, “Mohon ijinkan saya mengangkat poin-poin berikut ini:
1. Saya telah membaca bahwa Al Qur’an sebenarnya tidak menyebutkan 10 tulah di cerita Firaun dan Nabi Musa. Hanya menyebutkan 9 dan menghilangkan yang kesepuluh, yaitu pembunuhan anak-anak sulung. Hal ini dikarenakan tulah kesepuluh merupakan simbol dari salib Isa Al-Masih, kemuliaan bagiNya. Apakah ini benar? Mohon beritahu saya.
2. Beberapa hari yang lalu saya terkejut ketika saya melihat sebuah program agama di salah satu saluran televisi Mesir. Programnya bernama ‘Maha Pengampun telah mengajarkan Al Qur’an’ dan ditayangkan di saluran 1 jam 11:30 malam. Topik yang dibahas di episode tersebut adalah ‘Membuktikan bahwa Al Qur’an adalah buku yang diinspirasikan oleh Allah dan bukan inspirasi manusia.’ Pembawa acaranya memperkenalkan 2 orang profesor dari prinsip-prinsip agama Islam, dan mereka bertugas untuk membela Al Qur’an, menyediakan bukti-bukti untuk meyakinkan para pemirsa bahwa Al Qur’an adalah sebuah buku suci. Saya mendengar argumentasi dan buktinya, tetapi saya tetap tidak yakin, dan berkata kepada diri saya sendiri, ‘apakah mereka yakin bahwa apa yang mereka katakan itu benar?’ Ada 2 kemungkinan….”
Ia melanjutkan dan mengajukan sebuah pertanyaan lainnya.
3. “Bagaimana dengan orang-orang non Arab, yang tidak mengerti bahasa Arab? Apakah Allah akan memaksa mereka untuk belajar bahasa Arab supaya mereka dapat membaca Al Qur’an dan masuk ke surga? Bagaimana dengan jutaan orang yang tidak berpendidikan dan tidak tahu bagaimana membaca maupun menulis. Jika Al Qur’an diterjemahkan kedalam bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris, ia akan kehilangan ritme dan kefasihannya, dan tidak lagi merupakan sebuah keajaiban.
Sebagai seorang pengikut Isa Al-Masih, saya percaya bahwa Allah memberikan saya Kitab Suci sebagai sebuah pesan kasih. Ia ingin saya tahu bahwa Ia sangat mengasihi saya sampai Ia mengorbankan PerkataanNya, Isa Al-Masih, di salib untuk saya, dan bahwa tangan kasihNya terbuka bagi saya dan bagi semua orang yang mempercayai penebusanNya.”

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kami berterima kasih kepada saudara ini karena telah membagikan pemikirannya.
Hal yang baik bahwa dalam pembahasan di ‘Maha Pengampun telah mengajarkan Al Qur’an’, mereka telah mengekspresikan pandangan mereka dan para pemirsa dapat membangun opininya sendiri. Jika buktinya cukup kuat untuk meyakinkan dia, itu baik dan bagus. Jika lemah dan tidak berguna, akan membawanya untuk berpikir hal yang sebaliknya… Setiap orang bertanggung jawab atas takdir kekekalannya sendiri.

Mohamed: Tentu saja.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Setiap orang bertanggung jawab atas takdir kekekalannya sendiri. Biarkan ia mendengar opini yang berbeda-beda kemudian berpikir masak-masak dan memilih jalan yang ia anggap benar. Sebaiknya ia minta Allah membimbingnya ke jalan yang benar.

Mohamed: Itu benar.
Sekarang, mari kita kembali ke tulisan Ahmed Didat dan kecurigaannya atas kepala keluarga kita, Nabi Ibrahim, di Kitab Suci. Dapatkah Anda menjelaskan kecurigaan ini?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dalam bukunya ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Tempur), Sheikh Didat berbicara mengenai kepala keluarga kita, Nabi Ibrahim, dan benar-benar menghinanya.

Mohamed: Bagaimana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dengan mengajukan keragu-raguan.
Pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah, “Apakah Ibrahim menikahi saudara perempuannya, Sara?” Tentu saja, seorang Muslim yang tidak tahu apa-apa akan terkejut dan berkata, “Menikahi saudara perempuannya! Oh, tidak! Kitab Taurat sebuah kekacauan besar.” Dan tidak masalah baginya untuk berpikir seperti itu karena ia telah disesatkan.
Kemudian Didat berkata, “Abimelek memanggil Nabi Ibrahim dan Nabi Ibrahim berkata kepadanya, ‘Ia adalah saudara perempuanku.’” Ia mengakui hal itu di buku. Kemudian ia berkata, “Ia benar-benar saudara perempuanku dan ia menjadi istriku.”
Bagaimana kita menjawab itu?

Mohamed: Bagaimana?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah Nabi Ibrahim menikahi saudara perempuannya? Bukankah ada sebuah hukum yang melarang seorang laki-laki menikahi saudara perempuannya?

Mohamed: Saya tidak tahu.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak ada hukumnya.

Mohamed: Tidak ada sama sekali?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Nabi Musa belum datang, jadi tidak ada hukum suci atau apapun juga.

Mohamed: Tetapi Nabi Ibrahim tidak menikahi saudara perempuannya!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia adalah saudara perempuan tirinya.

Mohamed: Apa artinya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukan dari ayah dan ibunya.

Mohamed: Bukan dari orang tuanya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saudara perempuan tirinya.
Sekarang, dapatkah Anda beritahu saya, Kain menikah kepada siapa?

Mohamed: Ia menikahi saudara perempuannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Itu benar. Saudara perempuannya.

Mohamed: Baiklah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bagaimana Kain menikahi saudara perempuannya?

Mohamed: Maksud Anda Habel?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, Habel di Islam.

Mohamed: Ya, di Islam.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi Kain menurut Kitab Suci. Apakah ia menikahi saudara perempuannya? Bukankah ada sebuah hukum yang melarang menikahi saudara perempuannya sendiri? Siapa yang dapat ia nikahi?

Mohamed: Di awal penciptaan, laki-laki menikahi saudara perempuannya sendiri.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak ada hukum saat itu.

Mohamed: Tidak ada hukum.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Hukum yang mengatur pernikahan datang di masa Nabi Musa. Dan sebenarnya, ia adalah saudara perempuan tiri Nabi Ibrahim, bukan saudara perempuannya langsung. Sebenarnya ia mengatakan kebenaran ketika berkata, “Ia adalah saudaraku dan ia menjadi istriku.”
Mengapa Didat tidak cukup terkejut ketika menuliskan ini di bukunya: “Apakah mungkin bagi seorang laki-laki untuk menikahi anak mantu perempuannya? Apakah ini dapat diterima?”

Mohamed: Tentu saja tidak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Menikahi anak mantu perempuannya tidak dapat diterima, tetapi pada kenyataannya, hal itu terjadi. Nabi Muhammad menikahi Zeinab bint Gahsh, istri anak angkatnya. Mereka berkata bahwa Nabi Muhammad membatalkan pengangkatannya. Ya, ia membatalkannya untuk memenuhi kebutuhannya. Bukankah itu benar? Jadi, pengangkatannya dibatalkan untuk suatu alasan.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Supaya ia dapat mengambil perempuan ini. Tidakkah Didat terkejut ketika seorang laki-laki berumur 51 tahun menikahi seorang anak perempuan berumur 6 tahun dan menyempurnakan pernikahannya ketika ia berumur 9 tahun?
Mereka berkata ini diperbolehkan karena anak itu telah mencapai masa akil baliknya, dan bahwa anak-anak perempuan di masa itu mencapai masa akil balik lebih cepat dari anak-anak perempuan saat ini.

Mohamed: Ini tidak logis.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lihatlah ‘Fath El Bari fi Sharh Sahih El Bukhari’.
Ia berkata, “Ia masih dibawah umur akil balik.” Ini adalah komentar atas Sahih El Bukhari, berkomentar atas Hadis mengenai pernikahan Nabi Muhammad terhadap ‘Aisha. Hadis 4738.

Mohamed: Fath El Bari?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Fath El Bari fi Sharh Sahih El Bukhari, memberikan komentar atas Hadis 4738 mengenai pernikahan sang Rasul terhadap ‘Aisha. Ia berkata, “Ia masih dibawah umur akil balik.”
Mengapa ia tidak terkejut ketika membaca, “Hal yang diperbolehkan bagi perempuan manapun untuk menyerahkan dirinya kepada Nabi Muhammad dan ia akan menikahinya. Ia mempunyai kebebasan untuk menikahi semua perempuan.” Kita katakan sebelumnya bahwa ini ada di Biografi Kenabian oleh Halabi.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ia dapat menikahi semua perempuan. Ada banyak hal-hal yang mencengangkan. Apakah ini hal yang paling aneh yang dapat ia kemukakan? Tidak ada hukum ketika Kain menikahi saudara perempuannya. Apa yang aneh dari hal itu?

Mohamed: Baiklah, bagaimana dengan topik lainnya yang diangkat oleh Didat mengenai Nabi Ibrahim? Ia berkata bahwa Nabi Ibrahim menikahi Hagar di saat yang bersamaan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, tentu saja ia menikah terhadap Hagar tetapi ia tidak membuat komentar lebih jauh. Ia hanya berkata bahwa ia menikahi Hagar untuk membingungkan orang-orang Muslim. Ia tidak mengatakan kenapa. Supaya mereka berpikir ia menikahi perempuan lainnya ketika ia sudah mempunyai seorang istri.
Mengapa mereka tidak menyebutkan bahwa Nabi Muhammad menikahi lebih dari 60 perempuan? Saya telah mendaftarkan mereka secara alfabet.

Mohamed: Apakah Anda dapat membuktikan bahwa yang Anda katakan adalah benar?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya. Di referensi Sahih El Bukhari, Sahih Muslim dan ‘The Prophetic Biography’ (Biografi Kenabian) oleh Ibn Katheer.

Mohamed: Enampuluh?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Lebih dari 60 perempuan dan saya akan berikan Anda nama-nama mereka.

Mohamed: Sangat mengerikan!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dalam urutan alfabet.
A: Asma’ bint El Sulat, Asma’ bint El No’man, Asma’ bint Ka’b, Al Shah bint Rifa’a, Al Shanba’ bint Omar, Al Alia bint Zubian, Um Habeeba
K: Khadeega bint Khuwayled, Khawla bint El Hazeel, Khawla bint Hakeem, Khawla bint Sahl
R: Rihana bint Zeid El Qurazia
‘A: ‘Aisa bint Abu Bakr, ‘Azza bint Abu Sufyan, ‘Umra El Ghafareya, ‘Umra El Kalabiya, ‘Umra bint Mu’aweya El Kandiya, ‘Umra bint Yazeed Ibn Rawath
Gh: …..

Mohamed: Saya lihat sekitar 61 nama disini, tetapi apakah Nabi Muhammad pernah menolak perempuan yang menawarkan diri mereka sendiri kepada dia?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, ia menolak beberapa, seperti Imama bint Hamza dan Um Habeeba bint El ‘Abbas. Dan ada juga beberapa perempuan yang menolak dia. Ia menawarkan diri untuk menikahi mereka tetapi mereka menolak.

Mohamed: Benarkah?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Seperti Safiya bint Bashama. Ia melamarnya tetapi Safiya menolaknya. Ia ingin tetap bersama suami pertamanya dan menolak pergi kepada Nabi Muhammad.

Mohamed: Topik-topik seperti ini tidak berguna bagi kita, mari kita pindah ke topik lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Bukan masalah apakah hal ini berguna bagi kita atau tidak. Orang itu tercengang ketika Nabi Ibrahim menikahi 2 perempuan. Ia menikah terhadap Hagar dan Sara. Ia menikahi Sara dahulu, kemudian Hagar. Apa yang aneh mengenai hal itu? Tidak ada hukum yang mengatur hal tersebut.
Dilemanya adalah Nabi Muhammad datang setelah hukum Isa Al-Masih yang mengatakan bahwa seorang laki-laki hanya boleh memiliki seorang istri. Ia menikahi 61 perempuan, disamping perempuan-perempuan yang diambilnya tanpa persetujuan perempuan-perempuan itu sendiri, seperti yang kita sebutkan di episode sebelumnya.

Mohamed: Saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan disini. Apakah bijaksana bagi seorang rasul Allah untuk bertindak seperti ini dan menikahi banyak perempuan?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka menerimanya!

Mohamed: Dan Allah ingin agar setiap laki-laki hanya mempunyai seorang istri.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan ini terjadi setelah hukum Isa Al-Masih yang sempurna. Mungkin di masa Kitab Taurat, seorang laki-laki tidak dapat melakukan hal itu, tetapi ketika Isa Al-Masih datang, Ia memberikan seorang laki-laki kekuatan, kekuasaan, dan anugerah, dan ia menjadi bertanggung jawab.

Mohamed: Selain itu ada sebuah topik lainnya yang disentuh Didat. Yaitu penggenapan nubuatan yang diberikan kepada Nabi Ibrahim. Dapatkah Anda memberikan komentar atas hal tersebut?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Inilah yang ia tuliskan. Ia berkata bahwa ada sebuah nubuatan mengenai Nabi Ibrahim di Kitab Suci yang tidak digenapi dan ia menyebutkan ayatnya, “Aku akan memberikan kepada engkau dan kepada keturunanmu, tanah yang ditempati orang asing, seluruh tanah Kanaan, sebagai hak milik yang abadi.”
Dalam versi bahasa Inggris buku Didat, yang tidak diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh penterjemahnya, Didat menulis: “Kasihan Nabi Ibrahim, semoga damai baginya, tidak menerima satu hasta persegi-pun.” Ia mendukung gagasannya ini dengan mengutip Stefanus dari Kitab Kisah Para Rasul: “Dan Allah tidak memberikan kepadanya warisan di dalamnya, bahkan tidak cukup untuk menempatkan kakinya. Tetapi Ia berjanji untuk memberikan kepadanya sebagai hak milik, dan kepada keturunannya setelah dia.”

Mohamed: Kepada dia dan keturunannya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan keturunannya. Jadi, apakah ada pertentangan disini? Didat mengklaim bahwa ada sebuah pertentangan disini. Masalahnya adalah ia cepat-cepat masuk ke penjelasan tanpa mengerti apapun isi Kitab Suci. Ada sebuah perbedaan antara masa perjanjian dan masa penggenapan. Perjanjian dan penggenapan

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Allah berjanji kepadanya. Kapan Allah berjanji kepadanya? Kitab Suci berkata, “Ketika Nabi Ibrahim tidak mempunyai anak.”
Jadi, mengapa Ia menjanjikan hal itu kepadanya dan kepada keturunannya?
Mereka tidak mengerti bahwa ini merupakan sebuah nubuatan mengenai masa depan. Inilah janjinya.

Mohamed: Apakah nubuatan ini digenapi?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Nubuatan ini digenapi ketika Bani Israil pergi…

Mohamed: Bani Israil siapa?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Orang-orang Allah kuno. Mereka menetap di tanah Kanaan.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan mereka tinggal di tanah ini.

Mohamed: Ya, ini logis. Didat telah mengajukan keberatan karena janji hak milik abadi atas tanah tersebut belum digenapi. Tanah tersebut diambil dari mereka dan sekarang dimiliki oleh orang-orang Palestina.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ijinkan saya memberitahu Anda sesuatu. Hanya karena Allah menghukum Bani Israil dengan mengusir mereka keluar dari tanah tersebut, bukan berarti ceritanya selesai.
Dimana Ahmed Didat ketika Bani Israil kembali ke tanah Palestina dan mengambilnya kembali? Mereka kembali ke situ, bukankah begitu?

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Dan ada sebuah peperangan berdarah diantara mereka dan orang-orang Palestina.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Menyedihkan!

Mohamed: Saya setuju.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kedua kelompok menggunakan senjata. Apakah Anda mengikuti? Mengapa mereka tidak berhenti berperang dan mengikuti agama damai? Keduanya! Dan hidup dalam damai, seperti para pengikut Isa Al-Masih hidup dalam damai. Mereka tidak saling berperang, walapun setiap orang datang melawan mereka.
Sebenarnya, saya bukan seorang politis, jadi saya tidak menggali politik Israil dan Palestina, atau apakah mereka sudah atau belum mengambil alih tanahnya. Dengan bijaksana Sadat berkata, “Tidak ada politik dalam agama, dan tidak ada agama dalam politik.”
Saya tidak menulis mengenai politik atau mencampurkan agama dan politik. Saya mengerti bahwa bangsa-bangsa di dunia sekarang ini mengakui Israil. Banyak orang-orang Arab yang mengakui Israil. Mesir mengakui. Orang Arab membahas pengakuan atas Israil. Liga Arab.
Saya tidak menikmati politik dan saya tidak suka berbicara mengenai politik. Itu adalah masalah mereka.
Tetapi Israil ada di tanah Palestina, apakah Anda menyukainya atau tidak, Ahmed Didat.

Mohamed: Kata-kata keras seperti ini mengguncangkan emosi.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Saya tidak ada hubungannya dengan hal itu.

Mohamed: Itu bukan urusan kita.
Mari kita kembali ke buku dan melihat komentar penterjemah. Ia menanyakan bagaimana Nabi Ibrahim dapat berbohong.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Penterjemahnya adalah orang yang patut dikasihani. Dalam buku ‘Combat Kit’ (Perlengkapan Tempur) ia berkata, “Nabi Ibrahim diijinkan untuk berbohong kepada Abimelek, raja Mesir?”

Mohamed: Sepertinya ia mengatakan kepadanya, “Ia adalah saudara perempuanku”, jadi tampaknya ia berbohong…

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Apakah Abimelek raja Mesir?

Mohamed: …karena ia adalah istrinya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Raja Mesir disebut Firaun. Abimelek adalah raja Gerar. Seharusnya ia memeriksa hal ini sebelum menulis. Ada orang-orang yang membaca dan mengerti. Jadi daripada mengatakan Abimelek, raja Mesir, seharusnya ia berkata raja Gerar. Raja Mesir disebut Firaun. Seharusnya ia tahu.
Dan ia melanjutkan dengan berkata, “Di masa Nabi Ibrahim, apakah hanya ada sedikit perempuan sehingga ia harus menikahi saudara perempuannya sendiri?”
Ini mengangkat tiga pertanyaan.
• Apakah hal yang dapat diterima jika Nabi Ibrahim berbohong?
• Apakah Abimelek raja Mesir?
• Apakah ia harus menikahi saudara perempuannya sendiri karena kekurangan perempuan?
Mengenai kebohongan yang dikatakan Nabi Ibrahim, ia hanya mengatakan setengah kebenaran. Kemudian, apakah kita menganggap rasul seperti Allah dan sempurna? Saya telah berkata sebelumnya bahwa Al Qur’an menyebutkan dosa-dosa semua rasul-rasul. Bukankah begitu?

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Di Surat ke 14 (Ibrahim), ia berkata, “Allah kami, ampuni aku, kedua orang tuaku dan orang-orang percaya, di hari penghakiman!”
‘Ampuni aku’, artinya ia melakukan kesalahan. Jadi Islam mengakui bahwa Nabi Ibrahim telah berdosa. Dan kita berkata bahwa Nabi Ibrahim berdosa karena ia seorang manusia.
“Mereka semua telah beralih. Mereka bersama-sama telah tidak menguntungkan. Tidak ada seorangpun yang baik. Tidak, tidak seorangpun.”
Bahkan rasul-rasul berdosa dan membutuhkan penebusan dari Isa Al-Masih.

Mohamed: Tidak seorangpun sempurna, kecuali Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Nabi Musa juga berdosa. Ia berkata, “Aku telah bersalah atas jiwaku sendiri. Ampuni aku.”
Nabi Muhammad berdosa juga. Saya rasa surat yang Anda baca mengatakan, “Allah akan mengampuni kamu atas segala kesalahanmu, yang telah kamu lakukan sebelumnya atau apapun yang akan kamu lakukan kemudian.” Ia mendapatkan kebebasan penuh dan dosa-dosa terdahulu dan yang akan datang akan diampuni.
Jika ini yang terjadi, mengapa ia tidak mengambil perempuan manapun dengan paksa, tanpa persetujuan perempuan tersebut? Ia menerima cek kosong.
Hal yang sangat aneh! Sebuah kegemaran.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Sebuah kegemaran.

Mohamed: Jadi, ia salah mengenai raja Mesir dan mengenai berbohong.
Mari kita pindah ke dakwaannya mengenai Nabi Ibrahim yang menikahi saudara perempuannya karena kekurangan perempuaan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Pertama-tama, tidak ada hukum yang mengatur siapa menikahi siapa. Hukumnya datang melalui Nabi Musa, dan Nabi Musa datang setelah Nabi Ibrahim, Isak, Yakub, dan suku-suku.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Baiklah. Mari kita ajukan sebuah pertanyaan lainnya. Apakah terjadi kekurangan perempuan di masa Nabi Muhammad? Ia muncul beribu-ribu tahun setelah Nabi Ibrahim. Apakah kelangkaan perempuan merupakan alasan Nabi Muhammad menikahi Zeinab Bint Gahsh, anak mantu perempuannya? Mereka memanggilnya anak mantu perempuan. Apakah ia menikahinya karena terjadi kekurangan perempuan? Ia menikahi seorang anak perempuan berumur 6 tahun karena ada kekurangan perempuan?

Mohamed: Setelah itu, pengangkatan anak dibatalkan di Islam.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Ya, pengangkatan anak dibatalkan untuk suatu alasan tertentu. Ia malu dan tidak mau orang-orang berkata bahwa ia menikahi anak mantu perempuannya. Oleh karena itu, ia membatalkan pengangkatan anak. Apakah Anda mengikuti?
Ia mengambil seorang gadis dari Dahia, Safiya Bint Huyayy dari Dahia El Kalby. Setelah ia mengambil Guwriya Bint El Hareth dari Thabet Ibn Qays. Kemudian ia mengambil seorang gadis Fazarite dari Salma. Apakah karena ada kekurangan perempuan sehingga ia mengambil semua gadis ini?

Mohamed: Banyak pertanyaan!

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Aneh.

Mohamed: Aneh.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka hanya asal bicara.

Mohamed: Ya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Mereka hanya ingin membuktikan bahwa mereka adalah mubalih. Mereka berkotbah menentang ajaran Isa Al-Masih dan berkata bahwa ajaran Isa Al-Masih dan ajaran Bani Israil salah dan hanya Islam-lah yang benar.
Baiklah, jawablah kami. Saya ingin salah seorang sheikh yang dituakan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Jawablah kami!

Mohamed: Sekarang kita mengajukan pertanyaan yang sama. Apa solusi dari semua masalah yang telah kita bicarakan? Apa solusinya?
Hari ini, kita akan berbicara mengenai kekerasan dan pembunuhan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Isa Al-Masih adalah solusi atas semua masalah. Isa Al-Masih datang untuk merubah sejarah. Ia datang untuk merubah manusia dan keadaannya. Ia berkata, “Oleh karena itu, siapapun yang ada di dalam Isa Al-Masih, ia adalah seorang ciptaan baru; yang lama telah berlalu; lihatlah semuanya telah menjadi baru.”

Mohamed: Apa artinya?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Artinya ketika seseorang menerima Isa Al-Masih dalam hidupnya, Ia memberikan orang tersebut sebuah hati dan ruh yang baru, dan tindakan serta perilakunya berubah.

Mohamed: Bagaimana seseorang menerima Isa Al-Masih?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Isa Al-Masih membuat semua hal mudah. Ia berkata, “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk.” Ia berdiri di depan pintu semua manusia, di manapun. Bahkan jika Anda sedang menonton saya dari desa-desa terpencil, Isa Al-Masih berjanji bahwa Ia akan sangat dekat dengan Anda.

Mohamed: Tidak perduli dimana orang ini berdiri?

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tidak perduli jika ia seorang pengikut Isa Al-Masih, Druzian, Bani Israil, dan lain sebagainya … Isa Al-Masih adalah bapak dari semuanya.
Katakan kepada Allah, “Engkau mengetuk pintu hatiku dan aku dengan senang hati dan penuh kasih membuka hatiku kepada Engkau. Masuklah kedalam hidupku dan ubah aku. Allah, aku perlu berubah.”
Ketika Isa Al-Masih masuk kehati kita, Ia akan merubah karakter kita, sikap kita, dan seluruh hidup kita. Semua benar-benar berubah.
Saya ingin memberitahu Anda sebuah cerita indah yang dicatat di sejarah gereja. Yaitu mengenai Musa si Hitam.

Mohamed: Silahkan.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Musa si Hitam adalah seorang pencoleng dan pembunuh yang jahat, serta pemuja matahari. Tetapi jiwanya tidak tentram. Hati nuraninya tidak jelas dan hidupnya berantakan. Suatu hari, ia melihat ke dalam dirinya sendiri dengan jujur.
Saya berharap hal ini akan terjadi pada seluruh pemirsa.
Ia berkata kepada allah yang ia sembah, “Matahari, jika engkau adalah allah, biarkan aku mengenal engkau. Dan engkau, Allah yang tidak dikenal, yang dipuja oleh para biksu di gunung-gunung … – Ia tinggal di sebuah gua di gunung, dekat sebuah biara. – …tunjukkanlah DiriMu sendiri.” Setelah itu, ia mengalami perasaan yang kuat dan mendengar sebuah suara yang menyuruhnya pergi ke para biksu dan bertanya kepada mereka.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kemudian suara itu menyuruhnya bertanya kepada mereka mengenai Allah yang tidak ia kenal. Ia pergi dan bertanya. Mereka terus memberitahu ia mengenai kasih dan anugerah Allah yang merubah hati. Juga mengenai Allah damai sejahtera sempurna.
Ia menerima apa yang mereka katakan dengan sukacita dan hidupnya benar-benar diubahkan dari A ke Z.
Suatu hari, 4 pencuri masuk ke biara tersebut. Musa si Hitam adalah seorang raksasa, sehingga ia dapat menangkap dan mengikat mereka. Ia menggotong 2 penjahat di pundak kanannya, dan 2 di pundak kirinya. Kemudian ia pergi ke biksu kepala dan memberitahunya, “Aku menangkap orang-orang ini sedang mencoba merampok biara. Apa yang harus aku lakukan dengan mereka? Aku dapat membunuh mereka, tetapi Isa Al-Masih telah merubah aku.” Biksu kepala menjawabnya dengan berkata, “Kita akan berdoa bagi mereka. Mungkin mereka lapar, kita akan memberi mereka makanan dan membiarkan mereka pergi.”
Lihat bagaimana seseorang dapat diubahkan dari seseorang yang sangat jahat?
Hari ini kita menemukan para pencuri dan pembunuh Muslim seperti Musa’b Al Zarkawi dan Bin Ladden, yang telah membunuh 300 atau 3.000 dalam satu serangan. Mengapa kekerasan ini? Mengapa pembunuhan ini?

Mohamed: Tetapi ada juga orang-orang Muslim yang mengasihi Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja.

Mohamed: …dan orang-orang yang takut akan Allah.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tentu saja, saya tidak menuduh semuanya seperti itu.

Mohamed: Benar.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Tetapi saya berkata bahwa Bin Ladden dan Mosa’b Al Zarkawi mematuhi Al Qur’an dan berperang. Masalahnya bukan masalah etika. Masalahnya adalah Al Qur’an mengajarkan mereka untuk berperang. Itulah masalah yang sebenarnya. Isa Al-Masih siap merubah hati semua orang.

Mohamed: Terima kasih banyak.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Kembali.

Mohamed: Pemirsa terkasih, semoga damai adalah cara hidup kita semua, karena hal itu sudah tertulis, “Dan seorang hamba Allah tidak boleh bertengkar tetapi harus lemah lembut kepada semua orang, dapat mengajar, sabar, dengan rendah hati memperbaiki lawan-lawannya, jika Allah mungkin berkenan memberikan mereka penebusan, supaya mereka dapat mengenal kebenaran.”
Isa Al-Masih berkata, “Damai sejahtera Aku tinggalkan padamu. Damai sejahteraKu, Aku berikan kepadamu; tidak seperti yang dunia berikan.”
Tertulis, “Dalam dunia engkau akan mengalami penderitaan; tetapi tetaplah bersorak sorai, Aku telah mengatasi dunia.”
Inilah yang Allah, Junjungan kita Yang Ilahi, katakan kepada Anda dan kepada semua orang.
Terima kasih pemirsa terkasih. Kita akan berjumpa kembali di episode lainnya.

Bpk. Pdt. Zakaria B.: Amin. Terima kasih.

Texts being used:

The Indonesian Bible text used for New Testament is the “Shellabear” version, printed 2006 by LAI (Bible Society in Indonesia).

The Indonesian Bible text used for Old Testament is the “New Translation” version, by LAI (Bible Society in Indonesia). “Alkitab Terjemahan Baru (TB), 1974.

The Indonesian Al’Al’Quran text used is taken from
http://Quran.al-islam.com/,

Indonesian version:
http://Quran.al-islam.com/Targama/DispTargam.asp?nType=1&nSora=1&nAya=1&nSeg=1&l=eng&t=ind

Notes on this episode:
For verses that is not clearly defined, the translation is done directly as the text said, not taken from the quote in the Bible – Untuk ayat-ayat yang tidak direferensikan secara jelas, terjemahan dilakukan secara langsung seperti apa kata text, bukan diambil langsung sesuai dengan teks dari Kitab Suci.

Advertisements